3 Mei 2012

Test-Driven Pendidikan Tidak Akan Menghasilkan Pemimpin Masa Depan




Dalam laporan berdasarkan Program International Student Assessment (PISA), tes dari setengah juta siswa usia 15 tahun di 65 negara, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperingatkan negara-negara Barat prospek kehilangan pengetahuan mereka dan keterampilan dasar.

Sebaliknya, beberapa negara Asia seperti Korea Selatan, Hong Kong dan Singapura mengungguli sebagian besar negara lain. Shanghai di China mengambil tes PISA untuk pertama kalinya dan peringkat pertama di ketiga bidang: membaca, matematika dan ilmu pengetahuan (The Jakarta Post, Dec 9, 2010). Pemerintah China telah dipuji karena investasi dalam modal manusia. Sungguh ironis bahwa seperti PISA sangat dianggap sebagai ukuran bergengsi dan dunia terkesan dengan prestasi Shanghai, perspektif orang dalam 'mengungkapkan pikiran skeptis dan kritis terhadap hasil.

Satu tanggapan kritis berasal dari Jiang Xueqin, seorang wakil kepala sekolah dari Peking University dan Sekolah Tinggi direktur Divisi Internasional. Mr Jiang khawatir bahwa "nilai yang tinggi dari siswa Shanghai sebenarnya tanda kelemahan".


Lebih lanjut ia khawatir bahwa mahasiswa Cina yang tenggelam di hafalan belajar praktek dan membakar diri mereka keluar dalam upaya mendapatkan tempat di universitas sementara mengabaikan kesempatan untuk meningkatkan imajinasi dan kreativitas serta mengembangkan semangat mereka untuk belajar. Dia yakin bahwa mahasiswa Cina harus melupakan pendekatan tes-sentris untuk pengetahuan yang dibor ke dalam mereka dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis mereka sendiri (The Wall Street Journal, Desember 10-12, 2010, halaman 12).

Disaat yang sama, seorang profesor Cina di Michigan State University, Yong Zhao menyesali pergeseran paradigma pendidikan yang dikandung dalam "No Child Left Behind" kebijakan yang dikeluarkan selama pemerintahan George W. Bush. Dalam bukunya Penangkapan Up atau Memimpin Way (2010), ia membandingkan sistem perubahan terbaru dalam pendidikan Cina dan AS.

Sementara Cina baru saja menyadari bahwa praktek belajar menghafal tidak akan bekerja untuk mempersiapkan pengusaha dan inovator untuk menjalankan perekonomian global abad 21, Yong Zhao menyesalkan bahwa sistem pendidikan AS telah direduksi menjadi hasil tes standar.
Cemburu pada kemampuan Amerika untuk mengubah mahasiswa menjadi terang ilmuwan terbaik di dunia dan pengusaha, pemerintah Cina baru saja merilis sebuah rencana 10 tahun termasuk reformasi kurikuler untuk mempromosikan individualitas, keragaman dan kreativitas.

Bagaimana dengan Indonesia? 
Meskipun siswa kami telah membuat sedikit kemajuan dalam membaca kemahiran, Indonesia masih menduduki peringkat ke-57 dari 65 negara pada tahun 2009 PISA.
Selama bertahun-tahun, Indonesia telah terhenti sebuah jajaran beberapa dari bawah. Situasi yang berlaku mungkin telah menyebabkan tes-driven praktek dalam sistem sekolah.
Dalam sistem formal, ujian akhir nasional sangat ditentukan praktek sekolah dan mengurangi mengajar dan belajar untuk menguji pengeboran. Sebagai perpanjangan dari sistem sekolah formal, olimpiade gaya kompetisi yang melibatkan siswa terbaik di negara ini telah memberikan pusat perhatian pencapaian terbaik kami dan juga menjabat sebagai fatamorgana penghiburan biasanya dialami oleh mereka yang dicabut dari pemenuhan mereka dasar kebutuhan.

Yang terbaik, ini kegilaan prestasi berbasis analog dengan menawarkan permen kepada anak-anak kurang gizi. Paling buruk, kebijakan pendidikan test-driven dan praktek dalam kenyataannya memiliki manfaat operator hanya menjejalkan program dan penerbit bahan uji latihan. Siswa yang harus dalam kepentingan terbaik dari kebijakan pendidikan telah dilanggar dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas manusia dan meningkatkan kreativitas mereka.

Memutuskan apa yang terbaik untuk anak-anak sekolah kami dan bangsa tidak harus bingung dengan memenuhi kebutuhan politik peringkat statistik memuaskan dan perbandingan internasional. Desain kurikulum terbaik dan pengembangan harus dalam kepentingan terbaik dari siswa dan bangsa kita sendiri. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, reformasi kurikuler harus berusaha untuk memenuhi empat kebutuhan dasar anak-anak sekolah: lingkungan belajar yang aman dan nyaman, rumah kedua, sebuah komunitas dari rekan-rekan dan kesempatan untuk merancang masa depan mereka.

Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka dan mengembangkan semangat mereka untuk belajar. Luasnya kurikulum apapun tidak akan cukup untuk membekali siswa untuk memimpin abad 21. Sekolah harus lebih baik mempersiapkan siswa untuk mengembangkan keterampilan belajar mereka sehingga mereka dapat lebih terus di sisa perjalanan belajar mereka sendiri.
Kedua, sekolah adalah jalan bagi anak untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia orang dewasa.

Oleh karena itu, sekolah harus menjadi rumah kedua dimana anak-anak berinteraksi dengan orang dewasa yang peduli untuk mereka dan siapa mereka bisa menghormati. Ketiga, siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan manusia untuk hidup damai dan bekerja secara produktif dengan orang lain melalui komunitas dari rekan-rekan di sekolah.
Akhirnya, setiap proyek sekolah dan tugas harus direncanakan sedemikian rupa sehingga siswa berorientasi merancang masa depan mereka sendiri. Dalam mempersiapkan diri untuk tinggal dan memimpin abad 21, mereka mengembangkan potensi mereka sendiri untuk menjadi pria dan wanita yang berkontribusi untuk memperbaiki masyarakat mereka.

Singkatnya, tujuan dari setiap reformasi pendidikan harus melampaui siswa mempersiapkan diri untuk menjadi peserta tes yang baik.

Kinerja buruk siswa Indonesia dalam tes PISA akan memicu kekhawatiran terhadap kondisi pendidikan kita di hari-hari berikutnya. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, hasil tes PISA sering digunakan sebagai ilustrasi dalam seminar publik dan diskusi. Mudah-mudahan, kekhawatiran lebih lanjut akan menyebabkan reformasi pendidikan asli demi kepentingan terbaik siswa 


oleh: Lie Anita.

2 Mei 2012

MARI KITA MULAI..AYOLAH..!




Negara ini memiliki rahmat karunia budaya bangsa yang luhur. Rahmat Budaya disarikan menjadi Pancasila. Diawal kemerdekaan dibentuk dasar legal asli buatan Budaya Indonesia adalah Preambule dan UUD 45. Penterjemahan Preambule UUD 45 dan UUD 45 dalam bentuk legal disegala bidang belum ada dan sementara yang digunakanlah legal hanya versi turunan legalitas dari Belanda yang otomatis tidak memiliki budaya yang sama.


Legal-legal itu menjadi acuan dan aturan pemerintahan. Kondisi saat ini telah banyak dibuat UU dan bahkan UUD 45 pun "disempurnakan" dengan namanya Amandemen. Dasar acuan jalannya pemerintahan adalah legal dan legal harus mengacu pada dasar pembentukan negara yaitu Rahmat Budaya.

Skema diatas kalau ditelaah adalah bentuk intervensi terhadap pemerintahan. Bentuk intervensi terhadap negara yaitu budaya seperti materialistik, sekuler, hedonis, dsb. Bentuk Intervensi ke negara dan pemerintahan liberal, capitalisme, sosialis.

Intervensi pemerintahan tidak akan berakibat banyak jika intervensi Rahmat Budaya belum memberikan hasil. Untuk kondisi saat ini, di jaman reformasi, di negara dan pemerintahan kita, sedang terjadi pergulatan untuk mendapatkan sintesa. Ini sangat terlihat dari hasil produk perundang-undangan dan proses yang alot dalam pengesahan UU. Dengan berbaik sangka maka tahun 2011 menjadi catatan yang jelek bagi DPR dalam hal kuantitas UU yang dihasilkan, dan ini belum tentu dari segi kualitas. Bila berkehendak untuk mendalami silahkan untuk membaca produk UU dan mengaitkan dengan acuan dasar yaitu Pancasila, Preambul, dan UUD 45 Asli. Kalau saya tidak sempat dan tidak dalam kapasitas untuk melakukan analisa, biarkan KY saja yang ngurus.

Pada saat sekarang ini coba kita lihat secara garis besar dari sisi apa yang masih dimiliki Indonesia dan masih aku, kamu, dan kita miliki bersama. Yaitu sebagian Rahmat Budaya dan sebagian legal yang masih dimiliki. Dilihat dari sudut pandang positive ini adalah peluang yang bisa kita upayakan. Karena 350 tahun dijajah Belanda sebagaimana buku pelajaran sejarah yang kita terima dibantah dengan pembuktian oleh Soedjiwo Tedjo di buku hasil karyanya. Rahmat Budaya yang belum terlacurkan dan masih tersimpan didalam hati dan budi pekerti adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, mau tidak mau, aku, kamu, dan kita semua harus memulai guyub rukun, gotong royong, saling bantu untuk membangun kekuatan capital rakyat untuk meraih teknologi agar mendapatkan nilai tambah yang besar sehingga Kesejahteraan Rakyat bisa terwujud.

Dahlan Iskan sudah memulai. Tantri Abenk berusaha menahan desakan IMF untuk melakukan privatisasi BUMN. Tantri Abenk berkeinginan untuk merealisasikan Holding BUMN seperti yang dilakukan oleh Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, Korea, Taiwan, Jepang, dsb, dan tidak dapat terlaksana karena tekanan IMF sangat besar. Holding BUMN sudah direalisasikan oleh PT.DI dan saat ini masih dalam rangka menunggu langkah besar yang kongkrit. Ini tidak mudah mengingat negara sedang defisit dan berkeinginan menaikkan BBM. Akibatnya mobilisasi dana BUMN ke Holding BUMN akan terkendala.

Alangkah bijaknya jika saya, anda dan kita tidak menunggu PT.DI atau pemerintah. Mari berhimpun dan bergerak menyatukan kekuatan kapital rakyat, meraih teknologi, dan hasilnya untuk kejejahteraan rakyat. Ini implementasi dari peluang yang kita miliki.


*) Disarikan dari Status PB Grup HimPin

Kopi Pahit Nilai Toleransi dalam Aturan dan Kebiasaan




Sangat sering kita dengar kata Toleransi. Kata yang mengandung pemaknaan sedemikian indah dan sering digunakan sebagai pembelaan diri bila kita salah (pen; budaya maklumisasi). Begitu banyak bangsa lain juga memuji atas bertahannya bangsa besar kita yang bisa hidup dalam kemajemukan,dapat berdampingan secara damai dalam perbedaan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan serta Adat istiadat) yang konon ini sudah jaadi kebiasaan rakyatnya secara turun temurun dan itu karena adanya sikap toleransi. Maka dikatakanlah Toleransi itu menjadi perekat penting kemajemukan. 

Toleransi juga dikenal dalam hitungan - hitungan dalam penentuan ukuran standarisasi di bidang apa saja. Disana tolerasi adalah nilai ambang batas ukuran yang diperbolehkan dari titik Optimum. Adanya toleransi itu mungkin karena disadari antara teori pengujian dan pelaksanaan pengujian tidak yang memastikan dengan pasti akurasinya. Praktisi lapangan sering menyebutnya teori dan praktek slalu ada selisih. Jadi untuk menjaga harga dari selisih tadi tetap menjadi bahan pertimbangan, maka dipakailah nilai prosentasi toleransi plus minus. Barangkali begitu. 

Barangkali juga toleransi dalam kehidupan beragama. karena dalam kehidupan beragama satu dengan yang lainnya bukan saja karena saling menghargai kebebasan agama masing - masing menurut UUD, tapi juga mungkin, dimasing - masing agama itu tidak dapat dibuktikan benar dan salahnya, maka toleransi adalah jalan keluarnya. Kenapa begitu? 

Mari coba kita lihat, agama itu memberikan nilai kebenaran. Nilai kebenaran ini tidak sama dengan Nilai benar dan salah. Nilai benar dan salah timbangannya pasti, benar ya benar, salah ya salah. Nilai pastinya tidak bisa disanggah oleh argumentasi apa pun. Jangan jauh - jauh untuk mengujinya, ambil saja contoh konvensi hitungan matematika, penjumlahan, perkalian sampai dengan pembagian. Kenapa tidak bisa dibantah disana? Sederhana sekali ya, karena antara teori berhitung dengan prakteknya sama. Dari contoh ini, tidak juga bisa dikatakan nilai salah dan benar itu hanya untuk kalkulus. Nilai benar dan salah juga bisa untuk Ilmu apa saja, termasuk kitab - kitab suci. Masalahnya belum pernah diuji bersama dari semua tinjauan. Kenapa tidak pernah di uji, karena sudah menjadi kesadaran umum, kitab itu isinya nilai kebenaran. 

Khusus agama Islam, berhubung saya Islam, saya urai saja sedikit dari yang pernah dialami waku kecil. Dalam agama Islam, dikenal pula toleransi dalam penentuan waktu beribadah. Contohnya saat puasa di bulan Ramadhan, terutama menjelang puasa dan buka. 

Ketika puasa ramadian ada tanda imsyak, sebagai tanda untuk segera siap - siap menghentikan makan sahur, disini masih ada toleransi kalau sekedar mau minum air putih. Kemudian toleransi lagi boleh makan sedikit kalau bangunnya pas imsyak. Pada waktu menjalankan puasa pun begitu, ada toleransinya, makan karna lupa, tidak batal, sama dengan boleh puasa lagi.
Menjelang tanda buka juga sama, silahkan sajalah diingat - ingat dari pengalaman masing - masing, pasti ketemu kan toleransinya? 

Ini hanya sekilas gambaran saja bagaimana toleransi itu dalam kehidupan sehari - hari kita dalam menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan agama masing - masing. 

Kebebasan ini dijamin Negara, karena sudah ditetapkan dalam Kontitusi Negara. Lewat hukum dasar itu pula yang mengatur norma hukum, hukum berbuat dalam bernegara, yang dikenal dengan hukum tatanegara. Lembaga Peradilan merupakan tempat pertimbangan kepastian hukumnya untuk mendapatkan keadilan seadil - adilnya menurut aturan / norma hukum yang berlaku. Sedangkan Hukuman adalah sanksi, sama dengan ganjaran, sama dengan imbalan.

Kenyataannya kemudian berubah dilapangan,tentunya karena ada ulah seperti yang sering kita jumpai, kita lihat, kita alami, kita rasakan, banyak sekali timbangan - timbangan hukum dalam keputusan di setiap peradilan, orang bilang tajam kebawah tumpul keatas. Artinya tidak adil, tidak seduduk seberdiri didalam hukum. Dengan kata lain, lebih banyak yang tidak memenuhi nilai - nilai adil menurut norma hukum. Maka wajar kemudian dikatakan tidak adil, karena tidak adil menurut norma berbuat, sama dengan tidak memenuhi nilai adil berdasarkan nilai - nilai yang memenuhi harapan kemanusiaan. Itu semua karena toleransi. 

Dari uraian ini bukan mau mengatakkan, bahwa toleransi itu salah, toleransi itu tidak benar. Bukan kesana. Karena toleransi itu sangat baik dalam kehidupan, apalagi dalam kehidupan beragama.
Berbeda jika toleransi dihubungkan dengan Aturan norma berbuat atau norma hukum dalam ikatan negara, sebab dalam pelaksanaannya nanti, batasan - batasan toleransi itu yang membuat Hukum tidak pernah ajeg. Karna Hukum itu harus memberikan nilai kepastiannya.

Kemudian juga, dengan adanya toleransi dalam norma hukum, akan menggeser aturan itu sendiri. Karena berangkat dari toleransi, tidak jarang juga muncul itu, bukan cuma yang tertulis dalam aturannya, tapi dalam bentuk kesepakatan - kesepakatan, hasil badami, hasil lobi, “hasil silaturahim”, menjadi sebuah kesepakatan baru. 

Kesepakatan baru dalam bentuk lisan inilah yang akan terus melahirkan kesepakatan - kesepakatan baru lainnya. Ini adalah akibat dari toleransi, yaitu sebagai bentuk pemuaiannya atau pergeseran - pergesera akan nilai keakuratannya

Toleransilah kalau saya agak terlambat ke lapangan upacara Hardiknas pagi ini karena butuhnya secangkir kopi pahit dan menikmati panganan kecil alakadarnya buat sarapan pagi.

Selamat pagi Indonesia-ku. Selamat Ber-Hari Pendidikan Nasional.


Majalengka,02 Mei 2012


Salah Kaprah Menilai Tinggi Kecerdasan Melalui Pendidikan


Ahli pendidikan Inggris, Alfred North Whitehead, mengatakan bahwa "di tengah-tengah suasana kehidupan modern, hukumnya mutlak. Suatu bangsa yang tidak menilai tinggi kecerdasan yang terlatih dinasibkan tenggelam dalam sejarah. Baik segala kepahlawananya, baik semua kelincahannya, semua kemenangan yang telah dicapai di darat ataupun di laut, akan mampu menolak balik dorongan nasib. Hari ini bangsa itu mungkin bisa bertahan. Besok, ilmu pengetahuan akan maju lagi satu langkah. Bagi suatu bangsa yang tidak berpendidikan, tidak ada suatu mahkamah pun ke mana dia dapat mengajukan pengaduan atas hukuman yang telah dijatuhkan kepada bangsa yang tidak berpendidikan." 

Yukichi Fukuzawa (1835-1904) dalam bukunya berjudul Gakumon no Susume (suatu Imbauan untuk Belajar) menulis, "Tuhan tidak menakdirkan seorang pada tempat di atas atau di bawah seseorang yang lain. Ini berarti bahwa kalau mereka dilahirkan, mereka sama derajatnya. Namun, kalau kita melayangkan pandangan atas suasana manusia yang sebenarnya, kita jumpai mereka yang pandai dan yang bodoh, mereka yang berderajat rendah. Suasana mereka sangat berbeda seakan-akan antara awan dan lumpur. Sebab-sebab adanya suasana demikian itu jelas sekali. Kalau seseorang tidak menuntut ilmu, ia akan tetap dalam kegelapan, dan seseorang yang berada dalam kegelapan adalah orang bodoh. Oleh sebab itu, perbedaan antara pandai dan bodoh, pada hakekatnya, ditetapkan oleh pendidikan." 

Pentingnya menilai tinggi kecerdasan, para pendiri republik ini telah memasukkan topik pendidikan dalam konstitusi. UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang." Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia." Bahkan dalam konsititusi yang telah diamendemen telah dicantumkan minimum 20 % dari anggaran belanja Negara disisihkan untuk pendidikan.

Sekilas negeri ini menilai tinggi kecerdasan. Namun, apa yang telah dihasilkan dunia pendidikan kita? Setelah lebih 64 tahun negeri ini merdeka, khususnya pada dua dekade terakhir, dunia pendidikan kita hanya menghasilkan siswa tawuran, mahasiwa yang menjiplak/ahli jiplak, pejabat yang koruptor, warga yang masih percaya kepada dukun, pekerja yang mau berpenghasilan tinggi tetapi tidak mau bekerja keras, penduduk yang mudah emosi dan menunggu kesejahteraan dari dana-dana pinjaman pemerintah, dan berbagai karakter-karakter buruk lainnya. Banyak berita-berita yang berkaitan dengan moral disajikan di publik bahkan sampai ada yang berani melakukan hubungan seks di luar nikah dan disebarkan ke publik dengan begitu percaya dirinya. 

Jelaslah bahwa pendidikan bukanlah hanya semata-mata soal anggaran. Pendidikan bukan hanya semata-mata melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh para elit politik dan pemerintah lewat Undang-Undang Pendidikan dan kebijakan-kebijakan pendidikan yang bersifat teknis lainnya. Pendidikan bukan hanya semata-mata melaksanakan kurikulum. Jauh lebih penting dari itu adalah "ruh" nya yakni falsafah pendidikan; apa falsafah terhadap murid, kurikulum pendidikan dan guru. Dan yang tidak bisa diabaikan juga adalah bagaimana falsafah itu dijabarkan dalam tataran praktis. 

Oleh karena begitu pentingnya menilai tinggi kecerdasan, pada halaman ini disajikan topik seputar pendidikan. Kita akan lihat falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, relasi antara pendidikan dan negara, peran pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan dan lewat jalur apa pendidikan yang baik diperjuangkan.

“Tanggalkan Bangsa Kerdil, Menjadi Bangsa Pemimpin”


Saudara-saudaraku seBangsa dan seTanah Air, sadarlah kini sudah lebih dari 2000 tahun kita sebagai Bangsa telah ada, jangan sangsikan didalam diri kita ada sebongkah Mutiara yang tak pernah hilang. 

Saudara saudaraku, dimanapun berada, disini di tanah ini, atau di manapun ditanah bumi manapun saudaraku berada, sebungkah mutiara itu tak pernah sirna, walau tergoncang walau terombang ambing peradaban dan kebudayaan bangsa lain, tetapi mutiara itu akan tetap ada dalam sanubari kita dalam dalam. 

Ketahuilah bahwa Dunia ini dihidupi oleh Fitrah Manusia, Bahwa Manusia didunia itu, pada dasarnya adalah sama, hakekatnya sama sebahai Makhluk Tuhan,tidak beda satu sama lain. Oleh karena itu Manusialah fokus yang harus di perhatikan. Bahwa Manusia lah sebagai penentu Sejarah, Pengukir dan Pelukis Sejarah ditempat manapun dan dijaman kapanpun. 

Bahwa Masyarakat dan Manusia inilah yang tak boleh diabaikan, tidak hanya Masyarakat Indonesia, tetapi juga Masyarakat diseluruh Dunia, semua menghadapi masalah yang sama, 

Bahwa World Prospiraty, World Emancipation dan World Peace,
Kekayaan Kesejahteraan harus merupakan Kekayaan Kesejahteraan Dunia,
Bahwa Emansipasi harus Emansipasi Dunia,
Bahwa Persaudaraan haruslah Persaudaraan Dunia,
Bahwa Damai haruslah Perdamaian Dunia,
berdasarkan kekuatan Masyarakat Dunia ini 

Saudara saudaraku, seBangsa dan seTanah Air, Buka mata, Buka mata, Buka otak, buka telinga perhatikan, perhatikan keadaan, perhatikan keadaan, carilah pelajarilah dari yang kamu lihat, agar supaya saudara menggunakan itu untuk pekerjaan raksasa, membangun Negara dan Tanah Air. 

Jangan seperti apa yang dikatakan oleh orang2 Amerika, mereka selalu menyebut orang2 belanda dengan ” Hollands denkens , adalah “ penny-wise, proud, and foolish” 

” Hollands denken ” adalah :
Thinking peny wise, Berfikir satu sen, satu sen, kecil kecil, sedikit sedikit menjadi bukit’
Proud, congkak, tinggi hati, sombong,
Foolish, bodoh, bodoh, bodoh. 

Lihat saudara saudaraku, perhatikan, di sana, di Amerika Serikat -” Hollands denken ” itu tidak ada. Tak ada dalam dinamika kehidupan mereka juga di negara negara lain. 

Ingat saudara saudaraku, seBangsa dan seTanah Air, kita ini sudah 350 tahun di cekoki dengan “Hollands denken” tadi. Kita menjadi Bangsa yang juga ikut2an seperti Belanda, yang berfikir “ Penny wise, proud and foolish”, Itulah kenapa kita tidak berkembang, sedikit sedikit, bodoh tapi sombong, saudara2. 

Sehingga kehidupan menjadi mandeg, tertutup semua jalan dan memendam mutiara mutiara yang ada dalam kehidupan kita sendiri, terselubung dan tertutupi sifat2 Belanda tadi, mutiara yang sudah lama ada dan membuat kita tetap ada hingga kini, 

Gara gara kita terikut si Belanda, akhirnya matilah daya Imajinasi kita, tak berani menelorkan ide ide, konsep konsep yang Spektakuler, tak mempunyai nyali dan keberanian untuk melakukan langkah langkah besar. tak berani beranjak dari yang sudah ada, bergeming ada di tempat dan statis tak bergerak. Lebih baik memelihara yang sudah ada walau hanya kecil kecil. 

Saudara saudaraku, seBangsa dan seTanah Air, bahwa kita sudah diajarkan oleh nenek moyang kita sejak 2000 tahun yang lalu, bahwa kita adalah Bangsa yang besar, Bangsa yang mempunyai peradaban tinggi dan mengandung nilai nilai kehidupan yang membuat kita tetap ada dan survive dimasa masa perubahan dan goncangan Kebudayaan dan peradaban. 

Saudara saudaraku, Kita harus berani beranjak dan harus berani meloncat dengan loncatan kedepan, dengan imajinasi dan visi kedepan yang spektakuler. tanpa itu, kita hanya berhenti dan tetap statis ditempat yang sekarang ada, tak pernah beranjak ada ditempat terlanda zaman dan peradaban, mengecil dan menjadi tak terlihat dan tak ada. eksistensinya hapus dan sirna. 

Sementara Negara Negara lain, dan Bangsa Bangsa lain, demikian cepat melangkah kedepan dengan Visi yang Imajinatip, dengan bayangan masa depan yang Spektakuler. Maka akan tertinggallah kita, menjadi Bangsa terbelakang dan menjadi Bangsa yang terikut menjadi Bangsa pengikut, bukan Bangsa yang diikuti dan di depan sebagai Pemimpin Bangsa Bangsa lain. 

Saudara saudaraku sebangsa dan setanah air,sudah bukan lagi himbauan, tetapi sudah menjad kebutuhan kita untuk secepatnya beranjak dan melakukan loncatan kedepan, dengan imajinasi dan fantasi fantasi yang fantastis, dengan keberanian dan nyali besar dengan berani menghadapi resiko dan tantangan, dengan menghadapi dinamika kehidupan dengan mimpi mimpi. 

Cobalah kita lihat, Bangsa Bangsa yang mempunyai “ Imagination”, mempunyai fantasi fantasi besar, mempunyai keberanian, mempunyai kesediaan menghadapi resiko, mempunyai dinamika, mempunyai mimpi2. menjadi Bangsa yang cepat besar dan membesar tumbuh eksistensinya serta nyata, dengan memberikan sumbangan kedalam Kehidupan dan Peradaban Dunia. 

Kita harus berani, menggelar Peta Kehidupan, dengan memberikan alternatif Tatanan Kehidupan yang baik dan bermanfaat bagi Dunia, dengan mengenalkan cara hidup dan Falsafah kita, yang demikian menakjubkan dimata Dunia. 

Saudara saudarakau, sudah saatnya lah sekarang, mutiara mutiara yang terpendam dalam sanubari, kita keluarkan dan biarkan memberikan cahaya pencerahan dan memancarkan kehidupan yang bermartabat, bagi seluruh Ummat Manusia. mutiara mutiara Kebersamaan dan Persaudaraan diantara Manusia, menghargai Manusia dengan Manusia yang lain, sama sederajad dengan saling menghormati kedaulatannya masing masing. 

Saudara saudaraku, mutiara mutiara itu, termaktub dalam Preambule UUD 1945, disana jawaban Masyarakat dunia untuk bisa meraih Kehidupan yang Bermartabat dan Sejahtera bagi seluruh Ummat Manusia. 

Perlu loncatan kedepan jangan hanya berfikir penny wise, kecil kecil, berfikirlah yang imanjinatif, bayangan sesuatu yang spektakuler, yang belum pernah ada. Baru kita bisa berharap menjadi Bangsa Besar. Dengan pandangan dan pikiran yang imajinatif. Menggunakan pikiran dan Visi kedepan, dengan memanfaatkan Technology dan pengetahuan masa depan. Bukan berfikir, sedikit sedikit menjadi bukit, tetapi berfikir dengan imajinasi dengan resiko yang kita harus ambil, dengan dinamika dan semangat bekerja. 

Kita yang dahulu bisa menciptakan candi-candi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu yang sampai sekarang belum hancur. 

Sekarang ini kita telah mejadi satu bangsa yang kecil jiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa yang sedang dicandra-sengkalakan, diramalkan , didalam candra-sengkala jatuhnya Majapahit, “sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Menjadi satu bangsa yang kecil, satu bangsa yang kerdil 

Saya tak ingin mengatakan bahwa bangsa ini sudah sirna, bangsa ini sudah mengkerdil menjadi hilang, tak berbekas, mengiyakan ramalan jatuhnya majapahit. Kita harus sadar, menyadarkan diri, bahwa kita bukan Bangsa Kerdil, kita bukan Bangsa yang sudah sirna. Kita Bangsa yang mampu bangkit dan bekerja. Mampu bekerja keras mewujudkan cita cita menjadi Bangsa terhormat bermartabat. Menjadi Bangsa Pemimpin. 

Tanggalkan Bangsa Kerdil, Menjadi Bangsa Pemimpin !!! 

Coba perhatikan sekarang, lihat Bumi kita dan keindahan Alam kita. tengok, Alam disekelilng kita, betapa indahnya, dengan panjang Pantai yang tak terkira, dengan Pantai yang tak sama satu sama lain, sama indahnya, dari Sabang sampai Mearuke, tak ada tempat seindah Bumi kita, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian, Bali, NTT, NTB, Maluku, dan pulau pulau lain , berpuluh ribu pulau yang eksotis. dengan keramahan Bangsa ini. Sungguh kekayaan yang terpendam dan merupakan harta yang tak ternilai dan tak pernah habis sepanjang masa. 

Kekayaan yang terhampar dipermukaan maupun yang ada didalam Bumi, adalah kekayaan yang tak pernah habis sekalipun di gunakan untuk kebutuhan Manusia seluruh Dunia. disana kekayaan alam berada, dibawah pijakan kaki saudara saudara, dibawah telapak kaki kita ada segala kekayaan alam , 

Kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, jiwa besar, menjadi pemimpin dunia, membagi kekayaan untuk ummat manusia untuk kemaslahatan ummat di seluruh dunia. 

Saudara saudaraku, siapkan diri kita baik baik, Menjadi Pemimpin Dunia, membawa manusia kearah kehidupan yang bermartabat, sejahtera, adil dan tenteram. 

Tuhan kan bersama dengan kita, yang selalu mencari keridloaannya, didunia dan di akherat. 

Gali ! Bekerja!
Gali! Beramal!
Indonesia adalah Tanah Air
yang paling Cantik di Dunia. 
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka ! 

JAKARTA 1 mei 2012. 

. 0leh: Zen Muttaqin 

Menyoal SK Bersama 5 (Lima) Menteri dalam Perspektif Beban Kerja Guru



Masih segar di ingatan kita, pemerintah dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan sebuah terobosan dalam peningkatan kompetensi guru, yaitu sertifikasi guru (PLPG). Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas.

Dasar utama pelaksanaan sertifikasi adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan tanggal 30 Desember 2005. Pasal yang menyatakannya adalah Pasal 8: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 

Pasal lainnya adalah Pasal 11, ayat (1) menyebutkan bahwa sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Landasan hukum lainnya adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2007.

Tahun 2012, sertifikasi guru akan diselenggarakan. Namun, kali ini ada peraturan baru. Terlebih dahulu seluruh guru harus melalui Uji Kompetensi Awal (UKA).

Dasar Kebijakan SKB 5 Menteri

Mulai tahun 2010 tunjangan profesi bagi sebagian guru pegawai negeri sipil daerah (PNSD) dibayarkan melalui mekanisme transfer ke daerah di kantor dinas pendidikan kabupaten/kota masing-masing. Sedangkan tunjangan profesi guru bukan PNS dan sebagian guru PNS masih tetap disalurkan melalui dana dekonsentrasi di dinas pendidikan provinsi masing-masing. 

Untuk mengatasi ketimpangan pemerataan guru di sekolah-sekolah, pemerintah pusat mengambil alih kewenangan daerah dalam hal pengelolaan guru yang melibatkan 5 kementerian, yaitu Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemenkeu dan KemenPAN-RB. Ke-5 kementerian ini sepakat menandatangani sebuah kebijakan, yaitu Surat Keputusan Bersama 5 (lima) Menteri (SKB 5 Menteri). SKB 5 Menteri mengenai pemerataan jam mengajar dan efisiensi waktu guru dalam mengajar. Mendikbud, M Nuh kembali mengungkapkan, ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri pekan lalu adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan, roh yang terdapat dalam SKB 5 menteri itu adalah untuk menarik seluruh urusan tata kelola guru yang tahun ini ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota kembali menjadi wewenang pemerintah provinsi dan pusat. Inti dari SKB itu adalah soal distribusi guru. Jadi kalau ada kelebihan atau kekurangan guru di tingkat provinsi, maka gubernur punya kewenangan untuk mendistribusi guru antarkabupaten

SK ini menimbulkan penolakan terutama dari guru. Banyak guru yang resah dengan kebijakan ini. Karena tuntutan mengajar minimal 24 jam dalam seminggu. Beberapa hal yang membuat guru galau: 
(1) Kekurangan jam mengajar. Ketika SKB tersebut diberlakukan maka banyak guru yang kekurangan jam mengajar untuk memenuhi target peraturan 24 jam. 
(2) Terancamnya tunjangan profesi. Kini sudah banyak guru yang menikmati tunjangan sertifikasi dengan tuntutan minimal 24 jam. Ketika jam tersebut tidak dipenuhi maka tunjangan tersebut akan dicabut. 
(3) Mengancam guru swasta. Guru swasta yang telah mengajar biasanya posisinya akan terancam oleh guru negeri yang mencari jam di sekolah swasta. Konflik yang terjadi adalah guru swasta jamnya digusur oleh guru negeri tersebut. 
(4) Tidak konsen mengajar. Ketika terlalu berat tuntutan yang diberikan maka peserta didik yang menjadi korban, karena guru juga memiliki tugas yang lain selain mengajar. Misalnya analisis soal, bimbingan siswa dan tugas administrasi yang lain, dan 
(5) Hilangnya budaya ilmiah. Dengan banyaknya jam mengajar yang harus dipenuhi akan menyebabkan hilangnya waktu bagi para guru untuk membaca dan menulis.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Menteri tentang penataan dan pendistribusian guru menimbulkan banyak permasalahan. Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti mengatakan, dalam implementasinya, SKB tersebut menimbulkan kekacauan, ketidakharmonisan di antara guru dan banyak guru kehilangan pekerjaan serta terancam dicabut tunjangan sertifikasinya.

Menurutnya, ada sejumlah dampak negatif yang merugikan guru dan siswa akibat pelaksanaan SKB 5 Menteri. Adapun, dampak nyata dalam penerapan SKB tersebut, di antaranya, mengabaikan peningkatan mutu pendidikan. Seorang guru harus mengajar (tatap muka) minimal 24 jam dan maksimal 40 jam. 

Akibatnya dari penerapan ini, banyak terjadi "pertikaian" horizontal di lapangan akibat perebutan jam mengajar. Pembulatan ke bawah mengakibatkan banyak guru PNS yang tidak memperoleh 24 jam di tempatnya bertugas. Dampaknya, para guru jadi saling serang dan menganggap guru lainnya sebagai ancaman.

Para guru yang kekurangan jam tidak menerima kebijakan tersebut dan kemudian melawan. Kondisi sekolah menjadi tidak harmonis, terlebih dasar pembagian jam juga banyak tidak merujuk pada ketentuan SKB 5 Menteri. Pembagian lebih didasarkan pada senioritas bukan kompetensi dan kinerja atau prestasi.

Selanjutnya, SKB 5 Menteri juga memicu mutasi guru nasional secara besar-besaran. SKB berpeluang memutasi 20-50 persen guru PNS di sekolah negeri. Perkiraan itu didasarkan pada SKB yang menentukan rumus perhitungan kebutuhan guru jenjang SMA.

SKB 5 Menteri akan menyingkirkan guru PNS junior dan seluruh guru honorer di sekolah negeri. Selain itu, ketentuan SKB 5 Menteri tentang waktu tatap muka untuk sekolah lain (75 persen) dan untuk sekolah induk (25 persen) berakibat pada pemborosan energi, tidak fokusnya guru dalam memberikan materi, menghambat karir, serta mengganggu perekonomian guru.

Penutup
Rasanya tidak adil, setiap ada kebijakan Kemendikbud, sasarannya adalah guru. Ini membuktikan seakan-akan gurulah biang kerok mundurnya kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah pemerintah tidak sadar bahwa mundurnya pendidikan di Indonesia juga tidak terlepas dari perbuatannya. Pemerintah terlalu banyak menuntut tanpa dibarengi tindakan kooperatif. Seolah-olah guru dianggap maaf, "kerbau yang dicolok", harus mengikuti setiap "kemauan" Kemendikbud. 

Tidak hanya itu, faktor orang tua juga tidak bisa dianggap remeh. Pendidikan dari orang tua akan mempengaruhi pendidikan anak (siswa) di sekolah. Didikan orang tua berperan menciptakan karakter anak. Perilaku siswa juga adalah faktor pendukung rusaknya citra pendidikan. Pengaruh lingkungan negatif membuat siswa-siswa meremehkan didikan guru. Banyak siswa sekarang yang melawan perintah guru. Ini diakibatkan pergaulan buruk di luar sekolah. Jadi, jangan hanya menyalahkan dan "menyiksa" guru dengan berbagai kebijakan yang memberatkan eksistensi guru. Tidak adakah "angin surga" yang ditawarkan untuk guru?. ***

Penulis : Join L. Silaban, S.Pd adalah Guru Honorer di Sekolah Methodist Tanjung Morawa
Diposting ulang : Pak Guru Tonjong

Pak Guru Tonjong: Refleksi Memperingati HARDIKNAS 02 Mei 2012

Pak Guru Tonjong: Refleksi Memperingati HARDIKNAS 02 Mei 2012: Sudahkah Pendidikan Mencerdaskan? Setiap tahun, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hampir seluruh media massa menampi...

Refleksi Memperingati HARDIKNAS 02 Mei 2012

Sudahkah Pendidikan Mencerdaskan?

Setiap tahun, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hampir seluruh media massa menampilkan berita dari dunia pendidikan. Kabar prestasi siswa-siswi Indonesia di ajang kompetisi regional maupun internasional serta ironi kelas-kelas rusak dan minimnya fasilitas pendidikan meramaikan layar televisi dan koran. Di balik itu semua, banyak ujung tombak pencerdas kehidupan bangsa yang mengeluhkan kerumitan administrasi, berjejal tugas yang membebani, serta proses sertifikasi yang bisa meningkatkan tensi. Banyak di antara manusia-manusia yang dipanggil Bapak dan Ibu Guru ini seakan tidak lagi bisa menikmati tugas mulia pembangun generasi berprestasi.

Gemilang prestasi anak negeri juga dicibir oleh kelombang korupsi dan manipulasi. Sekolah-sekolah berlomba meraih kelulusan 100% dengan berbagai macam cara mulai dari istighosah, jampi-jampi, hingga minta doa kepada orang mati. Bahkan, yang lebih bodoh lagi, dibentuklah komplotan pemberani yang mengebiri habis nilai-nilai kejujuran dan mengubur dalam-dalam hati nurani asal anak didik bisa lulus uji. Ini pencerdasan atau pembodohan?

UUD 1945 pasal 31, ayat 3 menegaskan bahwa "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Sudahkah undang-undang tersebut ditegakkan? Atau mungkin itu masih sebatas omong kosong tanpa bukti? Beriman dan bertaqwakah orang-orang yang minta jampi-jampi sambil menyiapkan strategi keji merancang penyebaran jawaban ujian secara merata agar semua merasa? Berakhlak muliakah pendidik yang membiarkan bahkan merencanakan kecurangan? Sehatkah pendidikan memaksakan diri hanya untuk mengejar target kurikulum? Bisakah guru yang malas mengadakan perubahan diri menjadi lebih baik mencetak generasi berilmu, cakap, dan kreatif? Apakah generasi mandiri dan bertanggung jawab mampu dihsilkan dari proses pendidikan yang dilakukan oleh guru bersertifikasi yang dalam proses sertifikasinya dinodai oleh perilaku plagiat lalu diikuti kemalasan akut pengembangan diri?

Segudang tanda tanya masih menyelimuti pendidikan Indonesia. Tanda tanya yang menyisakan tugas kepada manusia yang telah menyematkan sebutan guru sebagai profesinya.


1 Mei 2012

Silaturakhmi Dakwah TNI , POLRI dan Masyarakat (Bagian akhir)

Bagian 3


(Photo pertemuan Jord Jamaah Majalengka di Masjid Jamie Yayasan Amal Bakti Pancasila 
Kecamatan Lemah Sugih Majalengka Jawa Barat,2009)

Bagian pertama dan kedua telah diposting, yang memuat Tausyiah dari Ka Divisi Humas Mabes Polri Irjenpol Drs Anton Bahrul Alam, yang initinya betapa pentingnya Muslim menjaga shalatnya secara berjamaah, di awal waktu di mesjid atau mushalla. Bagian Kedua ini, penulis telah memuat laporan secara singkat Tausyiah dari wakil dari ketiga Angkatan dalam tubuh TNI, yaitu AD, AL dan AU.

Nah selanjutnya pada Bagian Ketiga ini penutup dari 3 bagian tulisan, akan disajikan Tausyiah dari pak Cecep, seorang Syuro selaku Dewan Penasehat Markas Dakwah Jamaah Tabligh di Mesjid Kebun Jeruk Jakarta Pusat. Beliau sudah puluhan tahun berdakwah sejak zaman mantan Presiden Soeharto, dimana waktu itu banyak anggota jamaah Tabligh yang ditangkap, karena dicurigai sebagai Islam Fundamentalis yang suka berbuat kekerasan seperti pengeboman dan lain sebagainya. 

Bahkan sampai tahun 2009 yang lalu, masih ada jamaah asal Filipina yang ditangkap di Purwokerto dan Solo, karena dicurigai ada kaitannnya dengan terrorist. Dulu Soeharto sering mengirim intel berpakaian preman mendengarkan “bayan” atau ceramah yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh. Tapi, akhirnya mereka justru yang tertarik dengan usaha atas iman ini, dan saat ini justru Polri dan TNI baik yang masih aktif maupun sudah purnawirawan malah ikut dalam kegiatan yang mulia ini. 

Saat ini Jamaah Tabligh telah berkembang di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke pedalaman Provinsi Papua, bahkan Putra Mahkota Qatar pernah berdakwah di Prov Papua. Pusat kegiatan mereka di mesjid yang disebut Markas (seperti TNI dan Polri). Di seluruh dunia sudah tersebar di lebih 180 Negara termasuk di Israel, China, Rusia dan seluruh Negara Eropa. 

Bayan dari Bapak Cecep 

Pak Cecep mengawali bayan Tausyiahnya dengan mengutip ayat Qur'an Surah Al Baqarah ayat 21 yang mafhumnya sebagai berikut: ” Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” 

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan kehendak Allah segalanya bisa terjadi. Allah Mahakuasa, mahluk tak kuasa. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bila kita taat kepada Allah, maka seluruh doa kita akan dikabulkan. 

Manusia punya keingininan atau kehendak. Allah juga punya kehendak. Bila kehendak manusia berlawanan dengan kehendak Allah, maka kehendak Allah yang akan berlaku. Kalau kita taat kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan keinginan kita. Taat kepada Allah adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. 

Bila kita tidak mengamalkan agama, maka segala bencana akan datang. Bila banyak bencana yang menimpa kita, jangan menyalahkan orang lain, tapi salahkan diri sendiri. 

Bila kita mentaati segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannnya, bukan hanya di Akhirat kita akan bahagia. Di dunia pun sudah bahagia. Hidup bahagia baik di dunia maupun di Akhirat kelak. 

Agama adalah untuk kepentingan manusia, kita, bukan untuk kepentingan Allah. Allah tidak butuh ketaatan kita, tapi kita butuh taat kepada Allah. Jangan terpengaruh dengan orang yang tak beriman. Tapi ikuti cara hidup Nabi Muhammad SAW. Tidak ada cara lain untuk memdapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di Akhirat selain mengikuti cara hidup Rasulullah SAW.. 

Misalnya sebagai anggota Polri atau TNI atau jabatan apapun, maka jadilah orang yang jujur, yang amanah, jangan khianat, jangan korupsi, jangan mengambil hak orang lain. Bila kita mempunyai pemimpin yang tidak amanah, jangan salahkan siapa-siapa. Itu kesalahan kita. Bila kita semua taat kepada Allah, maka Allah akan berikan kita pemimpin yang baik dan amanah. Sebaliknya, bila kita tidak taat kepada Allah, maka Allah akan turunkan pemimpin yang zalim. 

Untuk memperbaiki umat, maka kita harus ajak semua orang untuk taat kepada Allah, baik istri, anak, tetangga dan lain sebagainya. Hanya dengan ketaatan kepada Allah, maka semua masalah akan terselesaikan. 

Allah telah memberikan contoh, sudah 124 ribu Nabi dan Rasul telah diturunkan Allah dan dikorbankan untuk memperbaiki umat agar taat kepada Allah. Kunci untuk menyelesaikan segala masalah adalah taat kepada Allah. Bila kita semua taat kepada Allah, maka Allah yang akan mnyelesaikan segala masalah kita. 

Semua mahluk yang ada di langit dan di bumi, taat kepada perintah Allah. Gunung meletus atasa kehnadak Allah. Demkina juga banjir dan Tsunami, hanya bisa terjadi atas kehendak dan izin Allah. Allah berfirman,“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali .” 

Apabila kita melakukan amal kebaikan, maka balasannya kebaikan juga. Sebaliknya bila kita melakukan amal (perbuatan) buruk, maka balasannya juga keburukan. Sewaktu Nabi Muhmmad SAW Isra’ Mi’raj, beliau melihat sesuatu yang turun dan yang naik dari langit ke bumi atau sebaliknya. Yang naik adalah amal-amal dari manusia, sedang yang turun adalah balasan-balasan dari Allah kepada manusia. 

Allah mengirim 124 ribu Nabi dan Rasul ke dunia agar manusia menjadi baik. Agar manusia beriman kepada yang ghaib. Jangan hanya menggunakan akal, tapi gunakan iman. Ada seorang yang tidak percaya, bagaimana mungkin dengan menjalankan shalat kok bisa mendatangkan rezeki?. Dengan shalat akan menjauhkan kita dari kesempitan hidup?. Tak mungkin. 

Coba perhatikan seorang polisi lalu lintas, yang menggerakkan kedua tangannya untuk mengatur lalu lintas di persimpangan jalan. Kalau dilihat, apa manfaat dia susah payah berdiri di tengah panas sinar matahari?. Ternyata dia menjalankan tugas sebagai polisi lalu lintas. Dia tak perlu bertanam padi atau memelihara ayam untuk makannya. Ternyata dia mendapat gaji dari Pemerintah untuk menjamin hidupnya, hanya karena dia taat menjalankan tugasnya. 

Nah bagaimana bila kita taat menjalankan segala perintah Allah?. Raja dari semua raja. Tentu Allah yang Maha Kuasa, Yang Maha Memberi Rezeki, akan menjamin rezeki kita, dan akan menjauhkan kita dari kesempitan hidup. Siapa yang lebih baik dari Allah yang menjamin rezeki kita?. Tidak ada! Maka yakinlah, bahwa dengan shalat dapat mendatangkan rezeki, asalkan ditunaikan dengan sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan. Bila ingin bahgia di dunia dan akhirat, maka amalkan agama dengan sempurna. 

Misalnya untuk memilih Presiden, diadakan Pemilu, lalu terpilih Presiden. Bila yang terpilih seorang bandit, tapi bila rakyatnya baik, takwa kepada Allah, dan kita bantu Presiden dan kita doakan, maka Presiden yang jahat itu akhirnya berubah jadi baik. Sebaliknya, saat Pemilu terpilih seorang Presiden yang baik, tapi karena rakyatnya tak beriman dan tak menjalankan Agama dengan baik, maka Presiden yang tadinya baik akan berubah jadi jahat. 

Contoh lain. Nabi Ibrahmim saat dimasukkan ke dalam api yang menyala selama 40 hari oleh Raja Namruz. Tamppak di mata manusia pasti Nabi Ibrahim menderita dan akan binasa. Tapi karena Nabi Ibrahim beriman dan taat kepada Allah, maka Allah perintahkan kepada api agar jadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim. Nabi Ibrahim merasa nyaman, tak merasakan panas sama sekali, malah seperti di ruang AC. Allah Maha Kuasa berbuat segala sesuatu atas hamba-hambanya. 

Bila Allah Kuasa memberikan kebahagiaan saat kita ada di dalam rumah gedung yang mewah, Allah juga bisa mmberikan kebahagiaan pada kita walaupun dalam gubug. Bila kita ingin meningkatkan penghasilkan, tak perlu kerja di luar negeri jadi TKI apalagi TKW, tapi tingkatkan amal. Insya Allah rezeki kita akan lebih banyak 

Ada sebuah hadist Nabi, bila kita melakukan tiga amal buruk, maka akan mendapat empat keburukan sebagai akibatnya. Tiga amal buruk itu adalah:
1. Membangun gedung-gedung yang tinggi,
2. Pernikahan yang mewah.
3. Ulama dimusuhi atau tidak digubris nasihantnya,
Maka akibatnya Allah turunkan azab berupa:
1. Pemimpin yang zalim.
2. Pejabat yang tidak amanah.
3. Harga-harga melambung tinggi dan
4. Dicabut Keberkahan dariNya. 

Bidang ekonomi, yang menaikkan atau menurunkan harga adalah Allah. Yang menjadikan kemarau atau banjir adalah Allah, gagal panen yang menentukan Allah. Harga cabai lebih Rp.100 ribu atas kehendak Allah. Untuk memperbaiki ekonomi bukan dengan tenaga ahli S3, Doktor, Profesor dan lain sebagainya, tapi denagn memperbaiki amal-amal manusianya. 

Dalam bidang kesehatan, penyakit datang akibat kita melakukan dosa, tak bisa mengandalkan rumah sakit atau dokter. Contohnya Amerika, rumah sakit paling modern, tenaga dokter paling ahli dan banyak. Tapi rumah sakit semkin penuh, semakin banyak yang sakit. Di zaman para sahabat, tidak ada rumah sakit, tidak ada doketr, tapi tidak ada yang sakit, padahal makanan mereka sangat sederhana bahkan sering lapar. Karena mereka mengamalkan Agama dengan sempurna. 

Karena praktej seks bebas dan perzinahan, maka timbul penyakit yang tak ada obatnya, yaitu AIDS. Itu merupakan hukuman dan peringatan dari Allah. Bila tidak ada perzinahan lagi, maka penyakit-penyakit itu akan diangkat oleh Allah. Selesaikan semua masalah dengan amal Agama. 

Contoh lain, untuk menghindari penyakit malaria, maka oarng disuruh membersihkan got, tapi manusia tidak taat kepada Allah. Lalu Allah turunkan nyamuk yang suka dengan air yang bersih, yaitu nyamuk demam berdarah. Jadi yang penting, disamping membersihkan got, juga bersihkan diri dari dosa, taat kepada perintah Allah. 

Dalam rumah tangga juga begitu. Siapa yang ingin bahagia dalam rumah tangganya, maka perbaiki hubungan dengan Allah, amalkan Agama dalam rumah. Barangsiapa yang memperbaiki hubungnnya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia, baik dalam keluarga maupun masyarakat. 

Istri yang cantik dapat memberi kebahagiaan, tapi tidak sedikt orang yang mempunyai istri cantik justru jadi bencana, karena istrinya selingkuh misalnya. Sebaliknya istri yang berwajah buruk, tidak cantik, belum tentu tidak bahagia. Banyak orang yang mempunyai istri yang tidak cantik lebih bahagia dari yang punya istri cantik. 

Nabi Musa saat di Lembah Suci Thua, yang mempunyai tongkat yang biasanya digunakan untuk membantunya dalam berbagai keperluan seperti untuk berjalan, memberi makan ternak dll, Tapi atas perintah Allah, tongkat itu dilempar dan berubah jadi ular yang besar dan menakutkan, bahkan bisa membinasakan Musa. Tongkat adalah lambang kebaikan, sedang ular merupakan lambang keburukan. Allah dapat merubah suatu kebaikan menjadi keburukan seketika itu juga, atau sebaliknya dapat merubah suatu keburukan menjadi kebaikan. 

Jadi bila kita taat kepada Allah, maka istri kita akan jadi baik, taat pada kita, Tapi bila kita tidak taat pada Allah, maka istri akan jadi “ular” yang akan memnatuk dan membinasakan kita. Begitu juga suatu jabatan, Dengan jabatan dapat menjadi kebaikan, tapi dengan jababatan juga bisa jadi malapetaka, seperti korupsi yang bisa mengirim kita ke penjara. 

Dalam kehidupan masyarakat. Bila punya pemimpin yang zalim, tak perlu berdemo. Perbaiki hubungan dengan Allah, minta kepada Allah, jangan minta kepada manusia. Cara-cara yang dilakukan oleh FPI bukan cara Islami, apalagi dengan cara merusak dan menyakiti manusia. 

Antara yang haq (benar) dengan yang bthil, bagaikan antara sinar dengan kegelapan. Dengan yang hak maka yang bathil akan lenyap. Nyalakan lampu, maka gelap akan hilang, akan jadi terang-bendernag. Dalam Agama Islam, tak ada kekerasan. Islam itu sendiri berarti damai. 

Walaupun ganja dan narkoba misalnya dibakar habis, tapi orang Islam tidak shalat, maka narkoba akan datang lagi dan dating lgi. Tapi bila orang Islam shalat dan taat beragama, tak akan mau menghisap ganja atau narkoba karena yakin merugikan amalannya. Sekali lagi yang haq akan melenyapkan yang bathil. 

Untuk menciptakan suasana damai, bukan dengan kebencian atau tindak kekerasan, tapi dengan dakwah, amar makruf nahi munkar, Siang berdakwah dan malamnya berdoa bertafakur. Sewaktu tentara Islam menang dan dapat menaklukkan Mekah, tidak ada balas dendam, malah dengan kasih sayang. Akhirnya orang-orang kafir Quraish, berbondong-bondong masuk Islam. 

Hindun, istri Abu Sofyan yang pernah memakan hati paman Nabi pernah bersumpah tidak akan pernah masuk Islam. Tapi karena akhlak para sahabat yang mulia, akhirnya Hindun masuk Islam juga, Ketika ditanya, mengapa dia masuk Islam melanggra sumpahnya?. Apa jawabnya?. “Saya tidak masuk islam, tetapi Islam yang masuk ke dalam diri saya”. Allahu Kabar. 

Jadi kuncinya untuk mengatasi segala kemungkaran saat ini, satu-satunya cara sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah dengan berdakwah dari pintu ke pintu, dari oarng per orang, lakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan upah tau balasan dari manusia. Hanya mengharap balasan dan ridho dari Allah. Siang berdakwah, malam berdoa, mengadu dan meninta kepada Allah. Insya Allah semua masalah akan diselesaikan oleh Allah. Amin 

Dalam Surat Al Mulk: ‘’penjaga neraka bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Bener ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakannya” dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tiada lain hanya dalam kesesatan yang nyata”. Nah kita yang sudah diberi hidayah oleh Allah dalam usaha dakwah ini, apakah tidak takut dengan pertanyaan nanati di Akhirat: Apakah sudah datang jamaah kesini?. Kewajiban kita hanya berusaha mengajak mereka untuk taat kepada Allah, tapi yang memberikan hidayah adalah Allah. 

Yang pasti, bagi yang berdakwah, pasti akan turun hidayah. Kepastiannya sampai diucapkan 12 kali. Tapi hidayah kepada yang didakwahi terserah Allah, apakah akan diberi hidayah atu tidak. 

Demikian yang dapat penulis sampaikan sesuai dengan daya tangkpa dan catatan penulis. Atas segala kekurangan penulis mohon ampun kepada Allah. 

Semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bish shawab.


Laporan ini tulisan dari ahli jamaah dakwah Bapak Bakaruddin Is
Depok, 24 Februari 2011
Diposting ulang oleh : Pak Guru Tonjong (Abu Muhammad G. Abdillah)

Silaturakhmi Dakwah TNI, POLRI dan Masyarakat

Bagian 2
(Tadzabur Alam Rombongan Jamaah dari Plores dengan Amir Tuan Guru Ustd. Anwar 
di daerah Kuningan Jawa Barat)

Bagian pertama dimuka telah dipublikasikan,dengan muatan isi pesan Tausyiah dari Ka Divisi Humas Mabes Polri Irjenpol Drs Anton Bahrul Alam, yang initinya betapa pentingnya Muslim menjaga shalatnya secara berjamaah, di awal waktu di mesjid atau mushalla.

Nah pada Bagian Ke-dua ini, penulis akan melaporkan secara singkat Tausyiah dari wakil dari ketiga Angkatan dalam yubuh TNI, yaitu AD, AL dan AU. Berikut adalah ringkasan Tausyiah dari wakil masing-masing Angkatan.

I. Jend. Jusuf dari Angkatan Darat

Setelah mengucapkan puji dan syukur kepada Allah atas segala nikmatnya, dan menyampaikan salam dan slawat kepada Nabi Muhmmad SAW beserta kelurag dan sahabat-sahabatnya. Pak Jusuy lebih banyak bercerita tentang pengalaman beliau mengikuti kegiatan Jamaah Tabligh, yaitu Khuruj Fii Sabilillah atau keluar (dari) rumah di jalan Allah, untuk berdakwah dan bertabligh.

“Ustadz) Jusuf mendukung apa yang disampikan oleh Irjenpol Anton Bahrul Alam yang telah melakuka ntuaziah sebelumnya, yaitu pentingnya menjaha shalat di mesjid secara berjamaah di awal waktu. Malah beliu menambahkan alasan lain mengapa dia selalu shalat di mesjid karena dia takut rumahnya dibakar.

Namun sesungguhnya maksud Nabi bukan mau membakar rumah orang-orang Islam yang tidak shalat berjamaah di mesjid, tetapi saking sayangnya Rasulullah kepada umatnya akn siksaan Allah bagi mereka yang tidak shalat di mesjid. Lengkapnya terjemhan hadist Nabi tersebut adalah: ” “Demi Allah , Sungguh aku telah berniat akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku menyuruh mendirikanshalat, lalu dikumandangkan Adzannya. Setelah itu aku menyuruh seseorang untuk mengimami jama’ah. Sementara itu aku menyelinap menuju orang-orang yang tidaksuka pergi shalat berjamaah, kemudian aku bakar rumah beserta mereka didalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pak Jusuf yang menjabat suatau jabatan cukup penting di SESKOAD itu menyampaikan bahwa dengan jabatannnya dia dapat “memaksa” anak-buahnya (yang Muslim) untuk shalat di mesjid, karena ada garis komando. Jadi saying sekali bila suatu jabatan tidak dimanfaatkan untuk ikut berdakwah.

Pak Jusuf menceritakan bagaimana awal mula keterlibatannnya dalam kegiatan Jamaah Tabligh, yaitu setelah diundang ke Markas Tabligh di Mesjid Anatpani Bandung. Dmelihat betapa luar biasanya para Jamaah Tabligh yang dengan ikhlas mengorbankan harta, waktu dan dirinya untuk berdakwah, mengajak orang kepada kebaikan, tanpa dibayar, malah menggunakan hartnya untuk berdakwah. Pergi ke seluruh dunia dan seluruh pelosok tanah air.

Tidak ada orgmanisasi islam lainnya yang seperti itu. Biasanya ustdaz atau penceramah itu dibayar setelah memberiakn ceramah Agama, Tapi Jamahh Tabligh, bukan mendapat duit tapi menghabiskan duit. Luar buasa, katanya. Merka hanya mengharapkan balasan dan ridho dari Allah, bukan dari manusia.

Beliau sangat mendukung kegiatan Jamaah Tabligh dan menganjurkan agar usaha ini terus digalakkan, dan menyatakan bahwa kegiatan ini adalah suatu pilihan yang tepat baik bagi anggota militer maupun rakyat biasa, karena sangat besar pahalanya. Mendatangi umat dari pintu ke pintu sampai ke kampong-kampung di pelosok negeri, karena para mubaligh terkenal itu tak mau mendatangi mereka.

Pak Jusuf menyatakan, bila seorang prajurit seorang yang berttakwa, maka pasti semangta tempurnya melawan musuh akan jauh lebih besra, dan tidak akan takut mati, karena dia tahu bila dia meninggla di medan pertempuran, dia akan mati syahid, yang nalasannya adalah Surga, tanpa dihisab. Jadi iman dan amal salaeh yang kuta sangat penting dalam tubuh TNI.

II. Tausyiah Jend. Dipo Raharjo dari Angkatan Laut

Tausyiahnya diawali dengan pernyataan, bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah, termasuk pertemuan silaturahim ini.

Pak Dipo menceritakan pengalaman beliau melaksankan Khuruj Fi Sabilillah di daerah yang sangat rawan, yaitu di Selat Philip antara Kepulauan Riau dengan Singapura. Saat itu jamaahnya derjumlah sepuluh orang, empat orang dari Pakistan dan enam orang dari Indonesia.

Mereka memasuki “sarang penyamun”, karena daerha yang ddatangi adalah kampong-kampung para perompak bajak laut, yang sering membunuh taua memotong leher korbannya, para nakhoda yang melewati Selat Philips tersebut. Belum lagi dari susahnya mencapai kampong-kampung yang termasuk Provinsi Riau Kepulauan itu yang harus dicapai dengan speedboat kecil padahal ombaknya besar. Belum tibda di kampong tujuan saja sudah mempertaruhkan nyawa.

Begitu sampai di kampung para perompak yang meyeramkan itu, dimana mesjidnya tidak pernah dipakai untuk shalat lagi, dimana banyak kalong bersatang di mesjid, tentu saja senagaimana manusia, ada juga rasa ngeri yang menghinggapi para jamaah. Tapi karena mereka yakin, Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama Allah, dan nyawa kita ada di “tangan” Allah, mereka tidak mundur.


Ada beberapa “senjata” yang mereka gunakan, yaitu antara lain, jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang yang paling jahat, sebagiman sifat Rasulullah. Lalu dalam berdakwah, bawa “Enam Sifat” para sahabat,yaitu: 

1. Para sahabat sangat yakin dengan kalimat Toyyibah, La ilaha ilallah, tiada tuhan selain Allah. 
2. Shalat khusuk wal khuduk. 
3. Ilmu ma’a dzikir. 
4. Ikromul Muslimin (memuliakan sesama Muslimin). 
5. Ikhlasuniah (Ikhlas karena Allah). 
6. Dakwah wa tabligh, khuruj fi sabilillah.

Dengan membawa sifat-sifat tersebut, para perompak yang semula mau membunuh para jamaah, malah berbalik arah, mau menjadi orang yang taat kepada Allah. Namun masih banyak kampong-kampung di daerah tersebut yang sumber kehidupan mereka memang dari merompak kapal-kapal yang lewat.

Beliau “memantang” para Jamaah Tabligh untuk berdakwah di daerah itu. Suatau undangan yang Cuma disambut dengan tertawa oleh sebagian jamaah, yang mungkin merasa ngeri menghadapi situasai seperti itu. Tapi yang jelas, para jamaah itu selamat lembali ke Jakarta, Padahal mereka sempat bertemu dengan “dedengkot” para perompak itu, yang akhirnya mau juga diajak shalat di mesjid yang banyak kalongnya itu.

Di akhir Tausyiahnya, pak Dipo menekankan pentingnya istiqomah (konsisten) dan keikhlasan dalam usaha dakwah ini. Kalau tidak, akan percuma saja dan rugi, sambil megutip sebuah hadist Nabi Muhmmad SAW tentang pentingnya ikhlas dalam beramal sebagaimana di bawah ini:.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di Hari Kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah, maka dia didatangkan, dan diperlihatkan kepadanya segala nikmat yang telah diberikan kepadanya di dunia, lalu ia mengenalinya, maka Allah berkata kepadanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat ini?. Orang itu menjawab: Aku berperang di jalan-Mu sampai mati syahid, maka Allah berkata: Kamu berdusta, kamu berperang agar kamu disebut syuhada, dan yang sedemikian itu telah kamu dapatkan. Maka diperintahkan supaya dia diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke api neraka.

Lalu seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan menghapal al-Qur’an, lalu dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya segala nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya di dunia, maka diapun mengenalinya. Maka dikatakan kepadanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat ini?. Maka dia menjawab: Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu. Maka Allah berkata: Kamu berdusta, kamu belajar dengan tujuan agar engkau disebut ulama, dan engkau membaca dan menghapal Al-Qur’an supaya disebut engkau seorang qori, dan semua itu sudah mendapatkannya. Lalu diperintahkan agar dia diseret di atas mukanya sehingga dia dilemparkan ke api neraka,

Kemudian seseorang yang Allah berikan kepadanya keluasan rizki dan diberikan kepadanya segala macam harta, lalu dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya segala nikmat yang telah diberikan kepadanya dan dia mengenalinya, maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat ini?, Maka dia menjawab: Tidak ada suatu jalan yang Engkau suka harta yang telah Engkau berikan agar dibelanjakan harta itu di jalan Allah. Maka Allah berkata: Kamu berdusta, akan tetapi kamu melakukan itu agar disebut dermawan dan itu telah kamu dapatkan, Lalu diperintahkan agar dia diseret di atas mukanya sehingga dia dilemparkan ke api neraka. (HR.Muslim)


III. Tausyiah Kol. Sucipto dari Angkatan Udara

Pak Sucipto ini baru saja dilantik sebagai Ketua Dewan Kehormatan Mesjid di Seluruh Indonesia, sehingga beliau agak terlambat datang. Beliau memulai Tausyiahnya dengan menyampaikan Surat Ali Imran 104 dan Ali Imran 110. Mafhun Quran tersebut;

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS.Ali Imran; 104)

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan kamu beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali Imran : 110)

Dari kedua ayat itu kita dapat melihat betapa pentingnya kita menyeru kepada yang makruf (baik) dan mencegah yang munkar, dengan kata lain betapa pentingnya berdakwah. Pak Sucipto juga menyampaikan bahwa di dalam Al Quran, bahwa kebahagiaan hudup di dunia dan di Akhirta kelak tidak dapat dicapai dengan kekusaan, pangkat dan jabatan, ataua kekayaan. Tetapi dengan cara mengamalkan agama secara sempurnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullh SAW.

Orang tidak ada yang menetnag bila kita hanya beribadah, tetapi banyak yang menentang, memusuhi, membenci, dan lain sebagainya bila kita mulai berdakwah, sebgaiaman yang pernah dialami oleh Rasulullh SAW. Mengajak orang untuk taat kepada Allah, antara lain mengajak orang untuk memakmurkan mesjd. Banyak orang yang tak mau shalat di mesjid karena tidak tahu betapa besarnya nilai ibadah di mesjid.

Banyak orang yang tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, karena tidak sadar betapa luar biasanya ganjaran sunnah itu dihadapan Allah SWT. Sebagai contoh, pak Sucipto menyampaikan sebuah hadist Rasulullah SAW yang artinya: “Barangsiapa mencintai sunnahku berarti cinta padaku, dan barangsiapa mencintaiku maka kelak bersamaku di dalam surga”. Dalam hadist lain Rasulullah bersabda: “Barangsiapa berpegang pada sunnah-sunnahku di saat rusak/fasadnya umat, maka dia akan medapat pahala 100 orang mati syahid.


Beliau juga menjelaskan apa-apa yang “pantang” atau tidak boleh dibicarakan dalam saat kita berdakwah, yaitu: 
1. Tidak boleh bicara politik praktis baik di dalam maupun luar negeri
2. Tidak boleh bicara perbedaan cara ibadah (khlifiah)
3. Tidak boleh bicara tentang aib masyarakat dan aib diri sendiri

Beliau juga menyampaikan betapa pentingnya seorang Muslim menjaga shalatnya, yaitu secara jamaah, di awal waktu dan dilaksankan di mesjid atau mushallah sepanjang hidupnya. Disebutkan dala hadits “Barangsiapa menjaga shalatnya, maka Allah Swt. akan memuliakannya dengan lima perkara: 1. Allah Swt. akan mengangkat kesempitan hidup darinya.2. Menyelamatkannya dari azab kubur. 3. Allah memberinya catatan dmal dari tangan kanan. 4. Dia akan melintasi shirat secepat kilat dan 5. Dia akan masuk surga tanpa hisab.

Sebailkinya, barangsiapa melalaikan shalatnya, maka Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Lima siksaan akan diberikan di dunia, tiga ketika mati, tiga di dalam kubur, dan tiga ketika keluar dari kubur. 

Lima azab yang akan ditimpakan di dunia, yaitu:
  1. Akan dicabut keberkahan umurnya. 
  2. Ciri-ciri kesalehan akan dicabut dari wajahnya. 
  3. Setiap dmalan yang dilakukannya tidak akan diberikan pahala oleh Allah Swt. 
  4. Doanya tidak akan diangkat ke langit. 
  5. Tidak akan mendapat bagian dari doa orang-orang yang saleh. 
Adapun musibah yang akan menimpanya ketika akan mati, yaitu:
  1. Dia akan mati dalam keadaan hina. 
  2. Dia akan mati dalam keadaan lapar. 
  3. Dia akan mati dalam keadaan haus sehingga walaupun diberi air minum sepenuh lautan, tidak akan hilang rasa hausnya. 

Azab yang akan ditimpakan di alam kubur yaitu:

  1. Kubur akan menyempit baginya sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan. 
  2. Akan dinyalakan api di dalam kuburnya sehingga dia akan diguling-gulingkan di atasnya siang dan malam. 
  3. Allah Swt. akan memasukkan ular ke dalam kuburnya yang bernama Syuja’ul Aqra, dan ular itu akan menguasainya. Kedua matanya terbuat dari api dan kukunya dari besi. Panjang setiap kukunya adalah sehari perjalanan. Dia akan berkata kepada si mayit, ‘Saya adalah Syuja’ul Aqra” Suaranya bagaikan petir yang menggelegar. Ia berkata lagi, ‘Rabb-ku telah memerintahkanku untuk memukulmu karena rnelalaikan shalat Shubuh sampai terbit matahari, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Zhuhur sampai Ashar, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Ashar sampai matahari tenggelam, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Maghrib sampai masuk waktu Isya, dan shalat Isya sampai masuk waktu Shubuh. Setiap kali ia memukulnya sebanyak satu kali pukulan, maka ia akan terbenam ke burnt sedalam 70 hasta. Dia akan senbantiasa disiksa sampai hari Kiamat. 

Adapun musibah yang menimpanya ketika ia keluar dari kubur dan dibangkitkan pada hari Kiamat adalah:

  1. Hisabnya sangat keras. 
  2. Allah akan marah padanya. 
  3. Masuk ke dalam neraka jahannam. 
Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada wajahnya tertulis tiga baris tulisan yang berbunyi:
  1. Wahai yang menyia-nyiakan hak Allah. 
  2. Wahai yang dikhususkan dengan kemarahan Allah. 
  3. Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka pada hari ini engkau akan berputus asa dari rahmat Allah. 
Demikian ringkasan tiga Tausyiah yang disampaikan oleh para petinggi TNI itu, yang telah mengikuti kegiatan Jamaah Tabligh dan telah melakukan Khuruj Fi Sabililah, keluar di jalan Allah ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Saat ini sudah banyak sekali anggota Polri dan TNI yang aktif dalam kegiatan dakwah dan tabligh dalam barisan khuruj fii sabilillah Jamaah Tabligh.

(Bersambung..)

Berlinang Air Mata di Saat Bayan Tausyiah Shubuh


Dalam satu kesempatan bayan / tausyiah pagi, usai sholat shubuh di mesjid dekat rumahku, Pak Dim, sebut saja begitu sempat menyampaikan kearifan hatinya untuk mengajakk peduli dalam membela kaum fakir dan miskin. Sekali pun menurut Konstitusi UUD 1945 pasal 34 bahwa," fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara." Benar, itu tanggung jawab Negara (diatur oleh Pemerintah) guna menolong dan menjait mereka dari keterpurukan tersebut. Namun kenyataaannya, Pemerintah di berbagai kota besar di tanah air tercinta ini ketika menyelesaikan masalah-masalah sosial malah lebih memojokkan dan  mendzalimi kaum miskin papa yang dipandangnya “hina dina“ dan merusak pemandangan kota.  Mereka ini tidak sedikit, karena ketidakmampuan absolut hanya mampu memungut sampat atau berdagang kecil-kecilan di emperan-emperan toko, atau di gubuk-gubuk kumuh pada tanah kaum juragannya. 

Pak Dim, yang usianya sudah lewat 11 tahun dari usia wafatnya nabi itu kadang tersedak, nyaris menangis bila menjelaskan bagaimana galak dan kejamnya tindakan tramtib (keamanan dan ketertiban) ketika merusak, menghancurkan barang-barang dagangan milik wong cilik. Melihat bagaimana ibu-ibu dan anak yang baru pulang dari sekolah mendapati barang dagangannya hancur, ibunya nyaris pingsan, selonjoran di tepi jalan, dengan sedikit sisa barang yang berhasil diselamatkan dari terkaman kekejaman kehidupan Jakarta. Yang pernah saya lihat kurang lebih sama, di shoot teve, bajunya kotor, ditarik secara kasar dan digotong petugas Satpol PP/ tramtib. Air mata ibu itu meleleh, anaknya yang baru pulang sekolah menatap ibunya, tanpa mengerti dosa pembangunan apa yang harus dijalaninya dalam meniti masa depan kehidupannya. 

Pak Dim seperti tak pernah bisa mengerti mengapa kekejaman itu terus terjadi, seperti tidak ada cara lain untuk memperbaiki taraf kehidupan masyarakat papan bawah. Suaranya terasa kering, mengalir tersendat-sendat masuk ke telinga pendengarnya yang jumlahnya sejumlah jari sebelah tangan saja. Angin yang berhembus pelan, menelisik pintu masjid, begitu lembut seolah malu berlalu di depan lelaki tua yang menangisi kekejaman tramtib Jakarta. 

Pendengar tausyiah pagi itu tertunduk, ketika beberapa kejap kemudian Pak Dim menceritakan apa yang dilakukan khalifah terhadap rakyatnya di masa lalu. Tak begitu jelas apa yang dilakukan khalifah, karena ingatan saya memotret wajah para pemimpin Indonesia beserta Gubernur di Indonesia saat ini. Terbayang wajah SBY beserta para Menteri kabinetnya, kemudian berlalu dan muncul wajah-wajah anggota DPR yang mulia lantas berikunya wajah-wajah Gubernur, para Bupati yang dengan gagahnya memamerkan barisan pengawal pribadinya lengkap dengan seda-sedan mewahnya. Terbayang di kepala ini lintasan Korban Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta,Korban tsunami dashsyat Aceh. Para korban yang kebingunagn akibat banjir rob Jakarta, derita rakyat masal akibat ulah Lapindo di Sidoarjo, kematian manusia karena tertimbun sampah khas hanya di Indonesia, kematian karena tabrakan beruntun akibat kelalaian manusia dalam berlalu-lintas, dan kematian-kematian akibat ganasnya perang perebutan tanah,akibat bentrok antar genk motor, tawuran anak sekolahan dan kelalaian-kelalaian manusia lainnya yang tidak semestinya terjadi. Wajah-wajah kaum papa penuh peluh dan debu yang berebut mengorek mengais sampah tanpa bisa perduli lagi hari esok dan keselamatan hidupnya pun jadi sorotan media ketika itu. 

Kulepaskan pandangan ke luar pintu mesjid yang terbuka lebar, matahari menjelang pagi. Kami bersalaman untuk berpisah, dan bertemu kembali untuk tausyiah pagi seperti hari-hari sebelumnya, seperti minggu-minggu sebelumnya. Saya masih merasakan sampai perjalanan menuju kantor. Gema suara Pak Is dan kepedihan melihat saudara-saudara sebangsa yang dianiaya itu mengisi relung kalbu kami pada hari itu. 

Sungguh, alangkah zalimnya Pemerintah. Dunia ini telah ditenangkan oleh ribuan Pak Dim, yang dengan tawadu di usia melewati senja menangisi kejamnya kehidupan. Rasanya, Pemerintah kita lebih suka memberantas orang miskin dari pada memberdayakan orang miskin. Jelas dia tidak miskin, baik rumah dan keluarganya juga. Tinggal di rumah yang lengkap segala fasilitasnya. Namun, saya tahu betapa kepedihan melihat Indonesia dalam kacamatanya. Saya beruntung, bisa mendengar petuahnya. Kalau saya jadi pemimpin, mudah-mudahan bisa keras melawan kezaliman, dan lembut kepada yang tak berpunya. Semoga Allah memberikan hati kepada para pemimpin yang lupa dari air apa mereka berasal dan akan kemana mereka kelak kembali..??