27 April 2013

ISLAM, Resmi Masuk Kurikulum Pendidikan di AMERIKA (AS)


Berbagai peristiwa yang menyudutkan, malah membuat nama Islam naik daun. Warga Amerika Serikat (AS) menyambut positif Islam masuk ke dalam kurikulum pendidikan sekolah. Materi mengenai Islam ini dimasukkan ke dalam pelajaran Social studies dan juga dipelajari di sekolah-sekolah publik di Negeri Paman Sam.

Hal itu disampaikan Imam Pusat Kebudayaan Islam di AS, Ustadz Shamsi Ali, usai mengisi dialog antaragama di auditorium Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), 28 Maret 2013.

Menurutnya, respons yang diterima oleh siswa di AS terhadap pelajaran itu sangat positif.

"Islam sudah lama ada di dalam kurikulum pendidikan di AS. Biasanya, itu dimasukkan ke dalam pelajaran social studiesyang mempelajari tentang kemasyarakatan," ujar Shamsi.

Dengan berbagai peristiwa yang belakangan terjadi dan menyudutkan Islam, Syamsi menuturkan, justru malah membuat keingintahuan publik terhadap Islam semakin tinggi.

"Nama Islam jadi naik daun. Saya pun jadi semakin sering diundang untuk memberi ceramah ke sekolah-sekolah," kata pria yang menginjakkan kaki di AS sejak tahun 1997 itu.

Melihat antusiasme yang sedemkian besar, Shamsi kemudian memanfaatkannya untuk meluruskan berbagai perspektif "miring" mengenai Islam. (umi)

sumber: Islam News

Postmodernisme Tidak Memberi Kesan di Hati Ummat Muslim, Kajian Kurikulum Pendidikan Islam


Pengantar
Ternyata dunia modern yang mengukir kisah sukses secara materi dan kaya ilmu pengetahuan serta teknologi, agaknya tidak cukup memberi bekal hidup yang kokoh bagi manusia. Sehingga banyak manusia modern tersesat dalam kemajuan dan kemodernannya. Manusia modern kehilangan aspek moral sebagai fungsi kontrol dan terpasung dalam sangkar the tyrany of purely materials aims, begitu frasa Bertrand Russel dalam bukunya The Prospect of Industrial Civilazation.

Para sosiolog, sebagaimana dikutip oleh Haedar Nashir, berpendapat bahwa terdapat kerusakan dalam jalinan struktur perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat, pertama terjadi pada level pribadi (individu) yang berkaitan dengan motif, persepsi dan respons (tanggapan), termasuk di dalamnya konflik status dan peran. Level kedua, berkenaan dengan norma, yang berkaitan dengan rusaknya kaidah-kaidah yang menjadi patokan kehidupan berperilaku, yang oleh Durkheim disebut dengan kehidupan tanpa acuan norma (normlessnes). Level ketiga, pada level kebudayaan, krisis itu berkenaan dengan pergeseran nilai dan pengetahuan masyarakat, yang oleh Ogburn disebut gejala kesenjangan kebudayaan atau “cultural lag”. Artinya, nilai-nilai pengetahuan yang bersifat material tumbuh pesat melampaui hal-hal yang bersifat spiritual, sehingga masyarakat kehilangan keseimbangan.

Pengamatan para sosiolog tersebut juga disampaikan oleh Syafi’i Ma’arif dengan bahasa yang lain, bahwa modernisme gagal karena ia mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental sebagai pondasi kehidupan. Akibatnya dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam membangun peradabannya. Modernisme telah mengakibatkan nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki dan dipraktekkan oleh manusia kini terendam lumpur nilai-nilai kemodernan yang lebih menonjolkan keserakahan dan nafsu untuk menguasai.

Illustrasi krisis kemanusiaan modern ini dapat dicermati dari pelbagai ironi dalam kehidupan sehari-hari. Munculnya pelbagai alienasi (keterasingan) dalam kehidupan manusia. Ada alienasi etologis, yaitu terjadinya sebagaian masyarakat yang mulai mengingkari hakikat dirinya, hanya karena memperebutkan materi. Ada pula alienasi masyarakat, yaitu keretakan dan kerusakan dalam hubungan antarmanusia dan antarkelompok, sehingga mengakibatkan disintergrasi. Ada pula alienasi kesadaran, yang ditandai dengan hilangnya keseimbangan kemanusiaan karena meletakkan rasio atau akal pikiran sebagai satu-satunya penentu kehidupan, yang menafikan rasa dan akal budi.

Peristiwa yang lain yang merupakan ironi manusia modern adalah keyakinan bahwa hidup berdampingan dengan rukun lebih baik daripada hidup bermusuhan, namun mereka memilih atau kadang terpaksa memilih hidup gelisah dengan permusuhan. Contoh paling kontemporer adalah Presiden Goerge W. Bush memilih ‘gelisah’ dengan memilih perang, dengan biaya nilai-nilai kemanusiaan yang begitu mahal, daripada menyelesaikan permasalahan di meja perundingan (diplomasi).

Shariati berpendapat bahwa krisis kemanusiaan manusia modern berakar pada dimensi sistem kemasyarakatan dan ideologi dari kebudayaan modern yang kini dominan di hampir setiap penjuru dunia. Suatu sistem kehidupan yang serba saling bertentangan di dalam dirinya dan mengabaikan jati diri manusia. Pusat petaka itu adalah kebudayaan materi dalam alam pikiran Humanisme-antroposentris, yang menafikan kehadiran agama, yang lahir di saat awal kemunduran kebudayaan Islam dan masa Renaissance di Eropa Barat.

Perkembangan aliran Humanisme-antroposentri ini sangat kuat, terutama dalam perlawanannya terhadap pikiran teosentris. Sehingga terdapat kemungkinan adanya suatu pengaruh antitesis secara ekstrim yang mengakibatkan perkembangan humanisme-antroposentris ini sangat menolak paham teosentris. Nilai-nilai seperti individualisme, kebebasan, persaudaraan, dan kesamaan adalah mainstream paham ini.

Berawal dari penolakan secara ekstrim terhadap pikiran tentang Tuhan, keagamaan dan supranatural, pendewaan terhadap rasio dan materi yang disebarkan secara canggih melalui ilmu pengetahuan, teknologi serta proses ekonomi, politik dan budaya itulah krisis kemanusiaan merajalela sebagai konsekuensi logisnya. Dan, di saat itu umat muslim dalam masa kemunduran yang menelan mentah-metah peradaban yang dibangun dengan pondasi antitesis terhadap aliran yang bermuara pada Tuhan, agama atau supranatural.

Krisis kemanusiaan modern ini dikritik oleh banyak pemikir yang kemudian memunculkan aliran Postmodernisme. Posmodernisme menawarkan pikiran baru yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran dan lokalitas. Hanya saja, aliran ini ternyata walaupun mengusung pluralitas namun toleransi terhadap pendukung posmodernisme yang berbasic agama dirasakan kurang memberi tempat. Sehingga posmodernisme juga dipandang sebagai aliran yang tidak memiliki persingungan dengan spiritualitas dan moralitas. Secara lugas, Ahmed menilai bahwa Postmodernisme belum cukup berkesan di mata kaum muslim.

Krisis kemanusiaan yang oleh banyak pihak diyakini sebagai anak kandung dari Modernisme tidak juga mendapatkan jalan keluarnya dengan munculnya postmodernisme. Akhirnya, banyak pihak mencoba menoleh kembali kepada agama.

Islamizing Curricula
Salah satu cendekiawan muslim yang konsen pada usaha mencari solusi dari lingkaran krisis kemanusiaan tersebut adalah Ismail Raji Al Faruqi. Al Faruqi berpendapat bahwa pengetahuan modern memunculkan adanya pertentangan wahyu dan akal di kalangan umat muslim. Memisahkan pemikiran dari aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Oleh karena itu, Al Faruqi berpendapat diperlukan Islamisasi Ilmu dan upaya tersebut beranjak dari tauhid. Artinya pengetahuan islami selalu menekankan kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan serta kesatuan hidup.

Dalam konteks pendidikan, al Faruqi melontarkan kritik tajam berkaitan dengan paradigma pendidikan Islam selama ini yang mengadobsi sistem filsafat Barat, terutama tentang konsep dikotomi pendidikan. Menurutnya, dikotomi pendidikan mutlak harus dihilangkan diganti dengan paradigma pendidikan yang utuh. Konsep pendidikan Islam yang selama ini ada tidak megacu pada konsep awal tauhid. Jika Islam memandang tujuan pengembangan obyek didik untuk mencapai penyadaran atas eksistensi tuhan (tauhid), maka segala proses yang dilakukan untuk itu idealnya berakar pada konsep tauhid.

Kecermatan dan daya analisis al Faruqi dalam usaha keluar dari lingkaran krisis kemanusiaan akan dibahas dalam tulisan ini. Seberapa efektif konsep-konsep dan metodologi Islamisasi pengetahuan al Faruqi ini mampu menyumbangkan usaha keluar dari krisis kemanusiaan, terutama dalam bidang pendidikan dengan gagasan Kurikulum Pendidikan Islam-nya. Lihat Lengkap: Islamizing Curricula

Mengenai ‘Islamisasi pengetahuan’ dalam bidang pendidikan (islamizing curricula), Al Faruqi berusaha menata paradigma pendidikan Islam dalam kerangka lima tujuan rencana kerja islamisasi pengetahuan di atas. Prinsip pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang perlu dicermati adalah; pertama, menguasai sains modern; kedua, menguasai warisan Islam; ketiga prinsip kesatuan (unity) yang harus melingkupi seluruh kajian dalam kurikulum pendidikan Islam.

Prinsip penguasaan sains modern harus berupaya mengarahkan pemahaman pada tidak adanya dikotomi dalam melihat konsep keilmuan dalam Islam. Penguasaan atas warisan Islam dilakukan secara terstruktur dalam formulasi kurikulum. Warisan Islam yang dimaksud di sini adalah al Qur’an, as Sunnah, institusi Islam, kesenian, hukum, undang-undang, kalam (teologi), tasawuf, falsafah, hellenistik, metafisika, epistimologi atau sains taba’i, axiologi dan etika, serta estetika Islam.prioritas perlu dibuat dalam penguasaan khazanah Islam, terutama prinsip-prinsip pokok, masalah-masalah pokok dan tema-tema abadi seperti tajuk-tajuk yang mempunyai kemungkinan relevansi kepada persoalan-persoalan masa kini harus menjadi sasaran strategis penelitian dan pendidikan Islam.

Dari dua khazanah ini ditata sedimikian rupa sehingga menjadi menjadi satu sistem integral yang sintesis-kreatif, menjadi sebuah konsep yang integral, terpasu, dan saling melengkapi antara disiplin keislaman dan modern. Tidak menggunakan hanya khazanah Islam atau hanya khazanah modern, dan tidak juga mengunakan salah satunya, namun membuat sintesis antara kedua khazanah tersebut. Hal ini dilakukan mengingat khazanah Islam yang lama mengalami kemandegan dan keterbelakangan, sementara khazanah Barat mapu memberikan gambaran tentang latar belakang, sumber, tujuan, dampak positif dan negatif. Secara normatif, sintesis ini tidak bertentangan dengan pandangan Islam karena karakteristik pandangan Islam adalah the unity of truth.

Secara tegas, ide tentang islamisasi kurikulum yang secara filosofis dikemukan oleh al Faruqi didukung oleh Ahmed Shalabi. Menurutnya, perubahan kurikulum Islam gambaran kerangkanya harus mewarnai beberapa aspek, yaitu:

  1. Pengenalan terhadap beberap wacana seperti perbandingan agama dan islamic studies yang didefinisikan secara jernih sebagai sebuah pola filosofi baru.
  2. Adanya modifikasi atas metodologi dan prinsip pengajaran sejarah Islam.
  3. Menyelaraskan kembali materi pengajaran hukum Islam.
  4. Menghilangkan beberapa kiasan dan pengaruh sejarah Yahudi yang diintrodusir secara sengaja ke dalam beberapa kajian.
  5. Merivisi buku-buku teks dengan gaya yang menarik dan tidak membingungkan dalam memenuhi kebutuhan masa kini dan kurikulum.
Selanjutnya, untuk melengkapi pola sintesis tersebut, Ahmed Shalabi berpendapat pelajar muslim harus diperkenalkan secara intensif dengan subyek kajian mengenai pengobatan, mesin, pertanian, matematika, dan musik. Perpaduan ini pada gilirannya akan memutuskan dikotomi ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, subtansi sains dan keilmuan ada the unity of God, yang dapat diakses dari semua disiplin, termasuk kajian ilmiah. 

Analisa Metodologi Kurikulum Islam
Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa islamizing the curricula integral dalam lima kerangka kerja Islamisasi pengetahuam. Subpokok bahasan berikut berusaha untuk menganalisis secara kritis metodologi Islamisasi pengetahuan.

Memahami wawasan pemikiran seseorang adalah sangat tidak mungkin mengabaikan setting sosial dan nuansa kultural di mana orang tersebut beraktivitas serta mengapresiasikan gagasan-gagasannya. Hal ini tentunya berhubungan dengan ekstrenal individu berangkutan yang mempengaruhi dirinya.

Perjalanan hidup Al Faruqi diwarnai oleh asimilasi budaya yang tampaknya membentuk karakter unik. Pengaruh pendidikan, kondisi sosial-kultural ikut mempengaruhi karakteristik al Faruqi. Umpamanya, ketika al Faruqi di al Azhar Mesir, maka kemungkinan pengaruh yang tertanam dalam karakternya adalah spirit-loyalitas dan apresiatif terhadap agamanya.

Menurut Kafrawi Ridwan, penjelajahan intelektual al Faruqi, sangat dipengaruhi oleh kultur yang dijumpainya, telah membentuk sistem pemikiran yang bersifat bayani, burhani dan irfani sekaligus. Corak pemikiran yang bersifat bayani mencerminkan khas tipikal Arab di mana al Faruqi pernah intens di Pakistan, tempat kelahirannya. Selanjutnya, sebagai orang yang mendalami filsafat, al Faruqi bercorak pemikiran yang bersifat filosofis yang membentuk corak burhani. Sedangkan kehidupannya di Amerika yang lebih mengedepankan metodologi dan paradigma keilmuan memberikan corak pemikiran al Faruqi berwawasan irfani, untuk mengkonstruksi bangunan epistimologi Islam.

Gagasan besar al Faruqi, yaitu Islamisasi Pengetahuan mendapat tanggapan yang cukup beragam. Fazlur Rahman berpendapat bahwa islamisasi ilmu tidak perlu dilakukan. Menurutnya, yang perlu adalah menciptakan atau menghasilkan para pemikir yang memiliki kapasitas berpikir konstruktif dan positif. Bahkan, bagi Rahman mustahil dan sia-sia mengusahan ilmu yang islami, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan telah menempatkan posisinya universalnya sendiri, sehingga tidak ada sains Islam, sains kristen, sains Yahudi, sains Budha dan seterusnya.

Penanggap lain atas gagasan islamisasi ilmu antara lain Sardar, menurutnya memang diperlukan menciptakan sistem Islam yang berbeda dengan sistem Barat. Artinya, Sardar sepakat dengan gagasan islamisasi ilmu, namun Sardar kurang sepakat dengan langkah-langkah islamisasi ilmu karena mengandung cacat fundamental. Sardar berpendapat bahwa langkah-langkah yang mementingkan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu modern bisa membuat terjebak dalam westernisasi Islam. Upaya merelevansikan ini mengantarkan pengakuan bahwa ilmu Barat sebagai standar. Dengan begitu, upaya islamisasi ilmu masih megikuti kerangka (mode of thought) atau pandangan duni (word view) Barat. Oleh karenanya percuma apabila akhirnya dikembalikan standarnya pada ilmu pengetahuan Barat. Menurut Sardar, Islamisasi ilmu harus dimulai dengan membangun word view Islam dengan titik pijak utama membangun epistimologi Islam. Hanya dengan langkah inilah yang akan menghasilkan ilmu pengetahuan yang dibangun atas prinsip-prinsip Islam.

Pada dasarnya perdebatan apakah islamisasi ilmu perlu dilakukan atau tidak, berawal dari pertanyaan apakah ilmu bebas nilai atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh al Faruqi tentu berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh Rahman, sehingga mempunyai pandangan yang berbeda. Jawaban dari pertanyaan ini, selain memunculkan jawaban ya dan tidak, juga memunculkan jawaban ya pada sebagian disipilin ilmu (ilmu-ilmu sosial) dan tidak pada sebagain disiplin ilmu (ilmu-ilmu pasti).

Penulis sendiri berpendapat bahwa sangat penting untuk menformulasikan sebuah sistem, yang mempunyai paradigma berbeda dengan paradigma ilmu modern, yang banyak pakar menilai gagal membangun peradaban yang menghargai kemanusiaan. Penulis lebih sepakat dengan Sardar yang setuju dengan gagasan islamisasi ilmu dengan mode of thouht dan word view yang dikonstruk ulang. Konstruk ulang tersebut harus berpijak pada prinsip the unity of God.

Dalam fokus islamizing curricula, penulis sepakat bahwa dikotomisasi-dikotomisme ilmu pengetahuan yang berimbas pada rumusan kurikulum harus dihilangkan. Menurut Hassan Hanafi sebagaimana dikuti Abdurrahman Mas’ud dimensi akal dan wahyu tidak terjadi pertentangan, antara dimensi reason dan revelation tidak ada pertentangan dalam Islam. Islam adalah religion of nature. Alam penuh tanda-tanda, pesan-pesan ilahi yang menunjukkan kehadiran suatu sistem global. Semakin jauh ilmuwan memahami sains, maka dia akan memperoleh wisdom berupa philosophic perennis yang dalam filsafat Islam disebut transendence. Iman tidak bertentangan dengan sains karena iman adalah rasio dan rasio adalah alam. Konflik antara sains iman hanya merupakan struggle antara kekuatan yang bertikai, yakni konservatif dan progressif. Kelompok pertama bersifat tertutup dan yang kedua terbuka. Yang pertama sering menformalkan dan mendogmakan dan yang kedua mendeformalkan dan mendedogmakan.

Simpulan
Beberapa revisi terhadap konsep Kurikulum akan menghasilkan suatu sistem yang mungkin sangat berguna bagi upaya sintesa kreatif. Sintesa kreatif yang memiliki mode of thought dan word view yang formulasinya dari konsep Tauhid, yang berbeda dengan filsafat Barat. Termasuk di dalam proses ini adalah Islamizing Curricula.

26 April 2013

Barang Siapa Mengenal Akan Dirinya Maka Mengenal Pula Ia Akan Tuhannya (Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu)


Sebuah pepatah baik dari orang shaleh berbunyi ' man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu". Jika kita tidak kenal diri sendiri, bagaimana kita hendak tahu hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup kita..?  Maksud dari "Mengenal Diri" disini bukanlah mengenal bentuk dzahir; tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota badan kita. Karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita akan mengenal ke-Agunagn Alloh. Bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Maksud sebenarnya dari  'Mengenal Diri' adalah "Mengenal apa yang ada di kedalaman diri manusia yakni tiada lain, itulah hati, qalbu atau Ruh.

Memahami  " man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", para ilmuwan banyak yang berusaha menyingkap rahasia mahluk bernama Manusia, hingga munculah cabang ilmu hipnoterapy yang mengandalkan kekuatan fikiran dan perasaan, kemudian muncul buku the secret-nya Rhonda byrne yang berisi tentang kekuatan fikiran untuk mewujudkan segala keinginan dan harapan, terakhir muncul pula fenomena kekuatan-kekuatan supranatural yang mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat diterjemahkan oleh akal sehat. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa segala kekuatan dan “kehebatan” itu tidak dimiliki oleh semua orang, jawabnya tentu karena kita tidak mengenal diri sendiri, andai saja kita mengenal diri sendiri maka kita dapat mengoptimalkan segala “kehebatan” yang tersimpan rapi dalam diri kita. Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Kelak, orang-orang yang telah mampu mengoptimalkan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya maka dengan sendirinya ia akan sampai pada pengakuan bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang telah menciptakannya. Siapa yang telah menciptakan kekuatan itu..? Jawabnya adalah Tuhan, ihwal apa dan siapa Tuhan-nya, semua bergantung pada keyakinan masing-masing. Muslim menyebutnya Allah Nasrani akan menyebut tuhannya Yesus Kristus, budha, hindu, konghutcu memiliki sebutan sendiri dan itu wajar saja, siapa bertuhan kepada siapa adalah hak mereka yang dilindungi undang-undang, yang terpenting sebagai Muslim kita kalau mampu berdakwah kepada mereka, agar Tuhan mereka akhirnya pilihannya itu Allah.

Sebagai muslim tentunya lebih pas kita bertuhan hanya kepada “Allah Ta'ala”,oleh karena itu kita bersyukurlah bila dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang ber-Tuhan hanya kepada Allah, tentunya jangan sampai cara meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah dengan cara sendiri-sendiri. Dengan bersyahadat mestinya kita semua paham bahwa untuk menyembahnya perlu ketaatan dengan mengikuti tuntunan utusan Allah Ta'ala (Rasulullah) bernama Muhammad saw. Itu adalah konsekwensi dari seorang yang mengaku dan bersaksi sebagai Muslim. Tuntunan beliau Nabi saw sangat realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi, contoh tuntunan yang realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi itu adalah syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Syahadat sebagai kesaksian manusia yang memiliki Tuhan dan kesaksian bahwa ada utusan Tuhan untuk kemaslahatan dunia, sholat sebagai proses interaksi manusia dengan Tuhannya, puasa sebagai pengingat bahwa manusia itu mahluk duniawi (tanpa makan dan minum manusia lemah), zakat sebagai himbauan untuk saling berbagi, dan naik haji sebagai perintah untuk melihat bukti kebesaran dan kekuasaan allah secara nyata, saat naik haji kita akan diperlihatkan betapa banyaknya orang yang menyembah Allah oleh karena itu tidak adalagi yang patut di khawatirkan atas keyakinan kita.

Sebagai pesan penting, hati-hatilah dengan perasaan ujub atau sombong? Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang yang ujub sombong dan juga syirik musyrik. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga, barang siapa dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji dzarrah." (H.R. Muslim). Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kesombongan adalah, menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,…" (Q.S. An-Nisa': 48),

Merupakan suatu peringatan, bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa sombong yang lebih besar dari pada dosa syirik. Hal ini sama halnya, barang siapa yang tawadhu' karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Begitu juga barang siapa yang enggan melaksanakan kebenaran, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, dan meremehkannya.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata; "Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah"   

Karena hal itulah kita perlu ditaklukan atau ditundukkan di bawah perintah "Sang Raja". Awas bukan 'bukan dibunuh atau dimusnahkan' karena semua juga ada tugas dan punya nilai serta diperintah pencipta-Nya. Kata kuncinya jangan sampai perasaan dan marah menguasai Aqal, karena akibatnya Ruh akan berantakan dan binasa.

Untuk menjalankan perjuangan memenej Ruh ini, diperlukan upaya pengenalan kepada diri dalam hubungannya dengan Tuhan, ibaratkan saja seperti ini;
  • Jiwa Raga / tubuh itu anggap sebagai sebuah Kerajaan,
  • Si Ruh ini, ibarat Raja.
  • Pelbagai Indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan Tentara.
  • Aqal (akal) itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
  • Perasaan, hasrat-, nafsu syahwat dst.., itu ibarat petugas pemungut Pajak(selalu meminta, menguasai, atau merampas)
  • Sombong dan marah itu ibarat petugas Polisi (sombong dan marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan).
Nah perjuangan untuk mengendalikan semua ini sudah diperingatkan oleh Baginda Nabi saw,disebutkan sebagai sebagai Jihad Akbar. Rasakan saja dulu masing-masing, menguasai hawa nafsu begitu tidak mudah bukan? Misalnya saja, hanya sekedar menghindari bicara tidak ghibah (menceritakan keburukan orang lain) bagaimana..? Astaghfirullah..

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah sadar menguasai kekuatan diatasnya adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuhkan dan memelihara sifat-sifat iblis atau kebinatangan akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang. Kesempurnaan ruh menguasai jasadnya maka seperti Malaikat. 

Dari semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan kelak.

1. Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
2. Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
3. Orang yang suci seperti Malaikat.

Maka, pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama akan tetapi hasil sebuah proses dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan yang lurus/hidayah itu. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Quran Al-Ankabut: 69;

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan (hidayah) Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik beramal shalih."  

Aamiin..

Wallahu'alam bish-sahawab..

JADIKAN IBROH DARI SETIAP PERISTIWA KEMATIAN, BAGAIMANA KEMATIAN MENURUT AL-QUR'AN?

Mengenang Wafatnya Ustadz Uje 
(Jeffrey Al-Buchori-Jumat 26 April 2013 M)

Ustad Uje - Jeffrey Al-Buchori




Allah Ta'ala dengan firmannya (lihat QS. Al Mukmin ayat 10 -11) telah mengingatkan kita jangan sampai kita mati dalam keadaan kafir.  Semoga kita semua mati dalam keadaan Islam.. Aamiin. Dan Ingatlah kedua ayat ini dengan baik:

10- Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir” (QS. Al Mukmin ayat 10)

11- Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Al Mukmin ayat 11)

Ketika kelak manusia dikumpulkan dipadang Mahsyar pada hari berbangkit kelak dan orang kafir telah melihat dengan jelas akibat perbuatan mereka menentang ayat ayat Allah selama ini, mereka mengeluh : ” Ya Allah Engkau telah mematikan kami dua kali, dan menghidupkan kami dua kali pula, lalu kami mengakui dosa kami, adakah jalan keluar bagi kami dari kesulitan yang dahsyat pada hari ini (neraka jahanam) “. Dialog antara orang kafir dengan Allah ini diabadikan dalam surat Al Mukmin ayat 10 -11, sebagaimana kutifan ayat diatas.

Selama hidup didunia ini kita hanya mengerti bahwa mati dan hidup itu hanya sekali saja, namun setelah di akhirat kelak kita baru, mengerti bahwa kita hidup dan mati sebanyak dua kali. Memperhatikan dialog diatas kita jadi bertanya, apakah yang dimaksud dengan kematian itu? Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa kita mati dan hidup sebanyak dua kali, padahal yang kita ketahui selama ini kita hidup dan mati hanya satu kali.

Definisi mati menurut Al-Qur’an

Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya Ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya Ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya Ruh dengan Jasad. Kita mengalami saat terpisahnya Ruh dari jasad sebanyak dua kali dan mengalami pertemuan Ruh dengan jasad sebanyak dua kali pula. Terpisahnya Ruh dari jasad untuk pertama kali adalah ketika kita masih berada dialam Ruh, ini adalah saat mati yang pertama. Seluruh Ruh manusia ketika itu belum memiliki jasad. Allah mengumpulkan mereka dialam Ruh dan berfirman sebagai disebutkan dalam surat Al A’raaf 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raaf 172)

Selanjutnya Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin didalam rahim seorang ibu, ketika usia janin mencapai 120 hari Allah meniupkan Ruh yang tersimpan dialam Ruh itu kedalam Rahim ibu, tiba-tiba janin itu hidup, ditandai dengan mulai berdetaknya jantung janin tersebut. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali, selanjutnya ia akan lahir kedunia berupa seorang bayi, kemudian tumbuh menjadi anak anak, menjadi remaja, dewasa, dan tua sampai akhirnya datang saat berpisah kembali dengan tubuh tersebut.

Ketika sampai waktu yang ditetapkan, Allah akan mengeluarkan Ruh dari jasad. Itulah saat kematian yang kedua kalinya. Allah menyimpan Ruh dialam barzakh, dan jasad akan hancur dikuburkan didalam tanah. Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang baru, kemudia Allah meniupkan Ruh yang ada di alam barzakh, masuk dan menyatu dengan tubuh yang baru sebagaimana disebutkan dalam surat Yasin ayat 51:

51- Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. 52- Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (QS.Yasin 51-52)

Itulah saat kehidupan yang kedua kali, kehidupan yang abadi dan tidak akan adalagi kematian sesudah itu. Pada saat hidup yang kedua kali inilah banyak manusia yang menyesal, karena telah mengabaikan peringatan Allah. Sekarang mereka melihat akibat dari perbuatan mereka selama hidup yang pertama didunia dahulu. Mereka berseru mohon pada Allah agar dizinkan kembali kedunia untuk berbuat amal soleh, berbeda dengan yang telah mereka kerjakan selama ini sebagaimana disebutkan dalam surat As Sajdah ayat 12:

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (As Sajudah 12)

Itulah proses mati kemudian hidup, selanjutnya mati dan kemudian hidup kembali yang akan dialami oleh semua manusia dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan tak terbatas. Proses ini juga disebutkan Allah dalam surat Al Baqaqrah ayat 28:

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah 28)

Demikianlah definisi mati menurut Al-Qur’an, mati adalah saat terpisahnya Ruh dari Jasad. Kita akan mengalami dua kali kematian dan dua kali hidup. Jasad hanya hidup jika ada Ruh, tanpa Ruh jasad akan mati dan musnah. Berarti yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad sedangkan Ruh tidak akan pernah mengalami kematian.

Pada saat mati yang pertama, jasad belum ada namun Ruh sudah ada dan hidup dialam Ruh. Pada saat hidup yang pertama Ruh dimasukan kedalam jasad , sehingga jasad tersebut bisa hidup. Pada saat mati yang kedua, Ruh dikeluarkan dari jasad , sehingga jasad tersebut mati, namun Ruh tetap hidup dan disimpan dialam barzakh. Jasad yang telah ditinggalkan oleh Ruh akan mati dan musnah ditelan bumi. Pada saat hidup yang kedua, Allah menciptakan jasad yang baru dihari berbangkit, jasad yang baru itu akan hidup setelah Allah memasukan Ruh yang selama ini disimpan dialam barzak kedalam tubuh tersebut. Kehidupan yang kedua ini adalah kehidupan yang abadi, tidak ada lagi kematian atau perpisahan antara Ruh dengan jasad sesudah itu.

Kalau kita amati proses hidup dan mati diatas ternyata yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad, sedangkan Ruh tidak pernah mengalami kematian dan musnah. Ruh tetap hidup selamanya, ia hanya berpindah pindah tempat, mulai dari alam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh dan terakhir dialam Akhirat. Pada saat datang kematian pada seseorang yang sedang menjalani kehidupan didunia ini, maka yang mengalami kematian hanyalah jasadnya saja, sedangkan Ruhnya tetap hidup dialam barzakh. Allah mengingatkan hal tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 154 :

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqarah 154)

Perjalanan panjang tanpa akhir

Kalau kita amati proses perjalan hidup dan mati seperti yang disebutkan diatas , maka yang mengalami kematian hanyalah jasad kita saja, sedangkan Ruh tidak pernah mengalami kematian. Sejak diciptakan pertama kali dan diambil kesaksiannya tentang ke Esaan Allah ketika dikumpulkan dialam Ruh sebagaimana disebutkan dalam surat Al A’raaf 172, mulailah Ruh menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berkahir.

Sifat Ruh sama seperti energy, dalam ilmu fisika kita mengenal teori kekekalan Energy. Teori kekalan Energy mengatakan bahwa Energy bersifat kekal, tidak bisa dimusnahkan, dihancurkan ataupun dilenyapkan. Ia hanya mengalami perubahan bentuk. Ruh memiliki sifat seperti Energy ini, ia tidak bisa dimusnahkan, dilenyapkan ataupun dihancurkan, ia kekal selamanya, ia hanya berubah bentuk mulai dialam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh dan alam Akhirat kelak.

Kita bisa merasakan selama hidup didunia ini bahwa Ruh kita tidak pernah tidur atau beristirat. Kalau kita tidur pada malam hari, yang tidur adalah jasad atau jasmani kita sedang Ruh kita sendiri, pergi berjalan entah kemana. Ruh tidak bisa hancur, musnah dan lenyap namun ia bisa merasa lemah, sakit dan menderita. Ruh yang kurang mendapat perawatan akan menjadi lemah menderita dan sakit. Penyakit Ruh umumnya akan merembet pada penyakit fisik atau jasmani, penyakit ruh yang umum kita kenal antara lain, gelisah, kecewa, dengki, cemas, takut, sedih, tertekan dan stress berkepanjangan.

Ruh mengalami proses pendewasaan selama hidup didunia. Semua bekal yang dibawa untuk perjalanan hidup dialam barzakh dan akhirat didapat dari alam dunia. Namun sayang selama hidup didunia banyak orang yang tidak memperdulikan kebutuhan Ruhnya untuk menghadapi perjalan panjang yang tak akan pernah berakhir ini. Kebanyakan manusia hanya fokus pada masalah kehidupan dunia, dan tidak perduli dengan masalah kehidupan akhirat yang lebih dahsyat dibandingkan dengan kehidupan dunia.

Mereka baru menyadari kekeliruan mereka tatkala ruh telah sampai ditenggorokan, hingga tatkala mereka telah pindah kelam barzakh mereka mengeluh sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 99-100 :

99- (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

100- agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (Al Mukminun 99-100)

Penyesalan itu memang selalu terlambat datangnya, namun penyesalan yang muncul setelah datangnya kematian hanyalah sesuatu yang sia-sia. Masa lampau tidak akan pernah kembali, kita hanya terus maju menghadang masa yang akan datang, apapun keadaan kita. Orang yang bijaksana akan mengumpulkan bekal sebanyak banyaknya untuk menempuh perjalanan panjang dialam barzakh dan akhirat. Orang yang lalai hanya fokus pada kehidupan dunia, tidak pernah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu. Bahkan terkesan tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Sebagian besar manusia didunia termasuk kedalam golongan orang yang lalai ini, sebagaimana disebutkan dalam surat Yunus ayat 92:” …sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Lebih tegas lagi disebutkan dalam surat al Insan ayat 27 :

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insan 27)

Mudah-mudahan Ustadz Uje (Jeffey Al-Buchori) disaaat terakhinya dan kita semua tidak termasuk orang yang lalai, seperti disebutkan dalam ayat Qur’an diatas. Mari kita persiapkan perbekalan kita untuk menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berakhir didunia dan akhirat. Penyesalan diakhirat kelak tidak ada gunanya, masa lalu tidak akan pernah kembali, masa yang akan datang pasti terjadi. Bersiaplah menghadap berbagai perubahan yang akan kita alami sepanjang perjalan hidup yang amat panjang dan melelahkan ini. Berbekallah sebaik baik bekal adalah Taqwa. Aamiin.. 
Wallahu'alam bish-shawab



25 April 2013

Mengapa Ujian Nasional (UN) Selalu Dipermasalahkan..?


Akhir - akhir ini hampir dua pekan lebih semua media mengulas karut- marut Ujian nasional 2013, sesungguh ada apa Ujian dengan Nasional itu ? Sepertinya hal ini pun sudah jadi berita menarik sejal lama dan sebagian besar orang akan menunjuk pada dua kata yaitu Ujian Nasional. Memang, sejak kelahir istilah Ujian Nasional mulai tahun 2005, di tataran masyarakat pendidikan, kebijakan yang terkait Ujian Nasional ini senantiasa menjadi bahan perdebatan menghebohkan. Di satu sisi, ada sebagian pihak yang mendukung dan di sisi lainnya ada yang jelas-jelas menentang kehadirannya yang tentu dengan berbagai dalil serta argumentasinya masing-masing.

Pada kelompok pendukung ujian nasional pada umumnya menganggap bahwa ujian nasional masih diperlukan, terutama untuk kepentingan pengendalian mutu pendidikan secara nasional dan penegakan akuntabilitas pengelola dan penyelenggara pendidikan. Sementara, dari pihak yang menolak kehadiran Ujian Nasional menganggap bahwa kehadiran Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan telah banyak madlaratnya dari pada manfaatnya, baik dilihat dari sisi psikologis, ekonomis, yuridis dan terutama pedagogis. [1

Berdasarkan hasil pengamatan  yang dilakukan PGRI pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sebagian besar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah menganggap kebijakan ujian nasional (UN) tidak tepat. Sebanyak 28,57 persen, guru menganggap UN sebagai kebijakan yang tidak tepat, dan 42,86 persen sangat tidak tepat. Kepala sekolah menganggap kebijakan UN tidak tepat 26,15 persen, dan 49.23 persen menganggap kebijakan UN sangat tidak tepat. Adapun pengawas sekolah sebanyak 27 persen menganggap kebijakan UN tidak tepat dan sangat tidak tepat 41,77 persen. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo, bahwa munculnya pesepsi dari ketiga unsur praktisi pendidikan tersebut disebabkan karena Ujian Nasional tidak berhasil meningkatkan semangat belajar, menimbulkan kecurangan, menimbulkan ketegangan murid, dan menanamkan mental koruptif pada anak. [2]

Untuk meminimalisir polemik dan masalah yang berkaitan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional ini, sejak tahun 2011 pemerintah telah berkompromi dengan menetapkan “sharing” kontribusi penentuan kelulusan siswa menggunakan formulasi : 40% nilai sekolah dan 60% nilai ujian nasional. Tetapi ketentuan ini tampaknya belum menjadi obat mujarab, malah beresiko memunculkan masalah baru dalam bentuk praktik penggelembungan (bubble) nilai siswa, yang tidak menggambarkan kemampuan sebenarnya.

Amatan saya, ketika sekolah dengan terpaksa (dipaksa oleh para pemaksa) untuk fokus pada ujian nasional dan menjadikan ujian nasional sebagai tujuan prestasi sekolah, maka secara langsung atau tidak langsung di sana telah terjadi pengikisan akan utuhnya makna dan ruh pendidikan. Proses pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses memanusiaan manusia, tetapi sudah tergelincir dan terjebak pada proses dehumanisasi dan domistikasi malah deradikalisasi untuk maksud mencapai target keberhasilan kognitif semata atau mungkin ada target lain di luar kepentingan pendidikan itu sendiri. Kenyataannya para pemimpin daerah dan mungkin pusat juga merasa malu bila prestasi angka para siswanya lebih rendah dari tahun sebelumnya. Lebih parah lagi, ketika ujian nasional masih selalu diwarnai dengan berbagai kecurangan yang sistemik dan disengaja [lihat tulisan; Oh, UN itu Begini?[3], maka anak-anak kita sesungguhnya telah kehilangan tiga hal penting dalam hidupnya, yaitu pembelajaran yang menyenangkan, peningkatan intelektual sekaligus perbaikan akhlaq moralnya.

Meski kita belum mampu menyediakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita tetapi paling tidak berikanlah mereka pendidikan yang tepat dan benar.

Inilah catatan refleksi kita terkait dengan karut marutnya pelaksanaan Ujian Nasional 2013. Bagaimana pun ini sebuah kenyataan yang terjadi di negeri kita dan Ujian Nasional (UN) menulis hemat saya harus segera dihentikan atau minimalnya ditinjau ulang serta ditunda untuk sementara waktu sampai ada penelitian yang shahih akan pentingnya pelaksanaan Evaluasi secara Nasional dengan sistem seragam seperti UN saat ini. Nah bagaimana menurut Anda?

[1] [2] [3]

sumber tulisan : Artikel Pendidikan

Peristiwa di Shubuh Hari, Tengoklah Bahagianya Orang-Orang Ber-Iman Yang Selalu Memakmurkan Mesjid



Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 

Sahabatku, subuh-subuh orang-orang beriman itu sudah dibahagiakan ALLAH, saat ia bersama sama berjalan dengan anak-anaknya dengan maksud shalat berjamaah ke mesjid, sekali kali ia menggandeng tangan anaknya, sekali-kali ia cium pipi anaknya, sekali-kali ia usap kepala dan ia peluk anaknya, di udara pagi yang masih padat oksigen sejuk segar menyehatkan. Maka setiap langkahpun senantiasa bertamburkan rahmat dan ampunan ALLAH. Sampai di mesjid iapun bertemu saudara-saudaranya yang se-iman, karena memang HANYA ORANG-ORANG YANGG BENAR BENAR BERIMAN YANG MAU MEMAKMURKAN MESJID, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalan Al-Qur'an Surat at-Taubah:18;


إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

" Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang ber-Iman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

Betapa bahagianya menatap wajah-wajah mereka yang teduh, damai, bersahaja dan bercahaya sebagai buah amal dari air wudhu serta kesenangan ibadahnya. Selesai sholat, zikir dan doa meraih "hikmah" dari Kitab Hadist yang dibacakan imam maka ia pun pulang dari mesjid dengan jalan berbeda dan ada kesempatan beramal mematikan lampu-lampu jalanan. Begitu sampai di rumah, sembari mengucap salam anak-anaknya pun berhamburan mencium tangan dan memeluk Ibunya yang sudah menunggu dengan rasa bahagianya melihat anak-anak mereka yang shaleh. Setelah mengucap salam, oh ya tentu sang suami pun mencium kening bidadarinya dengan seraya  memanjatkan doa;  "Ya ALLAH, bahagiakan keluarga kami di dunia dan akhirat...Aamiin". 

Indah bukan,itulah  peristiwa di subuh hari sebagai rahmat bagi ber-Iman, kini ini kita akan semakin faham dengan doa Rasulullah saw, "Ya ALLAH berkahi umatku di waktu subuh". Sungguh orang-orang beriman itu hari-harinya selalu diawali dengan KEINDAHAN AMAL IBADAH, SUBHANALLAH... 

Semoga demikian pula dengan kita semua sahabatku terutama pria mu'min, semoga diberi kekuatan hidayah oleh Allah untuk mampu menyertai mereka yang lebih dahulu memakmurkan masjid. Aamiin.

Hai wanita mu'minat sampaikan hikmah ini untuk suamimu atau calon suamimu, semoga Allah beri kekuatan untuk anda berdakwah pada orang-orang yang kalian cintai. Aamiin

inspirasi dari: Ustadz Arifin Ilham

"RATING DAN UANG" LEBIH LAKU DIBANDING KEBENARAN

( Jum'at bersih hati )


Media massa semestinya berfungsi memberitakan kabar kebenaran faktual kepada khalayak pemirsa. Kita pahami, bahwa guna meningkatkan kompetensi dan persaingan usaha media pemberitaan memang dibutuhkan pemasukan dana yang tidak sedikit dan  iklan merupakan  sumber pemasukan terbesar dalam bisnis media massasaat ini.

Namun mari kita kembali belajar dari sejarah masa silam dimana kemenangan dan kejayaan perjuangan para anbiya as,utamanya Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabat r.hum dalam menegakkan masyarakat Islam di Madinah. Kokoh dan tegak kearifan mereka semua justru terbangun di atas kesetia­an pada nilai kebenaran yang ditanamkan baginda nabi saw kepada para sahabatnya, sehingga kuatnya kebencian dari musuh-musuhnya tidak membuat mereka gentar, berputus asa dan terpecah belah. Sudah sunatullah bahwa orang besar selalu diuji oleh puja pujian serta cemoohan dan celaan. Para sahabat besar seperti Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib yang rela menyediakan jiwa-raganya, harta benda sampai keturunan keluarganya demi hidup dijalan Allah, sama hilang sama timbul seiring dengan perjuangan Nabiullah Muhammad SAW yang dicintainya. Saat mereka dimusuhi dan diperangi maka semakin “besar” pula tingkat pengorbanannya.

Berbagai tipikal musuh datang menghadang dan harus dihadapi Nabi SAW ketika beliau di Makkah, di antaranya ialah pamannya sendiri Abu Jahal dan Abu Lahab yang terkenal menentang Nabi terang-terangan dan terkesan jantan karena nampak dimuka. Tetapi setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah, dan masyarakat Islam mulai berdiri, perjalanan dakwah beliau harus menghadapi musuh yang tidak ksatria dengan cara menggunting dalam lipatan. Orang-orang ber­jiwa kerdil yang hanya berani dan pandai membuat fitnah, menghasut, menggunjing, ber­bicara di belakang, sedang pada dzahirnya dia bermulut manis menyatakan kesan bersetuju dengan perjuangan Rasulullah SAW. Disaat lengah dan ada celah mereka berbuat makar dengan memasukkan jarum iri dengki membuat opini dan melemahkan perjuangan tujuan agama yang dibawa baginda Nabi,itulah cara golongan munafiqin yang dipimpin oleh seorang Abdullah bin Ubay,yang mengaku kawan padahal dia itu lawan yang hidup di atas kemunkaran.

Kalau ada musuh hendak melawan Islam, dibantunya dari belakang secara diam-diam tetapi kalau musuh itu sudah dapat dikalahkan oleh Nabi, dia pun cuci tangan dan musuh yang kalah itu seolah ditinggalkannya. Ketika dia datang tampak mengambil muka kepada Muslimin yang menang. Tampak muka karena ingin disebut pahlawan dan seolah berjuang dengan banyak cerita plus dibumbui hasutan, untuk memecahkan persatuan front Muslimin Muhajirin dengan Anshar. Baginda Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabatnya yang dikarunia basyirah tetap waspada, sehingga segala musuh-musuh Islam dari dalam tetap terkunci dan tidak pemah menampakkan hasil.

Saat ini di negeri kita berita-berita yang memuat kebenaran tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan rating yang tinggi dan uang besar. Memang sudah dibuktikan TV elektronik bahwa tema-tema sinetron cenggeng terkait asmara, rebutan wanita, perselingkuhan atau cinta segitiga lebih diminati oleh kebanyakan pemirsa. Itu sebabya dunia infotainment dapat tumbuh subuh di negeri ini dan mampu mengalahkan majelis-majelis pengajian. Tak ada pengaruh signifikan sekalipun telah difatwa haram oleh majelis ulama kita, infotainment tetap melenggang. Ada apa dengan mentalitas umat di negeri ini,sedemikian parahkah hasutan kemunkaran meraja lela..?

Media massa itu tidak terlalu ambil pusing apakah bergunjing itu sesat atau tidak. Mereka juga tidak terlalu peduli mana pakah pesan yang sampai ke masyarakat itu benar atau salah. Minggu ini ramai dibicarakan media,kehidupan artis dan narkobanya,masalah politikus kepartaian dan pesekongkolannya. Apakah pemberitaannya akurat atau tidak,itu bukan perkara penting. Media massa hanya paham bahwa objek berita sangat penting karena bisa mendatangkan uang dan rating yang tinggi. Semakin krusial permasalahan yang diangkat maka semakin banyak diminati para pemirsa. Mereka tidak ambil pusing dengan resiko hasutannya dan semakin menyebalkan sering kali media mencitrakan orang-orang yang dikenal shaleh malah dimarjinalkan dan lebih banyak mengangkat para durjana hitam untuk diblowup secara intens, serta sengaja dibiaskan atau dikaburkan dimana letak kesalahan dan kebenaran dari para pelakunya. Keawaman masyarakat terhadap suatu objek berita semakin menyuburkan rating berita mereka. Naudzubillah..!

Di era pasca moden ini dimana media massa sebagai pemegang kunci informasi apapun isu yang dianggap penting dan sesuai visi medianya bisa dibangun . Negeri kita dengan landasan ideologi Negaranya (Pancasila) yang berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan ingin memuliakan manusianya dengan keadilan yang berdab lewat penegakkan demokrasi, sepertinya perlu ada koreksi. Demokrasi kita kedodoran karena payung hukumnya masih bisa dipermainkan para pihak yang berkepentingan(politik pragmatis) Kkebebasan menyatakan perasaan dan fikiran terkandang tidak memperhitungkan pentingnya Pesatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia.

Patut dicatat sistem demokrasi itu hanya satu dari sekian pilihan sistem bermasyarakat dan bernegara. Malah bila mau jujur demokrasi bukan formula yang pasti karena setiap negara fatsunnya bisa berbeda. Sedikit menelaah kata "demokrasi" di Konstitusi UUD 1945,ternyata kata demokrasi hanya ditemukan pada satu ayat saja yakni pada pasal 33 ayat (4) amandemen UUD 1945 dan itu pun terkait dengan masalah ekonomi yang sangat penting. Sistem kekeluargaan yang kita bangun justru disana langsung dihadapkan pada sistem ekonomi Liberal plus para pemegang kuncinya adalah Kapitalis(pemilik modal).

Konstitusi UUD 1945 sebagai pilar keadilan dan keselamatan bermasyarakat dan bernegara kita sekarang ini tengah melalui ujian berat lewat kebebasan (euforia demokrasi) berbicara di media massa. Kebenaran yang timbul nilai-nilai agama,sosial budaya budi luhur bangsa kita mulai tergerus oleh hasad, iri dengki, benci dan dendam para pragmatis yang suara batin palsu (kotor), lewat dalih “demokrasi” mereka melepaskan panah pembangkit hawa nafsu menebar kebencian pada sesama dan tak peduli bahwa perbuatannya itu menyinggung kehormatan seseorang atau tidak. Para pihak pengemban amanah publik figur, baik itu penguasa, pengusaha, pemimpin politik, pemimpin ummat/masyarakat,para artis dengan kata lain kaum selebritis di negeri ini sepertinya telah berjalan dengan visi hidup masing-masing dan mulai kebablasan karena hanya memperjuangkan amanat hidupnya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. Ingatlah peringatan dari Allah SWT, lewat firman-Nya;
“Seketika kamu sambut berita itu dengan lidahmu, dan kamu katakan dengan mulutmu, perkara yang sebenarnya tidak kamu ketahui kedudukannya, dan kamu sangka bahwa itu perkara kecil, padahal di sisi Allah dia perkara besar.” 
(An-Nur : ayat 15).

Orang yang beriman, lidahnya berbicara dengan penuh tanggungjawab. Dia mempunyai kepercayaan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati sanu­bari, semuanya akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Semua perbuatan dan perkataannya tercatat oleh kedua Malaikat, Raqib dan ‘Atid.
“Mengapa ketika kamu menerima berita itu tidak kamu katakan saja; “Tiada sepatutnya bagi kami akan turut memperkatakan hal itu. Amat Suci Engkau Tuhan, ini adalah suatu kebohongan besar.” 
(QS An-Nur : ayat 16)

Media massa kali ini justru jadi masalah karena apa yang mereka lakukan itu semuanya demi rating! Mereka menayangkan liputan khusus berbagai kasus mulai dari maslah banjir jakarta, artis pemakai narkoba, kasus politikus kesandung penyuapan dan korupsi, dan disaat yang sama ada ratusan ribu bahkan jutaan orang di negeri ini sedang membicarakan isu Pendidikan Karakter Bangsa, uji publik Kurikulum Pendidikan Nasional yang akan digunakan pada tahun 2013 ini yang akan menentukan kualitas dan kemaslahatan generasi muda bangsa dan negara ini di masa depan. Disisi lain semua orang tengah bersimpati dengan nasib kaum muslim di negeri lain yang terus jadi korban kebiadaban dari pemerintahannya sendiri. Bukannya menayangkan masalah pendidikan,kemanusiaan dan kebenaran (Al-Haq) tapi malah sebaliknya demi rating media lebih gencar mengemukakan berita pergunjingan yang cenderung tidak banyak manfaatnya bagi masyarakat.

“Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui ber­iman. ”  (QS An-Nur: ayat 17).

Cukuplah hal yang sekali ini buat menjadi pengalaman bagi kita. Jangan­lah terulang lagi yang kedua kali dan yang seterusnya. Karena perbuatan begini tidak mungkin timbul dari orang yang beriman, kalau tidak karena bodoh dan tololnya. Orang yang beriman tidaklah akan termakan oleh propokasi. Penyiar kabar nista tidak mungkin orang yang beriman. Penyiar kabar dusta sudah pasti orang yang munafik atau busuk hati, karena maksud yang tertentu, dan yang sanggup menerimanya hanyalah orang yang goyang imannya.

Kita senantiasa wajib waspada, karena kesatuan iman-mu tidak mungkin dirusakkan dari luar, tetapi hendak diruntuhkan dari dalam. Kaum munafikin tidak senang hati melihat gemilang jaya Nabi Muhammad dengan perjuangannya. Segala persekongkolan diciptakan untuk menentang Nabi telah mereka upayakan. Semuanya gagal. Dan Jalan satu-satunya buat melepaskan sakit hati ialah mengganggu perasaannya. Mari semua ini kita jadikan sebagai ibroh. 

Semoga Allah Subhana WaTa’ala senantiasa menjaga niat kita agar selalu istiqomah dijalanNYA. Aamiin..

Wallahu'alam bish shawab.

24 April 2013

Analisa Kritis : Terhadap Rancangan Kurikulum Nasional 2013 dari Majelis Guru Besar ITB



PENDAPAT TENTANG RANCANGAN KURIKULUM 2013
( Dirumuskan berdasarkan hasil Diskusi Terbuka)  

Pada tanggal 13 Maret  2013  dan  Sidang  Pleno  MGB tanggal 12 April 2013.


Latar Belakang

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Ps. 1(19), dinyatakan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.” Tersirat bahwa kurikulum adalah menyangkut proses serta upaya yang terdapat dalam kebijakan pendidikan nasional bangsa, yang kemudian mendasari perancangan Kurikulum Nasional 2013 (yang selanjutnya disebut Kurikulum 2013). Karena kebijakan mengenai kurikulum menyangkut hajat hidup orang banyak, posisi budaya, serta martabat bangsa, rancangan Kurikulum 2013 yang digagas oleh Pemerintah telah menarik perhatian masyarakat luas. Berbagai pihak telah ikut terlibat membahasnya dengan caranya masing-masing. Disadari bahwa pada saat ini, bangsa ini memerlukan langkah perbaikan pendidikan dasar dan menengah yang tidak boleh keliru guna menghadapi peluang Demography Window (Jendela Demografi) atau Peluang Emas Indonesia 2045. Apapun model kurikulum baru yang diperkenalkan pada saat ini akan meletakan dasar lompatan budaya bangsa Indonesia menuju budaya masa depan yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adalah amat penting untuk difahami betapa bangsa ini tidak boleh lengah menghadapi tantangan lompatan budaya yang disebutkan, menuju cita-cita sebagai Negara Besar pada umur 100 tahun kemerdekaan nanti. Dikatakan sebagai lompatan budaya karena diramalkan pada saat bangsa ini berumur 100 tahun nanti, kemajuan budaya serta peradaban bangsa-bangsa di muka bumi akan sudah sampai pada paradigma yang amat berbeda. Teknologi maju yang telah hadir pada saat ini (teknologi info, teknologi bio, teknologi nano, teknologi neuro) telah dan akan mengubah budaya, lingkungan serta peradaban umat manusia di muka bumi. Banyak diramalkan, bahwa kemajuan teknologi pada saat ini dan nanti telah akan berpengaruh luar biasa pada paradigma berfikir setiap individu manusia. Paradigma berfikir yang membangun logika bernalar atas denyut-denyut informasi yang diterima oleh jutaan sekaligus sensor-sensor indera yang dimiliki manusia, yang secara integral akan pula membangun budaya serta peradaban baru pada jamannya. Dengan demikian, penyusunan dan pelaksanaan kurikulum baru yang memperhatikan paradigma kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atas kehidupan masa depan menjadi langkah sangat penting bagi penentuan masa depan bangsa. Pada saatnya nanti, bangsa Indonesia akan berada pada lingkungan dan peradaban kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebutkan.

Kurikulum adalah bentuk program dari proses pendidikan, dan ITB adalah salah satu bagian dari proses pendidikan bangsa tersebut. ITB yang menjalankan tugas serta tanggung jawab sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya bangsa – dalam sains, teknologi, seni, dan kemanusiaan yang menjadi identitasnya - ikut bertanggung jawab untuk keberhasilan pendidikan bangsa Indonesia. Karena itulah Majelis Guru Besar ITB (MGB ITB) memandang perlu melakukan diskusi terbuka guna mencari dan menemukan hakikat mengenai Rancangan Kurikulum 2013. Diskusi dengan tajuk “Mempertanyakan Hakikat Pendidikan STEAM dalam Kurikulum 2013 untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 13 Maret 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah ITB. (STEAM = Science-Technology-Engineering-Art-Mathematics.) Selain untuk tujuan di atas, diskusi dimaksudkan pula guna menyusun dan menyampaikan kepada berbagai pihak mengenai sumbangan pemikiran yang berhubungan dengan desain pendidikan nasional guna menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kehidupan masa depan bangsa Indonesia. Khususnya pendidikan dasar yang akan menghantarkan generasi muda bangsa menjadi pelaku perwujudan bangsa Indonesia ke depan.

Sejalan dengan tujuan ini, untuk acara tersebut telah diundang berbagai unsur pembicara maupun peserta dari kalangan pendidik dan pemerhati pendidikan termasuk Pemerintah, dengan harapan diskusi mampu menghasilkan simpulan-simpulan yang lebih baik. Namun, sekalipun sudah diupayakan, sangat disayangkan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dinilai paling mengerti rancangan Kurikulum 2013 tidak dapat menghadiri acara penting ini.

Rangkuman Hasil Diskusi

Kehadiran sebuah kurikulum baru dan perlunya perubahan secara kontinu merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan guna membangun budaya serta peradaban bangsa menuju yang lebih baik. Pembaharuan mendasar dan berwawasan ke depan karena pemahaman paradigma masa kini, tidak dapat dihindari demi merangkul masa depan suatu generasi bangsa dalam pertarungannya dengan dunia pikiran yang selalu berubah dalam menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak amat cepat. Untuk itu, kurikulum haruslah dirancang dengan proses pematangan yang cermat serta dituntun oleh kaidah akademik yang lebih benar dan baik.

Berdasarkan hal tersebut, setelah menelaah dokumen Rancangan Kurikulum 2013 yang ada pada waktu itu, peserta Diskusi Terbuka MGB ITB menemukan beberapa catatan sebagai berikut:

  • Hingga pada saat diskusi berlangsung, Rancangan Kurikulum 2013 belum dituliskan ke dalam format dokumen Negara maupun naskah budaya layaknya sebuah dokumen Negara, sebagai perangkat rujukan hukum Negara.
  • Gagasan inti dalam Rancangan Kurikulum 2013 belum tersampaikan dengan lugas, bahkan dalam beberapa hal justru menunjukkan keraguan.
  • Sejumlah istilah yang tidak dikenal secara luas telah digunakan dalam Rancangan Kurikulum 2013, menyebabkan kurikulum ini tidak mudah dipahami pada tataran implementasi, utamanya bila diterapkan oleh para pendidik di lapangan.
  • Rancangan Kurikulum 2013 belum mampu mengungkapkan gagasan intinya dengan bahasan yang lugas dan tanpa mengandung keraguan dan pengertian multitafsir, guna mendudukkan untaian pemikiran yang menjadi tujuan sehingga mudah dipahami oleh para pendidik di lapangan.
  • Rancangan Kurikulum 2013 belum menunjukkan keterkaitan basis filosofi yang digunakan dengan perwujudannya pada tataran teknis, kompetensi inti dan kompetensi dasar. 
  • Rancangan Kurikulum 2013 belum mencantumkan sikap dan nilai-nilai luhur kemanusiaan, yang memperhatikan hakikat STEAM, yaitu ciri budaya ilmiah di balik kemajuan ilmu pengetahuan yang diserasikan perkembangannya dengan pembangunan karakter bangsa dalam menghadapi dunia di masa depan.

Pada akhir acara diskusi, sejumlah peserta diskusi dari berbagai kalangan masyarakat yang hadir cenderung menyatakan bahwa Rancangan Kurikulum 2013 belum layak untuk dilaksanakan pada tahun ajaran yang segera datang. Diperlukan kematangan konsep dan rancangan, serta kesiapan guru yang akan berperan sebagai ujung tombak implementasi dari Kurikulum 2013.

Dengan mencermati rangkuman hasil diskusi sebagaimana tertulis di atas, MGB ITB memandang perlu menyampaikan pendapat mengenai Rancangan Kurikulum 2013 sebagai berikut.


Pernyataan Pendapat dan Rekomendasi

Di dalam proses pendidikan, perubahan kurikulum merupakan suatu keniscayaan. Kurikulum yang ideal harus kontekstual, menyesuaikan sekaligus memberi arah bagi perkembangan ke depan di masyarakat. Karena itu kurikulum harus selalu diperbaiki secara kontinu sesuai dengan perkembangan serta tantangan yang dihadapi. Terkait dengan itu, Kurikulum 2013 akan meletakkan dasar perubahan budaya dan peradaban bangsa Indonesia memasuki peluang Emas Indonesia 2045 (Golden Opportunity Indonesia), yang bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam hal ini, kehendak Pemerintah untuk memperkenalkan kurikulum baru, yakni Kurikulum 2013, harus disambut dengan baik. Namun, sebagaimana diisyaratkan oleh pernyataan mengenai kurikulum yang disebutkan di atas (UU Sisdiknas, 2003), selain materi ajar yang perlu diberikan kepada peserta didik, kemampuan dan kapasitas pendidik khususnya dan komitmen semua pelaku pendidikan umumnya, serta proses yang benar adalah amat penting guna mewujudkan tujuan dari pendidikan.

Dengan latar belakang di atas, perubahan dan penyusunan kurikulum baru harus diupayakan melalui proses yang cermat disertai kajian akademik yang tertib. Kurikulum baru harus lebih baik dari kurikulum sebelumnya mengingat makna kurikulum baru sangat penting bagi pembangunan generasi bangsa Indonesia ke depan. Pada Rancangan Kurikulum 2013, kalaupun telah terdapat upaya tersebut, dinilai belum menampakkan sebagai hasil kajian akademik yang semestinya. Beberapa persoalan mendasar pada rancangan kurikulum ini antara lain sebagai berikut:

· Rancangan Kurikulum 2013 tidak disertai naskah akademik, yang berisi pemikiran, konsep, tujuan, serta grand design (rancangan besar) pendidikan nasional, sebagai landasan. Rancangan Kurikulum 2013 memang telah mencantumkan sikap dan nilai-nilai luhur kemanusiaan, tetapi dalam beberapa hal kurang memperhatikan hakikat STEAM (Science-Technology-Engineering-Art-Mathematics), yaitu, ciri budaya ilmiah di balik kemajuan ilmu pengetahuan yang diserasikan dengan pembangunan karakter bangsa guna menghadapi tantangan ke depan. Trend (kecenderungan) dewasa ini menunjukkan bahwa posisi peradaban bangsa-bangsa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi (teknologi informasi, teknologi bio, teknologi nano, teknologi neuro) yang terus berkembang, yang telah terbukti berpengaruh pada kemajuan budaya, perkembangan cara berfikir, serta daya kreativitas manusia dewasa ini dan ke depan dalam menghadapai tantangannya.

· Rancangan Kurikulum 2013 belum menunjukkan keterkaitan yang jelas antara basis filosofi yang digunakan dengan perwujudannya pada tataran teknis yang dirancang untuk diimplementasikan. Misalnya, pendekatan interdisiplin dan metode eklektik yang dipilih tidak terwujud dalam model pembelajaran tematik-integratif yang direpresentasikan melalui Kompetensi Inti dan/atau Kompetensi Dasar. Dalam model ini, yang tampak bukanlah interdisiplin, melainkan multidisiplin: beberapa disiplin dimasukkan, bahkan cenderung dipaksakan, dalam sebuah mata pelajaran tanpa basis ontologi dan epistemology yang mengikatnya


Rancangan Kurikulum 2013 mengambil konsep integratif-tematik yang menunjukkan terdapatnya perubahan mendasar pada struktur kurikulum hingga pola penugasan guru, setidaknya, sejumlah mata pelajaran akan diintegrasikan menjadi satu mata pelajaran. Konsep ini membutuhan guru yang menguasai sejumlah mata pelajaran (yang digabungkan) serta mumpuni dalam mengajar berbasiskan pada tematik (yang telah ditentukan), yang merujuk pada lingkungan sekolah. Untuk terlaksananya konsep ini, pengetahuan dan kapasitas guru yang ada pada saat ini cukup jauh dari memenuhi kebutuhannya. Sementara itu, akan terdapat permasalahan pada tidak sedikit jumlah guru dengan “kompetensi” mata pelajaran yang dikeluarkan dari dalam struktur Kurikulum 2013.

Berdasarkan hal tersebut, sebelum Rancangan Kurikulum 2013 diberlakukan, MGB ITB menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:

1. Amat perlu dilakukan perbaikan atas Rancangan Kurikulum 2013 semaksimal mungkin melalui kajian yang mendalam dan cermat. Untuk ini diperlukan naskah akademik yang mengemukakan sosok bangsa Indonesia untuk memasuki peluang Emas, yang memuat kajian filosofis mengenai tujuan pendidikan nasional. Kajian tersebut seyogianya mengemukakan pemikiran serta konsep dasar, termasuk di dalamnya perhatian pada pendidikan STEAM, yang kelak menjadi rujukan dalam menyusun Rancangan Kurikulum 2013 beserta implementasinya.

2. Dokumen Kurikulum 2013 adalah Dokumen Negara dan Dokumen Budaya bangsa yang akan menjadi panduan dalam meletakkan dasar-dasar proses pendidkan ke depan. Untuk itu amat perlu dilakukan pembenahan atas struktur dan tatabahasa di dalam draf dokumen Kurikulum 2013 yang ada sehingga mudah dipahami, terutama oleh kalangan pelaku pendidikan di lapangan, dalam dimensi ruang maupun waktu.

3. Sebelum diimplementasikan, rancangan sebuah kurikulum perlu diuji dan disosialisasikan secara terbuka di forum akademik, yang juga melibatkan pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi serta kapasitas menilai, termasuk di dalamnya adalah kelompok masyarakat pelaku pendidikan. Forum terbuka adalah amat penting, yang mempunyai tujuan selain guna menampung pemikiran yang komprehensif juga untuk membangun pemahaman bersama hingga mengundang komitmen semua komponen masyarakat, khususnya yang akan terlibat langsung di dalam implementasi.

4. Kurikulum adalah bagian amat penting dari kebijakan nasional yang menyangkut hajat hidup mendasar bagi orang banyak, yang meletakkan dasar-dasar upaya pembangunan budaya serta martabat bangsa. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya kelak, proses serta prosedurnya harus memperhatikan kepentingan orang banyak itu sendiri sebagai masyarakat madani (civil society). Dalam hal ini Pemerintah perlu mengawalinya dengan membangun komunikasi cerdas dengan masayarakat yang amat luas, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Langkah perlu yang harus dilakukan untuk melaksanakan sebuah kurikulum adalah menyiapkan guru, sarana dan prasarana serta infrastruktur pendidikan yang tepat. Menyiapkan guru dalam hal ini bukan sekedar menyiapkan ketrampilan dalam pengetahuan, namun lebih penting adalah menyiapkan sosok guru yang mumpuni, mempunyai sikap (attitude), mempunyai pengetahuan (knowledge), serta mempunyai ketrampilan (skill), yang layaknya dimiliki seorang panutan. Ketiga hal tersebut diperlukan guna membangun karakter peserta didik yang berujung pada tumbuhnya nilai-nilai generasi yang dapat menjadi pelaku budaya serta peradaban bangsa Indonesia 2045. Untuk ini Pemerintah mutlak perlu bekerjasama dengan perguruan tinggi serta unsur-unsur masyarakat pelaku pendidikan yang lainnya yang mumpuni dalam merancang hingga merealisasikan Kurikulum Pendidikan Nasional.

Penundaan pemberlakukan Kurikulum 2013 menjadi keniscayaan jika hal-hal di atas belum bisa dilaksanakan. Menunda guna melakukan dengan segera persiapan yang lebih baik adalah jauh lebih berarti ketimbang kehilangan kesempatan merebut peluang Emas sebagai akibat menerapkan langkah-langkah pendidikan yang belum dipersiapkan dengan amat baik. 

Bandung, 12 April 2013
Ketua Majelis Guru Besar ITB


Prof. Harijono A. Tjokronegoro

sumber info: MGB ITB BANDUNG