25 April 2013

"RATING DAN UANG" LEBIH LAKU DIBANDING KEBENARAN

( Jum'at bersih hati )


Media massa semestinya berfungsi memberitakan kabar kebenaran faktual kepada khalayak pemirsa. Kita pahami, bahwa guna meningkatkan kompetensi dan persaingan usaha media pemberitaan memang dibutuhkan pemasukan dana yang tidak sedikit dan  iklan merupakan  sumber pemasukan terbesar dalam bisnis media massasaat ini.

Namun mari kita kembali belajar dari sejarah masa silam dimana kemenangan dan kejayaan perjuangan para anbiya as,utamanya Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabat r.hum dalam menegakkan masyarakat Islam di Madinah. Kokoh dan tegak kearifan mereka semua justru terbangun di atas kesetia­an pada nilai kebenaran yang ditanamkan baginda nabi saw kepada para sahabatnya, sehingga kuatnya kebencian dari musuh-musuhnya tidak membuat mereka gentar, berputus asa dan terpecah belah. Sudah sunatullah bahwa orang besar selalu diuji oleh puja pujian serta cemoohan dan celaan. Para sahabat besar seperti Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib yang rela menyediakan jiwa-raganya, harta benda sampai keturunan keluarganya demi hidup dijalan Allah, sama hilang sama timbul seiring dengan perjuangan Nabiullah Muhammad SAW yang dicintainya. Saat mereka dimusuhi dan diperangi maka semakin “besar” pula tingkat pengorbanannya.

Berbagai tipikal musuh datang menghadang dan harus dihadapi Nabi SAW ketika beliau di Makkah, di antaranya ialah pamannya sendiri Abu Jahal dan Abu Lahab yang terkenal menentang Nabi terang-terangan dan terkesan jantan karena nampak dimuka. Tetapi setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah, dan masyarakat Islam mulai berdiri, perjalanan dakwah beliau harus menghadapi musuh yang tidak ksatria dengan cara menggunting dalam lipatan. Orang-orang ber­jiwa kerdil yang hanya berani dan pandai membuat fitnah, menghasut, menggunjing, ber­bicara di belakang, sedang pada dzahirnya dia bermulut manis menyatakan kesan bersetuju dengan perjuangan Rasulullah SAW. Disaat lengah dan ada celah mereka berbuat makar dengan memasukkan jarum iri dengki membuat opini dan melemahkan perjuangan tujuan agama yang dibawa baginda Nabi,itulah cara golongan munafiqin yang dipimpin oleh seorang Abdullah bin Ubay,yang mengaku kawan padahal dia itu lawan yang hidup di atas kemunkaran.

Kalau ada musuh hendak melawan Islam, dibantunya dari belakang secara diam-diam tetapi kalau musuh itu sudah dapat dikalahkan oleh Nabi, dia pun cuci tangan dan musuh yang kalah itu seolah ditinggalkannya. Ketika dia datang tampak mengambil muka kepada Muslimin yang menang. Tampak muka karena ingin disebut pahlawan dan seolah berjuang dengan banyak cerita plus dibumbui hasutan, untuk memecahkan persatuan front Muslimin Muhajirin dengan Anshar. Baginda Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabatnya yang dikarunia basyirah tetap waspada, sehingga segala musuh-musuh Islam dari dalam tetap terkunci dan tidak pemah menampakkan hasil.

Saat ini di negeri kita berita-berita yang memuat kebenaran tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan rating yang tinggi dan uang besar. Memang sudah dibuktikan TV elektronik bahwa tema-tema sinetron cenggeng terkait asmara, rebutan wanita, perselingkuhan atau cinta segitiga lebih diminati oleh kebanyakan pemirsa. Itu sebabya dunia infotainment dapat tumbuh subuh di negeri ini dan mampu mengalahkan majelis-majelis pengajian. Tak ada pengaruh signifikan sekalipun telah difatwa haram oleh majelis ulama kita, infotainment tetap melenggang. Ada apa dengan mentalitas umat di negeri ini,sedemikian parahkah hasutan kemunkaran meraja lela..?

Media massa itu tidak terlalu ambil pusing apakah bergunjing itu sesat atau tidak. Mereka juga tidak terlalu peduli mana pakah pesan yang sampai ke masyarakat itu benar atau salah. Minggu ini ramai dibicarakan media,kehidupan artis dan narkobanya,masalah politikus kepartaian dan pesekongkolannya. Apakah pemberitaannya akurat atau tidak,itu bukan perkara penting. Media massa hanya paham bahwa objek berita sangat penting karena bisa mendatangkan uang dan rating yang tinggi. Semakin krusial permasalahan yang diangkat maka semakin banyak diminati para pemirsa. Mereka tidak ambil pusing dengan resiko hasutannya dan semakin menyebalkan sering kali media mencitrakan orang-orang yang dikenal shaleh malah dimarjinalkan dan lebih banyak mengangkat para durjana hitam untuk diblowup secara intens, serta sengaja dibiaskan atau dikaburkan dimana letak kesalahan dan kebenaran dari para pelakunya. Keawaman masyarakat terhadap suatu objek berita semakin menyuburkan rating berita mereka. Naudzubillah..!

Di era pasca moden ini dimana media massa sebagai pemegang kunci informasi apapun isu yang dianggap penting dan sesuai visi medianya bisa dibangun . Negeri kita dengan landasan ideologi Negaranya (Pancasila) yang berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan ingin memuliakan manusianya dengan keadilan yang berdab lewat penegakkan demokrasi, sepertinya perlu ada koreksi. Demokrasi kita kedodoran karena payung hukumnya masih bisa dipermainkan para pihak yang berkepentingan(politik pragmatis) Kkebebasan menyatakan perasaan dan fikiran terkandang tidak memperhitungkan pentingnya Pesatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia.

Patut dicatat sistem demokrasi itu hanya satu dari sekian pilihan sistem bermasyarakat dan bernegara. Malah bila mau jujur demokrasi bukan formula yang pasti karena setiap negara fatsunnya bisa berbeda. Sedikit menelaah kata "demokrasi" di Konstitusi UUD 1945,ternyata kata demokrasi hanya ditemukan pada satu ayat saja yakni pada pasal 33 ayat (4) amandemen UUD 1945 dan itu pun terkait dengan masalah ekonomi yang sangat penting. Sistem kekeluargaan yang kita bangun justru disana langsung dihadapkan pada sistem ekonomi Liberal plus para pemegang kuncinya adalah Kapitalis(pemilik modal).

Konstitusi UUD 1945 sebagai pilar keadilan dan keselamatan bermasyarakat dan bernegara kita sekarang ini tengah melalui ujian berat lewat kebebasan (euforia demokrasi) berbicara di media massa. Kebenaran yang timbul nilai-nilai agama,sosial budaya budi luhur bangsa kita mulai tergerus oleh hasad, iri dengki, benci dan dendam para pragmatis yang suara batin palsu (kotor), lewat dalih “demokrasi” mereka melepaskan panah pembangkit hawa nafsu menebar kebencian pada sesama dan tak peduli bahwa perbuatannya itu menyinggung kehormatan seseorang atau tidak. Para pihak pengemban amanah publik figur, baik itu penguasa, pengusaha, pemimpin politik, pemimpin ummat/masyarakat,para artis dengan kata lain kaum selebritis di negeri ini sepertinya telah berjalan dengan visi hidup masing-masing dan mulai kebablasan karena hanya memperjuangkan amanat hidupnya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. Ingatlah peringatan dari Allah SWT, lewat firman-Nya;
“Seketika kamu sambut berita itu dengan lidahmu, dan kamu katakan dengan mulutmu, perkara yang sebenarnya tidak kamu ketahui kedudukannya, dan kamu sangka bahwa itu perkara kecil, padahal di sisi Allah dia perkara besar.” 
(An-Nur : ayat 15).

Orang yang beriman, lidahnya berbicara dengan penuh tanggungjawab. Dia mempunyai kepercayaan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati sanu­bari, semuanya akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Semua perbuatan dan perkataannya tercatat oleh kedua Malaikat, Raqib dan ‘Atid.
“Mengapa ketika kamu menerima berita itu tidak kamu katakan saja; “Tiada sepatutnya bagi kami akan turut memperkatakan hal itu. Amat Suci Engkau Tuhan, ini adalah suatu kebohongan besar.” 
(QS An-Nur : ayat 16)

Media massa kali ini justru jadi masalah karena apa yang mereka lakukan itu semuanya demi rating! Mereka menayangkan liputan khusus berbagai kasus mulai dari maslah banjir jakarta, artis pemakai narkoba, kasus politikus kesandung penyuapan dan korupsi, dan disaat yang sama ada ratusan ribu bahkan jutaan orang di negeri ini sedang membicarakan isu Pendidikan Karakter Bangsa, uji publik Kurikulum Pendidikan Nasional yang akan digunakan pada tahun 2013 ini yang akan menentukan kualitas dan kemaslahatan generasi muda bangsa dan negara ini di masa depan. Disisi lain semua orang tengah bersimpati dengan nasib kaum muslim di negeri lain yang terus jadi korban kebiadaban dari pemerintahannya sendiri. Bukannya menayangkan masalah pendidikan,kemanusiaan dan kebenaran (Al-Haq) tapi malah sebaliknya demi rating media lebih gencar mengemukakan berita pergunjingan yang cenderung tidak banyak manfaatnya bagi masyarakat.

“Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui ber­iman. ”  (QS An-Nur: ayat 17).

Cukuplah hal yang sekali ini buat menjadi pengalaman bagi kita. Jangan­lah terulang lagi yang kedua kali dan yang seterusnya. Karena perbuatan begini tidak mungkin timbul dari orang yang beriman, kalau tidak karena bodoh dan tololnya. Orang yang beriman tidaklah akan termakan oleh propokasi. Penyiar kabar nista tidak mungkin orang yang beriman. Penyiar kabar dusta sudah pasti orang yang munafik atau busuk hati, karena maksud yang tertentu, dan yang sanggup menerimanya hanyalah orang yang goyang imannya.

Kita senantiasa wajib waspada, karena kesatuan iman-mu tidak mungkin dirusakkan dari luar, tetapi hendak diruntuhkan dari dalam. Kaum munafikin tidak senang hati melihat gemilang jaya Nabi Muhammad dengan perjuangannya. Segala persekongkolan diciptakan untuk menentang Nabi telah mereka upayakan. Semuanya gagal. Dan Jalan satu-satunya buat melepaskan sakit hati ialah mengganggu perasaannya. Mari semua ini kita jadikan sebagai ibroh. 

Semoga Allah Subhana WaTa’ala senantiasa menjaga niat kita agar selalu istiqomah dijalanNYA. Aamiin..

Wallahu'alam bish shawab.