8 Juni 2016

Marhaban Ya Ramadhan: Takjil dan Takzim Menjadi Nilai Yang Tak Terhingga


Antara dua potong kata atau istilah 'takjil' dan 'takzim' ini memang beda maksud serta makna dan juga suasana batin yang menyelimuti kedua istilah tersebut tidak bisa disandingkan dengan serta merta, namun kedua istilah tersebut bila didalami akan bertemu pada satu pesan yang sama yakni harus didahulukan karena istilahnya sendiri terbentuk secara khusus mengingat kemuliaannya. Menurut KBII wed. id, bahwa; takjil/tak·jil/ maksudnya mempercepat, menyegerakan (dalam berbuka puasa), sedangkan takzim/tak·zim/ maksud yang terkadung didalamnya yakni amat hormat dan sopan; menakzimkan/ me·nak·zim·kan/ diartikan menghormati; memuliakan

Nah pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah perkara menyegerakan atau mendahulukan dalam amalan yang sifatnya memuliakan agar punya nilai lebih dan tersambung dengan amalan Rasulullah SAW, para shabatnya yang mulia serta para pewaris ilmunya. Kita sebagai bangsa Indonesia negara dengan mayoritas muslim sudah jelas tidak disangsikan lagi oleh siapa pun, namun karena banyak kehilangan nilai-nilai mulia berdasarkan ajaran Islam maka bangsa besar ini tidaklah salah bila dalam pandangan sebagian tetangga saja menganggapnya hanya macan ompong, gaumannya sih masih terdengar tapi semua sudah tahu bahwa itu hanya auman sang macan renta, untuk sekadaar mencari makan di kerajaannya sendiri pun sudah hampir tak mampu lagi.

Keadaan bangsa besar kita ini dengan kasat mata mulai bingung menentukan arah, banyak hal yang seharusnya menjadi skala prioritas malah kadang menjadi saru dan tertukar. Bahkan dalam kadar tertentu bila saja ada survey penelitian dengan menggunakan pooling, quisioner atau sejenisnya bukan mustahil akan didapati hasil betapa tidak konsisten dan signifikannya antara apa yang diucapkan/dituliskan dengan kenyataan yang dilakukan tiap individu yang jadi sample survey tersebut. Tegasnya kalau penulis meminjam istilah orang sunda 'cul dogdog tinggal igel' (perkara penting diabaikan, yg dikerjakan hal lain yang sifatnya mubazir). 

Hal ini pun tak lepas dari bagaimana wujud kehidupan di masyarakat kita sehari-hari, perubahan kearah yang tidak menjanjikan sebenarnya sangat terbaca. Misalnya saja mulai dari urusan makan, makan itu perintah wajib dari Tuhan bukan? Lantas coba tanya ke orang tua yang punya anak masih sekolah," bapak ibu apakah sarapan buat anak sebelum berangkat ke sekolah itu penting?" Silakan coba dicatat bila ada yang mengatakan tidak penting agar ada bukti lain. Nah kenyataannya sebagian besar orang tua percaya bahwa warung atau kantin di sekolah anaknya sudah menyediakan makan sarapan buat anak-anaknya. Padahal bisa jadi menyediakan sarapan buat anak-anaknya itu bisa saja pahalanya sebagimana takjil karena maksudnya penyegeraan atau berusaha memenuhi dengan segera apalagi ini kepentingannya untuk memenuhi kewajiban perintah Tuhan lainnya yaitu menuntut ilmu. Dikatakan ahli ilmu berdasar hadits, “Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i , maka ia berjihad di jalan Allah hingga ia kembali," (HR. At-Tirmidzi). 

Saat ini kita mayoritas muslim di Indonesia sudah mulai kehilangan pegangan hidup yang sejati, Berikut ini satu hal yang maha penting dan butuh sifat Takzim pada guru untuk mendalaminya. Apakah yang dimaksud ?
Yang dimaksud yakni Pentingnya Beriman Kepada Yang Ghaib (Qs.2:3, 177, 186, 277; Qs.4:150-152, 162) (maksudnya iman kepada yang ghaib ialah sebagai basic dari sebuah keimanan/keyakinan, karena apa yang kita yakini adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap pancaindra. Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya Allah, Malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya); berarti termasuk di dalamnya beriman kepada Allah (Qs.2:136, 177; Qs.4:136);

Lebih dalam lagi bila kita tidak biasa memahami suatu maksud dari sebuah ayat serta tidak ada guru yang mumpuni untuk bertanya maka sebuah pesan yang sangat keras sekali pun justru akan dipandang sebagai pesan/ancaman biasa-biasa saja, ini misalnya:

ا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Nilai-nilai ajaran Islam yang utama tengah dijauhkan secara sistematis oleh pihak-pihak yang ingin menjadikan dunia ini sebagai kehidupan surgawi semu maka dengan demikian lengkaplah sudah kebinasaan kelak telah menanti, iman setiap muslim sengaja digerogoti guna menghanguskan nilai-nilai amalan utama ummat muslim dalam berbagai bidang kehidupannya. 
Misalnya saja dalam bidang pendidikan, perintah dalam ajaran Islam mencari ilmu, dengan ilmu bisa dijadikan panduan dalam beramal sehingga kehidupan ini menjadi bermakna dan barokah.

Rasulullah Saw bersabda: “Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah (taat pada Allah) dan yang serupa itu, berilmu & penuntut ilmu.” (HR.At-Tirmidzi), 

Dalam dunia pendidikan, takzim kita kepada ulama atau guru ahli ilmu bukan tanpa alasan karena dicabutnya ilmu dari bumi dikaitkan dengan diwafatkannya ulama. Oleh karena itu menghormati dan memuliakan ulama/guru merupakan sesuatu yang mutlak. Bukan maksud mengagungkan kehebatan makhluk namun karena hal ini ada kaitannya dengan ilmu dan hak sebagai pewaris nabi sebagaimana hadits yang berbunyi al-‘ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83). 

Kembali ke dasar peringatan akan dicabutnya ilmu terjadi dengan diwafatkannya para ulama. Dijelaskan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain’

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan bahwa asy-Sya’bi berkata, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 60)

Wafatnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih-lebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:
مَفَاتِيحُ لِلْخَيرِ مَغَالِيقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “ِAku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ.

‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’

Sebagai penegas saja, mumpung masih ada kesempatan pada puasa ramadhan 1437 H tidak salah kiranya bila kita berusaha belajar, hadir medekatkan diri ke majelis-majelis ilmu syar'i, mari kita prioritaskan apa yang seharusnya jadi prioritas,memperbaiki iman dan amal sholeh itu prioritas paling utama dan tentu saja semuanya itu butuh ilmu juga sebagaimana ahli imu dunia berani berkata siapa yang menguasai informasi maka akan menguasai dunia. Kalau pecinta ahli surga juga jangan kalah harus yakin dengan pernyataan ini "Seseorang di akhirat kelak dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai di dunia". 

Nah sekali lagi mumpung puasa ramadhan semua amalan baik bisa berlipat ganda pahalanya, apalagi alasan kita untuk tidak takjil (mnyegerakan/memperioritaskan) dan bukan hanya berupa memakan sesuatu tapi 'takjil" dalam hal menghadiri suatu majelis ilmu dengan takzim di masjid-masjid yang ada di sekeliling kita, mari jangan sia-siakan hidup yang sebentar ini, raihlah semua kemuliaan itu dengan duduk di majelis yang dibangga-banggakanNya dihadapan para malaikat. InsyaAlloh saya niat, bagaimana dengan anda semua saudaraku? 
Siap yah..mari kita niatkan dan ucapkan bismillah..


Guru Tonjong,
KotaAngin, 2 Ramadhan 1437H/7 Juni 2016M

sumber pendukung tulisan : Ulama Pewaris Nabi