14 Oktober 2015

KETAHANAN PANGAN BAGIAN PENTING DARI KETAHANAN NASIONAL, BANK BENIH LOKAL SOLUSINYA

Pernahkah mendengar mengenai bank benih/bank of seeds/gene bank? Ya, bank untuk sekumpulan benih tumbuhan baik buah maupun sayuran. Aku pertama kali membaca mengenai bank benih saat menemukan sebuah artikel tentang Kubah Kiamat di sebuah pulau tandus 1.100 km dari Kutub Utara. Bill Gates sebagai konglomerat internasional menginvestasikan sejumlah dana besar untuk bank benih, bekerjasama dengan yayasan Rockefeller, Monsanto corporation, yayasan Sygenta dan pemerintahan Norwegia.

Bank benih tersebut dikatakan akan mampu menampung sampai 3 juta benih berbeda dari seluruh dunia untuk kepentingan 'mempertahankan keanekaragaman benih' kehidupan manusia jika terjadi sesuatu di masa depan, misal bencana alam dahsyat yang menghancurkan seperti oleh ledakan meteor, banjir bandang zaman Nabi Nuh, kehancuran akibat perang dan sebagainya. Tapi, kita tidak pernah tahu apa sih maksud mereka membuat bank benih sebegitu besar sampai-sampai bekerjasama dengan Monsanto, sebuah perusahaan agrokimia internasional yang banyak mendapat perlawanan dari petani di seluruh dunia.

Singkatnya, bank benih merupakan tempat dimana benih sebagai materi biologi dikumpulkan, disimpan, didaftar, dan dimungkinkan untuk di distribusikan ulang. Fungsi utamanya adalah melestarikan keanekaragaman genetik tanaman dalam bentuk biji kering atau stek yang berguna untuk penelitian dan pemuliaan tanaman. Ya, intinya sih untuk menyelamatkan bumi dan makanan manusia dan hewan.

Dalam sebuah artikel di website FAO, organisasi PBB untuk pangan dan pertanian ada sebuah artikel berjudul "World's most important gene bank now must under international plant genetic treat" pada 2006 menyebutkan bahwa dibuat sebuah perjanjian antara pusat-pusat penelitian internasional yang memegang 600.000 sampel genetik tanaman terpenting di dunia untuk pertanian dan pangan. Sampel-sampel tersebut akan diteliti melihat semakin besarnya ancaman kepunahan terhadap keberlangsungan mereka akibat perubahan lingkungan, perubahan iklim dan penyakit tanaman aneh sebagai dampak modernisasi pertanian dan pertambahan jumlah penduduk yang pesat.


Peta domestikasi tanaman-tanaman penting di seluruh dunia

The World Agroforestry (ICRAF) sebagai organisasi internasional yang berfokus pada isu kehutanan memiliki bank benih di Nairobi, Kenya dimana salah satu pusat hutan tropis dunia berada selain Indonesia dan Brasil. Bank benih ini memegang 4. 473 aksesi dari 150 jenis pohon dalam sistem agroforestri. ICRAF juga memiliki bank benih dengan 700 aksesi yang mewakili 120 jenis pohon ke bank benih Slavabard di Norwegia. Pemuliaan jenis-jenis pohon dari kepunahan akibat kerusakan hutan dan perubahan iklim tentu saja sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Bagaimanapun pohon berperan penting dalam menjaga ketersediaan air, udara bersih dan penjaga kestabilan iklim dunia. Kalau nggak stabil kan bikin gerah.

Ada satu contoh lain, perang sipil di Syria yang menewaskan sekitar 300.000 jiwa, membuat 3 juta penduduk lainnya sebagai pengungsi dan menghancurkan banyak tempat membuat sekelompok ilmuwan Syiria yang tergabung dalam International Center for Agricultural Research in Dry Areas (ICRDA) berupaya menyelamatkan hingga 80% benih wilayah kering agar tidak punah akibat perang. Mereka mengirim sebanyak 150.000 sampel tanaman wilayah kering ke bank benih Slavabard di Norwegia yang telah mereka kumpulkan selama lebih dari 40 tahun dari pusat penelitian benih dan tanaman pangan di Allepo. Wilayah tandus seperti Syria, Palestina, Mesir, Libanon dan Irak merupakan lokasi domestikasi tanaman-tanaman khas seperti lentil, barley, dan beberapa jenis tanaman purba seperti varietas durum dan wheat untuk membuat roti. 

International Center for Agricultural Research in Dry Areas (ICARDA) -



Wah, ternyata setiap bank benih di seluruh dunia memiliki cerita dan alasan masing-masing. Bagaimana dengan Indonesia? Para petani di Indonesia hingga saat ini masih dijajah oleh setidaknya 3 perusahaan benih yang mendominasi penjualan benih yang telah dipatenkan yaitu sebagaimana dunia yang dikuasai 10 perusahaan pemuliaan Benih. Pada 2008 saja misalnya 3 perusahaan benih di Indonesia mengusaai hingga 71% jenis jagung, 40% jenis padi, 70% jenis tanaman holtikultura. Karena itu pada 2010 di Bogor telah dilakukan deklarasi Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI)sebagai alat komunikasi dan pembelajaran petani di Indonesia dalam melindungi benih-benih lokal dari perampasan oleh perusahaan pemuliaan tanaman.

Sebagian besar petani Indonesia dipaksa menanam benih hibrida dan transgenik milik perusahaan. Dengan iming-iming bahwa benih hibrida dan transgenik dapat membantu petani menghasilkan panen melimpah, perusahaan memaksa petani membeli benih mereka. Dalam beberapa kasus, petani tak boleh menanam benih hasil pemuliaan sendiri dan sering dijadikan tersangka pencurian benih yang telah dipatenkan oleh perusahaan agroindustri. Jika mereka melawan akan berakhir di Penjara. Padahal benih hibrida memiliki dampak negatif karena menambah ongkos produksi petani seperti membeli benih, disertai pupuk dan pestisida, juga merusak lingkungan karena penggunaan bahan-bahan kimia. Perusahaan untung dan petani buntung.

Kekhawatiran itu membuat dua perempuan yang bangga menyebut diri mereka sebagai petani mulai mengembangkan usaha pemuliaan benih lokal bersama komunitas mereka. Sebut saja Dian Pratiwi Pribadi, seorang ibu muda dari Kediri mahasiswi Magister di Universitas Wageningen, Belanda ini mulai melakukan pemuliaan benih bersama komunitasnya dan organisasi KIBAR. Dian juga bekerjasama dengan seorang ibu dari Jawa Barat bernama Nissa Wargadipura yang melakukan pemuliaan benih lokal di pesantren yang didirikan dan dikelolanya bersama suaminya di Garut, Jawa Barat. Di pesantren bernama At-Thariq yang lebih dikenal sebagai Pesantren Ekologi Kebon Sawah inilah Nissa bersama kelurga dan santrinya melakukan upaya pemuliaan benih lokal dari kebun mereka sendiri yang disebut kebun 'acak kadut' yang berjarak sejengkal saja dari rumah. Selain menyediakan benih untuk mereka kepentingan pesantren sendiri, kini Nissa bahkan telah menyediakan benih dan teh herbal untuk dijual. Penjualan benih-benih dari pesantren ini dilakukan bersama sebuah organisasi Teras Mitra, sebuah organisasi yang membantu para komunitas lokal menjual komoditas mereka bahkan hingga level internasional.

Dian dan Nissa yang memiliki jaringan level nasional dan internasional untuk gerakan bank benih dan pangan organik kini akan belajar selama satu bulan lamanya di Earth University di Doon Valley, Uttarakand, India Utara dalam kegiatan bernama "A-Z of Agroecology and Organic Food System". Keberangkatan mereka juga didukung oleh MANTASA, sebuah lembaga penelitian multidisplin yang bergerak dalam penelitian tanaman liar untuk bahan pangan.

Mereka akan belajar selama 30 hari selama 1-30 September 2015 bersama Dr. Vandana Shiva dan komunitas-komunitas lokal yang mengembangkan bank benih lokal di India. Dr. Vandana Shiva yang pernah ke Kediri, Jawa Timur dalam kegiatan Pameran Pangan Organik dan tanaman organik ini merupakan seorang ekofeminis, penulis buku, peraih nobel perdamaian dan penggagas bank benih lokal di India. Vandana telah membantu lebih dari 45 komunitas petani di 18 negara bagian di India untuk mendirikan bank benih lokal dan menjadi petani mandiri dan berdaulat atas pangan. Sebanyak 500.000 orang petani telah dilatihnya. Sebagai aktivis yang melawan kepongahan perusahaan agroindustri yang merusak kehidupan petani, pangan adalah senjata Vandana. Ia mendidik petani agar melawan kepongahan itu dengan menanam pangan dari benih lokal yang mereka muliakan sendiri. Bagaimanapun, setiap lokasi memiliki pangan lokal sendiri-sendiri dan petani harus memiliki kekuatan untuk melindungi pangan lokal mereka dari perang pangan yang dilancarkan perusahaan agroindustri yang berorientasi bisnis.


Benih dan petani adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehendak nasional pemerintah untuk kedaulatan pangan (food sovereignity). Serikat Petani Indonesia (SPI) menyatakan bahwa "Kedaulatan Pangan adalah konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Kedaulatan pangan merupakan konsep pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Artinya, kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasi pangan sesuai dengan budaya lokal yang ada. Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasiskan keluarga—yang berdasarkan pada prinsip solidaritas."

Kedaulatan pangan sendiri mengikuti prinsip-prinsip dasar dimana semuanya harus pendukung petani sebagai pihak pertama. Mulai dari alat produksi yaitu tanah, benih, model dan skala produk di, distribusi, pasar, dan energi harus berpihak pada petani. Konsep ini berbeda dengan ketahanan pangan yang hanya berpatokan pada ketersedian bahan pangan, karena kedaulatan bermakna 'berdaulat' dimana petani sebagai penghasil pangan diberi kesempatan dan perlindungan hukum untuk menjadi terdidik dalam upaya memimpin gerakan kemandirian pangan sejak dari komunitas lokal sehingga mampu menjaga ketersediaan pangan lokal dan nasional.


Jika kita belajar dari petani Thailand yang produknya membanjiri pasar-pasar nasional bahkan hingga ke pelosok-pelosok negeri kita pertama-tama harus belajar pada visi Departemen Pertanian mereka sebagai "Thailand Kitchen of the World". Thailand misalnya tidak menjadikan sawit dan karet sebagai komoditas utama sebagaimana halnya Indonesia dan Malaysia karena akan mengorbankan lahan-lahan subur, melainkan menanamnya di lahan-lahan tidak subur sehingga tidak terjadi konversi besar-besaran lahan hutan. Thailand fokus pada pengembangan sayuran dan buah di lahan-lahan subur. Negara bahkan memberikan dukungan penuh untuk penelitian dan pelatihan sampai mendirikan Bank of Agriculture untuk membantu permodalan petani. Juga perbaikan infrastruktur dan pasar secara professional. Semuanya untuk membantu petani. Ibu dari Raja Bumibol bahkan mengembangkan program Doi Tung yang merubah komunitas-komunitas lokal yang dulunya merupakan petani opium menjadi petani bunga, kopi dan biji makademia. Kopi Doi Tung bahkan kini dikenal sebagai kopi yang kemahalannya melebihi kopi Starbuck.

Kebijakan pro petani juga bisa kita lihat dari Vietnam dimana program Delta Mekong menjadikan Vietnam sebagai eksportir beras yang terkuat di Asia dan internasional selain Thailand, yang berasnya sampai juga ke dapur-dapur petani Indonesia. Sebagai bahan pangan sensitif bertaraf internasional, Vietnam menjadikan beras sebagai komoditas strategis dan memberikan beragam kemudahan pada petani seperti pembebasan pajak pengairan dan pajak lahan. Kalau petani gagal panen karena bencana misalnya, pemerintah akan mengganti biaya produksi benih dan pupuk sehingga petani tidak terpuruk dan bangkrut.

Nah, bagaimana dengan petani Indonesia yang selama 70 tahun merdeka dari penjajahn asing justru mengalami berbagai macam penggusuran seperti untuk konversi ke perkebunan sawit besar-besaran? atau untuk pendirian pabrik semen, perumahan dan peruntukan lainnya yang bukan untuk pertanian? Sedih kan? Tapi kita yakin harapan masih ada dan berharap Dian dan Nissa membawa pelajaran penting dari India. Nissa dan Dian hanyalah dua sosok dari ratusan sosok lainnya yang bergerak melalui komunitas mereka untuk kedaulatan pangan. Jika kebijakan pemerintah kita belum berpihak pada petani, maka kita berharap petani-petani terdidik seperti Dian dan Nissa akan menjadi ujung tombak upaya kedaulatan pangan di negeri ini sebagaimana halnya Dr. Vandana Shiva bersama petani-petani India.

Penulis : Wijatnika Ika, Pujakesuma. Tinggal di Depok. Studi di Unila & UI.
Depok, Agustus 2015