9 Februari 2014

Harga Sumur Resapan dan Budaya Mark Up Warnai Centang Parentang Kemaslahatan Negeri


Sebuah kisah nyata yang diceritakan putra anak negeri yang konsentrasi di sektor ke-3,beliau seorang pandhito pengelola SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah). Inisial panggilan umum beliau Gus Hapidh Skpm, pemimpin  sebuah lembaga pendidikan umat yang berbasiskan tauhid dan kecintaan pada lingkungan di daerah kabupaten Lamongan Jawa Timur. Seruan atau kampanye SPMAA yang kami kenali adalah.."setiap diri memiliki jatah pasti, seluas langit dan bumi. Itulah kampanye untuk kaya yang hakiki dan pasti melebihi mereka yang tidak beriman.
Ini sebuah kisah nyata tentang "Harga Sumur Resapan" yang normalnya 4-5 juta rupiah per titik tapi dalam standar baku KLH konon bisa berharga 75-100juta rupiah per titik. Inilah masalah mental yang bisa jadi masih dilakukan oleh mereka yang jahil sama amanah. Simaklah..
***

Suatu hari teman menyodori kami untuk program sumur resapan dari KLH RI. Dengan detil rincian program serta gambar yang diberikan. Teman itu bertanya : Gus, dengan kondisi program itu, apakah bisa diwujudkan sumur resapan sesuai standar KLH RI itu dengan biaya Rp.5juta/unit atau titik ? Segera kami kumpulkan team Santana SPMAA. Hasil diskusi dengan internal kami team Santana dan dari mempelajari detil gambar dari KLH itu, alhamdulillah kami memutuskan bisa menyanggupi untuk terwujudnya program itu, bahkan hanya membutuhkan biaya total Rp.4juta.

Alhamdulillah, segera kami dipercayai oleh teman yang mendapatkan order dari KLH RI tersebut. Karena ini sesuai dengan misi program SPMAA dalam pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan ini di dua Kab.Lamongan dan Kab.Gresik. Usai pengerjaan, teman itu inspeksi dan memotret serta meregistrasi setiap titik sumur resapan tersebut. Dan berkata terimakasih serta puas atas kerjasama dengan SPMAA tersebut. Kegiatan ini sempat diliput masmedia di Kab.Gresik.

Yang sedikit agak nyengir dan berkata dalam hati sendiri : Indonesia...Indonesia...Indonesia...hal ini terkait---usai mau pulang, teman itu menyodorkan ke GH sambil berkata : "tolong, mohon maaf ya GH, bisa bantu untuk penyelesaian administrasi internal lembaga kami". Dan ternyata GH dimintai untuk tanda tangani kwitansi untuk pengerjaan sumur resapan itu Rp.75-100juta/unit. Sementara GH hanya mendapatkan biaya kesepakatan diatas.

Yang bisa kami laporkan ke Paman Nasche Ammad, Pak Samsoel Maarif, dan Pak Bahrul Sjamsir Saridam adalah :
1. Kami team SANTANA SPMAA bisa lebih efisien dari Ridwan Kamil dan itu telah kami lakukan sekitar 3-4tahun yang lalu. Dan selain di Papua (karena transport mahal sehingga beda biaya), insyaAllah dengan biaya standar diatas GH siap diseluruh Indonesia.

2. Karena itu, dalam sebuah seminar, pernah GH sampaikan, seandainya satu dianatara Departemen Negara itu dipercayakan manajemannya kepada SPMAA, maka minimal produk output yang dihasilkan bisa 10-20 kali lipat dari yang dihasilkan oleh kementerian yang berjalan.

3. Karena kami tidak ingin berebut proyek dan linier atas kekuatan swadaya dan siap jika ada yang mengajak kerjasama, maka alhamdulillah tidak pakai kaget jika ada horor manajemen dalam ketidakjujuran yang terjadi disektor pertama.

Salam sumur resapan yang lebih efisien oleh sektor ke-3. 


Bismillah

Souce: HimPIn