22 Februari 2014

Tulisan Pendidik, Semoga Mendidik Sekalipun Tidak Profesional.

Semua orang pasti punya masalah, tanpa terkecuali. Sebagai makhluk hidup sebelum datangnya kematian masalah akan selalu hadir dan atau menemani. Mungkin seorang profesional akan berkata bahwa dalam menyelesaikan masalah, langkah pertama yang wajib ditempuh adalah mengukur atau membuat skala prioritas masalah, yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman atas usaha dalam penyelesaian maslah tersebut. Ya tentunya harus begitu,tapi itu kan bukan hanya kebiasaan orang profesional saja orang biasa pun mestinya tahu apa masalah yang terpenting dalam hidupnya. heehe

Masalahnya, saat ini banyak orang mau menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri-sendiri dan tanpa mempertimbangakan akan potensi pihak lain dalam membantu masalahnya. Bila PeDe bisa dilakukan, ya bagus. Siapa yang perlu atas hal tersebut, tentunya dia yang harus memperjuangan dan berkorban untuk mengatasi masalahnya bukan..?

Nah sekarang, ini permisalan saja kalau ada cara yang mudah, efektif dan lebih baik solusinya guna menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi, apakah hal tersebut akan dipilih? Dengan kata lain apakah akan percaya dan yakin atas solusi tersebut? Ahh, jangan-jangan belum apa-apa juga sudah di-judge tak percaya apalagi yakin dapat solusi yang bisa jitu.

Coba mari kita telaah sejenak, masalah itu datang apa karena kita diam atau karena ada sebab akibat atas perbuatan kita (ada aksi ada reaksi)? Biasanya masalah terkasit sebab sehingga ada akibat. Semisal, kita punya masalah tidak dapat pekerjaan, nah bisa jadi itu sebabnya karena kita berdiam diri, bukan?

Sejatinya masalah itu bukan masalah, bila kita diberi kepahaman kepada siapa sepatutnya kita mengadukan masalah kita. Sudahkah setiap masalah yang kita hadapi, kita adukan pada Yang Kuasa pemberi masalah dan Yang Kuasa Mengatasi masalah? Saya kira sahabat semua paham maksud pertanyaan ini. Silahkan hitung ada berapa masalah yang anda hadapi hari ini? Latas, berapa kali masalah anda, anda adukan pada yang Kuasa atas masalah tersebut?

Sebagai muslim, secara pribadi saya besedih hati karena bila saya ditimpa masalah, curhatnya sama sesama yang punya masalah juga sekali pun masalah yang kita hadapi berbeda. Ya pantes saja bila masalah tersebut cukup hanya sampai didengar, mending kalau masalah yang kita hadapi lantas diberi nasehat-nasehat untuk solusinya. Bila tidak, ya rasa galau atas masalah itu akan tetap saja mengendap, bukan?

Kembali ke masalah, kita ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah bukan? Masalah atau bukan masalah coba kita tanya dulu pada hati kita, masalah akan menjadi masalah bila kita terus memikirkannya dan tanpa aksi. Itu yang harus kita sepakati dulu. Masalah bukan masalah besar bila kita melihat bahwa masalah yang kita hadapi juga pasti dimiliki oleh orang lain, paling tidak pernah juga punya masalah dengan apa yang kita alami.

Masalah-masalah besar dan genting bisa jadi untuk sebagian orang menganggapnya enteng-enteng saja. Padahal bila kita tahu dalam kehidupan ini ada masalah besar, dipastikan dalam menghadapi masalah lainnya yang bukan skala prioritas utama bisa ditunda dulu. Masalah dianggap besar dan genting adalah saat dimana kita hadapi masalah penuh kekalutan namun tak ada seorang penolong pun yang mau datang menghampiri kita. Nah dibawah ini ada 3 contoh masalah besar, diantara sekian masalah besar lainnya yang kelak mungkin akan terjadi, bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari kita akan menghadapinya dengan begitu berat ;
  1. Masalah saat sakaratul maut datang, ini ujian berat bagi siapa pun tak terkecuali sekali pun itu orang ber-iman.
  2. Masalah kubur, kehidupan di alam barzah. Siapa yang yakin bahwa di kubur itu tak bermasalah nanti?
  3. Masalah di mahsyar dan perjalan selanjutnya di akherat sampai datangnya sebuah ketetapan, apakah kita akan kembali ke kampung halaman sejati kita yakni Surga ataukah masuk ke tempat sampah akherat yang namanya Neraka
Ketiga contoh masalah tersebut, sangat jarang kita renungkan dan pikirkan solusinya akibat kita terlena dengan fatamorgana dunia. Silakan, setelah kita mengingat masalah tadi, lantas apakah sekarang masalah kita di dunia dapatkah mengungguli masalah-masalah tersebut diatas..?

Ada masalah umum saat ini yang ingin dikabarkan, yakni masalah kedisiplinan. Banyak orang berdisiplin dalam pekerjaan, berdisiplin dalam mengatur menu makanan dan minuman, berdisiplin menjadwalkan acara rekreasi keluarga dan lain-lain. Namun sangat disayangkan kedisiplinan tersebut akhirnya menjadi percuma saja lantaran tidak berkelas selama kita tidak disiplin dalam menghadiri setiap undangan Allah sang Pencipta jagad raya dan segala isinya ini. Padahal bisa jadi dengan dedikasi yang tinggi dan berdisiplin tinggi untuk selalu hadir dan beramal di setiap undangan Allah maka satu nilai iman dan takwa, taat agama bisa kita raih dan masalah-masalah lain pun bisa selesai berkah pertolongan Allah pada hamba terkasih-Nya.

Ingatlah akan firman Allah Ta'ala yang ini ;

Wasta’inu bishobri wasshalaat. Wa Innaha lakabiratin Illa ‘alaa khasyi’in
Mintalah tolong dengan shobar dan sholat, sesungguhnya ini berat kecuali orang orang yang khusyu
(QS.Al-Baqarah: 45)

Mari saudaraku kita berintrospeksi,disaat seruan-seruan Allah datang, apakah kita merasa bahwa itu bisa ditangguhkan? Betapa sayangnya, karena kelak hak kita kembali ke kampung halaman kita yang hakiki juga akan tetangguhkan, itu logis karena akibat dari kelalaian kita sendiri. Tegoklah  masjid-masjid kita banyak yang kosong, saat adzan berkumandang dan bersahutan terdengar dimana-mana, bukannya datang ke masjid tapi seolah itu hanya pertanda untuk "coffie break" saja. Kemenangan yang dijanjikan akhirnya luput dari amatan kita. Kemenangan atas pertolongan tersebut hanya sedikit orang saja yang faham dan mungkin satu kampun pung bisa terbilang dengan jari. Lebih prihatin lagi sering didapati masjid-masjid atau musholanya bagus-bagus berfasilitas lengkap namun hanya segelintir orang saja yang tertambat hatinya guna memakmurkannya. Ya, bagaimana pertolongan Allah akan datang hingga masalah-masalah hidup kita diselesailkan-Nya? Akhirnya kembali ke penyelesaian akal tarekah masing-masing pribadi dan cape..dech..!

Masalah makan, minum, nikahi istri, rumah, pekerjaan, jabatan itu sebenarnya hanya keperluan saja dan namanya keperluan sebenarnya bisa kita tangguhkan untuk sementara waktu tatkala ada kebutuhan lain yang sangat penting. Bila kita kita muslim justru harusnya paham bahwa Iman, Sholat, Zakat/shodaqoh, puasa wajib, menunaikan ibadah haji dan dakwah mengikuti sunnah Nabi SAW tanpa perlu ngeyel karena itu adalah kebutuhan kita. Ambilah bagian dari yang yakin, pastikan bahwa kita kelak tak ingin bermasalah dengan Allah, cobalah kita sedikit cerdas, saat sebelum adzan itu tiba keluarkan dulu masalah-masalah keperluan hidup dunia dari otak kita, tunda dan tinggalkan segera. Bergegaslah untuk ambil wudlu lalu fokuskan hanya ke satu arah yakni menjadi tamu yang baik di baitul mukminin, hadirkan hati kita dengan khsusyu, berdirilah dalam shof dan agungkanlah kebesaran Allah dengan sholat berjamaah bersama ummat yang punya iman dan pikir sama yakni ingin selamat dunia dan akherat selama-lamanya.

Dengan berbekal keyakinan dan amal-amal kebaikan agama maka jangan heran bila kemudahan dan kelapangan hidup akan selalu menyertai kita. Cukup tinggal mau ikhtiar sedikit dan lebihnya tawakal saja, biarlah Allah yang mengatur apa yang terbaik dalam menyeselesaikan masalah-masalah kita saat ini. Sementara kualitas dan kuantitas yang mesti terus istiqamah kita perjuangkan adalah memperbaiki diri, menjadikan diri kita sebagai penyelamat keluarga dan keturunan kita, mengajak orang yang yang kita kasihi, saudara-saudara kita agar mereka pun taat pada Allah Ta'ala sesuai contoh Rosulullah SAW dan dengan cara demikian itu kita berharap semoga Alah tetapkan hidayahnya buat kita dan hidayah tersebut terus bisa bercurah-curah di mana pun tempat di atas muka bumi kita dan keberkahannya mampu mentinari seluruh alam melalui rahmat-Nya.

Menuju keselamatan adalah seruan kita bersama, mari jadikan diri kita dan keluarga kita untuk tidak dengan sengaja mencari masalah-masalah dengan Allah. Musibah besar bila Allah butakan hati kita dan Allah tak mau pandang apa pun amal kita bila sholat saja kita abaikan dan lalaikan. Tak sulit bila niat kita ada untuk jadikan sholat sebagai prioritas kebutuhan hari-hari hidup kita. Minimalnya insyaAllah kita bersumpah setia (bershahadat tain) setiap hari sebanyak 9X dan itu bisa terjadi dengan sadar disaat kita mendirikan sholat fardlu berjamaah di masjid.

InsyaAllah, saya niatkan untuk disiplin selalu hadir laksanakan sholat fardlu berjamaah di masjid atau mushola. Bagaimana dengan niat sahabat pembaca ? Semoga Allah karuniai kemampuan itu dan tetapkan hidayah buat kita semua. Aamiin.
Wallohu'alam bish-showaab

Salam pendidikan
Bismillah

*) Renungan di tengah datangnya kefasadan pada lingkungan pribadi penulis.