12 Oktober 2016

Gagalnya Program Guru Pembelajar Bisa Menggandakan Lost Generations


Kala pagi menyapa, ada rasa rigid di hati. Entahlah, membaca beberapa pesan yg beredar secara viral terkait program GP tampak jelas bahwa negara tidak punya cukup dana buat mendongkrak guru mengupgrade kemampuannya sampai bisa melek IT secara merata.

Sungguh terbaca, dewasa ini sepertinya bidang pendidikan bukan merupakan skala prioritas pembangunan nasional lagi. Dengan kondisi saat ini, bagaimana Bangsa kita bisa maju dan mampu mengimbangi kemajuan bangsa lain yang berbasiskan IT?

Hal yang merisaukan, di satu sisi nyata sekali gadget Smartphone, iPhone,dan sejenisnya dengan akses net bebas  berkecepatan tinggi sudah ada dalam genggaman anak-anak usia sekolahan, sementara di sisi yang lain banyak guru pendidik malah tak mengenal apa saja yang peserta didik akses. Itu semua karena adanya gap antara Gen X,Y dan Gen Z.

Padahal maksud sebelumnya adanya program GP kalau saya simak punya maksud agar guru ke depan bisa memahami bagaimana informasi yang ada dalam genggaman tersebut dikenal guru, dipahami dan berikutnya mampu mengasosiasikan apa yang ada dalam frame network IT, sehingga paparan materi ajarnya setidaknya dikemudian hari bisa terbantu dengan menghadirkan resources atau informasi pustaka maya, syukur-syukur bila dikemudian hari gurunya sendiri berhasil menyusun dan menghadirkan format e-learning 2.0 di kelas pembelajaran mereka.

Inilah gambaran, mengapa kita akan selalu menjadi bangsa tertinggal dan condong hanya sebagai bangsa yang dijadikan pasar konsumen bagi negara-negara maju. 10-20 tahun ketinggalan dalam kemajuan IT tampak jelas sekali, misal saat negara lain sudah menganggap LMS sebagai system out of date, malah di negeri kita baru dipakai. Semua itu terjadi karena lambannya pemerintah menyikapi kebutuhan untuk kemajuan warga pendidik di tanah air.

Lantas yang jadi pertanyaan, akan seperti apa gamaran masa depan bangsa kita? Kalau saja seperti ini terus berlanjut maka bukan lagi sekadar isu, lost generations (generasi yang hilang) sebuah resiko yang mungkin terjadi.

Realita kekinian setingkat doktor dan tokoh nasional saja masih tertipu sama seorang tokoh sulap Kanjeng Dimas, itulah bukti kebodohan nyata sebagian warga bangsa kita. Belum lagi tokoh politik yang ramai-ramai nyekar minta doa restu sama kuburan proklamator. Sudah miskin ilmu pengetahuan, miskin iman lagi. Apa yang bisa kita harapkan? Eling...eling sing areling.. :'(

Salam pendidikan,
Bismillah