11 Agustus 2017

Jokowi berpasangan dengan AHY di Pilpres 2019?

Catatan Ringan Dunia Politik Indonesia Jelang 2019.
#KomunikasiPolitik
#JebakanBatman

Mengamati hadirnya AHY ke istana, lantas bertanya, apakah sebagai silaturahmi biasa atau silaturahmi politik? Katakan saja sebagai silaturahmi politik penjajakan untuk berpasangan di Pilpres 2019 yang melahirkan paslon Jokowi-AHY. Ini sekadar tulisan tak berbasis polling, bila Demokrat melalui AHY mengerucut ke tujuan itu bisa dikatakan Demokrat masuk ke jebakan batman atau bisa juga menjebak batman. Suka-suka yang mengamati saja dech... ;)
Memang silaturahim itu benar dan elok, apalagi dengan niat 'mengundang' Presiden untuk hadir pada pembukaan Yudhoyono Institute yang pasti itu lembaga sosial berskala international. Namun dalam kacamata politik akan berbeda, orang bertanya 'ada maksud PDKT apa'?. Ini satu potret yang bisa jadi sama walau tidak sebangun populeritas AHY yang baru naik akan langsung layu bila terjebak, seperti siasat Nasdem saat menjebak Kang RK.

Benar bahwa SBY itu jago dalam hal strategi berpolitik dan masak dalam pertimbanhan namun kali ini dimata sebagian masyarakat, ilmu linuwihnya bisa lumpuh mengena ke AHY oleh 'ilmu semar mesemnya Jokowi', bila by designnya ada di pihak Jokowi.

AHY bagaimana pun terbaca ada di suasana  'galau' untuk menatap 2019', bila hilang konsentrasi maka popileritasnya akan semakin menjadi lemah. Berandai-andai, katakan misalnya tindak lanjut dari PDKT ini muncul paslon Pilpres 2019 Jokowi-AHY, dengan asumsi Demokrat memperkuat koalisi partai pendukung pemerintah, dalam kalkulasi kasar hari ini tetap akan tumbang, hal ini berkaca pada hasil peta politik pasca Pilkada DKI dengan tumbangnya Ahok yang didukung koalisi 'gajah' yang tentunya tak akan mudah lupa di mata publik khususnya ummat muslim. Itu memberi kesan dan pesan yang dalam dimana kekuatan politik untuk memilih pejabat publik saat ini bukan lagi milik atau klaim partai politik semata.

Kalau mau coba-coba silakan, namun itu sudah ada dalam predikai berbagai pihak paslon Jokowi/AHY. Memang logis dengan maksud menyasar floating mass khususnya dari kalangan muda. Mungkin ada kalkulasi matematis namun tetap tak akan kuat, kegagalan AHY malah akan lengkap menjadi 2X. apalagi bila dibelakang permainan mereka diperkuat oleh kepentingan AS+China sebagai penghargaan atas goalnya Freeport menguasai kembali ladang emas plus di Papua.

Mengapa dipandang lemah?
Tren politik naaional masih dalam nuansa yang mengacu pada hasil Pilkada DKI, mukjizat Al Maidah 51 masih belum selesai, isu lainnya beratnya biaya hidup rakyat dengan beban utang tiap rumah tangga berbanding lurus dengan utang negara. Sekalipun dapat suntikan wajah baru, namun wajah baru yang belum punya kemandirian dalam berpolitik alias baik Jokowi maupun AHY masih bisa disetir oleh pihak lain.

Pertanyaan pamungkas:
Masa Presiden RI cuma jadi lambang atau kayak wayang wong doang ?


By Radea.