3 Maret 2018

Jangan Termehek-Mehek Kegirangan Dalam Tipuan


"Jangan Sampai Termehek-Mehek Kegirangan Hidup Dalam Tipuan Dunia dan Seruan Syetan" - Radea

Betul yang abadi itu kepentingan, kepentingan tertinggi hanya menuju dan milik Allah. Kepentingan makhluk termasuk manusia dihadapkan pada pilihan hidup selama dia hidup bukan saat setelah mati. Matinya memandang hal penting selagi masih hidup mengandung arti telah mematikan tujuan yang penting dalam hidupnya. Kalau pilihan pentingnya hanya sekadar makan minum, mengumpul harta dan menggumul lawan jenisnya dan malah ada yang dengan sejenisnya itu pertanda hidup dalam keabadian yang disukai Allah telah hilang kesempatanya. 

Merugilahah kalau itu manusia sebab dunia dicipta khusus untuk manusia sebagai jalan untuk mencari bekal menuju keabadian bersama Rabbnya. Sia-sia dan binasalah manusia di saat petunjuk pada hal penting telah dicabut dari dirinya. 

Ber-Islam itu memang harus berpolitik, politik Islam itu berstrategi cerdas, starategi khusus bagi manusia keturunan bani Adam agar tidak tertipu untuk yang ke 2x nya sama iblis laknatullah alaih beserta bala tentaranya. Allah mau kasih kerajaan dan istana yang terbaik ( lebih baik bagi yang sudah jadi raja) asal mampu lewat ujian hidup dan senantiasa ingat pada pesan-pesan keselamatan dariNYa, eh koq malah kebanyakan manusia tertarik (kabita) oleh tipu daya syetan dan bala tentaranya. Benar sunatullah karena Allah juga adil, karena iblis memohon maka Allah pun sudah barang tentu akan memenuhi jannji tersebut. Pilihannya mau di jalan Allah atau jalan Iblis laknatullah alaih, cuma ada dua pilihan saja. 

Hiruk pikuk politik pilkada, pilpres, pileg di Indonesia saat ini pandanglah hanya sebagai permainan malah dianggap candan juga tak masalah, keperluan bagi muslim (ummat Islam) punya pemimpin. Bila mereka amalkan 4 standar kepemimpinan sebagaimana contoh Rasulullah SAW ya tinggal ikuti, bila kurang minimal masih tabligh menyerukan kebaikan ya tetap ikuti. Namun bila seruannya berbau penyakin WAHN walau didukung kiai ya sudah wajib diamkan saja, apalagi bila banyak yang mengingatkan bertambah parah ya sudah wajib ditinggalkan (!?) 

Alasannya, ya WAHN itu adalah epidemi, bisa menular ke siapa saja. Bila dekat dengan ahli dunia yang cinta dunia dan takut mati lambat laun akan kena juga sama virusnya. Mau terima jika dibayar 1000 Tilyun untuk melupakan tujuan hidup di keabadian dan dikasih kerjaan serta istana yang lebih hebat serta luasnya minimal 10x luas dunia? Yang paham pasti tidak tertarik, kecuali bagi yang miskin ilmu dan tidak yakin dengan hidayah ya baru 100juta rupiah saja sudah termehek-mehek kegirangan sama tipuan syetan. 

Apa yang sebaiknya kita pilih saat ini ? Mendingan berkumpul setiap 5 waktu di masjid dan bertanya pada kiai, ulama, ustadz atau pecinta ilmu yang istiqomah menjalankan sholat fardlu berjamaah dan memberi contoh mengamalkan sodaqoh setiap hari tanpa dia hidup menjual ayat-ayat agama. 

Marilah saudaraku, pandahlah jauh ke depan perjalanan kita masih panjang, cerdaslah, jangan sampai baru dikasih nama gang yang parno sudah tertarik dan ingin belok ingin tahu di dalam gang itu. Tak usahlah.. 
Luruskan niat, tajamkan hati dan mintalah selalu pada Allah jalan terbaik yang lapang, lurus, mudah serta tetap fokus ada di jalan tersebu. Lewat do'a, jangan bosan dan ingatkan saudara yang lain. Do'a itu intisari ibadah, yang tidak banyak mau berdo'a akan kena cap sombong. Sombong dan syirik,. 2 hal yang tidak akan diampuni Allah. Jangan sampai akibat Demokrasi, pemilu-pemiluan, malah menjadikan kita berbuat kesyirikan dan berlaku sombong. 
Naudzubillahi mindzalik..

Semoga bermanfaat...Aamiin

Catatan renungan akhir pekan 
- di Gazebo Jaulah
By@Radea
Sabtu, 03032018

Dipublish di : Facebook