21 Maret 2021

TANTANGAN "CACAG NANGKAEUN" DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA ?

Ditulis karena risau, Akankah Dunia Pendidikan Kita Mengalami CACAG NANGKAEUN ? 
Istilah 'cacag nangkaeun' dalam basa Sunda ini menggambarkan persepektif hasil dari sebuah proses atau aktifitas yang digarap dengan awal perencanaan yang optimis akan berhasil baik namun dalam implementasinya mengalami gagal target. Selama dalam prosesnya mengalami distorsi multi efek, acak-acakan akibat ada situasi dan kondisi kacau yang tidak menentu (turbulensi), adanya peralihan prioritas pendanaan, banyak improvisasi gagasan baru yang lupa dan tidak mengerucut padatujuan awal. Yang akhirnya, hasilnya gagal menemukan bentuk ideal sebagaimana yang diharapkan sekaligus sulit lagi untuk bisa dipulihkan. 

Pada masa pandemi covid-19 tidak hanya bidang lain yang kini merasakan adanya masalah besar ini. Sekolah, sebagai institusi yang juga banyak diharapkan bisa menyelamatkan kaum muda kita agar bisa lebih baik masa depannya juga mengalami guncangan hebat. Pemegang kebijakan di sektor pendidikan (Kemdikbud, Kemenag dan Dinas Pendidikan) sudah berusaha untuk bertindak guna menanggani perubahan ini tapi tidak mudah. Banyak yang gagal paham malah sampai ada soloroh bahwa pembelajar saat ini diberi sebutan " angkatan corona" yang memang karena sikon tidak mendapat bimbingan belajar secara maksimal di sekolah atau kampus kuliahannya sebagaimana pada kondisi normal. 

Hanya mereka² yang punya motivasi, minat dan fasilitas pendukung yang cukup terus bertahan dengan memanfaatkan penguasaan literasi dasar berbasis digital yang di kemudian hari akan memiliki banyak keuntungan, setidaknya memahami bagaimana map marketplace dunia akan berkembang, yang saat ini saja tengah tumbuh gila-gilaan. Itu adalah peluang bagi mereka untuk menjadi bagian di dalamnya. 

Mungkin saja ke depan akan banyak lahir talenta² kaum muda digital natives dari kita yang dapat sejajar dengan Alif Ba Ta, yang secara cerdas memanfaatkan You Tube sebagai saluran mengekspresikan hobby dan kepiawaiannya dalam bermain gitar akustik sampai akhirnya merambah dan diakui netizen pecinta musik seantero dunia sebagai seorang pemain musik fenomenal pada fingerstyle dari Indonesia dengan sebutan Mr. Harmonic Fingerstyle. Dalam kesederhanaan dan rendah hatinya (humble) mampu menyihir kaum muda digital natives dunia yang akhirnya mereka menatap Indonesia sebagai negeri yang kaya budaya dan talenta kaum mudanya unik.

Sekali lagi, mungkin bagi sebagian kaum muda Digital Natives, bukan masalah. Mereka adalah generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi baru, setelah menjalani seluruh hidup mereka dikelilingi oleh dan menggunakan alat-alat dan mainan dari era digital. E-mail, ponsel dan pesan instan tidak hanya bagian dari kehidupan mereka, tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan mereka. 

Digital natives didefinisikan sebagai pemuda, berusia 15-24 inklusif, dengan lima tahun atau pengalaman lainnya menggunakan Internet, mobiles dan lainnya. Digital natives telah dikondisikan oleh lingkungan teknologi mereka untuk mengharapkan tanggapan langsung. Mereka lebih memilih akses non-linear acak untuk informasi (yaitu hyperlink), dan memiliki preferensi lebih untuk konten gambar berbasis teks.

Lantas pertanyaannya:
1. Bagaimana para pendidik guru melihat, menyikapi dan menangani masalah yang rumit 'cacag nangkaeun' ini?

2. Bagaimana kita menentukan strategi, metoda dan teknik pembelajaran dalam menghadapi generasi “digital native” ini ?

Tentu saja jawaban paling akurat tidak bisa didapatkan dengan mudah. Hal penting kali ini adalah adanya usaha guru yang didukung oleh pendanaan yang ada, misalnya lewat dana BOS di sekolahnya untuk melakukan tindakan cepat dan cermat. Bila adanya pembiaran maka hal pasti kaum muda digital native ini akan kesasar mencari aktivitas lainnya yang sangat sulit lagi dikontrol oleh orang tua dan gurunya. 

Di bawah ini ada video menarik (sebagai masukan) dari Dr. Djadja Sardjana. Sebagai tawaran solusi bagi para pendidik, guru dan dosen dalam menangani proses belajar dengan peserta didik atau siswanya di masa pandemi covid-19 saat ini melalui strategi PBM Daring (PJJ) yang murah dan efisien.

Semoga bermanfaat...
🙏
Catatan pagi,
Pak Guru Tonjong.
Ahad, 21 Maret 2021