1 Mei 2012

Berlinang Air Mata di Saat Bayan Tausyiah Shubuh


Dalam satu kesempatan bayan / tausyiah pagi, usai sholat shubuh di mesjid dekat rumahku, Pak Dim, sebut saja begitu sempat menyampaikan kearifan hatinya untuk mengajakk peduli dalam membela kaum fakir dan miskin. Sekali pun menurut Konstitusi UUD 1945 pasal 34 bahwa," fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara." Benar, itu tanggung jawab Negara (diatur oleh Pemerintah) guna menolong dan menjait mereka dari keterpurukan tersebut. Namun kenyataaannya, Pemerintah di berbagai kota besar di tanah air tercinta ini ketika menyelesaikan masalah-masalah sosial malah lebih memojokkan dan  mendzalimi kaum miskin papa yang dipandangnya “hina dina“ dan merusak pemandangan kota.  Mereka ini tidak sedikit, karena ketidakmampuan absolut hanya mampu memungut sampat atau berdagang kecil-kecilan di emperan-emperan toko, atau di gubuk-gubuk kumuh pada tanah kaum juragannya. 

Pak Dim, yang usianya sudah lewat 11 tahun dari usia wafatnya nabi itu kadang tersedak, nyaris menangis bila menjelaskan bagaimana galak dan kejamnya tindakan tramtib (keamanan dan ketertiban) ketika merusak, menghancurkan barang-barang dagangan milik wong cilik. Melihat bagaimana ibu-ibu dan anak yang baru pulang dari sekolah mendapati barang dagangannya hancur, ibunya nyaris pingsan, selonjoran di tepi jalan, dengan sedikit sisa barang yang berhasil diselamatkan dari terkaman kekejaman kehidupan Jakarta. Yang pernah saya lihat kurang lebih sama, di shoot teve, bajunya kotor, ditarik secara kasar dan digotong petugas Satpol PP/ tramtib. Air mata ibu itu meleleh, anaknya yang baru pulang sekolah menatap ibunya, tanpa mengerti dosa pembangunan apa yang harus dijalaninya dalam meniti masa depan kehidupannya. 

Pak Dim seperti tak pernah bisa mengerti mengapa kekejaman itu terus terjadi, seperti tidak ada cara lain untuk memperbaiki taraf kehidupan masyarakat papan bawah. Suaranya terasa kering, mengalir tersendat-sendat masuk ke telinga pendengarnya yang jumlahnya sejumlah jari sebelah tangan saja. Angin yang berhembus pelan, menelisik pintu masjid, begitu lembut seolah malu berlalu di depan lelaki tua yang menangisi kekejaman tramtib Jakarta. 

Pendengar tausyiah pagi itu tertunduk, ketika beberapa kejap kemudian Pak Dim menceritakan apa yang dilakukan khalifah terhadap rakyatnya di masa lalu. Tak begitu jelas apa yang dilakukan khalifah, karena ingatan saya memotret wajah para pemimpin Indonesia beserta Gubernur di Indonesia saat ini. Terbayang wajah SBY beserta para Menteri kabinetnya, kemudian berlalu dan muncul wajah-wajah anggota DPR yang mulia lantas berikunya wajah-wajah Gubernur, para Bupati yang dengan gagahnya memamerkan barisan pengawal pribadinya lengkap dengan seda-sedan mewahnya. Terbayang di kepala ini lintasan Korban Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta,Korban tsunami dashsyat Aceh. Para korban yang kebingunagn akibat banjir rob Jakarta, derita rakyat masal akibat ulah Lapindo di Sidoarjo, kematian manusia karena tertimbun sampah khas hanya di Indonesia, kematian karena tabrakan beruntun akibat kelalaian manusia dalam berlalu-lintas, dan kematian-kematian akibat ganasnya perang perebutan tanah,akibat bentrok antar genk motor, tawuran anak sekolahan dan kelalaian-kelalaian manusia lainnya yang tidak semestinya terjadi. Wajah-wajah kaum papa penuh peluh dan debu yang berebut mengorek mengais sampah tanpa bisa perduli lagi hari esok dan keselamatan hidupnya pun jadi sorotan media ketika itu. 

Kulepaskan pandangan ke luar pintu mesjid yang terbuka lebar, matahari menjelang pagi. Kami bersalaman untuk berpisah, dan bertemu kembali untuk tausyiah pagi seperti hari-hari sebelumnya, seperti minggu-minggu sebelumnya. Saya masih merasakan sampai perjalanan menuju kantor. Gema suara Pak Is dan kepedihan melihat saudara-saudara sebangsa yang dianiaya itu mengisi relung kalbu kami pada hari itu. 

Sungguh, alangkah zalimnya Pemerintah. Dunia ini telah ditenangkan oleh ribuan Pak Dim, yang dengan tawadu di usia melewati senja menangisi kejamnya kehidupan. Rasanya, Pemerintah kita lebih suka memberantas orang miskin dari pada memberdayakan orang miskin. Jelas dia tidak miskin, baik rumah dan keluarganya juga. Tinggal di rumah yang lengkap segala fasilitasnya. Namun, saya tahu betapa kepedihan melihat Indonesia dalam kacamatanya. Saya beruntung, bisa mendengar petuahnya. Kalau saya jadi pemimpin, mudah-mudahan bisa keras melawan kezaliman, dan lembut kepada yang tak berpunya. Semoga Allah memberikan hati kepada para pemimpin yang lupa dari air apa mereka berasal dan akan kemana mereka kelak kembali..??