30 Mei 2012

Puncaknya Iman Hanya Takut kepada Allah semata


"Yang merasakan manisnya iman ialah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul." (al-hadits)

Hadits diatas  merupakan intisari ketegasan dari seorang muslim dalam mendudukan posisi agama dan sekaligus menegaskan apa yang menjadi tujuan puncak penghambaannya yakni menuju ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha kepada Rasul-Nya, ketundukan, ridha kepada agama-Nya dan kepasrahan kepada-Nya. Siapa yang menghimpun empat perkara ini, maka dia adalah orang yang shiddiq. Memang hal ini mudah diucapkan, tapi termasuk sulit dan berat jika datang cobaan, apalagi jika ada sesuatu yang bertentangan dengan nafsu dan keinginannya, sehingga akan tampak apakah ridha itu hanya sekedar di lisan atau memang merupakan keadaan dirinya. 

Ridha kepada Rabb Allah mengandung makna ridha terhadap pengaturan-Nya terhadap hamba, juga mengandung pengakuan terhadap kesendirian-Nya dalam tawakkal, keyakinan, penyandaran dan permintaan pertolongan. Sedangkan ridha kepada Rasul-Nya mengandung kesempurnaan kepatuhan dan kepasrahan kepadanya, sehingga keberadaan Rasul-Nya lebih penting daripada keberadaan dirinya, tidak mengambil petunjuk kecuali dari kalimat-kalimatnya, tidak ridha kepada selain hukumnya, dalam masalah apa pun, zhahir maupun batin. Sedangkan ridha kepada agama-Nya berarti patuh kepada hukum, perintah dan larangan agama, sekalipun mungkin bertentangan dengan kehendaknya atau pendapat guru dan golongannya. 

Yang pasti dalam masalah ini, ridha adalah sesuatu yang bisa diupayakan ditilik dari sebabnya, dan merupakan pemberian jika ditilik dari hakikatnya. Jika memang sebab-sebabnya dimungkinkan dan pohonnya dapat ditanam, maka buah ridha juga bisa dipetik. Sebab ridha merupakan akhir dari tawakkal. Siapa yang pijakan kakinya mantap pada tawakkal, penyerahan diri dan kepasrahan, tentu akan mendapatkan ridha. Tapi karena sulitnya mendapatkan ridha ini, maka Allah tidak mewajibkannya kepada makhluk-Nya, sebagai rahmat dan keringanan bagi mereka. Namun begitu Allah menganjurkannya kepada mereka, memuji pelakunya dan mengabarkan bahwa pahala yang mereka terima adalah keridhaan Allah terhadap mereka, dan ini merupakan pahala yang lebih agung daripada surga dan seisinya. 

Siapa yang ridha kepada Rabb-nya, maka Dia juga ridha kepadanya. Karena itu ridha ini merupakan pintu Allah yang paling besar, surga dunia, kehidupan orang-orang yang mencintai dan kenikmatan orang-orang yang banyak beribadah. Di antara faktor yang paling besar mendatangkan ridha ialah mengikuti apa yang Allah ridha kepadanya, karena inilah yang akan menghantarkan kepada ridha. Yahya bin Mu'adz pernah ditanya, "Kapankah seorang hamba mencapai kedudukan ridha?" Maka dia menjawab, "Jika dia menempatkan dirinya pada empat landasan tindakan Allah kepadanya, lalu dia berkata, "Jika Engkau memberiku, maka aku menerimanya. Jika Engkau menahan pemberian kepadaku, maka aku ridha. Jika Engkau membiarkanku, maka aku tetap beribadah. Jika Engkau menyeruku, maka aku memenuhinya." 

Tawakkal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan menyeluruh, yang senantiasa ramai ditempati orang-orang yang singgah di sana, karena luasnya kaitan tawakkal, banyaknya kebutuhan penghuni alam, keumuman tawakkal, yang bisa disinggahi orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik dan orang jahat, termasuk pula burung, hewan liar dan binatang buas. Semua penduduk bumi dan langit berada dalam tawakkal, sekalipun kaitan tawakkal mereka berbeda-beda. 

Para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang khusus bertawakkal kepada Allah karena iman, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, berjihad memerangi musuh-musuh-Nya, karena mencintai-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan selain mereka bertawakkal kepada Allah karena kepentingan dirinya dan menjaga keadaannya dengan memohon kepada Allah. Ada pula di antara mereka yang bertawakkal kepada Allah karena sesuatu yang hendak didapatkannya, entah rezeki, kesehatan, pertolongan saat melawan musuh, mendapatkan istri, anak dan lain sebagainya. Ada pula yang bertawakkal kepada Allah justru untuk melakukan kekejian dan berbuat dosa. Apa pun yang mereka inginkan atau yang mereka dapatkan, biasanya tidak lepas dari tawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan boleh jadi tawakkal mereka ini lebih kuat daripada tawakkalnya orang-orang yang taat. Mereka menjerumuskan diri dalam kebinasaan dan kerusakan sambil memohon kepada Allah agar 
menyelamatkan mereka dan mengabulkan keinginan mereka. 

Tawakkal yang paling baik ialah tawakkal dalam kewajiban memenuhi hak kebenaran, hak makhluk dan hak diri sendiri. Yang paling luas dan yang paling bermanfaat ialah tawakkal dalam mementingkan faktor eksternal dalam kemaslahatan agama, atau menyingkirkan kerusakan agama. Jni merupakan tawakkalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah dan menghentikan kerusakan orang-orang yang rusak di dunia. Ini juga tawakkalnya para pewaris nabi. Kemudian tawakkal manusia setelah itu tergantung dari hasrat dan tujuannya. Di antara mereka ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan kekuasaan dan ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan serpihan roti. 

Siapa yang benar dalam tawakkalnya kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu, tentu dia akan mendapatkannya. Jika sesuatu yang diinginkannya dicintai dan diridhai Allah, maka dia akan mendapatkan kesudahan yang terpuji. Jika sesuatu yang diinginkannya itu dibenci Allah, maka apa yang diperolehnya itu justru akan membahayakan dirinya. Jika sesuatu yang diinginkannya itu sesuatu yang mubah, maka dia mendapatkan kemaslahatan dirinya dan bukan kemaslahatan tawakkalnya, selagi hal itu tidak dimaksudkan untuk ketaatan kepada-Nya. 

Ketahuilah bahwa ada beberapa hamba Allah yang ridha dengan pengaturan Allah Swt.. Mereka menerima baik maupun "buruk" yang datangnya dari Allah. Cahaya telah melenyapkan hasrat mereka untuk ikut mengatur. Makrifat dan rahasia telah menyirnakan kuasa mereka untuk ikut memilih. Mereka ridha dan merasakan nikmatnya ridha. 

Ketahuilah, putra Nabi Nuh As. binasa karena ia mengikuti keinginannya sendiri dan tidak meridhai pengaturan Allah yang dipilihkan untuk Nuh As. dan para pengikutnya di kapal. Nabi Nuh As. berkata kepada anaknya, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." (QS. Hud: 42-43). 

Maknanya, putra Nuh As. itu mencari perlindungan kepada gunung akalnya. Gunung tempat berlindungnya itu menggambarkan keadaan dirinya yang sebagaimana dikatakan oleh Allah, "Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." 

Secara lahir, yang menenggelamkannya adalah banjir. Secara batin, ia karam karena terhalang dari Allah. Perhatikanlah kisah ini dan ambillah pelajaran darinya. Apabila gelombang takdir menujumu, jangan bersandar pada gunung akalmu agar kau tidak termasuk golongan yang tenggelam dalam lautan keterputusan. Tetapi, naiklah ke bahtera perlindungan dan kebergantungan kepada Allah. Allah Swt. berfirman, "Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali Imran: 101). 

Apabila kau patuh, kapal keselamatan akan membawamu berlabuh di bukit keamanan. Kemudian kau, dan orang-orang yang bersamamu, akan mendarat dengan selamat di negeri pendekatan kepada Allah dan tiba di daratan keselamatan seraya diberkati. Itulah alam wujudmu. Pahamilah hal ini dengan baik dan jangan termasuk golongan yang lalai. 

Kau telah mengetahui bahwa sikap tidak mengatur dan tidak memilih merupakan keutamaan yang dimiliki orang-orang yang yakin. Sikap itulah yang merupakan perhiasan utama para arif. 

Seseorang pernah bertanya kepada seorang arif dalam perjalanan menuju Ka'bah, "Kemanakah Anda akan pulang?" Ia menjawab, "Aku telah terbiasa bersama Allah dan tidak membiarkan keinginanku mendahului langkah kakiku." 

Itulah keadaan hamba yang tak punya pilihan dan keinginan. Keinginannya adalah apa yang Dia inginkan. Seorang ulama mengatakan hal yang serupa, "Pagi ini keinginanku berada dalam ketentuan Allah." 

Abu Hafsh al-Haddad berkata, "Sejak empat puluh tahun yang lalu, tidak pernah Allah menempatkanku dalam satu keadaan lalu aku membencinya dan mengalihkan ke keadaan yang lain lalu aku tidak menyukainya." 

Hati mereka telah dipelihara oleh Allah Swt. dan mereka layak mendapatkannya. Tidakkah kau mendengar firman Allah, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka." (QS. al-Hijr: 42). 

Mengapa? Karena orang yang telah mencapai kedudukan penghambaan akan pasrah sepenuhnya kepada pilihan Allah, enggan berbuat dosa, serta tidak mau terjerumus ke dalam aib dan kesalahan. 

Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. an-Nahl: 99). 

Hati yang tidak bisa dikuasai setan tidak mungkin bisa direcoki dan diganggu oleh godaan untuk mengatur. Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang meluruskan keimanan dan tawakalnya kepada Allah niscaya tidak akan bisa dikuasai setan. Pasalnya, setan hanya bisa menggoda dengan dua cara, yaitu dengan membuat ragu seseorang akan keyakinannya atau dengan membuatnya bergantung kepada makhluk. Upaya untuk meragukan keyakinan bisa dibentengi dengan keimanan, sedangkan sikap cenderung dan bergantung kepada makhluk bisa dibentengi dengan tawakal kepada-Nya. 
_________________
Isi cuplikan dari tulisan:  Imam A'thaillah As-Sakandari penulis kitab Al-Hikam 

Beliau telah menjelaskan bahwa setiap mukmin haruslah tunduk dan patuh terhadap syariat Islam. Tidak terkecuali bagi mereka yang mengaku sebagai sufi atau bagi mereka yang saat ini mencari kebenaran. Karena dengan tunduk dan patuh itulah maka akan merasakan manisnya iman. Oleh karena itu, sungguh aneh apabila ada orang yang ingin meraih kebebasan sejati, ingin meraih kebahagiaan sejati, menjadi mukmin yang pemberani, yang ditakutkan hanya Allah Swt., ingin meraih cinta sejati, tanpa melaksanakan syariat Islam. 

Mereka yang kabarnya telah menggapai hakikat tetapi nyatanya menjauhi syariat ibarat membangun istana pasir yang kemudian diterpa ombak besar. Mereka yang berkata ini dan itu tapi di bawah timbangan syariat, jauh sekali dari kebenaran. Para wali Allah, orang-orang saleh, dan mereka yang meniti jalan Allah telah membuktikannya. Tidak akan sampai kepada Allah kecuali mereka menghukumi diri mereka berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Imam Junaid Al-Baghdadi berkata: "Semua jalan tertutup bagi manusia selain orang yang mengikuti jejak Rasulullah Saw." 

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menjelaskan berbagai masalah. Lalu dia bertanya kepada Abu Hamzah Al-Baghdadi, seorang pemuka tasawuf, "Apa pendapatmu wahai orang sufi?" Maka Abu Hamzah menjawab, "Siapa yang mengetahui jalan yang benar, maka perjalanannya pun menjadi mudah. Tidak ada bukti petunjuk jalan kepada Allah selain dari mengikuti Rasulullah Saw., dalam perbuatan, perkataan dan keadaannya." 

Abu Yazid al-Bistami pernah berkata, "Jika kalian melihat seseorang yang diberi karomah, sehingga dia dapat terbang di angkasa, maka janganlah kalian terpedaya, hingga kalian tahu bagaiamana orang itu menempatkan dirinya pada perintah dan larangan, menjaga hukum dan melaksanakan syariat." 

Salah seorang dari orang-orang saleh itu mengatakan barangsiapa yang ingin mendapatkan hikmah, maka hendaklah lahir dan batinnya mengikuti sunnah Rasulullah. Bagaimana mereka bisa mendapatkan kebenaran sementara mereka sendiri menjauhi sunnah Rasulullah? Bagaimana mereka bisa meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah sementara mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah? Bagaimana mereka bisa meredam hawa nafsu sementara mereka justru memperturutkan hawa nafsu? 

Ketika jiwa sudah tunduk dan patuh kepada Allah Swt., maka tidak ada yang ditakuti kecuali Allah Swt. Dia senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah walaupun orang-orang disekitarnya membencinya. Baginya cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung.