26 April 2013

Barang Siapa Mengenal Akan Dirinya Maka Mengenal Pula Ia Akan Tuhannya (Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu)


Sebuah pepatah baik dari orang shaleh berbunyi ' man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu". Jika kita tidak kenal diri sendiri, bagaimana kita hendak tahu hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup kita..?  Maksud dari "Mengenal Diri" disini bukanlah mengenal bentuk dzahir; tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota badan kita. Karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita akan mengenal ke-Agunagn Alloh. Bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Maksud sebenarnya dari  'Mengenal Diri' adalah "Mengenal apa yang ada di kedalaman diri manusia yakni tiada lain, itulah hati, qalbu atau Ruh.

Memahami  " man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", para ilmuwan banyak yang berusaha menyingkap rahasia mahluk bernama Manusia, hingga munculah cabang ilmu hipnoterapy yang mengandalkan kekuatan fikiran dan perasaan, kemudian muncul buku the secret-nya Rhonda byrne yang berisi tentang kekuatan fikiran untuk mewujudkan segala keinginan dan harapan, terakhir muncul pula fenomena kekuatan-kekuatan supranatural yang mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat diterjemahkan oleh akal sehat. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa segala kekuatan dan “kehebatan” itu tidak dimiliki oleh semua orang, jawabnya tentu karena kita tidak mengenal diri sendiri, andai saja kita mengenal diri sendiri maka kita dapat mengoptimalkan segala “kehebatan” yang tersimpan rapi dalam diri kita. Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Kelak, orang-orang yang telah mampu mengoptimalkan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya maka dengan sendirinya ia akan sampai pada pengakuan bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang telah menciptakannya. Siapa yang telah menciptakan kekuatan itu..? Jawabnya adalah Tuhan, ihwal apa dan siapa Tuhan-nya, semua bergantung pada keyakinan masing-masing. Muslim menyebutnya Allah Nasrani akan menyebut tuhannya Yesus Kristus, budha, hindu, konghutcu memiliki sebutan sendiri dan itu wajar saja, siapa bertuhan kepada siapa adalah hak mereka yang dilindungi undang-undang, yang terpenting sebagai Muslim kita kalau mampu berdakwah kepada mereka, agar Tuhan mereka akhirnya pilihannya itu Allah.

Sebagai muslim tentunya lebih pas kita bertuhan hanya kepada “Allah Ta'ala”,oleh karena itu kita bersyukurlah bila dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang ber-Tuhan hanya kepada Allah, tentunya jangan sampai cara meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah dengan cara sendiri-sendiri. Dengan bersyahadat mestinya kita semua paham bahwa untuk menyembahnya perlu ketaatan dengan mengikuti tuntunan utusan Allah Ta'ala (Rasulullah) bernama Muhammad saw. Itu adalah konsekwensi dari seorang yang mengaku dan bersaksi sebagai Muslim. Tuntunan beliau Nabi saw sangat realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi, contoh tuntunan yang realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi itu adalah syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Syahadat sebagai kesaksian manusia yang memiliki Tuhan dan kesaksian bahwa ada utusan Tuhan untuk kemaslahatan dunia, sholat sebagai proses interaksi manusia dengan Tuhannya, puasa sebagai pengingat bahwa manusia itu mahluk duniawi (tanpa makan dan minum manusia lemah), zakat sebagai himbauan untuk saling berbagi, dan naik haji sebagai perintah untuk melihat bukti kebesaran dan kekuasaan allah secara nyata, saat naik haji kita akan diperlihatkan betapa banyaknya orang yang menyembah Allah oleh karena itu tidak adalagi yang patut di khawatirkan atas keyakinan kita.

Sebagai pesan penting, hati-hatilah dengan perasaan ujub atau sombong? Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang yang ujub sombong dan juga syirik musyrik. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga, barang siapa dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji dzarrah." (H.R. Muslim). Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kesombongan adalah, menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,…" (Q.S. An-Nisa': 48),

Merupakan suatu peringatan, bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa sombong yang lebih besar dari pada dosa syirik. Hal ini sama halnya, barang siapa yang tawadhu' karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Begitu juga barang siapa yang enggan melaksanakan kebenaran, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, dan meremehkannya.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata; "Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah"   

Karena hal itulah kita perlu ditaklukan atau ditundukkan di bawah perintah "Sang Raja". Awas bukan 'bukan dibunuh atau dimusnahkan' karena semua juga ada tugas dan punya nilai serta diperintah pencipta-Nya. Kata kuncinya jangan sampai perasaan dan marah menguasai Aqal, karena akibatnya Ruh akan berantakan dan binasa.

Untuk menjalankan perjuangan memenej Ruh ini, diperlukan upaya pengenalan kepada diri dalam hubungannya dengan Tuhan, ibaratkan saja seperti ini;
  • Jiwa Raga / tubuh itu anggap sebagai sebuah Kerajaan,
  • Si Ruh ini, ibarat Raja.
  • Pelbagai Indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan Tentara.
  • Aqal (akal) itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
  • Perasaan, hasrat-, nafsu syahwat dst.., itu ibarat petugas pemungut Pajak(selalu meminta, menguasai, atau merampas)
  • Sombong dan marah itu ibarat petugas Polisi (sombong dan marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan).
Nah perjuangan untuk mengendalikan semua ini sudah diperingatkan oleh Baginda Nabi saw,disebutkan sebagai sebagai Jihad Akbar. Rasakan saja dulu masing-masing, menguasai hawa nafsu begitu tidak mudah bukan? Misalnya saja, hanya sekedar menghindari bicara tidak ghibah (menceritakan keburukan orang lain) bagaimana..? Astaghfirullah..

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah sadar menguasai kekuatan diatasnya adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuhkan dan memelihara sifat-sifat iblis atau kebinatangan akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang. Kesempurnaan ruh menguasai jasadnya maka seperti Malaikat. 

Dari semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan kelak.

1. Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
2. Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
3. Orang yang suci seperti Malaikat.

Maka, pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama akan tetapi hasil sebuah proses dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan yang lurus/hidayah itu. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Quran Al-Ankabut: 69;

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan (hidayah) Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik beramal shalih."  

Aamiin..

Wallahu'alam bish-sahawab..