3 Mei 2013

Heboh UN, May Day, dan Politikus Karbitan Ikut Menyemarakan Hari Kelabu Pendidikan Nasional


Sangat ironi, ditengah pergulatan kegalauan para buruh dalam demo May Day 1 Mei 2013 menuntut perbaikan nasib dan perhatian pemerintah pada tenaga outsourching, kegelisahan para pendidik ,para orang tua siswa dan pemerhati pendidikan oleh sebuah kegagalan perhelatan akbar Ujian Nasional 2013 yang dikelola BSNP dan Kemdikbud. Sepertinya tidak mau kalah perhatian untuk bersaing, para aktifis partai dan politikus karbitan pun bagaikan jamur di musim hujan. Tragis memang, sebuah pertontonan dagelan anak negeri yang semakin kompleks, kalau tidak dikatakan lengkap sudah momentum kehancuran negeri ini sudah menggantung, tinggal menunggu datangnya waktu. Astaghfirullah..!

Sejumlah partai politik berlomba-lomba merekrut seleb dan aktris sebanyak-banyaknya untuk dijadikan calon anggota legislatif (caleg) dalam rangka mendulang suara. Mereka yakin dengan merekrut caleg dari kalangan seleb dan aktris sebanyak-banyaknya target suara di DPR akan tercapai. Tak peduli, si seleb dan aktris itu bermutu atau tidak, yang penting popular, dan rakyat akan memilihnya pada saat pemilu berlangsung 2014 mendatang.

Kasihan kebanyakan rakyat Indonesia, terutama mereka yang selama ini mengidolakan dan menggilai-gilai seleb dan aktris yang biasa mereka lihat di televisi. Rakyat kebanyakan disuguhi pilihan caleg yang, jika kita lihat mereka yang direkrut dari kalangan seleb dan aktris ini sudah dapatlah dinilai bagaimana sesungguhnya kualitas dan kemampuan mereka.

Walhasil, sederet nama seleb dan aktris yang mendaftar dan menjadi caleg sejumlah parpol itu hanya mengandalkan popularitas belaka. Jika mereka terpilih melenggang ke Senayan, parpol yang merekrut mereka pun menikmati raihan suara hasil dari popularitas mereka, tanpa peduli dengan kualitas sang caleg.

Ini hanya semakin menambah daftar pembodohan dan pembohongan publik di republik ini, setelah sebagian besar calegnya terpilih lantaran: popular dan punya fulus banyak.


Makin ke sini, alih-alih memberikan pendidikan politik kepada rakyat, malah akrobat mereka kian tak peduli dengan melakukan pembodohan terhadap rakyat. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya suara yang didulang diraih sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan kualitas caleg yang disodorkan kepada rakyat.

Kalau boleh disebut parpol yang hanya mengandalkan caleg dari kalangan orang-orang yang popular dan banyak duit, sesungguhnya kualitasnya 11-12 dengan para caleg yang direkrut dari kalangan seleb dan aktris tersebut.

Maka, jika nanti rumah rakyat di Senayan dihuni oleh orang-orang yang tidak berkualitas, dapat dipastikan kinerja DPR tak lebih bagus dari periode sebelumnya, bahkan bisa lebih buruk lagi.

Demikianlah sistem yang dengannya rakyat dapat dibodohi bahkan ditipu untuk kepentingan mendulang suara sebanyak-banyaknya dengan cara menyodorkan orang-orang popular dan banyak duitnya, meskipun miskin mutu! Pemilu yang kalau boleh disebut tak menghasilkan apa-apa selain perilaku korup dan kebobrokan baru dengan penghamburan uang rakyat yang sedemikian besarnya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS Al-Ahzab 72).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya: “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya,” (HR Bukhari No. 6015).

Warga bangsa ini tidak merasa perlu sadar sekali pun sudah hancur-hancuran dan tidak pernah mau belajar dari sebuah kegagalan sistem dari neger-negeri yang saat ini tengah bangkrut. Tidak terlihat ada tokoh dari  kalangan tokoh nasional untuk melirik kepada sistem yang penuh rahmatan lil alamin yakni Islam. Kilas balik ke sejarah, mungkin nasib negeri ini sejak awal berdirinya saja hingga kini saja sudah salah pilihan orang, penuh intrik dan salah urus. Apalagi bila nanti, sudah tampak ke permukaan bagaimana generasi muda penerusnya yang hedonis saat ini, terbayang negeri ini akan semakin parah karena mereka pun pasti berkaca pada kelakuan tokoh pemangku republik saat ini yang jelas-jelas amat jauh dari nilai-nilai akhlaq syar'i Islam! Na’uudzubillaahi mindzaalik!