27 Februari 2014

DIKOTOMI DAN PLURALISME PENDIDIKAN KITA ITU, JANGAN-JANGAN IDE BANCI..!


Seringkah kita mendengar orang meyampaikan sebuah landasan atau argumen, dimana intinya merupakan sebuah ajakan, "....apabila para ulama dan para umara (pejabat) bersatu, maka rakyat akan menjadi sejahtera, sementara apabila kedua kelompok itu tidak bersatu, rakyat menjadi sengsara." (??) Tampaknya, kualitas gagasan atas informasi tersebut perlu ditelusuri, siapa penggagasnya, supaya diketahui apakah info itu shahih atau sebaliknya malah menipu.. 

Masalahnya,banyak informasi yang telah kita terima memberikan kesan adanya dikotomi antara perlunya ulama di satu pihak dan umara di pihak yang lain. Apabila benar demikian, bagaimana dengan kedudukan Nabi SAW, juga khalifah yang empat (al-Khulafa al-Rasyidin)., karena dalam pribadi mereka menyatu antara figur ulama dan umara, tidak ada unsur dikotomis, di samping sebagai ulama, mereka juga sekaligus umara. 

Nah, sekarang bagaimana fenomena dalam dunia pendidikan kita, telah lama terbangun dikotomi pendidikan terbagi atas ilmu agama dan nonagama. Dalam kepemimpinan kenegaraan di kita pun demikian, malah lebih buruk lagi yakni terbangun ide pluralisme yang seolah dengan cara itu kita akan mampu mengatasi masalah bangsa dan semakin maju. Kenyataannya malah sebaliknya yakni krisis di semua sektor utamanya kepemimpinan dan akhlaq moral anak bangsa. Dalam hal mencari cara pemimpin pada bangsa kita, coba tengok sangat memprihatinkan mulai dari berbagai kalangan baik dari tentara, birokrat, akademisi, teknokrat, artis penghibur, tukang ojeg dan bisa jadi pelacur pun merasa pantas atau layak untuk turut serta mengundi nasi, bancakan dan rebutan menjadi pemimpin/penguasa/pejabat di atas negeri yang lahir merdeka dari perjuangan sebagian besar para ulama ini. Disisi lain yang sungguh prihatin malah peran ulama, guru pendidik kita mulai banyak dilecehkan karena kekeliruan kebijakan dan penempatan posisinya. 

Walhasil ya seperti gambaran diatas, betapa sulitnya kita dapatkan para pemimpin dan pejabat negara kita yang amanah dan memperjuangkan keselamatan warga bangsanya agar selamat di dunia dan di akherat kelak. Sungguh tipuan muslihat ini sangat terlihat jelas,tapi membuat mulut ini kelu karena takut pada sang penguasa atas makhluk. 

Wahai saudaraku, guru pendidik intelek, dan kaum muda islam yang beriman. Bangunlah, segera sadar dan siapkan untuk ambil tongkat amanah kepemimpinan atas negeri ini melalui paradigma pendidikan semesta. Telah terbentang jalan lurus dan luas bagi kita, kami kaum yang sebentar lagi renta turut mendukung penuh dan mendoakan. Saran utama kami, segera hancurkan dikotomi pendidikan ilmu agama dan non agama, buat satu pilihan saja bangun keilmuan semuanya berlandaskan ilmu melalui agama.

Saat ini bukan masanya lagi kita tertipu dengan bualan mereka yang berpesta pora di atas keisengan dan kesengsaraan kita yang pada akhirnya kerusakan moral anak bangsa kita saat ini semakin tak terperikan. Segera singsingkan lengan, berjibakulah dengan kerja nyata buat amal kebaikan di masing-masing sektor kehidupan dan mari kita mulai tata pendidikan generasi baru kita. Agama jadikan landasan utuh untuk membangun nilai-norma-moral.akhlaq bangsa kita.

Salam pendidikan semesta. 
Bisimillah.