27 Februari 2014

KEUNTUNGAN KAUM YANG DIUJI DENGAN KEMISKINAN



Dari Abdullah bin Umar r.huma meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah SAW bersabda:

"Pada hari Kiamat kelak akan dihimpunkan sekalian manusia dan akan diseru kepada mereka: Dimanakah orang-orang fakir dan miskin dikalangan umat ini?
Nabi bersabda: Mereka semua bangun dan dikatakan kepada mereka: Apakah yang kamu amalkan? Mereka akan menjawab: Wahai Allah! Engkau telah menguji kami (dengan kemiskinan) namun kami tetap bersabar. Engkau telah memberikan harta dan pemerintahan kepada orang selain daripada kami. Allah berfirman: Kamu berkata benar! Rasulullah SAW bersabda: Lantas mereka dimasukkan ke dalam syurga terlebih dahulu daripada orang lain. Dan tinggallah mereka dengan penghisaban yang keras dikalangan orang-orang yang kaya dan para pejabat pemerintah." (HR. Imam Ibn Hibban)

Lalu diceritakan ketika Rasulullah SAW melihat syurga, penghuninya kebanyakan orang miskin dan ketika Rasulullah SAW melihat neraka, dikatakan kebanyakan dihuni oleh kaum perempuan. Lantas apa yang menjadi pilihan dalam hidup kita saat ini..?

Paling tidak, guna pemahaman kita sebagai orang yang mengaku muslim, kami dapatkan pesan dari guru dan sahabat kami KangMas Gus Hapidh Skpm pimpinan pondok dan Guru pendidik di SPMAA Lamongan, beliau menyarankan pada kita:

1. Yang dicari dan yang diperjuangkan seluruh manusia tanpa kecuali, adalah kesejehateraan dan kebahagiaan. Sementara sejahtera bahagia itu sangat tergantung kepada mereka yang bersangkutan, sehingga tidak ada jaminan seorang yang kaya itu sejahtera dan bahagia.

Justru banyak kita jumpai didusun-dusun yang terlihat seperti keluarga miskin atau pas-pasan, baik zaman dulu maupun sekarang, namun hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan.

Saya yakin, koruptor yang sekarang dengan gelimangan kekayaan dan milyaran dolar, pasti bahagianya kalah dengan mereka para petani, nelayan, dan buruh bangunan yang menjalani hidupnya penuh dengan kemerdekaan.

Dalam kontek ini, sebenarnya kemiskinan atau hidup pas-pasan, sebenarnya didunianya saja, hidupnya lebih menang menguntungkan daripada yang berhidup kaya. Apalagi diakhirat sebagaimana yang disabdakan Nabi diatas.

2. Ingat orang miskin yang disebutkan dalam hadits tersebut diatas, bahkan seperti Rasul Ayub AS dan Rasulullah SAW dan para sahabatnya seperti Bilal dan Sayyidina Ali RA yang miskin itu---pantangan baginya mengeluh atau menggadaikan kehormatan dihadapan manusia karena kemiskinannya.---Sebaliknya para aulia dan sahabat Nabi yang miskin diatas, hidupnya dipenuhi dengan keteladanan berbagi dan senantiasa dengan spirit yang memotivasi prestasi bagi diri dan alam lingkungannya.

Bahkan karena menjaga pride dan diginity atau marwah diri dan imannya, khalayak mengira orang ini kaya, padahal sebenarnya miskin sebagaimana yang disampaikan Allah dalam QS : al-Baqarah/2 : 273 :


لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

"(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui"

3. Itulah pilihan hidup ajakan kami Mas Endar buat semua. Karena itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Inilah hidup dan agama tanpa diskriminasi. Kalau hidup suka kaya tidak semua bisa. Namun kalau hidup semua bersahaja semua bisa. Tinggal mau atau tidak. Itulah iman yang rahmah bagi semesta.

Demikianlah sarannya semoga ada hal yang bisa kita petik dari hadits diatas dan sekaligus penjelasan lanjutannya sebagaimana disarankan.

Selanjutnya, yang jangan dialpakan oleh pengikut Islam utamanya yang jadi pemimpin agama adalah : Mana agenda pembangunan gedung fisik Rasulullah seperti yang dibangun pada dinasti yang dianggap zaman keemasan islam hingga meninggalkan kemegahan bangunan fisik di Andalusia, Otoman Turki dan seterusnya ?  Padahal jika saja Rasulullah saat itu membangun yang seperti itu juga bisa. Karena itu, zaman keemasan islam justru ya saat langsung dipimpin Rasulullah itulah, bukan saat usai Rasulullah.

Karena puncak derajat disisi Allah itu bukan mengenai banyak dan megahnya fisik manusia dan bangunannya, tapi ketaqwaan yang berupa ikhlas tidak ada riya, tidak ada sombong, tidak iri, tidak ada dengki, tidak ada marah dendam, yang ada hanya saling menegakkan keadilan, yang ada hanya saling kasih menyayangi, dan tidak ada lomba-lomba seputar kemewahan dunia.

Tapi islam mengajak pada kemewahan dzikir privasi, belajar tiada henti, sholat malam, puasa, dan banyak-banyak bersedekah, sebagai investasi abadi pada kampung akhiratnya. Mencintai diri lain layaknya mencintai diri sendiri dengan berani memberikan harta yang dicintai tanpa harus berebut jabatan duniawi.

Salam berani miskin tidak sempat kaya..

Selamat berefleksi
Bismillah

Forum Taskil: Dakwah Berkelana