19 Maret 2014

Refleksi Guru: "Kehidupan Kebangsaan Kita Eloknya Bercermin dari Kaum atau Bangsa yang Gagal"


Setiap manusia normal pasti punya cita-cita, harapan, impian, visi dan misi dalam hidupnya. Demi kehidupan yang bermakna maka hidup ini bagaikan jalan dan tentu banyak cabang dan rintangannya, maka perlu sebuah siasat agar jalan yang kita tempuh itu bisa lurus dan selamat sampai tujuan sesuai dengan apa yang kita cita-citakan. Kesuksesan dalam mencapai itu tentu memerlukan pengorbanan, ilmu dan bantuan. Agar jalan yang kita tempuh tidak banyak tersesat dan selalu putus asa karena banyak rintangannya maka seyogyanya pahami dulu panduan jalan yang dikabarkan oleh orang-orang sukses terdahulu.

Panduan tersebut disebut dalil (pemandu), lantas apa sekarang dalilnya? Kalau bicara dalil orang intelek bilang yaitu hukum, dan aturan lainnya yang derajatnya dibawah hukum. Orang yang menguasai, hafal, mengerti dan --mentaati-mempraktekan-mengamalkan-- hukum dialah orang yang berilmu. Dan orang yang berilmu dalam kasta derajat menduduki rank tertinggi, ya wajar bukan?

Nah, sebagai orang yang berpikir (cerdas) tentu ingin meraih sukses hidup ini dengan yang efisien, efektif dan meminimalisisr resiko. Sehingga perjuangannya bisa mencapai kepastian sekalipun pernah dan sering gagal. Namun karena motivasinya kuat maka usaha guna mencapai kebahagian, kemenangan, kejayaan dan kesuksesan itu terus hari-hari dia lakukan dan sebagai orang cerdas perjuangannya akan berpola pada aturan main yang jelas dan pasti.

Demi kepastian itu maka sandaran terbaik kita adalah hukum-hukum yang sudah terjamin pasti dan menghindari rupa-rupa teori baru, konsep-konsep baru, dugaan-asumsi-hipotesa baru, fakta baru dan data baru karena kesemuanya itu diyakini hasil dari orang-orang yang sama-sama belum sukses. 

Orang bijak tidak akan mengambil resiko (kerugian) terbesar dalam hidupnya apalagi menggunakan pola berpikir dengan probabilitas tinggi, malah bisa jadi berpikir deduktif mungkin jauh lebih baik. Tapi yang terbaik hemat saya adalah belajar meyakini sesuatu yang minimalnya ainul yaqin pada hukum mana yang mau kita pilih. Hukum eksak dalam pandangan kebanyakan dari kita saat ini belum tentu itu eksak terjaga dalam kehidupan generasi berikutnya. Lantas mana hukum yang tingkat keeksakannya abadi..? Ya tiada lain hukum yang eksak itu adalah dalil hukum agama (kalamullah) yang sudah teruji valid,dengan fakta dan data kesejarahannya tinggi. 

Adakah dalam peradaban manusia saat ini pengabaran tentang siapa-siapa saja manusia (kaum) yang gagal dan siapa saja kaum yang telah sukses..? Jawabanya, ada. Jawaban atas pertanyaan itu semua terangkum dengan jelas dalam Al-Qur'an sebagai hukum tertinggi yang tertulis pegangan muslim (penganut Islam) 

Dibawah ini saya tuliskan ulang kabar tersebut, semoga jadi pembelajaran kita.

****


Di dalam kitab suci Al-Quran, telah banyak diceritakan kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah SWT kerana mereka mengingkari utusan dan perintahNya. Keadaan kaum-kaum yang telah dibinasakan ini menjadi petunjuk dan teladan buat kita dan mengambil iktibar atas setiap yang telah menimpa kaum-kaum tersebut.

Sejumlah kaum yang dibinasakan oleh Allah SWT kerana melakukan pelbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan di muka bumi ini , seperti mengingkari keesaan Allah bahkan memusuhi Rasul yang diutus kepada mereka. Kehancuran dan kematian menjadi balasan atas kemungkaran dan kemaksiatan yang mereka lakukan sendiri.

Firman Allah Ta’ala :

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun, kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka” (QS Hud: 100-101)

Sisa-sisa kehancuran mereka pun hingga kini masih lagi dapat disaksikan. Para peneliti sejarah dan arkeologi juga telah menemui kedudukan kota-kota yang hilang tersebut. Kota-kota ini memiliki ciri sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Suci Al Quran dan manuskrip-manuskrip lama yang menceritakan tentang kaum yang dibinasakan itu.
Kaum Luth

Kemusnahan kaum-kaum ini yang dikisahkan dalam kitab Al Quran agar menjadi bahan pembelajaran untuk kaum-kaum yang masih hidup kini. Antara kaum-kaum yang telah dibinasakan oleh Allah ialah :

(Kebinasaan ke atas 12 kaum yang ingkar akan perintah Allah)

1. Kaum Nabi Nuh – Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang engkar, termasuk anak dan isteri Nabi Nuh (al-Ankabut: 14).

2. Kaum Nabi Hud – Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Lalu Allah mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (at-Taubah: 70, al-Qamar: 18, Fushilat: 13, an-Najm: 50, Qaf: 13).

3. Kaum Nabi Saleh – Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (al-Hijr: 80, Hud: 68, Qaf: 12).

4. Kaum Nabi Luth – Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan homoseksual dan lesbian, iaitu hanya mahu berkahwin dengan pasangan sesama jenis. Kendati pun sudah diberi peringatan, mereka tak mahu bertaubat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah runtuhan rumah mereka sendiri (al-Syu’ara: 160, an-Naml: 54, al-Hijr: 67, al-Furqan: 38, Qaf: 12).

5. Kaum Nabi Syuaib – Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Apabila membeli, mereka minta dilebihkan dan apabila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendatipun mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tidak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa. (at-Taubah: 70, al-Hijr: 78, Thaaha: 40, dan al-Hajj: 44).

Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah). (al-Hijr: 78, al-Syu’ara: 176, Shad: 13, Qaf: 14).

(Bukti kekuasaan Allah masih dapat disaksikan oleh umat masa kini)

6. Firaun – Kaum Bani Israel sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Firaun akhirnya maut di Laut Merah dan jasadnya tidak reput dan telah ditemui oleh ahli arkeologi moden. Hingga kini masih boleh disaksikan di muzium mumia di Mesir (al-Baqarah: 50 dan Yunus: 92).

7. Ashab Al-Sabt – Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestin). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (al-A’raf: 163).

8. Ashab al-Rass – Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Sesetengah riwayat mengatakan, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (ada pula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (al-Furqan: 38 dan Qaf : 12).

9. Ashab al-Ukhdudd – Ashab al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman dicampakkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (al-Buruj: 4-9).

10. Ashab al-Qaryah – Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Antaqiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (Yasin: 13).

11. Kaum Tubba – ’Tubaa’ adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah empangan air (ad-Dukhan: 37).

12. Kaum Saba – Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat. Kerana mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim). (Saba: 15-19).

Sama-sama kita mengambil iktibar daripada apa yang berlaku ke atas umat-umat terdahulu…Mari kita renungkan…

Salam berpikir keselamatan seluruh semesta..

Bismilah