4 Maret 2014

Sistem Jejaring Pendidikan Post Modern Minimalis, Segera Bangunkan..!


Al-ummu madrasatul'ula adalah sebuah proses pendidikan minimalis dalam dunia pendidikan Islam, pendidikan bagi ummat secara cerdas dan beradab biar generasi Islam bisa hidup selamat dalam sesuai zamannya.  Belajat ber-highttech tentu bukan hal tabu asal diatur dalam kadar tertentu dan IT hanya digunakan sekadar alat semodel drive guna bahan iqra ilmu pengetahuan, tapi sekali lagi cukup seperlunya saja dengan kontrol yang bijak dari orang tuanya sendiri. Dengan cara demikian diharapkan hasil nyata buah pendidikan minimalis terbaik bagi generasi penerus ummat ini tidak perlu menunggu 5 apalagi sampai 20 tahun.

Untuk itu perlu segera lahir generasi cerdas yang siap mengarungi zaman post modern ini. Kurikulum sepanjang zaman adalah kurikulum dengan sistem pembelajaran yang pernah dicontohkan dan diterapkan oleh Rasulullah SAW kepada keluarga dan para shahabatnya yang mulia. Untuk itu kita patut kilas balik ke belakang bagaimana contoh terbaik tersebut bisa kita ketahui dan diimplementasikan kembali pada generasi kita di masa kini. Pernyatan generasi terbaik ummat pada zaman itu telah jelas lewat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qu'ran (yang artinya):

“Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)

Diperkuat lagi dengan pernyatan Rasulullah SAW yang membenarkan atas kemulian dari generasi tersebut, melalu berbagai hadits yang diantaranya hadits berikut ini (yang artinya): 

1. Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
2. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)

Tengoklah pula sejarah bangsa kita, kita pun telah lahirkan orang-orang hebat di negeri ini dan turut serta memperjuangkan kebebasan dari cengkraman kaum kufar dan sejarah mencatat bahwa para pejuang terbaik bangsa kita itu didominasi oleh para ulama Islam yang tersebar di berbagai daerah, yang kini bisa kita saksikan nama-namanya digunakan sebagai penanda nama jalan.

Saat ini kemajuan dan kemandirian dalam perjuangan dan sistem pendidikan (sekolah) hanyalah janji kosong, dengan diwarnai oleh budaya hidup transaksional dan koruptif serta telah merambah ke berbagai ranah kehidupan kita. Prediksi dan janji yang tak jelas dari para tokoh baik pendidikan maupun politik, sudah seperti info basi dalam keseharian dan celakanya menjadi budaya permisif dalam hidup dan kehidupan di bangsa kita.

Belakangan ini melalui para ahli pendidikan, konon Profesor, Doktor, master pendidikan pun berebutan gagasan dan ide untuk sebuah project pendidikan modern di era abad 21, ditenggarai pendanaan atas hal tersebut diperoleh dari titipan asing (hibah, bantuan, perjanjian bilateral dan multilateral, dll.) , Mengemas konsep kemajuan dengan prediksi, umbar janji dan kutak-katik konsep untuk sistem pendidikan nasional namun tidak berdasar fakta dan penelitian yang matang serta transparan menjadikan sistem pendidikan melalui kurikulum baru (Kurikulum 2013) banyak menuai kritik dan juga cemoohan berbagai kalangan.

Tentu keyakinan bahwa bangsa ini harus maju, siapa pun akan membenarkannya. Namun jangan mengklaim bahwa pendidikan pada bangsa Indonesia ini maju hanya bisa lewat dunia pendidikan persekolahan saja. Kita bisa melahirkan generasi manusia termaju dan bangsa beradab bila konsepnya mampu membangun sinergitas antar elemen masyarakat. Maka hal yang penting perlu digalang sebagai basis sistem pendidikan kita adalah memantapkan sistem solusi jejaring pendidikan (network education solutions), yang asas terpentinya ditandai dengan adanya kesatuan hati, kesatuan pikir dan kesatuan gerak dari semua pihak dalam tataran masyarakat.

Kurikulum 2013 betul masih baru mulai, namun kegagalan konsepnya itu telah nampak. Nyatanya hari ini sang menteri pendidikannya sendiri pun selalu melempar wacana, justru ditengah implementasi kurikulum baru itu sudah berjalan, bukankah itu menjadi pertanda bahwa kurikulum pendidikan nasional baru tidak disiapkan dengan matang? Lebih nyinyir lagi sang meteri dihadapan media dan DPR selalu menjual diri dengan menyalahkan ketidaksiapan dan kekurangan yang ada pada gurunya, yang notabene justru dibawah binaannya.

Prihatin, seluruh produk layanan pendidikan formal di kita saat ini pun tak bisa lepas dari praktek busuk manajemen transaksional, lembaga pendidikan yang jadi barometer kemajuan bangsa sangat sulit dibersihkan dari budaya korupsi, malah lebih jauh lagi output pendidikan kita naga-naganya hanya siap melahirkan generasi manusia yang manut sebagai operator, robot, cyborg, laksana JELANGKUNG terprogram yang gerak hidup matinya bergantung pada sang programmernya. Artinya, generasi harapan kita nantinya itu lemah untuk punya kesadaran tinggi, apalagi yakin bahwa hidup manusia di dunia ini hanya sementara waktu saja. 

Mari kita ingat kembali bahwa tugas suci manusia selaku hamba Tuhan. Tugas suci tersebut kita tiada lain untuk beribadah, terampil bermuamalah, bemuasyaroh dan berakhlaq mulia. Disamping amanat kedua lainnya yakni sebagai khalifah di muka bumi (khalifah filardhi) yang harus bijak dan berwawasan akan keselamatan lingkungan semesta dalam koridor agama. 

Perlu kita semua mengurut dada, banyak program pendidikan kita akhirnya menjadi pelengkap dagelan dalam dunia politik saat ini. Walau bagaimana pun sistem pendidikan adalah hasil dari produk politik kenegaraan kita yang semestinya prokemanusian (menghantar ke tugas suci), sayang semuanya berbanding terbalik. Sistem pendidikan, sistem sosial ekonomi budaya kemasyarakatan, budaya hukum, budaya seni, budaya demokrasi dan budaya politik kita saat ini malah manut sistem tak beraturan cenderung bereksperimen dan mencatut referens dari negara yang nyata telah gagal dalam mendidik dan membangun karakter masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebut saja Sionis, Mulyadi dan Mamarika, trimitra pendidikan budaya barat modern tersebut terus menggedor alam pikir para tokoh bangsa yang konon beradab ini. Namun apa yang kita saksikan, hari-hari kita terima berita tokoh A, tokoh B, tokoh C terjerat korupsi. Dalam dunia pendidikan, mahasiswa di A, siswa di B, orang tua murid di D melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan jauh dari akal sehat selaku manusia yang beragama.

Catatan penting kita yang patut diingat. Mulai dari mana kita memperbaiki semua kegagalan ini..? Ataukah kita sebagai pendidik dan warga bangsa ini akan tetap hanyut ikut cara pikir dan solusi yang ditawarkan antek-anteknya Sionis, Mulyadi dan Mamarika ? Sudah jelas mereka telah sukses mengeruk keuntungan dari sumber daya alam milik kita, akankah kita relakan generasi penerus kita tetap jadi kacung dan menunduk pada tipuan mereka..?

Sebagai pendidik saya tidak ikhlas, cukup. Segera sudahi permainan mereka tersebut dan segera jadikan Al-ummu madrasatul'ula bangkitkan kembali. 
Bangunlah Bangsaku, Bangun Pendidikan di Keluarga kita..!

Bismillah