3 Maret 2014

Fenomena Rakyat "Manja" Jelang Pemilu 2014


Apa konsekuensi dari fenomena rakyat manja? Rakyat yang manja dalam berpikir dan bertindak akan cenderung menyerahkan nasib pada pemimpinnya. Ini fenomena yang sangat berbahaya. Bagaimana bila nantinya pemimpinnya itu terlahir dari skenario pihak ke tiga dan tidak memiliki karakter ber-Ketuhanan Yang Maha Esa (baca: ulama). Dengan kata lain nasib bangsa ini hanya ditentukan oleh kebijakan pemimpinnya (baca: presidennya). 

Ada pandangan yang mengatakan,kalau pemimpinnya brengsek maka bangsanya juga akan jadi brengsek. Sebaliknya kalau pemimpinnya maju (visioner) maka rakyatnya juga akan maju. Kebenaran akan pandangan ini juga mesti ditelaah lebih lanjut. Maka jawabannya harus ditemukan pemimpin yang cocok untuk Indonesia saat ini.

Oleh karena itu, saya pribadi kurang bersepakat kalau dibilang pemimpin kita yang brengsek merupakan proxy akibat dari rakyatnya yang brengsek juga. Salah,yang benar karena rakyat kita jadi brengsek akibat ketergantungan pada pemimpinnya yang brengsek atau setidak-tidaknya tidak mampu tegas terhadap keberadaan pemimpinya yang brengsek itu sendiri. Ya sekali lagi, untuk maju, kita harus bisa menemukan pemimpin yang cocok untuk Indonesia di 2014. 

Maka demi kehati-hatian kita saat nanti dalam memilih pemimpin, mari kita awali dulu dengan penguatan do'a agar Allah karuniakan pemimpin bangsa Indonesia yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : 

Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF).

(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;
(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi;
(3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya;
(4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.

Semoga..aamiin.
Bismillah

Suport : Pemilu 2014