27 Mei 2012

Salah satu Penyebab Banyaknya Wanita Masuk Neraka


Merupakan satu anugerah dari Allah ketika seorang wanita dipertemukan dengan pasangan hidup dalam satu jalinan kasih yang suci. Hal ini sebagai satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Sang Khaliq.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan utk kalian pasangan hidup dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepada dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Apalagi bila pendamping hidupnya itu seorang suami yang shalih yang akan memuliakan istri dengan penuh kasih dan cinta di hati , sekali pun demikian kalau toh cinta itu tidak kunjung datang maka ia tidak akan sampai menghinakan istrinya.

Merajut dan menjalin tali pernikahan agar selalu berjalan baik tidak bisa dikatakan mudah bagai membalik kedua telapak tangan karena itu dibutuhkan ilmu dan ketakwaan untuk dapat menjalaninya. Seorang suami butuh bekal ilmu agar ia tahu bagaimana menahkodai rumah tangganya. Istri pun demikian ia harus tahu bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan bagaimana kedudukan seorang suami dalam syariat ini. Masing-masing punya hak dan kewajiban yang harus ditunaikan agar jalinan itu tidak goncang ataupun terputus.

Syariat menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap istri sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.


Abdullah ibnu Abi Aufa bertutur: Tatkala Mu’adz datang ke negeri Yaman atau Syam ia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada para panglima dan petinggi gereja mereka. maka ia memandang dan memastikan dalam hati bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang paling berhak utk diagungkan seperti itu. Ketika ia kembali ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: “Ya Rasulullah aku melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada para panglima dan petinggi gereja mereka maka aku memandang dan memastikan dalam hatiku bahwa engkaulah yang paling berhak utk diagungkan seperti itu.” Mendengar ucapan Mu’adz ini bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَوْ كُنْتُ آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ َأنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ الله عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا كُلَّهُ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا عَلَيْهَا كُلَّهَا حَتَّى لَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَىظَهْرِ قَتَبٍ لأَعْطَتْهُ إِيَّاهُ

“Seandai aku boleh memerintahkan seseorang utk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri utk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Azza wa Jalla terhadap hingga ia menunaikan seluruh hak suami terhadapnya. Sampai-sampai jika suami meminta diri sementara ia sedang berada di atas pelana maka ia harus memberikan .”



Satu dari sekian banyak hak suami terhadap istri adalah disyukuri akan kebaikan yang diperbuat dan tidak dilupakan keutamaannya.
Namun disayangkan banyak di kalangan para istri yang melupakan atau tidak tahu hak yang satu ini hingga kita dapatkan mereka sering mengeluhkan suami melupakan kebaikan yang telah diberikan dan tidak ingat akan keutamaannya. Yang lebih disayangkan lagi ucapan dan penilaian miring terhadap suami ini kadang menjadi bahan obrolan di antara para wanita dan menjadi bahan keluhan sesama mereka. Padahal perbuatan seperti ini menghadapkan si istri kepada kemurkaan Allah dan adzab yang pedih.

Perbuatan tidak bersyukur seperti ini merupakan satu sebab wanita menjadi mayoritas menjadi penghuni neraka. Sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seselesai beliau dari Shalat Kusuf :

أُرِيْتُ النَّارُ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَ يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuni adalah para wanita yang kufur .” Ada yang berta kepada beliau: “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: ” mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan . Seandai engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka satu masa kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu niscaya ia akan berkata: Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.”


Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini disebutkan secara khusus dosa kufur/ingkar terhadap suami di antara sekian dosa lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan: Seandai aku boleh memerintahkan seseorang utk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri utk sujud kepada suaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggandengkan hak suami terhadap istri dengan hak Allah maka bila seorang istri mengkufuri/mengingkari hak suami sementara hak suami terhadap telah mencapai puncak yang sedemikian besar hal itu sebagai bukti istri tersebut meremehkan hak Allah. Karena itulah diberikan istilah kufur terhadap perbuatan akan tetapi kufur tidak sampai mengeluarkan dari agama.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengisahkan:

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوْسُوْنَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

“Aku berdiri di depan pintu surga ternyata kebanyakan yang masuk ke dalam adalah orang-orang miskin sementara orang kaya lagi terpandang masih tertahan namun penghuni neraka telah diperintah utk masuk ke dalam neraka ternyata mayoritas yang masuk ke dalam neraka adalah kaum wanita.” 


Pada hari Idul Adha atau Idul Fithri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat. Setelah beliau berkhutbah dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: “Wahai sekalian wanita bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar karena sungguh diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka.” Berkata salah seorang wanita yang cerdas: “Apa sebab kami menjadi mayoritas penghuni neraka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agama namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna daripada kalian.” Wanita itu berta lagi: “Ya Rasulullah apa yang dimaksud dengan kurang akal dan kurang agama?”. “Adapun kurang akal wanita ditunjukkan dengan persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Sementara kurang agama wanita ditunjukkan dengan ia tidak mengerjakan shalat dan meninggalkan puasa di bulan Ramadhan selama beberapa malam .”

Karena mayoritas kaum wanita adalah ahlun nar maka mereka menjadi jumlah yang minoritas dari ahlul jannah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam nyatakan hal ini dalam sabdanya:
إِنَّ أَقَلُّ سَاكِنِي الْجَنَّة النِّسَاءُ

“Minoritas penghuni surga adalah kaum wanita.”

Bila demikian ada tidak pantas bagi seorang wanita yang mencari keselamatan dari adzab untuk menyelisihi suami dengan mengkufuri kenikmatan dan kebaikan yang telah banyak ia curahkan ataupun banyak mengeluh hanya karena sebab sepele yang tidak sebanding dengan apa yang telah ia persembahkan utk anak dan istrinya. Sepatut bila seorang istri melihat dari suami sesuatu yang tidak ia sukai atau tidak pantas dilakukan maka ia jangan mengkufuri dan melupakan seluruh kebaikannya. Sungguh bila seorang istri tidak mau bersyukur kepada suami sementara suami adalah orang yang paling banyak dan paling sering berbuat kebaikan kepada maka ia pun tidak akan pandai bersyukur kepada Allah ta`ala Dzat yang terus mencurahkan keni’matan dan menetapkan sebab-sebab tersampaikan keni’matan pada tiap hamba.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللهَ

“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.”


Al-Khaththabi berkata: “Hadits ini dapat dipahami dari dua sisi.
Pertama: orang yang tabiat dan kebiasaan suka mengingkari kenikmatan yang diberikan kepada dan enggan utk mensyukuri kebaikan mereka maka menjadi kebiasaan pula mengkufuri ni’mat Allah ta`ala dan tidak mau bersyukur kepada-Nya.
Kedua: Allah tidak menerima rasa syukur seorang hamba atas kebaikan yang Dia curahkan apabila hamba tersebut tidak mau bersyukur terhadap kebaikan manusia dan mengingkari kebaikan mereka karena berkaitan dua perkara ini.”

Adapun Al-Qadhi mengatakan tentang hadits ini: ” bisa jadi karena mensyukuri Allah ta`ala hanya bisa sempurna dengan patuh kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sementara di antara perkara yang Dia perintahkan adalah berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara tersampaikan nikmat-nikmat Allah kepadanya. maka orang yang tidak patuh kepada Allah dalam hal ini ia tidak menunaikan kesyukuran atas keni’matan-Nya. Atau bisa pula makna orang yang tidak berterima kasih kepada manusia yang telah memberikan dan menyampaikan keni’matan kepada padahal ia tahu sifat manusia itu sangat senang mendapatkan pujian ia menyakiti si pemberi kebaikan dengan berpaling dan mengingkari apa yang telah diberikan maka orang seperti ini akan lbh berani meremehkan sikap syukur kepada Allah yang sebenar sama saja bagi-Nya antara kesyukuran dan kekufuran .” .



Sudah sepantasnya bagi seorang istri yang mencari keselamatan dari adzab Allah untuk mencurahkan seluruh kemampuan dalam menunaikan hak-hak suami karena suami adalah jembatan untuk meraih kenikmatan surga atau malah sebalik membawa diri dia ke jurang neraka. Al-Hushain bin Mihshan radalahiallahu anhu menceritakan bahwa bibi pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena satu keperluan dan setelah selesai dari keperluan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berta kepadanya:

أَ ذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنارُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab: “Sudah.” “Bagaimana engkau terhadap suamimu?” ta Rasulullah lagi. Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi hak kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu saat bergaul dengan suamimu karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”


Saudariku, janganlah engkau sakiti suamimu dengan tidak mensyukuri apa yang telah diberikannya. Ingatlah suamimu hanya sementara waktu menemanimu di dunia kemudian dia akan berpisah denganmu dan berkumpul dengan para bidadari surga yang murka kala engkau menyakitinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan hal ini dalam sabdanya:
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ: لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suami di dunia kecuali berkata hurun `in yang menjadi istri si suami di surga: “Jangan engkau menyakiti qatalakillah karena dia di sisimu hanyalah sebagai tamu dan sekedar singgah hampir-hampir dia akan berpisah denganmu untuk bertemu dengan kami.”




Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein
Sumber: www.asysyariah.com