4 Maret 2017

Kecelakan Demokrasi Mengubah Idealisme ke Pragmatisme Bermotifkan Ekonomi



"Kecelakan Demokrasi Mengubah Idealisme ke Pragmatisme Bermotifkan Ekonomi"
Oleh: Radea

#SaveIndonesia #SaveNKRI #NKRIhargaMati

Mengamati tren di Pilkada DKi putaran 2, juga tidak jauh berbeda dengan beberapa kasus di Pilkada lainnya, masing-masing paslon dalam melebarkan pengaruh untuk mencari dukungannya baik ke para relawan, ormas-ormas dan faksi-faksi partai yang sudah eksis, dipastikan "tidak ada makan siang yang gratis - There no ain’t such thing as a free lunch."

Saat ini sila amati berbagai manuver partai-partai pendukung di Pilgub DKI, khususnya untuk manuver dari timses Ahok begitu vulgar terbaca sampai ada yang rela memenggal underbouw faksi partainya sendiri karena telah dianggap berani bersebrangan dengan garis kebijakan partainya.

Kesannya lucu juga, ternyata SDM dari partai politik bukanlah hasil kaderisasi kebijakan partai. Memang tidak semua partai politik demikian, namun banyak juga kasus bahwa pembinaan di partai politik lebih dikembangkan hanya menjual jargon visi misi partai guna menghimpun anggota, yang sejatinya guna mendapatkan dana baik itu dari negara atau pun daei pihak lain yang berani membayar bila ada kepentingan yang ingin diperkuat oleh nama partainya.

Dalam analogi sederhana bermain di dunia politik selain ada adagium tidak ada kawan abadi, lawan abadi, yang abadi itu hanya kepentingan, juga dunia politik praktis di era modern ini karena landasannya bukan ideologis tali sudah mengarah ke pragmatis maka partai akhirnya dijadikan kendaraan semacam perusahaan bisnis pakai motif ekonomi juga.

Masih ingat. ada istilah Demokrasi Ekonomi di Konstitusi UUD 1945 hasil amandemen? Nah arahnya saat ini jualan masa atas nama rakyat (manipulasi SDM) ke para pemodal (cukong) untuk selanjutnya mereka "berkoperasi" atau kerjasama dalam merancang sistem aturan antara legislator dan pemodal (cukong) guna merampok sumber daya alam (SDA) yang di endosmen ke pengambil kebijakan di pemerintahan (eksekutif/pejabat publik).

Disinilah celakanya kehidupan berbangsa dan bernegara kita, andai membiarkan iklim demokrasi yang seperti saat ini, sudahlah. Pada akhirnya tanah air kita sengaja dibiarkan rusak dan jadi mangsa kalangan oportunis dan cukong saja. Relakah..?

Kota Angin, 4 Maret 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat pengunjung yang baik,mohon tuliskan kesan Anda pada blogs sederhana kami ini. Terikasih Anda sudah menengok pojok tulisan ini.