28 Februari 2018

Buka Mata Dan Telinga, Pandang Fokus ke MA


"Pembuka Arah proxy War dan Perang Asimetris"
#ProxyWar
#Asimetris
#PemudaTulangPunggungNegara

Asumsi:
"Bila PK Ahok di MA diterima akan berbading lurus dengan pecahnya NKRI menuju chaos yang disebabkan penangkapan pada generasi muda muslim yang mencintai negerinya (MCA) dan akan disangkakan radikalis dan terus berlanjut ke ulama-ulama yang berpengaruh dalam jaringan anak muda dimana mereka dibesarkan."

Pemuda Muslim Tulang Punggung NKRI

Saat pemuda muslim serba ragu galau dalam mengambil sikap apalagi keburu muncul rasa takut untuk bela negara dan agama maka Lambat laun negeri ini akan lemah dan tidak sadar langsung kengancam ke jantung pertahanan negara. (Proxy war perang asimetris).

Asumsi ini selaras pendapat Pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit, yang menilai, ada pola perang asimetris pada penggiringan isu pada kasus Saracen. Ia mencium ada upaya mendiskreditkan umat Islam melalui penangkapan kelompok Saracen.

Kini mulai terbaca masalah ditangkapnya aktivis medsos MCA mulai dihubungkan dengan Saracen. Saracen. Istilah yang langsung populer pascapenangkapan sekelompok orang yang diketahui memiliki bisnis jasa menyebarkan kebencian dan berita hoaks di media sosial.

Menurut pengarang buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru itu, perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara nonmiliter. Namun, daya hancurnya tidak kalah, atau bahkan dampaknya lebih dahsyat, daripada perang militer.

"Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan, yaitu geografis, demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan," kata Hendrajit menerangkan kepada Republika.co.id, Senin (4/9).

Dalam perang asimetris itu terdapat suatu pola, di mana kita bisa mengetahui apakah itu perang asimetris atau bukan. Hendrajit mengemukakan, jika dilihat dari polanya, ada tiga tahapan dalam perang asimetris.

Pertama, menebar sebuah isu. Setelah berhasil, ditingkatkan menjadi sebuah tema atau agenda. Jika berhasil lagi, barulah skema yang sebetulnya keluar.

Ia memberi contoh, ditebarlah sebuah isu yang mengatakan harga cabai meroket. Isu itu ditebar untuk mengecek reaksi masyarakat terlebih dahulu. Begitu masyarakat resah, ditingkatkan ke tema atau agenda.

Dalam penyebaran informasi itu disebut, Indonesia mengalami kelangkaan ketersediaan cabai. Barulah setelah masyarakat menerima informasi kelangkaan cabai itu, skema aslinya dimunculkan.

"'Yah gimana dong, kalau gini kita harus impor'. Gitu kan. Ujung-ujungnya kelihatan tujuannya itu mengimpor. Barulah perusahaan asing masuk, menjajah ekonomi kita di bidang pertanian. Nah, itu contohnya," kata Hendrajit menjabarkan.

Pada kasus Saracen ini, menurut dia, maunya memang menuju ke sana. Dalam artian, penggiringan isu, Islam ini punya niat yang tidak bagus, ingin makar, ingin membangun kebencian, atau intinya yang antipemerintah itu adalah Islam.

Direktur Global Future Institute ini menyebutkan, dalam operasi intelijen, jangan sampai orang mengetahui kalau hal yang direkayasa itu merupakan hasil rekayasa. Kalau masyarakat atau orang sudah menduga hal itu rekayasa, maka rencana tersebut telah gagal.

"Padahal, dalam operasi intelijen, harus membikin kesan yang logis itu tak masuk akal. Operasi intelijen itu abu-abu. Tapi, Saracen ini terlalu jelas dan terlalu ilmiah lah karena kelihatan untuk mencemarkan Islam," terang Hendrajit.

Bila kita mau dalami dalam berita terkait MCA dan Saracen sudah berbau permainan intelijen bisa lokal dan mungkin juga kerjasama dengan asing. Intinya mendiskreditan umat Islam guna menimbulkan Islamophobia baru setelah isu terorisme dipandang melemah.

Ada resiko besar disaat ummat Islam sadar sudah terlambat , negeri ini telah pecah berkeping-keping. Bagaimana siap diikhlaskan?

Salam Kebangsaan...!
Merdeka atau Mati
Bismillah

Merenungi negeri di kota angin
By@Radea
Medio 28022018