Tampilkan postingan dengan label #2019PresidenBaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #2019PresidenBaru. Tampilkan semua postingan

26 Maret 2018

Ghost Fleet Yang Menginspirasi Pak Prabowo, Memberi Pesan Waspada


Viral di berbagai Media Berita maupun Media Social baik lokal maupun global; 'Tentang INDONESIA BUBAR 2030' yang semakin heboh beberapa hari ini, ada baiknya juga mengetahui siapa dan bagaimana catatan biografis seorang PW Singer secara "lebih dalam" dari kacamata seorang jurnalis dan penulis karya fiksi, Randu Alamsyah, yang menurut saya cukup objektif, berikut ini:
Saya belum membaca novel Ghost Fleet yang menginspirasi Pak Prabowo mengutarakan kecemasannya akan kehancuran Indonesia di tahun 2030. Untuk jujur saja, sebelum ini saya bahkan belum pernah mendengar penulisnya.

Novel Ghost Fleet ditulis oleh PW Singer and August Cole dan diterbitkan pada 2015. Novel itu menceritakan skenario perang dunia berikutnya, yaitu Amerika Serikat dengan China dan Rusia yang bersekutu. Indonesia? Gak ada lagi. Indonesia telah hancur dan hanya menjadi latar dalam cerita.

Yang janggal adalah PW Singer adalah nama yang asing di dunia penulisan fiksi. Atau, anggap saja, sebelum Ghost Fleet, dia sama sekali bukan seorang penulis fiksi.

Mengutip Wikipedia, Singer adalah seorang ilmuwan politik Amerika. Dia adalah sarjana hubungan Internasional, khususnya dalam pembahasan peperangan abad ke-21. Dia saat ini menjadi ahli strategi untuk New America Foundation, sebuah lembaga think tank nirlaba, dan editor untuk Popular Science, majalah ilmu pengetahuan ternama di AS. 

Singer pernah menjadi Direktur Pusat Keamanan dan Intelegensi Abad ke-21. Sebelum itu, ia pendiri Proyek Kebijakan AS di Dunia Islam pada Pusat Kebijakan Timur Tengah di Brookings. Dia juga bekerja untuk Pusat Ilmu dan Urusan Internasional Belfer di Universitas Harvard, Satuan Tugas Balkan di Departemen Pertahanan AS, dan Akademi Perdamaian Internasional. Singer menerima gelar Ph.D. dari Harvard University dan A.B. dari Woodrow Wilson School of Public and International Affairs di Princeton.

Singer menjadi sarjana termuda di Brookings Institution pada usia 29 tahun. Dia dianggap sebagai salah satu ahli terkemuka dunia tentang peperangan abad 21. Dia menulis untuk banyak media dan jurnal utama dunia, termasuk Boston Globe, Los Angeles Times, New York Times, Washington Post, dll. Singer telah dikutip di setiap surat kabar dan majalah berita utama AS dan menyampaikan ceramah di berbagai tempat mulai dari Kongres AS hingga Pentagon, juga di lebih dari 70 universitas di seluruh dunia. Singer telah disebutkan dalam daftar "100 Pemikir Global Teratas" oleh Foreign Policy, majalah Amerika Serikat yang berfokus pada kebijakan luar negeri AS. 

Defense News menobatkannya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh dalam masalah pertahanan. Ia juga melayani kelompok penasihat untuk Komando Pasukan Gabungan, membantu militer AS memvisualisasikan dan merencanakan masa depan. Pada tahun 2015, ia dianggap oleh analisis Onalytica.com sebagai “salah satu dari sepuluh suara yang paling berpengaruh pada isu keamanan cyber.”

Ya, jadi apa poinnya? Singer bukanlah penulis “fiksi” biasa. Sebelum novel Ghost Fleet, dia menulis empat buku yang kesemuanya non-fiksi. Buku terlarisnya yng diterbitkan Penguin, berjudul Wired for War: The Robotics Revolution and Conflict in the 21st Century. Dia mewawancarai ratusan ilmuwan robotika, penulis fiksi ilmiah, tentara, pemberontak, politisi, pengacara, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia dari seluruh dunia. 

Wired for War mengangkat tentang bagaimana teknologi robotik akan memainkan peran yang lebih banyak dalam peperangan masa depan. Buku ini dinobatkan sebagai Non-Fiction Book of the Year di tahun 2009 oleh majalah Financial Times dan masuk menjadi bacaan resmi di Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS serta Angkatan Laut Australia.

Jadi, marilah sudahi saja dengan pertanyaan mengganggu: Kenapa seorang ilmuwan politik dan ahli strategi menulis sebuah novel?

Sebagai penulis fiksi, saya membayangkan begini. Singer tahu sesuatu melalui pengetahuannya yang amat luas atau melalui jejaringnya di departemen pertahanan atau intelijen AS, bahwa China punya rencana yang ambisius yang didukung dengan sumber daya teknologi yang memadai untuk mengangkangi AS dan akhirnya menguasai dunia. 

Jika saya jadi Singer, menuliskannya dalam sebuah buku non-fiksi hanya akan menarik kecaman internasional dan menambah ketegangan antar kedua negara. Satu-satunya pilihan yang tampan adalah…menulis novel.

Mungkin terlalu berlebihan? Ya, bisa jadi. Tapi saya kira Singer tidak bertendensi menjadi salah satu dari 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh AS saat menulis The Ghost Fleet. Dia mungkin sama sekali tidak tahu soal sastra, alasan yang membuat dia merekrut August Cole sebagai Co author. Cole adalah seorang strateg tetapi juga lebih berpengalaman dalam narasi fiksi. 

Bersama-sama, mereka membuat skenario yang sangat realistis tentang perang masa depan. Saya membaca, semua teknologi yang disebutkan dalam novel The Ghost Fleet adalah nyata, disebut secara eksplisit dengan 400 catatan tambahan. 

Mungkin karena itulah, para pemimpin militer Amerika Serikat merekomendasikan novel ini kepada para prajurit. Laksamana James Stavridis menyebut The Ghost Fleet sebagai "Sebuah cetak biru yang mengejutkan untuk perang masa depan dan karenanya perlu dibaca sekarang juga!" 

Tapi tentu saja, fiksi tetaplah fiksi. Kebenaran sebuah ramalan, bagaimanapun, tidak bertempat di masa kini. Dia berada di masa yang jauh, waktu yang tidak bisa kita duga. 

Namun, begitupun juga dengan ketidak-benaran. 

Saya bukan pendukung beliau, tetapi tidaklah terlalu rendah hati, jika saya menjauhi menyebut Pak Prabowo pelantur atau pengkhayal, hanya karena dia berusaha memperingatkan bangsa Indonesia atas apa yang mungkin terjadi di masa depan. 

Saya sendiri bersyukur ada tokoh bangsa yang masih mau membaca novel. Setidaknya, Pak Prabowo membaca, dan dia membagi apa yang dibacanya. Anda tahu, beberapa tokoh hanya berfoto di toko buku tetapi malah membagi apa yang dituliskan humas. 

Meski Ghost Fleet adalah fiksi, saya menganggap ini sebuah peringatan. Bagaimanapun, Anda mungkin akan terkejut jika tahu ada banyak kisah sci-fi yang memengaruhi masa depan. 

Dalam kasus Ghost Fleet, mungkin bahkan sudah menciptakannya.

Kiriman ulang di: Facebook

26 Februari 2018

JOKOWI-PRABOWO vs KOTAK KOSONG..!

Skenario Paling Heboh di Pilpres 2019

#Pilpres2019 
#Dagelan
Kalau bisa Menjodohkan Jokowi dengan Prabowo melawan Kotak Kosong, apa yang bakalan terjadi...?

Dibawah ini ada tulisan menarik lainnya dari wartawan senior Hersubeno Arief.

"Menjodohkan Jokowi dengan Prabowo
Siapa Untung, Siapa Buntung?"

"Mengapa Jokowi dan juga PDIP ingin menggandeng Prabowo? Mengapa tidak memilih salah satu calon di internal PDIP, Puan Maharani misalnya. Atau memilih satu diantara para ketua umum partai pendukung yang juga bersiap, bahkan sangat menginginkan digandeng sebagai cawapres. Bagaimana kalkulasinya?"

Kalangan internal PDIP mulai menggarap secara serius isu kemungkinan menjodohkan Jokowi dengan Prabowo.

“Mungkin saja. Dalam politik itu nggak ada yang nggak mungkin,” kata Ketua DPP PDIP (non aktif) Puan Maharani pada penutupan Rakernas III di Bali.

Pernyataan Puan “putri mahkota” Ketua Umum PDIP Megawati ini tidak bisa dianggap sebagai ucapan sambil lalu. Seorang ketua umum partai pendukung pemerintah mengaku pernah diajak bicara soal ini. Ketika bertemu di istana, Jokowi bertanya “bagaimana kalau dia berpasangan dengan Prabowo?”

Sama seperti Puan, Jokowi juga bicaranya terkesan sambil lalu, setelah berbicara berbagai topik lainnya. Tapi sang ketua umum dapat menangkap dan memahami apa sebenarnya yang menjadi keinginan Jokowi.

Mengapa Jokowi dan juga PDIP ingin menggandeng Prabowo? Mengapa tidak memilih salah satu calon di internal PDIP, Puan Maharani misalnya. Atau memilih satu diantara para ketua umum partai pendukung yang juga bersiap, bahkan sangat menginginkan digandeng sebagai cawapres. Bagaimana kalkulasinya?

Mari kita lihat dari hitung-hitungan, kalkulasi politik kedua belah pihak.

Pertama, dari sisi Jokowi bagaimanapun juga saat ini Prabowo masih merupakan penantang terkuat. Sejumlah survei menunjukkan keduanya merupakan pemilik elektabilitas teratas, dibandingkan dengan capres-capres lainnya. Bila disatukan, maka hampir dapat dipastikan Jokowi akan kembali melenggang ke kursi presiden untuk kedua kalinya.

Kedua, dengan menggandeng Prabowo, Jokowi bisa menutup peluang kemungkinan munculnya figur alternatif yang bisa diusung kubu penantang.

Gerindra saat ini memiliki 73 kursi. Bila bergabung dengan sekutu utamanya PKS yang memiliki 40 kursi, maka total jumlahnya 113 kursi, sudah memenuhi syarat minimal presidential threshold 20% dari total kursi DPR sebanyak 560.

Munculnya figur alternatif inilah yang tampaknya saat ini mati-matian dihindari oleh kubu pendukung Jokowi. Sebab berbagai survei juga menunjukkan elektabilitas Jokowi hanya berkisar di angka 40%, bahkan cenderung menurun sampai di angka 35%. Sudah lampu kuning. Artinya ada 60-65% pemilih menginginkan figur baru.

Dua nama yang disebut-sebut punya potensi mengalahkan Jokowi adalah Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan. Keduanya punya kedekatan dengan umat, dan sangat mungkin diusung oleh Gerindra dan PKS.

Di luar itu ada tiga partai lain yang bisa mengusung kandidat, yakni Demokrat (61), PAN (49), dan PKB (47). Namun poros ini hanya bisa mendapat satu tiket bila ketiga-tiganya bergabung dengan total 157 kursi.

PKB walaupun sejauh ini belum menyatakan akan mencalonkan Jokowi, namun posisinya berada di pemerintahan. Jadi mendukung Jokowi tampaknya tetap menjadi opsi utama, apalagi bila Ketua Umum PKB Muhaimin diusung sebagai cawapres. Sementara PAN kendati berada dalam kubu pemerintah, namun naga-naganya bakal membelot dan lebih punya kedekatan dengan Gerindra dan PKS.

Ketiga, bila berhasil menarik Prabowo, maka niat Jokowi untuk merangkul PKS bisa berhasil. Jokowi diketahui secara intensif sudah melakukan pendekatan dengan PKS agar bersedia bergabung dalam poros pendukungnya. Kabarnya Jokowi memberi tenggat waktu akhir bulan ini, untuk PKS.

Bergabungnya PKS sangat penting bagi Jokowi untuk meraih dukungan dari kalangan umat Islam yang selama ini menjadi titik lemah Jokowi. Namun karena penolakan kader yang begitu kuat, membuat pimpinan PKS harus menolak pinangan Jokowi.

Bila Prabowo menjadi cawapres Jokowi, maka PKS akan dihadapkan pada posisi yang sulit, dan mau tidak mau harus mendukung duet ini. Dengan begitu target Jokowi menggaet PKS tetap berhasil, kendati dengan cara melingkar.

Keinginan menggaet Gerindra dan PKS tersebut secara tegas juga dinyatakan oleh Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah. Dia menyebutnya sebagai power sharing. Bagi-bagi kekuasaan.

Keempat, berbagai skenario tadi bila berhasil akan membuat Jokowi melawan kotak kosong dalam Pilpres 2019. Secara kalkulasi tinggal Demokrat dan PAN yang tersisa, bila PKB kemudian juga memutuskan bergabung dengan Jokowi. Total suara Demokrat dan PAN hanya 110 kursi, atau kurang dua kursi untuk memenuhi syarat presidential threshold.

Keinginan agar Jokowi dapat melawan kotak kosong sudah dinyatakan oleh fungsionaris Golkar Bambang Soesatyo yang kini menjadi Ketua DPR.

Kelima, bagi PDIP bila jadi menggandeng Prabowo akan sangat menguntungkan karena dari sisi usia Prabowo tidak mungkin lagi menjadi capres pada Pilpres 2024. Karena itu tidak membahayakan bagi proses kaderisasi di PDIP. Pada Pilpres 2024 Puan Maharani setidaknya sudah cukup matang untuk bertarung menjadi capres.

Selain itu keuntungan lain dari PDIP bisa mengeliminir peluang Gerindra menjadi partai pesaing PDIP. Sebab banyak pendukung Gerindra yang akan kecewa dan mengalihkan dukungannya ke partai lain, bila Prabowo mendukung Jokowi.

Satu hal lagi yang juga perlu dicatat, setidaknya Megawati bisa membayar hutang janji yang tertunda kepada Prabowo. Dalam perjanjian Batutulis sebelum Pilpres 2009 Megawati berjanji akan mendukung Prabowo pada Pilpres 2014, bila dia bersedia menjadi cawapres Megawati. Janji itu tidak dipenuhi. Megawati malah mengusung Jokowi yang ironisnya kemudian mengalahkan Prabowo.

Lantas bagaimana hitung-hitungannya dari sisi Prabowo. Apa untung ruginya?

Pertama, bagi Prabowo bila bergabung dengan Jokowi akan sangat menguntungkan.Apalagi bila melawan kotak kosong.

Dia akan terhindar dari membuat sejarah buruk karena kalah tiga kali berturut-turut dalam Pilpres.

Pada Pilpres 2009 Prabowo menjadi cawapres Megawati, kalah dari pasangan SBY-Budiono. Pada Pilpres 2014 Prabowo yang menjadi capres berpasangan dengan Hatta Radjasa, kalah melawan Jokowi-Jusuf Kalla.

Kedua, Prabowo tidak perlu memikirkan penggalangan dana. Dapat dipastikan semua biaya pencapresan akan ditanggung Jokowi dan para pengusungnya. Bisnis yang dikelola adik kandungnya Hasyim Djojohadikusumo juga bisa berjalan dan bangkit kembali.

Sebaliknya bila dia maju kembali sebagai capres, maka dia harus bekerja keras melakukan pengumpulan dana. Soal dana ini menjadi soal sangat krusial dan serius. Dengan elektabilitasnya yang rendah dan berpotensi besar kalah bila melawan Jokowi, sangat sulit mencari “Bandar” yang mau membiayai dan menyokongnya.

Ketiga, dari survei yang dilakukan Media 1-9 Februari hanya 1.7% pemilih Gerindra yang akan memilih Jokowi. Artinya peluang Gerindra untuk menjadi partai papan atas bersama PDIP bisa terancam bila Prabowo memutuskan bergabung dengan Jokowi.

Soal ini harus menjadi pertimbangan serius bagi Prabowo. Sebagai pendiri Gerindra tentu dia ingin mempunyai warisan, legacy. Prabowo pasti tidak ingin dikenang sebagai orang yang mendirikan dan membangun Gerindra dengan susah payah, dan kemudian menghancurkannya.

Keempat, citra Prabowo sebagai politisi yang sangat dekat dan mendukung kepentingan umat akan tetap terjaga bila Prabowo memilih tidak bergabung dengan Jokowi. Sebaliknya bila bergabung dengan Jokowi, maka dia akan dikenang sebagai politisi yang mengkhianati aspirasi umat

Kelima, bila memutuskan untuk tidak bergabung dengan Jokowi, atau maju sendiri sebagai capres, Prabowo bisa menjadi seorang king maker. Tangan dinginnya sebagai king maker telah terbukti pada dua Pilkada DKI (2012 dan 2017).

Gerindra bisa mendukung salah satu diantara Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, atau figur lain yang punya kedekatan politik dengannya.

Bila Gatot yang dipilih, dia bisa menciptakan pasangan yang kuat militer-sipil. Sementara bila Anies yang dipilih maka Gerindra akan mendapat bonus tambahan, karena kadernya Sandiaga Uno akan menjadi Gubernur DKI. Dia akan menggantikan Anies, yang terpilih sebagai presiden.

Sebagai king maker Prabowo akan tetap memainkan peranan politik yang sangat penting, seperti posisi Megawati saat ini. Kendati tidak menjadi presiden, tapi realitas politik yang tidak bisa dibantah, Megawati adalah politisi paling berpengaruh di Indonesia saat ini.

Berbagai kalkulasi politik tadi tentu akan menjadi pertimbangan yang tidak mudah bagi Prabowo dan para pendukungnya. Dalam politik tidak hanya sekedar untung dan rugi, tapi ada idealisme yang harus diperjuangkan.

Repost: HERSUBENO ARIEF'S
26022018

24 Februari 2018

TAHTA RI 1 DARI UMAT BUTUH LEADER PEMERSATU



"Lahirnya Tahta RI-1 dari Mayoritas Muslim butuh Leader penghimpun dengan target 60% Suara Murni Umat"

#BersatulahWahaiUmat
#MeraihTahtaRI
#2019PresidenBaru

Mengamati fenomena politik praktis saat ini. Mari, mulailah jangan personal yang dijadikan rujukan melainkan dukungan 'Politik Praktis' karena menjadikan seorang tokoh menjadi pejabat publik itu faktor terbesarnya adalah pengaruh eksternal, sementara internal 'Partai' kadang tidak sepenuhnya solid.
Demikian pula dengan 'Suara Umat Islam' dalam election tidak lagi terfokus pada SATU sebagai tujuan.

Pengalaman yang lalu...

Jika Umat sebagai warga mayoritas ingin memenangkan pertempuran merebut 'Tahta RI-1'maka 'Suara Umat' yang katanya 80% harus dibuktikan dan terbukti menjadi 'Satu dan Bulat' karena Suara Mayoritas Umat ikut menentukan.

Mereka tahu namanya saja Umat dan sanjunglah agar menjadi 'Kadang Cerdas' dan lengah. Umat dibuat buta padahal belum ada Pilpres untuk sementara Jokowi sudah punya suara 20% non Muslim, itu suara pasti.

Berpikirlah agar punya Leader Cerdas...

Pertarungan Menjadi RI 1 sangat berbeda nuansanya jika dibandingkan hanya sekedar memperbutkan Jabatan untuk Kursi Gubernur atau Bupati, Walikota. Pertarungan merebut 'Tahta RI-1' mempertaruhkan reputasi seluruh peserta maupun pendukung maka dibutuhkan kematangan berpikir dan berbuat.

Deklarasi Pengusungan Jokowi sebagai Capres 2019 merupakan sebuah isyarat sekaligus tantangan 'Siapa Berani Menantang'.
Orang yang kita bawa (Jagokan) untuk bertarung dengan jagoannya minoritas apakah cukup dengan Prabowo lagi? 

Untuk memecah konsentrasi lawan petarung Jokowi, awas nanti kalah akibat 'President Threshold'.
Disini pertanyaannya apakah Prabowo mau jadi Leader buat penggalangan 'Jagoan Presiden Baru', diluar dirinya atau 'Maju sebagai Dirinya' dengan asumsi mewakili 'Umat'?

Bila Prabowo menjadi Leader buat melahirkan #2019PresidenBaru maka kuncinya harus ada kader Umat yang terbaik yang ditawarkan dan sekaligus menghimpun kekuatan umat minimal 60% dan terpetakan juga lewat kekuatan jumlah kursi pengusungnya sebesar 60%.  Akankan jadi Leader atau Prabowo kembali harus siap legowo menelan kekalahan kembali saat menjadi rival Jokowi?

Silakan 'Umat Berpikir'.. 🙏

Catatan Akhir Pekan
By@Radea
Sabtu-2402218