Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

2 Maret 2018

HOAX MCA dan Sinyal Kekalahan Partai Pemerintah

Analisa Politik:
HOAX MCA, Praktek Politik Belah Bambu dan Sinyal Kekalahan Partai Pemerintah.


MCA ditangani dikesankan mayoritas muslim sebagai Politik Belah Bambu, bila gegabah eksekusinya bisa menampar dan menghantam para pembuat gagasannya.

Mari berpikir pakai nalar yang sehat.
Kenapa pengelola Polkam di negeri ini tidak belajar dari masa lalu..
Apa sih yang bikin jutaan orang tempo hari 'Turun Ke Jalan' ?
Kenapa membiarkan eskalasi kekecewaan terus berlanjut?
Belajar dong dan jangan terus menerus menganggap kalau sudah menangkap semua masalah selesai.
Justru dengan cara seperti penangan model polkam saat ini efeknya pada lembaga Polkam itu sendiri, juga sekaligus secara umum kepentingan pemerintah dapat sorotan dan mengganggu hak demokrasi di negeri ini.


Asumsi sementara:
Eksekusi kebijakan yang tidak cerdas sebagai satu pilihan yang beresiko, terbaca telah diambil, konsekuensinya hanya menambah suasana suhu politik semakin memanas dan memancing resistensi pada keamanan.
Pihak sementara yang merasa rugi mayoritas muslim, Islamophobia justru ditumbuhkan oleh pihak pemerintah.

Skala terdekat yang akan merugi justu yang terkait dengan Pilkada, partai-partai pendukung pemerintah akan mendulang kerugian dari para pemilih cerdas. Paslon di Pilkada sekalipun orangnya mungkin potensial namun bila di pusat pihak Polkam salah dalam eksekusi permasalahan HOAX maka akan kena dampak ikutan, awalnya suka menjadi tidak disukai karena terkait dengan brand partai-partai pendukung pemerintah pusat.

Lebih lanjut kepentingan Presiden Jokowi untuk sukses di Pilpres 2018 pun dengan sinyalemen ini  sudah terbaca, akan gagal.
Malah pihak yang justru meraup untung lawan politiknya yang punya label membela kepentingan agama mayoritas muslim.

Bila tidak percaya, mari kita lihat hasilnya di Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
#PecahBambu #Kecerobohan #Hoax
Penemubaling dan Pendidik PKn,
@Radea
Kota Angin, 02032018

28 Februari 2018

Buka Mata Dan Telinga, Pandang Fokus ke MA


"Pembuka Arah proxy War dan Perang Asimetris"
#ProxyWar
#Asimetris
#PemudaTulangPunggungNegara

Asumsi:
"Bila PK Ahok di MA diterima akan berbading lurus dengan pecahnya NKRI menuju chaos yang disebabkan penangkapan pada generasi muda muslim yang mencintai negerinya (MCA) dan akan disangkakan radikalis dan terus berlanjut ke ulama-ulama yang berpengaruh dalam jaringan anak muda dimana mereka dibesarkan."

Pemuda Muslim Tulang Punggung NKRI

Saat pemuda muslim serba ragu galau dalam mengambil sikap apalagi keburu muncul rasa takut untuk bela negara dan agama maka Lambat laun negeri ini akan lemah dan tidak sadar langsung kengancam ke jantung pertahanan negara. (Proxy war perang asimetris).

Asumsi ini selaras pendapat Pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit, yang menilai, ada pola perang asimetris pada penggiringan isu pada kasus Saracen. Ia mencium ada upaya mendiskreditkan umat Islam melalui penangkapan kelompok Saracen.

Kini mulai terbaca masalah ditangkapnya aktivis medsos MCA mulai dihubungkan dengan Saracen. Saracen. Istilah yang langsung populer pascapenangkapan sekelompok orang yang diketahui memiliki bisnis jasa menyebarkan kebencian dan berita hoaks di media sosial.

Menurut pengarang buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru itu, perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara nonmiliter. Namun, daya hancurnya tidak kalah, atau bahkan dampaknya lebih dahsyat, daripada perang militer.

"Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan, yaitu geografis, demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan," kata Hendrajit menerangkan kepada Republika.co.id, Senin (4/9).

Dalam perang asimetris itu terdapat suatu pola, di mana kita bisa mengetahui apakah itu perang asimetris atau bukan. Hendrajit mengemukakan, jika dilihat dari polanya, ada tiga tahapan dalam perang asimetris.

Pertama, menebar sebuah isu. Setelah berhasil, ditingkatkan menjadi sebuah tema atau agenda. Jika berhasil lagi, barulah skema yang sebetulnya keluar.

Ia memberi contoh, ditebarlah sebuah isu yang mengatakan harga cabai meroket. Isu itu ditebar untuk mengecek reaksi masyarakat terlebih dahulu. Begitu masyarakat resah, ditingkatkan ke tema atau agenda.

Dalam penyebaran informasi itu disebut, Indonesia mengalami kelangkaan ketersediaan cabai. Barulah setelah masyarakat menerima informasi kelangkaan cabai itu, skema aslinya dimunculkan.

"'Yah gimana dong, kalau gini kita harus impor'. Gitu kan. Ujung-ujungnya kelihatan tujuannya itu mengimpor. Barulah perusahaan asing masuk, menjajah ekonomi kita di bidang pertanian. Nah, itu contohnya," kata Hendrajit menjabarkan.

Pada kasus Saracen ini, menurut dia, maunya memang menuju ke sana. Dalam artian, penggiringan isu, Islam ini punya niat yang tidak bagus, ingin makar, ingin membangun kebencian, atau intinya yang antipemerintah itu adalah Islam.

Direktur Global Future Institute ini menyebutkan, dalam operasi intelijen, jangan sampai orang mengetahui kalau hal yang direkayasa itu merupakan hasil rekayasa. Kalau masyarakat atau orang sudah menduga hal itu rekayasa, maka rencana tersebut telah gagal.

"Padahal, dalam operasi intelijen, harus membikin kesan yang logis itu tak masuk akal. Operasi intelijen itu abu-abu. Tapi, Saracen ini terlalu jelas dan terlalu ilmiah lah karena kelihatan untuk mencemarkan Islam," terang Hendrajit.

Bila kita mau dalami dalam berita terkait MCA dan Saracen sudah berbau permainan intelijen bisa lokal dan mungkin juga kerjasama dengan asing. Intinya mendiskreditan umat Islam guna menimbulkan Islamophobia baru setelah isu terorisme dipandang melemah.

Ada resiko besar disaat ummat Islam sadar sudah terlambat , negeri ini telah pecah berkeping-keping. Bagaimana siap diikhlaskan?

Salam Kebangsaan...!
Merdeka atau Mati
Bismillah

Merenungi negeri di kota angin
By@Radea
Medio 28022018

24 Februari 2018

TAHTA RI 1 DARI UMAT BUTUH LEADER PEMERSATU



"Lahirnya Tahta RI-1 dari Mayoritas Muslim butuh Leader penghimpun dengan target 60% Suara Murni Umat"

#BersatulahWahaiUmat
#MeraihTahtaRI
#2019PresidenBaru

Mengamati fenomena politik praktis saat ini. Mari, mulailah jangan personal yang dijadikan rujukan melainkan dukungan 'Politik Praktis' karena menjadikan seorang tokoh menjadi pejabat publik itu faktor terbesarnya adalah pengaruh eksternal, sementara internal 'Partai' kadang tidak sepenuhnya solid.
Demikian pula dengan 'Suara Umat Islam' dalam election tidak lagi terfokus pada SATU sebagai tujuan.

Pengalaman yang lalu...

Jika Umat sebagai warga mayoritas ingin memenangkan pertempuran merebut 'Tahta RI-1'maka 'Suara Umat' yang katanya 80% harus dibuktikan dan terbukti menjadi 'Satu dan Bulat' karena Suara Mayoritas Umat ikut menentukan.

Mereka tahu namanya saja Umat dan sanjunglah agar menjadi 'Kadang Cerdas' dan lengah. Umat dibuat buta padahal belum ada Pilpres untuk sementara Jokowi sudah punya suara 20% non Muslim, itu suara pasti.

Berpikirlah agar punya Leader Cerdas...

Pertarungan Menjadi RI 1 sangat berbeda nuansanya jika dibandingkan hanya sekedar memperbutkan Jabatan untuk Kursi Gubernur atau Bupati, Walikota. Pertarungan merebut 'Tahta RI-1' mempertaruhkan reputasi seluruh peserta maupun pendukung maka dibutuhkan kematangan berpikir dan berbuat.

Deklarasi Pengusungan Jokowi sebagai Capres 2019 merupakan sebuah isyarat sekaligus tantangan 'Siapa Berani Menantang'.
Orang yang kita bawa (Jagokan) untuk bertarung dengan jagoannya minoritas apakah cukup dengan Prabowo lagi? 

Untuk memecah konsentrasi lawan petarung Jokowi, awas nanti kalah akibat 'President Threshold'.
Disini pertanyaannya apakah Prabowo mau jadi Leader buat penggalangan 'Jagoan Presiden Baru', diluar dirinya atau 'Maju sebagai Dirinya' dengan asumsi mewakili 'Umat'?

Bila Prabowo menjadi Leader buat melahirkan #2019PresidenBaru maka kuncinya harus ada kader Umat yang terbaik yang ditawarkan dan sekaligus menghimpun kekuatan umat minimal 60% dan terpetakan juga lewat kekuatan jumlah kursi pengusungnya sebesar 60%.  Akankan jadi Leader atau Prabowo kembali harus siap legowo menelan kekalahan kembali saat menjadi rival Jokowi?

Silakan 'Umat Berpikir'.. 🙏

Catatan Akhir Pekan
By@Radea
Sabtu-2402218

7 Februari 2018

Pedih Hati Saat Konstitusi Kita Kena Jebakan Rentenir

Mari kita kembali, dengan tujuan apa negeri ini merdeka..?


Jangan asal bicara konstitusi apalagi berdemokrasi yang konstitusional bila dalam praktek demokrasi kita dengan cara voting. Demokrasi sebagai istilah dalam hukum dasar kita hanya tertulis di pasal 33 ayat 4. Itu pun ditenggarai sebagai pasal pesanan agar warga asing dan yang punya kepentingan dengan asing mengeksploitasi dan mengeruk SDA dan SDM kita dengan harga murah.

Fakta membuktikan setelah amandemen UUD 1945, kesejahteraan bangsa kita hanya diukur oleh masalah ekonomi, lebih parah lagi malah biaya hidup makin tinggi dan condong menggiring warga bangsa ini untuk terlilit utang ke rentenir. Pada akhirnya rakyat beraktivitas bagaikan 'kerja paksa' guna memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya di atas jalan suram akan keberlangsungan kehidupan negaranya.

Sedang dibawa kemana arah tujuan negara kita yang termaktub di Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4, masihkah itu menjadi target sasaran utama pembangunan di negeri ini?

Politik apa pun caranya silakan saja namun bila politikus menggiring bangsa ini agar terus jadi inlander, maka kita semua tak lebih hanya sedang mengisi kemerdekaan ini dengan pola berpikir pecundang.

Rasanya muak melihat tebar janji politisi dan malah tokoh-tokoh yang ingin disebut tokoh nasional namun pada kenyataannya hanya pada para cukong saja sudah meleleh dan takluk, sehingga bersetuju untuk menjadikan anak bangsa ini sebagai 'sapi perahan' para rentenir.

Bacalah kembali tuan-tuan, apa yang sesungguhnya sedang terjadi dan akan terjadi dengan masa depan negeri ini. Akan sukakah hati anda bila negeri ini hancur berkeping justru karena syahwat kekuasan di atas kebodohan wawasan yang anda miliki saat ini!?

Indonesia merdeka bukan karena jasa anda tuan-tuan, sudah jelas atas berkah rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dorongan semangat keinginan luhur para pejuang bangas yang ingin agar negeri ini diisi oleh anak cucunya dalam kondisi merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 

Tolong kembalilah ke jalan yang benar sesuai amanat nilai norma moral dasar negara Pancasila dan hukum dasar UUD 1945 yang diresmikan tanggal 18 Agustus 1945.

Salam kebangsaan..
Merdeka...!
Barakallahu fiikum..

Renungan sore di Teras Gazebo Jaulah

Tulisan Penemubaling
@Endar- 07022018

2 Maret 2014

Fasilitas Anugrah Allah Termahal di Dunia Ini, IMAN dan TAQWA



“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari kiamat....” (At Taubah: 18)

IMAN adalah suatu perkara yang sangat penting. Lebih penting dari apa yang dianggap manusia penting dewasa ini. Makan, minum, pakaian, pekerjaan, pangkat dan jabatan serta kekuasaan dunia sekalipun.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Aku (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...“ 
(QS. Al A’raf: 96)

Sebaliknya apabila iman manusia telah rusak, maka amalan manusia akan menjadi rusak, sehingga ibadah, muamalah, muasyarah dan akhlak akan menjadi rusak pula. Apabila amalan telah rusak, maka suasana dan keadaan alam semesta akan menjadi rusak, sehingga iklim, cuaca, udara, daratan dan lautan semuanya tidak lagi berkhidmat kepada manusia.

Allah berfirman dalam kalam lainnya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ…
“Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia...." (QS. Ar Rum : 41).

Bagaimana iman bisa lurus? Iman bisa lurus jika hatinya lurus. Bagaimana hatinya bisa lurus? Hati bisa lurus jika lisannya lurus. Bagaimana lisannya bisa lurus? Lisannya bisa lurus jika sering digunakan untuk membicarakan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Yakni membicarakan bahwasanya :

Allah khaliq : Allah Maha Menciptakan
Allah malik : Allah Maha Menguasai/Memelihara/Merajai
Allah raziq : Allah Maha Pemberi Rezeki

Apabila 3 perkara tersebut sering dibicarakan, maka akan menimbulkan sifat QANA’AH.

Dan juga membicarakan bahwasanya :

Allah sami’ : Allah Maha Mendengar
Allah bashir : Allah Maha Melihat
Allah ‘alim : Allah Maha Mengetahui

Apabila 3 perkara tersebut sering dibicarakan, maka akan menimbulkan sifat TAQWA.

Apakah itu iman yang rusak?
Iman yang rusak adalah apabila di dalam hati ada keyakinan bahwasanya makhluk bisa memberi manfaat atau madharat.

Contoh :
Kebanyakan manusia sekarang ini mempunyai keyakinan bahwasanya kebahagiaan itu terletak pada harta benda. Untuk mendapatkan harta benda harus ada uang, dan untuk memperoleh uang harus bekerja. Ini adalah keyakinan yang salah yang harus diluruskan.

Sesungguhnya harta itu tidak bisa mendatangkan kebahagiaan, tetapi Allah yang mendatangkan kebahagiaan. Harta bisa mendatangkan kebahagiaan itu berhajat kepada Allah dan Allah mendatangkan kebahagiaan tidak berhajat kepada harta. Jika Allah kehendaki dengan harta akan datang kebahagiaan, dan jika Allah kehendaki dengan harta tidak datang kebahagiaan. Dan jika Allah kehendaki pula tanpa harta, Allah berkuasa mendatangkan kebahagiaan. Inilah makna dari LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Maka karena Iman itulah orang-orang muslim yang beriman mampu memenuhi panggilan Allah setiap harinya 5 kali untuk selalu datang ke Masjid dan laksanakan sholat fardlu secara berjamaah, ini sebuah bukti terbesar bagian dari TAQWA.

Yuk, kita kuatkan hati dengan keyakinan bahwa tidak ada kerugian yang akan kita dapatkan dari-Nya, apabila kita dapat memenuhi setiap panggilan sholat berjamaah, Justru dengan cara itulah berbagai keberuntungan akan kita raih. Ringankanlah kaki kita agar mampu melangkah guna membangun barisan lurus dan rapat dalam shof sholat berjamaah kapan pun dan dimana pun saat kita masih diberi kemampuan untuk bergerak dan berikhtiar. 

Mari kita niatkan dan perjuangkan agar bisa ikut serta guna menuju kebahagiaan dan kemenangan yang hakiki. 
Bismillah.

Seri Dakwah Iman Amal Sholeh