Tampilkan postingan dengan label Bahaya New World Order. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahaya New World Order. Tampilkan semua postingan

29 Juli 2017

PNS Menjawab Pertanyaan Menkeu RI

"Pilih Utang Baru atau Potong Gaji PNS?"

#JawabanPNS:
Jawaban ini sekaligus sebagai usul strategis demi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dan pembelajaran tanggung jawab pemimpin.

"PNS menuntut resiko tanggung jawab dan sekaligus menguji kenegarawan atas masalah utang negara selama negara ini diurus kabinet kerja Jokowi."

Langkah #1:
Bukan PNS yg harus dipotong atau diturunkan gajinya tapi seluruh gaji dan tax home pay yang ada di jajaran kabinet kerja beserta seluruh staffnya tanpa kecuali selama 2 tahun kedepan sampai kabinet kerja berakhir pakai dulu untuk bayar bunga utang negara yang pernah dipinjam selama Presiden Jokowi memimpin.
Hitungan yang mungkin tak akan cukup, tapi itu tanggung jawab resiko mismanajemen di era rezim pemerintahan Jokowi.

Langkah #2:
Adapun nanti sisa bayar bunga utangan berikutnya sebagai skala prioritas dari seluruh aset atau harta benda tim kabinet kerja (disita dulu oleh negara sebagai jaminan) bila dipandang cukup gunakan buat bayar bunga utang sesuai perjanjian, ada pun pokok utangnya boleh dibayar oleh seluruh wajib pajak di negara kita (win win solution).

Langkah #3:
Saat rezim pemerintah ini berakhir, bila tak tanggung jawab, harus ada upaya paksa pemiskinan pada kabinet kerja agar utang negara kembali ke angka utang saat terakhir pemerintahan SBY di tahun 2014.

Langkah #4:
Untuk meringankan utang negara, nasionalisasikan seluruh aset para cukong pendukung rezim saat ini dan manfaatkan untuk jadi fasilitas BUMN yg nantinya dikelola para putra terbaik bangsa sesuai bidang masing dengan pola target kinerja sesuai bisnis syariah.

Langkah #5:
Agar situasi keamanan dan pertahanan negara kondusif. Untuk keamanan dan pertahanan Dalam Negeri komando utama keamanan sementara sampai lahirnya pemimpin baru di era baru NRI diambil alih oleh TNI.

Sekian, sekadar usul solusi bagi kemaslahatan hidup di Negara Republik Indonesia.

Seorang WNI PNSD,
Kotaangin, 29 Juli 2017

24 November 2013

Sekularisme dan Kapitalisme Virus Berbahaya


Itulah perusak dari akar bangsa ini. Akar bangsa yang berbudi luhur yakni musyawarah, gotong royong/kebersamaan karena perasaan senasib dan sepenanggungan, itsar mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi merupakan ciri khas dan modal bangsa ini untuk maju dan kesemuanya itu berbasiskan nilai-nilai agamis. 

Kuatnya nilai-nilai Sekularisme telah mengubah danmengalahkan segalanya bahkan bagi sebagian orang telah merobohkan benteng pertahanan yang dibangun dari nilai-nilai agama dan budaya/etnis-suku. Sekularisme melahirkan budaya Materialisme yang mendorong orang mengejar dan memuja harta benda dengan menghalalkan cara apapun, inilah cikal bakal atau pemicu KORUPSI (penyimpangan amanah), semakin hari kita rasakan semakin merajelela. 

Kemudian bersamaan dengan itu dari kemaruknya kaum pemodal Kapitalis yang pintar merekayasa informasi juga melahirkan Hedonisme. Sangat sedikit orang menyadari betapa dahsyatnya pengaruh Sekularisme dan Kapitalisme. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Dr. Soedjatmoko, intelekutual yang diakui dunia degan kepercayaan sebagai pejabat Rektor Universitas PBB di Tokyo, pada awal tahun awal 90 dengan nada serius dan prihatin mengajak para agamawan bisa berperan guna mengahadang laju Sekularisme. 

Dapat dikatakan para agamawan saat ini telah gagal menghadang laju Sekularisme. Para pelopor dan penganut Sekularisme mereka tertawa menyaksikan kelompok-kelompok agamawan yang menghajar dan saling melukai kelompok agamawan lain seperti Ahmadiyah, Islam Syiah dan kelompok minoriitas lainnya. Ini akibat dari lemahnya dakwah karena kaum agamawan tidak menyertakan kaum awam sebagai subjek dalam perjuangannya. Padahal bila saja bisa bersama-sama berusaha untuk saling ajak, saling menasihati untuk hidup taat sesuai dengan panggilan Illahi (seruan pada agama) maka orientasi pikir dari warga bangsa ini bukan pada panggilan k untmemperkaya diri atau hidup bergaya hedon. 

Sayang, banyak kekuatan kita dipakai hanya untuk saling melemahkan, maka dengan diam-diam Sekularisme menelusup merasuki kaum tua dan pemuda/i Indonesia. Menjadikan kaum kapitalis berada di zone nyaman untuk terus memainkan peranannya dan politik adu domba dijadikan sebagai permainan oleh mereka dalam rangka melanggengkan kekuasaan atau pengaruhnya.

Hasil nyata mereka, KORUPSI merajalela, hidup hedon semakin membuncah menggejala sampai di kalangan anak-anak, remaja/anak sekolah dan kalangan dewasa. Betapa lemahnya respek atar individu, kepedulian/rasa senasib sepenanggungan hanya sekedar cerita lama. 

Salah siapa.. ??
Ini kesalahan berjamaah, terutama kaum intelektualnya (orang-orang alim) yang telah terbeli oleh kekuasaan dan kekuatan penganut Sekularisme dan Kapitalisme. Wahai para pejuang, ulama kaum intelek, dan anak muda pewaris bangsa,sadarlah. Kita semua telah ditipu oleh mereka. Mari kita jadikan nilai-nilai agama sebagai cara dan pedoman hidup bagi keselamatan dan kejayaan bangsa kita.

Bismillah