Tampilkan postingan dengan label hardiknas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hardiknas. Tampilkan semua postingan

2 Mei 2014

Saatnya Pendidikan Indonenesia Melakukan Re-Evaluasi atau Revolusi. Bismillah




Diawali dengan membacaa berita dari berbagai media termasuk media sosial facebook grup guru, guna mengetahui apa saja yang terjadi di saat sakral peringatan Hardiknas 02 Mei 2014. Satu persatu ditelaah, dimulai dari bagaimana rekan guru yang tergabung dengan AGTIKNAS berjuang melakukan demo di Jakarta, sekali pun hanya sedikit guru yang terlibat namun karena suport dari para mahasiswa akhirnya pendemo dari guru yang tergabung di AGTIKNAS yang dimotori Omjay (Pak Wijaya Kusumah,M,Pd) dan rekan-rekan seperjuangannya bisa menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh di kantor Kemendikbud, sayangnya tetap tidak memperoleh jawaban yang memuaskan artinya tetap mata pelajaran TIK dan KKPI dihapus, tercampakkan dari Kurikulum Nasional 2013.


Berikutnya hati ini merasa lebih tersayat lagi dengan berita yang dimuat di TribunNews Makasar. MasyaAlloh.. lewat judul Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah nampak jelas pemangku kebijakan di semua tingkatan tidak peduli lagi sama kemajuan anak bangsanya. Lantas ingat bahwa tema Hardiknas tahun ini adalah " Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul." Apa artinya tema tersebut sementara kejadiannya sangat ironis, siswa yang sudah unggul saja tidak ada yang peduli..?

Dalam kepedihan hati yang dalam karena saya merasa menjadi bagian dari guru pendidik di tanah air tercinta ini tentunya hanya bisa menitikan air mata. Dibawah ini saya posting ulang juga sebuah tulisan dari rekan yang juga tergabung di IGI-Ikatan Guru Indonesia melalui BBM-nya yang juga sama-sama prihatin, menitikan airmata dan ingin memberontak terkait ketidak pedulian dan kepekaan para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan di negeri kita.
***

" Menitikkan Air Mata di Hardiknas"

Usai salat subuh, saya mengubah status BlackBerry dan mengucapkan "Selamat Hardiknas". Namun saat membaca headline Tribun Timur edisi hari ini, air mata saya mengalir membaca berita berjudul "Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah."

Ya Allah, begitukah dunia pendidikan kita? Guru-guru ini ngutang bukan buat jalan-jalan ke Bali, seperti jalan-jalannya para kades yang difasilitasi para calon bupati petahana.

Guru-guru ini ngutang bukan untuk bikin baligo, banner atau stiker kampanye yang sering dilakukan calon bupati, calon gubernur atau caleg petahana yang menggunakan dana "APBD" atau memeras pengusaha untuk mempertahankan kekuasaannya.

Guru-guru ini ngutang bukan untuk pertemuan-pertemuan semu. Guru-guru ini berutang Rp 42 juta untuk membantu keberangkatan siswa SMAN 1 Bulukumba ke Turki untuk mengikuti International Environmental Project Olympiad(Inepo) setelah berhasil meraih Silver Medal International Science Project Olimpad (Ispo) di Jakarta.

Lomba ini hanya diikuti 50 negara dengan 125 proyek penelitian. Sebuah keberhasilan luar biasa yang dicapai oleh dua orang anak kampung dari Bulukumba.

Sedih rasanya jika melihat kondisi ini: anak-anak kampung ini berhasil tembus ke Turki tentunya mewakili kita semua di Indonesia, di Sulsel dan tentunya mereka di Bulumba. Tapi kenapa pemda begitu sulit membantu mereka.

Mana itu para caleg terpilih yang katanya peduli? Mana itu bupati yang mungkin tak lagi peduli karena tak bisa lagi mencalonkan diri? Mana itu gubernur dan wagub hingga presdien? Mengapa guru-guru yang harus berutang?

Entah berapa banyak dana yang telah dialihkan ke tujuan lain dari APBD kabupaten dan provinsi di Sulsel ini. Entah berapa banyak APBD/APBN yang telah disikat koruptor. Tapi mengapa dana Rp.42 Juta tak mampu disediakan?

Selamat Hadiknas. Upacara saja tak cukup membuat pendidikan kita lebih baik. Andaikan biaya transport menuju lapangan dan biaya konsumsi dikumpulkan, mungkin lebih dari Rp 42 juta bisa terkumpul.

Salam 
Muh. Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Wilayah Sulsel

Semoga kejadian ini membuka mata semua pihak, kami sudah bosan menyaksikan jargon-jargon pendidikan yang penuh dengan kebohongan. Pilihan kita kali ini hanya satu fokus saja, Re-Evaluasi atau Revolusi Pendidikan.

Salam Revolusi Pendidikan,
Bismillah

2 Mei 2013

Sahabatku, Selamat Merayakan Hari Pendidikan Nasional

Demo Guru "May day"



Malam ini tepat pukul 01.00 WIB di tengah keheningan malam saya mencoba kilas balik ke sebuah perjalanan menjadi seorang pendidik di jenjang pendidikan SMP selama 24 tahun. Sungguh banyak hal yang bisa diceritakan, namun sayangnya pada malam ini rasanya pikiran ini begitu kalut dan beku. Entahlah, pikiran dan hati ini rasanya sumpek. Tak terasa butiran airmata ini menetes, ada rasa risau dan pedih akan suasana yang tak begitu beruntung bagi anak-anak didik dan para pendidik di kita saat ini. Bukan masalah finansial saja yang terlintas dalam ingatan ini, sesuatu yang mengenaskan ini berawal dari pemberitaan yang begitu bombastis oleh karut marutnya pengelolaan UN SMA yang gagal bareng untuk 11 provinsi di tanah air yang kemudian berlanjut ke berbagai kritik tajam di media dari berbagai pihak tentang tanggungjawab kemdikbud dan guru di lapangan. 

Selain masalah di atas, belakangan juga muncul masalah baru terkait organisasi profesi guru. Masing-masing loyalis organisasi guru mulai saling mempertanyakan eksistensi dari organisasi guru kini kian marak bermunculan seperti jamur di musim hujan. Nampaknya tak terelakan lagi, selain seragam semua loyalis organisasi guru melayangkan hujan kritik ke pihak kemdikbud yang dinilai gagal, juga loyalis organisasi guru ini nyata mulai saling hujat dan saling menggembosi. Eksistensi organisasi guru yang esensinya untuk memperjuangkan nasib, hak-hak guru dan mengawal berbagai kebijakan terkait pendidikan, dikhawatirkan malah menjadi tidak fokus dan mengalami polarisasi masalah.

Harapan,besok sebagian besar guru dan siswa di seluruh Indonesia akan mengikuti upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pasti padat dengan kegiatan seremonial dan sambutan-sambutan yang berisikan jargon-jargon kosong. Mudah-mudahan arwah para pendiri bangsa ini, pendiri dan perintis pendidikan negeri ini tidak bangkit dan bersedih hati, Tuhan pasti mengganjar amal baik mereka dengan balasan yang jauh lebih baik. Semoga pula Tuhan mengembalikan hati para penentu kebijakan pendidikan di negeri ini menjadi benar-benar terbuka hatinya, bukan sekedar menjadi gumpalan darah. Aamiin

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2013

Salam Pendidikan.. Bismillah

Majalengka, 02 Mei 2013
Pak Guru Tonjong