Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

2 Mei 2014

Saatnya Pendidikan Indonenesia Melakukan Re-Evaluasi atau Revolusi. Bismillah




Diawali dengan membacaa berita dari berbagai media termasuk media sosial facebook grup guru, guna mengetahui apa saja yang terjadi di saat sakral peringatan Hardiknas 02 Mei 2014. Satu persatu ditelaah, dimulai dari bagaimana rekan guru yang tergabung dengan AGTIKNAS berjuang melakukan demo di Jakarta, sekali pun hanya sedikit guru yang terlibat namun karena suport dari para mahasiswa akhirnya pendemo dari guru yang tergabung di AGTIKNAS yang dimotori Omjay (Pak Wijaya Kusumah,M,Pd) dan rekan-rekan seperjuangannya bisa menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh di kantor Kemendikbud, sayangnya tetap tidak memperoleh jawaban yang memuaskan artinya tetap mata pelajaran TIK dan KKPI dihapus, tercampakkan dari Kurikulum Nasional 2013.


Berikutnya hati ini merasa lebih tersayat lagi dengan berita yang dimuat di TribunNews Makasar. MasyaAlloh.. lewat judul Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah nampak jelas pemangku kebijakan di semua tingkatan tidak peduli lagi sama kemajuan anak bangsanya. Lantas ingat bahwa tema Hardiknas tahun ini adalah " Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul." Apa artinya tema tersebut sementara kejadiannya sangat ironis, siswa yang sudah unggul saja tidak ada yang peduli..?

Dalam kepedihan hati yang dalam karena saya merasa menjadi bagian dari guru pendidik di tanah air tercinta ini tentunya hanya bisa menitikan air mata. Dibawah ini saya posting ulang juga sebuah tulisan dari rekan yang juga tergabung di IGI-Ikatan Guru Indonesia melalui BBM-nya yang juga sama-sama prihatin, menitikan airmata dan ingin memberontak terkait ketidak pedulian dan kepekaan para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan di negeri kita.
***

" Menitikkan Air Mata di Hardiknas"

Usai salat subuh, saya mengubah status BlackBerry dan mengucapkan "Selamat Hardiknas". Namun saat membaca headline Tribun Timur edisi hari ini, air mata saya mengalir membaca berita berjudul "Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah."

Ya Allah, begitukah dunia pendidikan kita? Guru-guru ini ngutang bukan buat jalan-jalan ke Bali, seperti jalan-jalannya para kades yang difasilitasi para calon bupati petahana.

Guru-guru ini ngutang bukan untuk bikin baligo, banner atau stiker kampanye yang sering dilakukan calon bupati, calon gubernur atau caleg petahana yang menggunakan dana "APBD" atau memeras pengusaha untuk mempertahankan kekuasaannya.

Guru-guru ini ngutang bukan untuk pertemuan-pertemuan semu. Guru-guru ini berutang Rp 42 juta untuk membantu keberangkatan siswa SMAN 1 Bulukumba ke Turki untuk mengikuti International Environmental Project Olympiad(Inepo) setelah berhasil meraih Silver Medal International Science Project Olimpad (Ispo) di Jakarta.

Lomba ini hanya diikuti 50 negara dengan 125 proyek penelitian. Sebuah keberhasilan luar biasa yang dicapai oleh dua orang anak kampung dari Bulukumba.

Sedih rasanya jika melihat kondisi ini: anak-anak kampung ini berhasil tembus ke Turki tentunya mewakili kita semua di Indonesia, di Sulsel dan tentunya mereka di Bulumba. Tapi kenapa pemda begitu sulit membantu mereka.

Mana itu para caleg terpilih yang katanya peduli? Mana itu bupati yang mungkin tak lagi peduli karena tak bisa lagi mencalonkan diri? Mana itu gubernur dan wagub hingga presdien? Mengapa guru-guru yang harus berutang?

Entah berapa banyak dana yang telah dialihkan ke tujuan lain dari APBD kabupaten dan provinsi di Sulsel ini. Entah berapa banyak APBD/APBN yang telah disikat koruptor. Tapi mengapa dana Rp.42 Juta tak mampu disediakan?

Selamat Hadiknas. Upacara saja tak cukup membuat pendidikan kita lebih baik. Andaikan biaya transport menuju lapangan dan biaya konsumsi dikumpulkan, mungkin lebih dari Rp 42 juta bisa terkumpul.

Salam 
Muh. Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Wilayah Sulsel

Semoga kejadian ini membuka mata semua pihak, kami sudah bosan menyaksikan jargon-jargon pendidikan yang penuh dengan kebohongan. Pilihan kita kali ini hanya satu fokus saja, Re-Evaluasi atau Revolusi Pendidikan.

Salam Revolusi Pendidikan,
Bismillah

10 Maret 2014

Refleksi: Guru itu Digugu dan Ditiru


Guru itu Digugu dan Ditiru 
Oleh : Itje Chodidjah, Catatan, 9 Maret 2014 pukul 23:01

Slogan guru digugu dan ditiru ini ini memiliki makna yang dalam bagi kehidupan seorang guru. Landasan falsafah di balik slogan ini adalah bahwa sosok seorang guru dapat dipercaya dan ditiru. Hal ini mengisayaratkan bahwa dalam berbagai kegiatan kehidupan, masyarakat berharap guru sebagai tauladan. Ketika di sekolah guru menjadi panutan bagi siswanya.

Dalam konteks sekolah, guru dipercaya karena diharapkan guru akan selalu menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan siswanya baik secara akademis maupun pribadi. Guru juga diharapkan bertingkahlaku sesuai dengan azas moral dan adat istiadat setempat. Secara komulatif diharapkan hasil pendidikan di sekolah dengan anak didik yang berasal dari berbagai keluarga yang berlatar belakangnya berbeda akan menjadi kelompok masyarakat yang madani. 

Sekolah yang penyenggaraannya harus dipimpin oleh para guru memiliki peranan penting bagi tumbuh kembangnya masyarakat. Tingkah laku yang muncul di masyarakat mau tidak mau tetap diwarnai oleh apa yang dianut oleh para guru, yang didalamnya ada kelompok kepala sekolah dan pengawas sekolah, dalam menyelenggarakan proses mendidik.

Bertanggung jawab
Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus memahami bahwa ia sedang memutuskan untuk menjadi bagian dari kehidupan individu-individu yang dididiknya. Secara bawah sadar, anak didik yang bernaung di kelasnya berharap banyak bahwa mereka akan mendapat berbagai pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidupnya. Harapan tersebut tentu saja juga merupakan harapan orang tua, masyarakat, dan negara.

Dalam rangka melaksanakan tugasnya tersebut, sebagai guru, ada tiga aspek penting yang tidak dapat dipisahkan yaitu kemampuan mendidik, ketrampilan mengajar, dan memimpin. Ketiga hal tersebut tidak cukup didapatkan melalui jenjang pendidikan formal. Diperlukan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat melalui pengayaan pengetahuan, peningkatan berbagai ketrampilan serta peningkatan kualitas beringkah laku dan bertutur kata. Inilah wujud bahwa memilih profesi guru menuntut kesadaran untuk bertanggung jawab atas kemampuan dirinya agar dapat memampukan anak didiknya.

Selain itu wujud tanggung jawab seorang guru adalah pada keasadaran dirinya untuk menjdi tauladan bagi lingkungan. Masyarakat pada umumnya melihat guru sebagai ukuran moral seseorang. Masarakat tidak perlu tahu seorang guru mengajar dimana dan mengampu pelajaran apa, ketika disebut guru maka yang terpikir adalah sosok seorang yang menampilkan sikap moral yang luhur. Ketika terdengar pelanggaran yang bersifat moral dilakukan oleh seorang guru maka seolah-olah kecaman jauh lebih berat. Oleh sebab itu tanggung jawab untuk menampilkan diri sebagi sosok yang dipercaya baik oleh siswa maupun masyarakat menjadi sangat penting.

Menjadi sosok yang tetap dipercaya

Agar menjadi sosok yang tetap dipercaya seorang guru perlu meningkatkan berbagai pengetahuannya, bukan hanya pengetahuan tentang mata pelajaran yang ditekuni saja. Pengetahuan tentang seluk beluk perkembangan fisik dan mental anak wajib dipahami oleh setiap individu agar guru bisa membantu siswa lebih maksimal. Pengetahuan merancang proses pembelajaran yang bervariasi juga mutlak dikuasai guna memahami cara mengelola kelas yang memberi kesempatan anak didik untuk belajar. Guru perlu menguasai pengetahuan untuk memimpin dan menfasilitasi pembelajaran secara menyeluruh. Masih banyak lagi tentunya daftar pengetahuan yang perlu dikuasai oleh seorang guru.

Namun seluas apapun pengetahuan seorang guru belum akan berdampak pada pelaksanaan tugas profesinya sebelum diwujudkan dalam ketrampilan dan kecakapan praktis serta tingkah laku. Komunitas sekolah dan kelas memiliki fungsi sebagai laboratorium yang dinamis bagi para guru, termasuk di dalamnya kepala sekolah maupun pengawas sekolah untuk mengasah ketrampilan mengajar, mendidik, dan memimpin berdasarkan pengethuan yang dikuasai. Di dalam kelas guru mengimplementasikan pengetahuan pengelolaan siswa, aktifitas dan materi ajar, guna memenuhi hasrat belajar setiap individu anak didik. Setiap saat guru wajib melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Dengan demikian guru secara otomatis meningkatkan ketrampilan dan sikapnya.

Guru dalam setiap langkahnya diharapkan memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas siswanya. Dalam kelas dimana setiap anak memiliki hak untuk berkembang, menuntut guru untuk selalu bersikap adil dalam melayani anak didik. Keadilan mengelola siswa adalah wujud upaya guru agar tetap dipercaya baik oleh siswa maupun masyarakat.

Wahai guru di tanganmulah negeri ini menitipkan kaum mudanya untuk dikembangkan menjadi warga negara yang akan tetap menjunjung tinggi martabat bangsa.

Repost dari catatan: Bu Itje Chodidjah

4 Maret 2014

Sistem Jejaring Pendidikan Post Modern Minimalis, Segera Bangunkan..!


Al-ummu madrasatul'ula adalah sebuah proses pendidikan minimalis dalam dunia pendidikan Islam, pendidikan bagi ummat secara cerdas dan beradab biar generasi Islam bisa hidup selamat dalam sesuai zamannya.  Belajat ber-highttech tentu bukan hal tabu asal diatur dalam kadar tertentu dan IT hanya digunakan sekadar alat semodel drive guna bahan iqra ilmu pengetahuan, tapi sekali lagi cukup seperlunya saja dengan kontrol yang bijak dari orang tuanya sendiri. Dengan cara demikian diharapkan hasil nyata buah pendidikan minimalis terbaik bagi generasi penerus ummat ini tidak perlu menunggu 5 apalagi sampai 20 tahun.

Untuk itu perlu segera lahir generasi cerdas yang siap mengarungi zaman post modern ini. Kurikulum sepanjang zaman adalah kurikulum dengan sistem pembelajaran yang pernah dicontohkan dan diterapkan oleh Rasulullah SAW kepada keluarga dan para shahabatnya yang mulia. Untuk itu kita patut kilas balik ke belakang bagaimana contoh terbaik tersebut bisa kita ketahui dan diimplementasikan kembali pada generasi kita di masa kini. Pernyatan generasi terbaik ummat pada zaman itu telah jelas lewat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qu'ran (yang artinya):

“Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)

Diperkuat lagi dengan pernyatan Rasulullah SAW yang membenarkan atas kemulian dari generasi tersebut, melalu berbagai hadits yang diantaranya hadits berikut ini (yang artinya): 

1. Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
2. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)

Tengoklah pula sejarah bangsa kita, kita pun telah lahirkan orang-orang hebat di negeri ini dan turut serta memperjuangkan kebebasan dari cengkraman kaum kufar dan sejarah mencatat bahwa para pejuang terbaik bangsa kita itu didominasi oleh para ulama Islam yang tersebar di berbagai daerah, yang kini bisa kita saksikan nama-namanya digunakan sebagai penanda nama jalan.

Saat ini kemajuan dan kemandirian dalam perjuangan dan sistem pendidikan (sekolah) hanyalah janji kosong, dengan diwarnai oleh budaya hidup transaksional dan koruptif serta telah merambah ke berbagai ranah kehidupan kita. Prediksi dan janji yang tak jelas dari para tokoh baik pendidikan maupun politik, sudah seperti info basi dalam keseharian dan celakanya menjadi budaya permisif dalam hidup dan kehidupan di bangsa kita.

Belakangan ini melalui para ahli pendidikan, konon Profesor, Doktor, master pendidikan pun berebutan gagasan dan ide untuk sebuah project pendidikan modern di era abad 21, ditenggarai pendanaan atas hal tersebut diperoleh dari titipan asing (hibah, bantuan, perjanjian bilateral dan multilateral, dll.) , Mengemas konsep kemajuan dengan prediksi, umbar janji dan kutak-katik konsep untuk sistem pendidikan nasional namun tidak berdasar fakta dan penelitian yang matang serta transparan menjadikan sistem pendidikan melalui kurikulum baru (Kurikulum 2013) banyak menuai kritik dan juga cemoohan berbagai kalangan.

Tentu keyakinan bahwa bangsa ini harus maju, siapa pun akan membenarkannya. Namun jangan mengklaim bahwa pendidikan pada bangsa Indonesia ini maju hanya bisa lewat dunia pendidikan persekolahan saja. Kita bisa melahirkan generasi manusia termaju dan bangsa beradab bila konsepnya mampu membangun sinergitas antar elemen masyarakat. Maka hal yang penting perlu digalang sebagai basis sistem pendidikan kita adalah memantapkan sistem solusi jejaring pendidikan (network education solutions), yang asas terpentinya ditandai dengan adanya kesatuan hati, kesatuan pikir dan kesatuan gerak dari semua pihak dalam tataran masyarakat.

Kurikulum 2013 betul masih baru mulai, namun kegagalan konsepnya itu telah nampak. Nyatanya hari ini sang menteri pendidikannya sendiri pun selalu melempar wacana, justru ditengah implementasi kurikulum baru itu sudah berjalan, bukankah itu menjadi pertanda bahwa kurikulum pendidikan nasional baru tidak disiapkan dengan matang? Lebih nyinyir lagi sang meteri dihadapan media dan DPR selalu menjual diri dengan menyalahkan ketidaksiapan dan kekurangan yang ada pada gurunya, yang notabene justru dibawah binaannya.

Prihatin, seluruh produk layanan pendidikan formal di kita saat ini pun tak bisa lepas dari praktek busuk manajemen transaksional, lembaga pendidikan yang jadi barometer kemajuan bangsa sangat sulit dibersihkan dari budaya korupsi, malah lebih jauh lagi output pendidikan kita naga-naganya hanya siap melahirkan generasi manusia yang manut sebagai operator, robot, cyborg, laksana JELANGKUNG terprogram yang gerak hidup matinya bergantung pada sang programmernya. Artinya, generasi harapan kita nantinya itu lemah untuk punya kesadaran tinggi, apalagi yakin bahwa hidup manusia di dunia ini hanya sementara waktu saja. 

Mari kita ingat kembali bahwa tugas suci manusia selaku hamba Tuhan. Tugas suci tersebut kita tiada lain untuk beribadah, terampil bermuamalah, bemuasyaroh dan berakhlaq mulia. Disamping amanat kedua lainnya yakni sebagai khalifah di muka bumi (khalifah filardhi) yang harus bijak dan berwawasan akan keselamatan lingkungan semesta dalam koridor agama. 

Perlu kita semua mengurut dada, banyak program pendidikan kita akhirnya menjadi pelengkap dagelan dalam dunia politik saat ini. Walau bagaimana pun sistem pendidikan adalah hasil dari produk politik kenegaraan kita yang semestinya prokemanusian (menghantar ke tugas suci), sayang semuanya berbanding terbalik. Sistem pendidikan, sistem sosial ekonomi budaya kemasyarakatan, budaya hukum, budaya seni, budaya demokrasi dan budaya politik kita saat ini malah manut sistem tak beraturan cenderung bereksperimen dan mencatut referens dari negara yang nyata telah gagal dalam mendidik dan membangun karakter masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebut saja Sionis, Mulyadi dan Mamarika, trimitra pendidikan budaya barat modern tersebut terus menggedor alam pikir para tokoh bangsa yang konon beradab ini. Namun apa yang kita saksikan, hari-hari kita terima berita tokoh A, tokoh B, tokoh C terjerat korupsi. Dalam dunia pendidikan, mahasiswa di A, siswa di B, orang tua murid di D melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan jauh dari akal sehat selaku manusia yang beragama.

Catatan penting kita yang patut diingat. Mulai dari mana kita memperbaiki semua kegagalan ini..? Ataukah kita sebagai pendidik dan warga bangsa ini akan tetap hanyut ikut cara pikir dan solusi yang ditawarkan antek-anteknya Sionis, Mulyadi dan Mamarika ? Sudah jelas mereka telah sukses mengeruk keuntungan dari sumber daya alam milik kita, akankah kita relakan generasi penerus kita tetap jadi kacung dan menunduk pada tipuan mereka..?

Sebagai pendidik saya tidak ikhlas, cukup. Segera sudahi permainan mereka tersebut dan segera jadikan Al-ummu madrasatul'ula bangkitkan kembali. 
Bangunlah Bangsaku, Bangun Pendidikan di Keluarga kita..!

Bismillah

3 Mei 2013

Ingat Ujian Nasional ? Ketahuilah Dapurnya Itu BSNP


Sebuah perhelatan akbar dari dunia pendidikan di tanah air ini adalah Ujian Nasional (UN) dan untuk UN-UASBN 2013 pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI sederajat) masih berlangsung. Beberapa hari terakhir ini berbagai kalangan menyorot dan menyoal pelaksanaan UN 2013 yang karut marut, berbagai ragam tanggapan bisa kita saksikan di berbagai media massa  nasional, bahkan tokoh-tokoh nasional pun buka suara, ada yang menilai bahwa Ujian Nasional (UN) tahun 2013 ini dikatakan yang 'terburuk' sepajang sejarah berdirinya Republik ini. Sungguh miris. Lantas siapa atau lembaga mana yang dipertanyakan dan menjadi pengendali utama dalam UN ini? Apakah Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (kemdikbud) atau terlibat juga ada lembaga lainnya, sesuai yang diedarkap pada di POS UN 2013 yang ini sepertinya hanya kalangan terbatas yang mengetahuinya, bahwa Petunjuk Operasional Standar UN (POS UN) itu dikeluarkan oleh BSNP.

Apa itu BSNP ?

Terkadang istilah BSNP dan BNSP ini di kalangan para pendidik, guru atau pun para pemerhati pendidikan sering tertukar penyebutannya. Padahal keduanya amat berbeda fungsi dan tugasnya. Adapun persamaannya adalah keduanya berbentuk badan atau lembaga mandiri profesional, dan bertanggung jawab langsung ke Presiden, serta keduanya tentu diperuntukan untuk sama-sama mengemban amanat bertanggung jawab atas kemajuan, kebermutuan pendidikan di Indonesia yang selalu berkordinasi secara intens dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI). Istilah BSNP adalah singkatan dari Badan Standar Nasional Pendidikan, sedangkan BNSP adalah Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) merupakan lembaga mandiri, profesional, dan independen yang mengemban misi untuk mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi pelaksanaan standar nasional pendidikan.

Tugas dan Kewenangan BSNP

BSNP bertugas membantu Menteri Pendidikan Nasional dan memiliki kewenangan untuk:
  1. Mengembangkan Standar Nasional Pendidikan
  2. Menyelenggarakan Ujian Nasional (UN)
  3. Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan
  4. Merumuskan kriteria kelulusan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah
  5. Menilai kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran
Standar yang dikembangkan oleh BSNP berlaku efektif dan mengikat semua satuan pendidikan (lihat BAN-S/M) secara nasional.

BSNP dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih oleh dan dari anggota atas dasar suara terbanyak. Dalam menjalankan tugasnya, BSNP didukung oleh sebuah sekretariat yang secara ex-officio diketuai oleh pejabat Departemen Pedidikan Nasional (Depdiknas) yang ditunjuk oleh Mendikbud. BSNP dapat menunjuk tim-tim ahli yang bersifat adhoc sesuai kebutuhan.

BSNP didukung dan berkoordinasi dengan Kemdikbud dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama, dan dinas yang menangani pendidikan di provinsi/kabupaten/kota.

sumber : BSNP

Ohh apa dan siapa itu BNSP ?


Ditulis oleh Administrator BNSP


Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2004 atas perintah UU Nomor 13 tahun 2003, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi, utamanya pasal 4 Ayat 1) : Guna terlaksananya tugas sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, BNSP dapat memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi yang memenuhi persyarataan yang ditetapkan untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja. Ayat 2) : Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian lisensi lembaga sertifikasi profesi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1) ditetapkan lebih lanjut oleh BNSP.

BNSP merupakan badan independen yang bertanggung jawab kepada Presiden yang memiliki kewenangan sebagai otoritas sertifikasi personil dan bertugas melaksanakan sertifikasi kompetensi profesi bagi tenaga kerja.

Pembentukan BNSP merupakan bagian integral dari pengembangan paradigma baru dalam sistem penyiapan tenaga kerja yang berkualitas. Berbeda dengan paradigma lama yang berjalan selama ini, sistem penyiapan tenaga kerja dalam format paradigma baru terdapat dua prinsip yang menjadi dasarnya, yaitu : pertama, penyiapan tenaga kerja didasarkan atas kebutuhan pengguna (demand driven); dan kedua, proses diklat sebagai wahana penyiapan tenaga kerja dilakukan dengan menggunakan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi (Competency Based Training / CBT).

Pengembangan sistem penyiapan tenaga kerja dengan paradigma baru ini dimulai pada awal tahun 2000 yang ditandai dengan ditandatanganinya Surat Kesepakatan Bersama (SKB) antara Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pendidikan Nasional, Ketua Umum Kadin Indonesia. Didalam SKB tersebut disepakati pembentukan Badan Nasional Pendidikan dan Pelatihan Profesi (BN3P) sebagai wadah untuk pengembangan CBT di Indonesia. Pada awalnya BN3P diusulkan untuk dibentuk berdasarkan keputusan Presiden (Keppres). Tetapi setelah pembahasan mendalam secara lintas – sektoral bersama dengan Sekretariat Negara (Sekneg) pada tahun 2001 akhirnya disepakati untuk diusulkan pembentukannya berdasarkan Undang – Undang.

Mempertimbangkan bahwa pengusulan secara khusus pembentukan BN3P yang kemudian berubah menjadi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) berdasarkan Undang – Undang pada waktu itu diperkirakan membutuhkan waktu yang lama. Maka untuk memudahkan proses dan sekaligus mempersingkat waktu akhirnya disepakati untuk memasukkan pembentukan BNSP kedalam Rancangan Undang – Undang Ketenagakerjaan yang pada tahun 2002 dalam proses pembahasan dengan DPR-RI. Pada tahun 2003, Undang – Undang No. 13 disahkan yang didalamnya secara eksplisit mencantumkan tentang prinsip – prinsip pelatihan tenaga kerja berdasarkan paradigma baru dan menetapkan BNSP sebagai pelaksana sertifikasi kompetensi kerja. 

sumber: BNSP

2 Mei 2013

Remarks: MINISTER OF EDUCATION AND CULTURE OF WARNING NATIONAL EDUCATION DAY YEAR 2013 THURSDAY, 2 MAY 2013


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Good morning and best wishes for all of us, 
Attendees, participants of the ceremony were happy, 


Alhamdulillah, let us be ever grateful into the presence of Illahi Rabbi, God Yang Maha Esa, because thanks to grace and hidayah-His, we are all of still given the opportunity, strength, health, and love of so that we can carry out commemoration Education Day of National, May 2nd, 2013, inside a healthy state and full spirit. 

Through this warning, please allow me, on behalf of the Government would like to express our gratitude and highest appreciation to all employees of education, local government, organizations engaged in education and other stakeholders for any effort, care and attention given in developing world education. We pray in order that the figures and fighters education which have preceded us obtain the place who decent side of-His and us all of who at this time obtain amanah for manage education was given strength, intelligence, and patience in preparing generations future a better. 

In this opportunity, I would like to convey greeting "Congratulations Day National Education, dated May 2, 2013". Hopefully all the ikhtiar us for advancing the world of education become increasingly qualified and access to education for the people of Indonesia as a whole increasingly an open and can be immediately materialize. 

Upper behalf of Ministry of of Education and Culture, please allow me delivered an apology as sincerely as-of his sincere top of issue of organization of National Exam Levels SMA are equal years of lesson 2012/2013. This case we must make a very valuable lesson in providing educational services to the community. 

Attendees were happy, 
Like the body, to be resistant to various diseases, immunity power must be increased, one of the efforts is through vaccination. In a social perspective, there are three very large social ills negative impact: (i) poverty, (ii) ignorance, and (iii) retardation civilized. 

How do I increase resistance (immunity) to avoid a third social kinds of disease? The answer is education. Therefore, education can be a social vaccine. Aside from being a social vaccine, education is also a social elevator to improve social status. 

Two things that the underlying theme of this year's National Education Day, which is "Improving Quality and Access to Justice". We need a vaccine and the social elevator so we avoid the three diseases and also to improve the social status. The theme is a reflection of the answer to the challenges, problems, and aspirations of the community in setting up a better generation. 

Educational services should can be reach out to entire layers of society in accordance with the principle educational for all (Education for All) without distinguish the origins, social status, economic, and cantonal. Attendees were happy, the 1945 Constitution mandates that every citizen has the right to basic education and the state is obligated to finance it (Article 31, paragraphs 1 and 2 of the 1945 Constitution). Therefore, the central and local governments together with the community has been trying to fulfill the mandate through the construction of schools throughout Indonesia, including in the area of ​​3T (frontier, outer, and left behind). 

Access to education is affected by the availability and affordability of education unit financing. For that, the government continues to constantly prepare availability educational unit who decent, especially in regions 3T, including in it delivery of teachers' through program Bachelor Educate in regions 3T (SM3T). In terms of affordability government has set up the School Operational Assistance (BOS) for primary and secondary education, Operational Support State University (BOPTN), Help Poor Students (BSM), Shutter Mission and Scholarship. 

In 2013, has prepared a budget of Rp 7.8 trillion for BSM. During that, since two years last, has been was opened several public universities (including the Academy Community) in regions the border and in the some regions which assessed strategic. Besides being a center of excellence to the spread of the college, also acts as a safety belt for social and political integrity of the Unitary Republic of Indonesia. To that, had been prepared policy-special opportunity for sons-daughter Papua, Papua West, and regions 3T another to become student in various universities best in Indonesia through program affirmations higher education (afirmasi pendidikan tinggi-ADIK). 

In this occasion anyway I would like to invite to the all the lover the world of education for the together-together opened the posko anti drop out (DO) or anti drop out school in early year later lessons. We want to make sure in order that our children can continue their education to pursue higher degrees, especially from basic education level to medium sized. 

Attendees were happy, 
As part of efforts to improve the quality of education, Insha Allah start the school year 2013/2014 will be applied Curriculum 2013 for primary education and secondary gradual and limited. Gradually, means the curriculum is not implemented in all classes at all levels, but only in class 1 (one) and grade 4 (four) for the elementary school level, and grade 7 (seven) for junior high, and grade 10 (ten) for SMA and SMK . 

Limited means that the number of schools that implement tailored to the level of school readiness. Curriculum 2013 is designed to produce graduates who have the knowledge competencies, skills, and attitudes as a whole. This is important in order to anticipate the needs of competence 21st century and prepare the next generation of gold in 2045. 

Attendees were happy, 
Finally, let us increase the effort and sincerity us in providing educational services to the community. I offer my congratulations commemorate Education Day of National to the all educators, educational personnel, learners, instigators of and lovers of world of education in throughout land of water. Hopefully what which we are doing in the world of education during this, became part of the charity of worship us. Amen. 

Thank you. 
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Jakarta, May 2, 2013 
Minister of Education and Culture 

Mohammad Nuh 

souce : kemdikbud

Sahabatku, Selamat Merayakan Hari Pendidikan Nasional

Demo Guru "May day"



Malam ini tepat pukul 01.00 WIB di tengah keheningan malam saya mencoba kilas balik ke sebuah perjalanan menjadi seorang pendidik di jenjang pendidikan SMP selama 24 tahun. Sungguh banyak hal yang bisa diceritakan, namun sayangnya pada malam ini rasanya pikiran ini begitu kalut dan beku. Entahlah, pikiran dan hati ini rasanya sumpek. Tak terasa butiran airmata ini menetes, ada rasa risau dan pedih akan suasana yang tak begitu beruntung bagi anak-anak didik dan para pendidik di kita saat ini. Bukan masalah finansial saja yang terlintas dalam ingatan ini, sesuatu yang mengenaskan ini berawal dari pemberitaan yang begitu bombastis oleh karut marutnya pengelolaan UN SMA yang gagal bareng untuk 11 provinsi di tanah air yang kemudian berlanjut ke berbagai kritik tajam di media dari berbagai pihak tentang tanggungjawab kemdikbud dan guru di lapangan. 

Selain masalah di atas, belakangan juga muncul masalah baru terkait organisasi profesi guru. Masing-masing loyalis organisasi guru mulai saling mempertanyakan eksistensi dari organisasi guru kini kian marak bermunculan seperti jamur di musim hujan. Nampaknya tak terelakan lagi, selain seragam semua loyalis organisasi guru melayangkan hujan kritik ke pihak kemdikbud yang dinilai gagal, juga loyalis organisasi guru ini nyata mulai saling hujat dan saling menggembosi. Eksistensi organisasi guru yang esensinya untuk memperjuangkan nasib, hak-hak guru dan mengawal berbagai kebijakan terkait pendidikan, dikhawatirkan malah menjadi tidak fokus dan mengalami polarisasi masalah.

Harapan,besok sebagian besar guru dan siswa di seluruh Indonesia akan mengikuti upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pasti padat dengan kegiatan seremonial dan sambutan-sambutan yang berisikan jargon-jargon kosong. Mudah-mudahan arwah para pendiri bangsa ini, pendiri dan perintis pendidikan negeri ini tidak bangkit dan bersedih hati, Tuhan pasti mengganjar amal baik mereka dengan balasan yang jauh lebih baik. Semoga pula Tuhan mengembalikan hati para penentu kebijakan pendidikan di negeri ini menjadi benar-benar terbuka hatinya, bukan sekedar menjadi gumpalan darah. Aamiin

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2013

Salam Pendidikan.. Bismillah

Majalengka, 02 Mei 2013
Pak Guru Tonjong

1 Mei 2013

Reportase: Starting From Data, Master Chaotic Professional Allowance

Indonesian teacher demonstration
Indonesian Education Ministry crisis of confidence, criticized harshly by PGRI (Indonesian Teachers Association). Chairman of the Indonesian Teachers Association (PGRI) Sulistiyo said, until now there are still reports of professional allowances that have not been to. Improvement of teacher education as well just not taken care of by the ministry.

According Sulistiyo, the amount of the education budget in the state budget (Budget) does not have much effect on the completion of education issues, including teacher allowances delays and there is no certainty the status of part-time teachers.

"Kemdikbud lot of money, until the remains. Fact, in the area of ​​teachers in the school itself. Said channeled, but baseball is the recipient. So, ask the Education Minister channeled through PGRI," said Sulistiyo after meeting with the Education Minister in Kemdikbud, Jakarta, Tuesday (30.04.2013).

Chaotic allowance that would not go up until today was originated from the data in Kemdikbud teachers are not good. To that end, PGRI requested that Data Basic Education (Dapodik) is the reference data to be abolished.

"We can report to April 30, many are not yet up. Problem turned out to exist in dapodik. To that end, we propose dapodik removed sebagari qualified to receive professional allowances," said Sulistiyo.

As for the completion of temporary employees, the ministry will hold PGRI to fix it. Thus, the temporary employees who had been assessed as very low income will soon be resolved and earn a reasonable minimum.

"So, immediately before the completion of honorary workers form a team, consisting of Kemdikbud, teachers and principals," he said.

news source: kompas grup

27 April 2013

ISLAM, Resmi Masuk Kurikulum Pendidikan di AMERIKA (AS)


Berbagai peristiwa yang menyudutkan, malah membuat nama Islam naik daun. Warga Amerika Serikat (AS) menyambut positif Islam masuk ke dalam kurikulum pendidikan sekolah. Materi mengenai Islam ini dimasukkan ke dalam pelajaran Social studies dan juga dipelajari di sekolah-sekolah publik di Negeri Paman Sam.

Hal itu disampaikan Imam Pusat Kebudayaan Islam di AS, Ustadz Shamsi Ali, usai mengisi dialog antaragama di auditorium Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), 28 Maret 2013.

Menurutnya, respons yang diterima oleh siswa di AS terhadap pelajaran itu sangat positif.

"Islam sudah lama ada di dalam kurikulum pendidikan di AS. Biasanya, itu dimasukkan ke dalam pelajaran social studiesyang mempelajari tentang kemasyarakatan," ujar Shamsi.

Dengan berbagai peristiwa yang belakangan terjadi dan menyudutkan Islam, Syamsi menuturkan, justru malah membuat keingintahuan publik terhadap Islam semakin tinggi.

"Nama Islam jadi naik daun. Saya pun jadi semakin sering diundang untuk memberi ceramah ke sekolah-sekolah," kata pria yang menginjakkan kaki di AS sejak tahun 1997 itu.

Melihat antusiasme yang sedemkian besar, Shamsi kemudian memanfaatkannya untuk meluruskan berbagai perspektif "miring" mengenai Islam. (umi)

sumber: Islam News

Postmodernisme Tidak Memberi Kesan di Hati Ummat Muslim, Kajian Kurikulum Pendidikan Islam


Pengantar
Ternyata dunia modern yang mengukir kisah sukses secara materi dan kaya ilmu pengetahuan serta teknologi, agaknya tidak cukup memberi bekal hidup yang kokoh bagi manusia. Sehingga banyak manusia modern tersesat dalam kemajuan dan kemodernannya. Manusia modern kehilangan aspek moral sebagai fungsi kontrol dan terpasung dalam sangkar the tyrany of purely materials aims, begitu frasa Bertrand Russel dalam bukunya The Prospect of Industrial Civilazation.

Para sosiolog, sebagaimana dikutip oleh Haedar Nashir, berpendapat bahwa terdapat kerusakan dalam jalinan struktur perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat, pertama terjadi pada level pribadi (individu) yang berkaitan dengan motif, persepsi dan respons (tanggapan), termasuk di dalamnya konflik status dan peran. Level kedua, berkenaan dengan norma, yang berkaitan dengan rusaknya kaidah-kaidah yang menjadi patokan kehidupan berperilaku, yang oleh Durkheim disebut dengan kehidupan tanpa acuan norma (normlessnes). Level ketiga, pada level kebudayaan, krisis itu berkenaan dengan pergeseran nilai dan pengetahuan masyarakat, yang oleh Ogburn disebut gejala kesenjangan kebudayaan atau “cultural lag”. Artinya, nilai-nilai pengetahuan yang bersifat material tumbuh pesat melampaui hal-hal yang bersifat spiritual, sehingga masyarakat kehilangan keseimbangan.

Pengamatan para sosiolog tersebut juga disampaikan oleh Syafi’i Ma’arif dengan bahasa yang lain, bahwa modernisme gagal karena ia mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental sebagai pondasi kehidupan. Akibatnya dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam membangun peradabannya. Modernisme telah mengakibatkan nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki dan dipraktekkan oleh manusia kini terendam lumpur nilai-nilai kemodernan yang lebih menonjolkan keserakahan dan nafsu untuk menguasai.

Illustrasi krisis kemanusiaan modern ini dapat dicermati dari pelbagai ironi dalam kehidupan sehari-hari. Munculnya pelbagai alienasi (keterasingan) dalam kehidupan manusia. Ada alienasi etologis, yaitu terjadinya sebagaian masyarakat yang mulai mengingkari hakikat dirinya, hanya karena memperebutkan materi. Ada pula alienasi masyarakat, yaitu keretakan dan kerusakan dalam hubungan antarmanusia dan antarkelompok, sehingga mengakibatkan disintergrasi. Ada pula alienasi kesadaran, yang ditandai dengan hilangnya keseimbangan kemanusiaan karena meletakkan rasio atau akal pikiran sebagai satu-satunya penentu kehidupan, yang menafikan rasa dan akal budi.

Peristiwa yang lain yang merupakan ironi manusia modern adalah keyakinan bahwa hidup berdampingan dengan rukun lebih baik daripada hidup bermusuhan, namun mereka memilih atau kadang terpaksa memilih hidup gelisah dengan permusuhan. Contoh paling kontemporer adalah Presiden Goerge W. Bush memilih ‘gelisah’ dengan memilih perang, dengan biaya nilai-nilai kemanusiaan yang begitu mahal, daripada menyelesaikan permasalahan di meja perundingan (diplomasi).

Shariati berpendapat bahwa krisis kemanusiaan manusia modern berakar pada dimensi sistem kemasyarakatan dan ideologi dari kebudayaan modern yang kini dominan di hampir setiap penjuru dunia. Suatu sistem kehidupan yang serba saling bertentangan di dalam dirinya dan mengabaikan jati diri manusia. Pusat petaka itu adalah kebudayaan materi dalam alam pikiran Humanisme-antroposentris, yang menafikan kehadiran agama, yang lahir di saat awal kemunduran kebudayaan Islam dan masa Renaissance di Eropa Barat.

Perkembangan aliran Humanisme-antroposentri ini sangat kuat, terutama dalam perlawanannya terhadap pikiran teosentris. Sehingga terdapat kemungkinan adanya suatu pengaruh antitesis secara ekstrim yang mengakibatkan perkembangan humanisme-antroposentris ini sangat menolak paham teosentris. Nilai-nilai seperti individualisme, kebebasan, persaudaraan, dan kesamaan adalah mainstream paham ini.

Berawal dari penolakan secara ekstrim terhadap pikiran tentang Tuhan, keagamaan dan supranatural, pendewaan terhadap rasio dan materi yang disebarkan secara canggih melalui ilmu pengetahuan, teknologi serta proses ekonomi, politik dan budaya itulah krisis kemanusiaan merajalela sebagai konsekuensi logisnya. Dan, di saat itu umat muslim dalam masa kemunduran yang menelan mentah-metah peradaban yang dibangun dengan pondasi antitesis terhadap aliran yang bermuara pada Tuhan, agama atau supranatural.

Krisis kemanusiaan modern ini dikritik oleh banyak pemikir yang kemudian memunculkan aliran Postmodernisme. Posmodernisme menawarkan pikiran baru yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran dan lokalitas. Hanya saja, aliran ini ternyata walaupun mengusung pluralitas namun toleransi terhadap pendukung posmodernisme yang berbasic agama dirasakan kurang memberi tempat. Sehingga posmodernisme juga dipandang sebagai aliran yang tidak memiliki persingungan dengan spiritualitas dan moralitas. Secara lugas, Ahmed menilai bahwa Postmodernisme belum cukup berkesan di mata kaum muslim.

Krisis kemanusiaan yang oleh banyak pihak diyakini sebagai anak kandung dari Modernisme tidak juga mendapatkan jalan keluarnya dengan munculnya postmodernisme. Akhirnya, banyak pihak mencoba menoleh kembali kepada agama.

Islamizing Curricula
Salah satu cendekiawan muslim yang konsen pada usaha mencari solusi dari lingkaran krisis kemanusiaan tersebut adalah Ismail Raji Al Faruqi. Al Faruqi berpendapat bahwa pengetahuan modern memunculkan adanya pertentangan wahyu dan akal di kalangan umat muslim. Memisahkan pemikiran dari aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Oleh karena itu, Al Faruqi berpendapat diperlukan Islamisasi Ilmu dan upaya tersebut beranjak dari tauhid. Artinya pengetahuan islami selalu menekankan kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan serta kesatuan hidup.

Dalam konteks pendidikan, al Faruqi melontarkan kritik tajam berkaitan dengan paradigma pendidikan Islam selama ini yang mengadobsi sistem filsafat Barat, terutama tentang konsep dikotomi pendidikan. Menurutnya, dikotomi pendidikan mutlak harus dihilangkan diganti dengan paradigma pendidikan yang utuh. Konsep pendidikan Islam yang selama ini ada tidak megacu pada konsep awal tauhid. Jika Islam memandang tujuan pengembangan obyek didik untuk mencapai penyadaran atas eksistensi tuhan (tauhid), maka segala proses yang dilakukan untuk itu idealnya berakar pada konsep tauhid.

Kecermatan dan daya analisis al Faruqi dalam usaha keluar dari lingkaran krisis kemanusiaan akan dibahas dalam tulisan ini. Seberapa efektif konsep-konsep dan metodologi Islamisasi pengetahuan al Faruqi ini mampu menyumbangkan usaha keluar dari krisis kemanusiaan, terutama dalam bidang pendidikan dengan gagasan Kurikulum Pendidikan Islam-nya. Lihat Lengkap: Islamizing Curricula

Mengenai ‘Islamisasi pengetahuan’ dalam bidang pendidikan (islamizing curricula), Al Faruqi berusaha menata paradigma pendidikan Islam dalam kerangka lima tujuan rencana kerja islamisasi pengetahuan di atas. Prinsip pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang perlu dicermati adalah; pertama, menguasai sains modern; kedua, menguasai warisan Islam; ketiga prinsip kesatuan (unity) yang harus melingkupi seluruh kajian dalam kurikulum pendidikan Islam.

Prinsip penguasaan sains modern harus berupaya mengarahkan pemahaman pada tidak adanya dikotomi dalam melihat konsep keilmuan dalam Islam. Penguasaan atas warisan Islam dilakukan secara terstruktur dalam formulasi kurikulum. Warisan Islam yang dimaksud di sini adalah al Qur’an, as Sunnah, institusi Islam, kesenian, hukum, undang-undang, kalam (teologi), tasawuf, falsafah, hellenistik, metafisika, epistimologi atau sains taba’i, axiologi dan etika, serta estetika Islam.prioritas perlu dibuat dalam penguasaan khazanah Islam, terutama prinsip-prinsip pokok, masalah-masalah pokok dan tema-tema abadi seperti tajuk-tajuk yang mempunyai kemungkinan relevansi kepada persoalan-persoalan masa kini harus menjadi sasaran strategis penelitian dan pendidikan Islam.

Dari dua khazanah ini ditata sedimikian rupa sehingga menjadi menjadi satu sistem integral yang sintesis-kreatif, menjadi sebuah konsep yang integral, terpasu, dan saling melengkapi antara disiplin keislaman dan modern. Tidak menggunakan hanya khazanah Islam atau hanya khazanah modern, dan tidak juga mengunakan salah satunya, namun membuat sintesis antara kedua khazanah tersebut. Hal ini dilakukan mengingat khazanah Islam yang lama mengalami kemandegan dan keterbelakangan, sementara khazanah Barat mapu memberikan gambaran tentang latar belakang, sumber, tujuan, dampak positif dan negatif. Secara normatif, sintesis ini tidak bertentangan dengan pandangan Islam karena karakteristik pandangan Islam adalah the unity of truth.

Secara tegas, ide tentang islamisasi kurikulum yang secara filosofis dikemukan oleh al Faruqi didukung oleh Ahmed Shalabi. Menurutnya, perubahan kurikulum Islam gambaran kerangkanya harus mewarnai beberapa aspek, yaitu:

  1. Pengenalan terhadap beberap wacana seperti perbandingan agama dan islamic studies yang didefinisikan secara jernih sebagai sebuah pola filosofi baru.
  2. Adanya modifikasi atas metodologi dan prinsip pengajaran sejarah Islam.
  3. Menyelaraskan kembali materi pengajaran hukum Islam.
  4. Menghilangkan beberapa kiasan dan pengaruh sejarah Yahudi yang diintrodusir secara sengaja ke dalam beberapa kajian.
  5. Merivisi buku-buku teks dengan gaya yang menarik dan tidak membingungkan dalam memenuhi kebutuhan masa kini dan kurikulum.
Selanjutnya, untuk melengkapi pola sintesis tersebut, Ahmed Shalabi berpendapat pelajar muslim harus diperkenalkan secara intensif dengan subyek kajian mengenai pengobatan, mesin, pertanian, matematika, dan musik. Perpaduan ini pada gilirannya akan memutuskan dikotomi ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, subtansi sains dan keilmuan ada the unity of God, yang dapat diakses dari semua disiplin, termasuk kajian ilmiah. 

Analisa Metodologi Kurikulum Islam
Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa islamizing the curricula integral dalam lima kerangka kerja Islamisasi pengetahuam. Subpokok bahasan berikut berusaha untuk menganalisis secara kritis metodologi Islamisasi pengetahuan.

Memahami wawasan pemikiran seseorang adalah sangat tidak mungkin mengabaikan setting sosial dan nuansa kultural di mana orang tersebut beraktivitas serta mengapresiasikan gagasan-gagasannya. Hal ini tentunya berhubungan dengan ekstrenal individu berangkutan yang mempengaruhi dirinya.

Perjalanan hidup Al Faruqi diwarnai oleh asimilasi budaya yang tampaknya membentuk karakter unik. Pengaruh pendidikan, kondisi sosial-kultural ikut mempengaruhi karakteristik al Faruqi. Umpamanya, ketika al Faruqi di al Azhar Mesir, maka kemungkinan pengaruh yang tertanam dalam karakternya adalah spirit-loyalitas dan apresiatif terhadap agamanya.

Menurut Kafrawi Ridwan, penjelajahan intelektual al Faruqi, sangat dipengaruhi oleh kultur yang dijumpainya, telah membentuk sistem pemikiran yang bersifat bayani, burhani dan irfani sekaligus. Corak pemikiran yang bersifat bayani mencerminkan khas tipikal Arab di mana al Faruqi pernah intens di Pakistan, tempat kelahirannya. Selanjutnya, sebagai orang yang mendalami filsafat, al Faruqi bercorak pemikiran yang bersifat filosofis yang membentuk corak burhani. Sedangkan kehidupannya di Amerika yang lebih mengedepankan metodologi dan paradigma keilmuan memberikan corak pemikiran al Faruqi berwawasan irfani, untuk mengkonstruksi bangunan epistimologi Islam.

Gagasan besar al Faruqi, yaitu Islamisasi Pengetahuan mendapat tanggapan yang cukup beragam. Fazlur Rahman berpendapat bahwa islamisasi ilmu tidak perlu dilakukan. Menurutnya, yang perlu adalah menciptakan atau menghasilkan para pemikir yang memiliki kapasitas berpikir konstruktif dan positif. Bahkan, bagi Rahman mustahil dan sia-sia mengusahan ilmu yang islami, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan telah menempatkan posisinya universalnya sendiri, sehingga tidak ada sains Islam, sains kristen, sains Yahudi, sains Budha dan seterusnya.

Penanggap lain atas gagasan islamisasi ilmu antara lain Sardar, menurutnya memang diperlukan menciptakan sistem Islam yang berbeda dengan sistem Barat. Artinya, Sardar sepakat dengan gagasan islamisasi ilmu, namun Sardar kurang sepakat dengan langkah-langkah islamisasi ilmu karena mengandung cacat fundamental. Sardar berpendapat bahwa langkah-langkah yang mementingkan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu modern bisa membuat terjebak dalam westernisasi Islam. Upaya merelevansikan ini mengantarkan pengakuan bahwa ilmu Barat sebagai standar. Dengan begitu, upaya islamisasi ilmu masih megikuti kerangka (mode of thought) atau pandangan duni (word view) Barat. Oleh karenanya percuma apabila akhirnya dikembalikan standarnya pada ilmu pengetahuan Barat. Menurut Sardar, Islamisasi ilmu harus dimulai dengan membangun word view Islam dengan titik pijak utama membangun epistimologi Islam. Hanya dengan langkah inilah yang akan menghasilkan ilmu pengetahuan yang dibangun atas prinsip-prinsip Islam.

Pada dasarnya perdebatan apakah islamisasi ilmu perlu dilakukan atau tidak, berawal dari pertanyaan apakah ilmu bebas nilai atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh al Faruqi tentu berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh Rahman, sehingga mempunyai pandangan yang berbeda. Jawaban dari pertanyaan ini, selain memunculkan jawaban ya dan tidak, juga memunculkan jawaban ya pada sebagian disipilin ilmu (ilmu-ilmu sosial) dan tidak pada sebagain disiplin ilmu (ilmu-ilmu pasti).

Penulis sendiri berpendapat bahwa sangat penting untuk menformulasikan sebuah sistem, yang mempunyai paradigma berbeda dengan paradigma ilmu modern, yang banyak pakar menilai gagal membangun peradaban yang menghargai kemanusiaan. Penulis lebih sepakat dengan Sardar yang setuju dengan gagasan islamisasi ilmu dengan mode of thouht dan word view yang dikonstruk ulang. Konstruk ulang tersebut harus berpijak pada prinsip the unity of God.

Dalam fokus islamizing curricula, penulis sepakat bahwa dikotomisasi-dikotomisme ilmu pengetahuan yang berimbas pada rumusan kurikulum harus dihilangkan. Menurut Hassan Hanafi sebagaimana dikuti Abdurrahman Mas’ud dimensi akal dan wahyu tidak terjadi pertentangan, antara dimensi reason dan revelation tidak ada pertentangan dalam Islam. Islam adalah religion of nature. Alam penuh tanda-tanda, pesan-pesan ilahi yang menunjukkan kehadiran suatu sistem global. Semakin jauh ilmuwan memahami sains, maka dia akan memperoleh wisdom berupa philosophic perennis yang dalam filsafat Islam disebut transendence. Iman tidak bertentangan dengan sains karena iman adalah rasio dan rasio adalah alam. Konflik antara sains iman hanya merupakan struggle antara kekuatan yang bertikai, yakni konservatif dan progressif. Kelompok pertama bersifat tertutup dan yang kedua terbuka. Yang pertama sering menformalkan dan mendogmakan dan yang kedua mendeformalkan dan mendedogmakan.

Simpulan
Beberapa revisi terhadap konsep Kurikulum akan menghasilkan suatu sistem yang mungkin sangat berguna bagi upaya sintesa kreatif. Sintesa kreatif yang memiliki mode of thought dan word view yang formulasinya dari konsep Tauhid, yang berbeda dengan filsafat Barat. Termasuk di dalam proses ini adalah Islamizing Curricula.

26 April 2013

Barang Siapa Mengenal Akan Dirinya Maka Mengenal Pula Ia Akan Tuhannya (Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu)


Sebuah pepatah baik dari orang shaleh berbunyi ' man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu". Jika kita tidak kenal diri sendiri, bagaimana kita hendak tahu hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup kita..?  Maksud dari "Mengenal Diri" disini bukanlah mengenal bentuk dzahir; tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota badan kita. Karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita akan mengenal ke-Agunagn Alloh. Bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Maksud sebenarnya dari  'Mengenal Diri' adalah "Mengenal apa yang ada di kedalaman diri manusia yakni tiada lain, itulah hati, qalbu atau Ruh.

Memahami  " man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", para ilmuwan banyak yang berusaha menyingkap rahasia mahluk bernama Manusia, hingga munculah cabang ilmu hipnoterapy yang mengandalkan kekuatan fikiran dan perasaan, kemudian muncul buku the secret-nya Rhonda byrne yang berisi tentang kekuatan fikiran untuk mewujudkan segala keinginan dan harapan, terakhir muncul pula fenomena kekuatan-kekuatan supranatural yang mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat diterjemahkan oleh akal sehat. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa segala kekuatan dan “kehebatan” itu tidak dimiliki oleh semua orang, jawabnya tentu karena kita tidak mengenal diri sendiri, andai saja kita mengenal diri sendiri maka kita dapat mengoptimalkan segala “kehebatan” yang tersimpan rapi dalam diri kita. Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Kelak, orang-orang yang telah mampu mengoptimalkan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya maka dengan sendirinya ia akan sampai pada pengakuan bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang telah menciptakannya. Siapa yang telah menciptakan kekuatan itu..? Jawabnya adalah Tuhan, ihwal apa dan siapa Tuhan-nya, semua bergantung pada keyakinan masing-masing. Muslim menyebutnya Allah Nasrani akan menyebut tuhannya Yesus Kristus, budha, hindu, konghutcu memiliki sebutan sendiri dan itu wajar saja, siapa bertuhan kepada siapa adalah hak mereka yang dilindungi undang-undang, yang terpenting sebagai Muslim kita kalau mampu berdakwah kepada mereka, agar Tuhan mereka akhirnya pilihannya itu Allah.

Sebagai muslim tentunya lebih pas kita bertuhan hanya kepada “Allah Ta'ala”,oleh karena itu kita bersyukurlah bila dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang ber-Tuhan hanya kepada Allah, tentunya jangan sampai cara meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah dengan cara sendiri-sendiri. Dengan bersyahadat mestinya kita semua paham bahwa untuk menyembahnya perlu ketaatan dengan mengikuti tuntunan utusan Allah Ta'ala (Rasulullah) bernama Muhammad saw. Itu adalah konsekwensi dari seorang yang mengaku dan bersaksi sebagai Muslim. Tuntunan beliau Nabi saw sangat realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi, contoh tuntunan yang realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi itu adalah syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Syahadat sebagai kesaksian manusia yang memiliki Tuhan dan kesaksian bahwa ada utusan Tuhan untuk kemaslahatan dunia, sholat sebagai proses interaksi manusia dengan Tuhannya, puasa sebagai pengingat bahwa manusia itu mahluk duniawi (tanpa makan dan minum manusia lemah), zakat sebagai himbauan untuk saling berbagi, dan naik haji sebagai perintah untuk melihat bukti kebesaran dan kekuasaan allah secara nyata, saat naik haji kita akan diperlihatkan betapa banyaknya orang yang menyembah Allah oleh karena itu tidak adalagi yang patut di khawatirkan atas keyakinan kita.

Sebagai pesan penting, hati-hatilah dengan perasaan ujub atau sombong? Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang yang ujub sombong dan juga syirik musyrik. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga, barang siapa dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji dzarrah." (H.R. Muslim). Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kesombongan adalah, menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,…" (Q.S. An-Nisa': 48),

Merupakan suatu peringatan, bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa sombong yang lebih besar dari pada dosa syirik. Hal ini sama halnya, barang siapa yang tawadhu' karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Begitu juga barang siapa yang enggan melaksanakan kebenaran, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, dan meremehkannya.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata; "Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah"   

Karena hal itulah kita perlu ditaklukan atau ditundukkan di bawah perintah "Sang Raja". Awas bukan 'bukan dibunuh atau dimusnahkan' karena semua juga ada tugas dan punya nilai serta diperintah pencipta-Nya. Kata kuncinya jangan sampai perasaan dan marah menguasai Aqal, karena akibatnya Ruh akan berantakan dan binasa.

Untuk menjalankan perjuangan memenej Ruh ini, diperlukan upaya pengenalan kepada diri dalam hubungannya dengan Tuhan, ibaratkan saja seperti ini;
  • Jiwa Raga / tubuh itu anggap sebagai sebuah Kerajaan,
  • Si Ruh ini, ibarat Raja.
  • Pelbagai Indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan Tentara.
  • Aqal (akal) itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
  • Perasaan, hasrat-, nafsu syahwat dst.., itu ibarat petugas pemungut Pajak(selalu meminta, menguasai, atau merampas)
  • Sombong dan marah itu ibarat petugas Polisi (sombong dan marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan).
Nah perjuangan untuk mengendalikan semua ini sudah diperingatkan oleh Baginda Nabi saw,disebutkan sebagai sebagai Jihad Akbar. Rasakan saja dulu masing-masing, menguasai hawa nafsu begitu tidak mudah bukan? Misalnya saja, hanya sekedar menghindari bicara tidak ghibah (menceritakan keburukan orang lain) bagaimana..? Astaghfirullah..

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah sadar menguasai kekuatan diatasnya adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuhkan dan memelihara sifat-sifat iblis atau kebinatangan akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang. Kesempurnaan ruh menguasai jasadnya maka seperti Malaikat. 

Dari semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan kelak.

1. Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
2. Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
3. Orang yang suci seperti Malaikat.

Maka, pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama akan tetapi hasil sebuah proses dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan yang lurus/hidayah itu. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Quran Al-Ankabut: 69;

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan (hidayah) Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik beramal shalih."  

Aamiin..

Wallahu'alam bish-sahawab..

JADIKAN IBROH DARI SETIAP PERISTIWA KEMATIAN, BAGAIMANA KEMATIAN MENURUT AL-QUR'AN?

Mengenang Wafatnya Ustadz Uje 
(Jeffrey Al-Buchori-Jumat 26 April 2013 M)

Ustad Uje - Jeffrey Al-Buchori




Allah Ta'ala dengan firmannya (lihat QS. Al Mukmin ayat 10 -11) telah mengingatkan kita jangan sampai kita mati dalam keadaan kafir.  Semoga kita semua mati dalam keadaan Islam.. Aamiin. Dan Ingatlah kedua ayat ini dengan baik:

10- Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir” (QS. Al Mukmin ayat 10)

11- Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Al Mukmin ayat 11)

Ketika kelak manusia dikumpulkan dipadang Mahsyar pada hari berbangkit kelak dan orang kafir telah melihat dengan jelas akibat perbuatan mereka menentang ayat ayat Allah selama ini, mereka mengeluh : ” Ya Allah Engkau telah mematikan kami dua kali, dan menghidupkan kami dua kali pula, lalu kami mengakui dosa kami, adakah jalan keluar bagi kami dari kesulitan yang dahsyat pada hari ini (neraka jahanam) “. Dialog antara orang kafir dengan Allah ini diabadikan dalam surat Al Mukmin ayat 10 -11, sebagaimana kutifan ayat diatas.

Selama hidup didunia ini kita hanya mengerti bahwa mati dan hidup itu hanya sekali saja, namun setelah di akhirat kelak kita baru, mengerti bahwa kita hidup dan mati sebanyak dua kali. Memperhatikan dialog diatas kita jadi bertanya, apakah yang dimaksud dengan kematian itu? Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa kita mati dan hidup sebanyak dua kali, padahal yang kita ketahui selama ini kita hidup dan mati hanya satu kali.

Definisi mati menurut Al-Qur’an

Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya Ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya Ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya Ruh dengan Jasad. Kita mengalami saat terpisahnya Ruh dari jasad sebanyak dua kali dan mengalami pertemuan Ruh dengan jasad sebanyak dua kali pula. Terpisahnya Ruh dari jasad untuk pertama kali adalah ketika kita masih berada dialam Ruh, ini adalah saat mati yang pertama. Seluruh Ruh manusia ketika itu belum memiliki jasad. Allah mengumpulkan mereka dialam Ruh dan berfirman sebagai disebutkan dalam surat Al A’raaf 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raaf 172)

Selanjutnya Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin didalam rahim seorang ibu, ketika usia janin mencapai 120 hari Allah meniupkan Ruh yang tersimpan dialam Ruh itu kedalam Rahim ibu, tiba-tiba janin itu hidup, ditandai dengan mulai berdetaknya jantung janin tersebut. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali, selanjutnya ia akan lahir kedunia berupa seorang bayi, kemudian tumbuh menjadi anak anak, menjadi remaja, dewasa, dan tua sampai akhirnya datang saat berpisah kembali dengan tubuh tersebut.

Ketika sampai waktu yang ditetapkan, Allah akan mengeluarkan Ruh dari jasad. Itulah saat kematian yang kedua kalinya. Allah menyimpan Ruh dialam barzakh, dan jasad akan hancur dikuburkan didalam tanah. Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang baru, kemudia Allah meniupkan Ruh yang ada di alam barzakh, masuk dan menyatu dengan tubuh yang baru sebagaimana disebutkan dalam surat Yasin ayat 51:

51- Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. 52- Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (QS.Yasin 51-52)

Itulah saat kehidupan yang kedua kali, kehidupan yang abadi dan tidak akan adalagi kematian sesudah itu. Pada saat hidup yang kedua kali inilah banyak manusia yang menyesal, karena telah mengabaikan peringatan Allah. Sekarang mereka melihat akibat dari perbuatan mereka selama hidup yang pertama didunia dahulu. Mereka berseru mohon pada Allah agar dizinkan kembali kedunia untuk berbuat amal soleh, berbeda dengan yang telah mereka kerjakan selama ini sebagaimana disebutkan dalam surat As Sajdah ayat 12:

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (As Sajudah 12)

Itulah proses mati kemudian hidup, selanjutnya mati dan kemudian hidup kembali yang akan dialami oleh semua manusia dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan tak terbatas. Proses ini juga disebutkan Allah dalam surat Al Baqaqrah ayat 28:

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah 28)

Demikianlah definisi mati menurut Al-Qur’an, mati adalah saat terpisahnya Ruh dari Jasad. Kita akan mengalami dua kali kematian dan dua kali hidup. Jasad hanya hidup jika ada Ruh, tanpa Ruh jasad akan mati dan musnah. Berarti yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad sedangkan Ruh tidak akan pernah mengalami kematian.

Pada saat mati yang pertama, jasad belum ada namun Ruh sudah ada dan hidup dialam Ruh. Pada saat hidup yang pertama Ruh dimasukan kedalam jasad , sehingga jasad tersebut bisa hidup. Pada saat mati yang kedua, Ruh dikeluarkan dari jasad , sehingga jasad tersebut mati, namun Ruh tetap hidup dan disimpan dialam barzakh. Jasad yang telah ditinggalkan oleh Ruh akan mati dan musnah ditelan bumi. Pada saat hidup yang kedua, Allah menciptakan jasad yang baru dihari berbangkit, jasad yang baru itu akan hidup setelah Allah memasukan Ruh yang selama ini disimpan dialam barzak kedalam tubuh tersebut. Kehidupan yang kedua ini adalah kehidupan yang abadi, tidak ada lagi kematian atau perpisahan antara Ruh dengan jasad sesudah itu.

Kalau kita amati proses hidup dan mati diatas ternyata yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad, sedangkan Ruh tidak pernah mengalami kematian dan musnah. Ruh tetap hidup selamanya, ia hanya berpindah pindah tempat, mulai dari alam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh dan terakhir dialam Akhirat. Pada saat datang kematian pada seseorang yang sedang menjalani kehidupan didunia ini, maka yang mengalami kematian hanyalah jasadnya saja, sedangkan Ruhnya tetap hidup dialam barzakh. Allah mengingatkan hal tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 154 :

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqarah 154)

Perjalanan panjang tanpa akhir

Kalau kita amati proses perjalan hidup dan mati seperti yang disebutkan diatas , maka yang mengalami kematian hanyalah jasad kita saja, sedangkan Ruh tidak pernah mengalami kematian. Sejak diciptakan pertama kali dan diambil kesaksiannya tentang ke Esaan Allah ketika dikumpulkan dialam Ruh sebagaimana disebutkan dalam surat Al A’raaf 172, mulailah Ruh menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berkahir.

Sifat Ruh sama seperti energy, dalam ilmu fisika kita mengenal teori kekekalan Energy. Teori kekalan Energy mengatakan bahwa Energy bersifat kekal, tidak bisa dimusnahkan, dihancurkan ataupun dilenyapkan. Ia hanya mengalami perubahan bentuk. Ruh memiliki sifat seperti Energy ini, ia tidak bisa dimusnahkan, dilenyapkan ataupun dihancurkan, ia kekal selamanya, ia hanya berubah bentuk mulai dialam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh dan alam Akhirat kelak.

Kita bisa merasakan selama hidup didunia ini bahwa Ruh kita tidak pernah tidur atau beristirat. Kalau kita tidur pada malam hari, yang tidur adalah jasad atau jasmani kita sedang Ruh kita sendiri, pergi berjalan entah kemana. Ruh tidak bisa hancur, musnah dan lenyap namun ia bisa merasa lemah, sakit dan menderita. Ruh yang kurang mendapat perawatan akan menjadi lemah menderita dan sakit. Penyakit Ruh umumnya akan merembet pada penyakit fisik atau jasmani, penyakit ruh yang umum kita kenal antara lain, gelisah, kecewa, dengki, cemas, takut, sedih, tertekan dan stress berkepanjangan.

Ruh mengalami proses pendewasaan selama hidup didunia. Semua bekal yang dibawa untuk perjalanan hidup dialam barzakh dan akhirat didapat dari alam dunia. Namun sayang selama hidup didunia banyak orang yang tidak memperdulikan kebutuhan Ruhnya untuk menghadapi perjalan panjang yang tak akan pernah berakhir ini. Kebanyakan manusia hanya fokus pada masalah kehidupan dunia, dan tidak perduli dengan masalah kehidupan akhirat yang lebih dahsyat dibandingkan dengan kehidupan dunia.

Mereka baru menyadari kekeliruan mereka tatkala ruh telah sampai ditenggorokan, hingga tatkala mereka telah pindah kelam barzakh mereka mengeluh sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 99-100 :

99- (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

100- agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (Al Mukminun 99-100)

Penyesalan itu memang selalu terlambat datangnya, namun penyesalan yang muncul setelah datangnya kematian hanyalah sesuatu yang sia-sia. Masa lampau tidak akan pernah kembali, kita hanya terus maju menghadang masa yang akan datang, apapun keadaan kita. Orang yang bijaksana akan mengumpulkan bekal sebanyak banyaknya untuk menempuh perjalanan panjang dialam barzakh dan akhirat. Orang yang lalai hanya fokus pada kehidupan dunia, tidak pernah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu. Bahkan terkesan tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Sebagian besar manusia didunia termasuk kedalam golongan orang yang lalai ini, sebagaimana disebutkan dalam surat Yunus ayat 92:” …sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Lebih tegas lagi disebutkan dalam surat al Insan ayat 27 :

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insan 27)

Mudah-mudahan Ustadz Uje (Jeffey Al-Buchori) disaaat terakhinya dan kita semua tidak termasuk orang yang lalai, seperti disebutkan dalam ayat Qur’an diatas. Mari kita persiapkan perbekalan kita untuk menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berakhir didunia dan akhirat. Penyesalan diakhirat kelak tidak ada gunanya, masa lalu tidak akan pernah kembali, masa yang akan datang pasti terjadi. Bersiaplah menghadap berbagai perubahan yang akan kita alami sepanjang perjalan hidup yang amat panjang dan melelahkan ini. Berbekallah sebaik baik bekal adalah Taqwa. Aamiin.. 
Wallahu'alam bish-shawab