17 September 2015

PKI dan Komunisme Bukanlah Bagian Dari Komponen Pejuang Bangsa Indonesia

waspadai akan bangkitnya PKI

Salah satu metode untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mempelajari sejarahnya demikian pula untuk menghindari sebuah masalah adalah dengan mempelajari sejarahnya. Tentu setiap kita pastilah ingin terhindar dari masalah dan tidak ingin ada masalah. Sedangkan sejarah itu dimiliki oleh setiap orang baik secara individu, kelompok, dan kebangsaan. Masalah dapat timbul karena adanya perbedaan dalam setiap kelompok manusia. Dimana perbedaan tersebut ada yang dapat disamakan dan ada persamaan atau ada pula yang dapat didampingkan. Bila perbedaan itu bersifat bertolak belakang dan bertentangan maka hanya ada satu jalan disingkirkan, dipinggirkan, atau dikurung dalam suatu tempat.

Dalam kehidupan kebangsaan kelompok manusia yang ada di dalamnya dapat diidentitaskan sebagai komponen bangsa. Yaitu sebuah identitas kelompok yang diberikan berdasarkan peranannya dalam mengemban tanggung jawab sebagai warga Negara Indonesia. Diantaranya ada komponen politik, komponen masyarakat, dan komponen perjuangan, dan komponen bangsa. Biasanya terbaginya kelompok-kelompok inilah yang melahirkan perbedaan, terlebih komponen politik perbedaan sangat jelas terlihat. Akan tetapi komponen politik sekali pun terdapat perbedaan masih dapat disandingkan, dicari persamaannya, dan dikerjasamakan.

Menentukan komponen bangsa dan menentukan perilakunya menurut kehidupan kebangsaan Indonesia adalah berdasarkan nasionalisme Indonesia dan Idiologi Pancasila serta UUD 1945, sebagaimana yang telah disepakati dalam oleh komponen bangsa Indonesia yang memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pertanyaannya apakah PKI dan pemikiran komunisme di Indonesia ikut memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu ?

Tulisan ini diuraikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di bulan September bagi Nasionalisme Indonesia sebagai Bulan Berdarah karena di bulan tersebut bangsa Indonesia harus mengalami dua tragedi nasional yang meminta korban jiwa yang hanya disebabkan oleh perbedaan paham ideologi yaitu antara Nasionalis dan Komunis. Peristiwa tersebut adalah tragedi Gerakan PKI Muso di Madiun dan Gerakan 30 September 1965 yang dipimpin oleh Aidit dan Untung di Jakarta.

Pengalaman pahit ini semoga tidak terulang lagi di masa pemerintahan Jokowi, sangatlah disayangkan bila hal itu sampai terjadi. Karena luka yang ditimbulkan teramat dalam dan akibat yang dirasakan juga hingga sekarang masih ada. Maka dari itu sungguh aneh bila ada pendapat yang menghendaki agar pemerintah Indonesia meminta maaf kepada PKI dan keluarganya atau tidak sekadar itu bahkan ada niat sekelompok orang yang menginginkan untuk melegalkan komunisme di Indonesia.

Berbicara kemanusiaan permintaan maaf itu sangat wajar, tetapi permintaan maaf tidak harus disertai dengan melegalkan komunisme di Indonesia. Melegalkan yang saya maksudkan di sini adalah sebuah upaya yang dapat dikatagorikan sebagai ciri-ciri legalitas komunisme di Indonesia antara lain : mengusulkan TAN MALAKA dan Sumarsono menjadi Pahlawan, padahal kedua tokoh ini adalah tokoh kunci dalam pemberontakan PKI di Madiun. Kemudian indikasi lain ada ingin membangun kempimpinan dengan sistim Resopim seperti zaman Soekarno di tahun 1962. Masih banyak indikasi lain yang terlalu banyak untuk diuraikan dalam tulisan ini.

Kesepakatan Bangsa Indonesia Negara yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, wilayahnya terdiri dari bekas jajahan pemerintah Belanda,negaranya berbentuk republik kesatuan, berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, Bahasa persatuan Bahasa Indonesia, Bendera Merah Putih, dan Lambangnya adalah Burung Garuda Pancasila. Sejarahnya adalah Sejarah Nasionalisme Indonesia yang terdiri dari sejarah zaman Kerajaan Majapahit,Kerajaan melawan penjajah Belanda, sebagai Negara Hindia Belnda, Di Bawah Pemerintahan Jepang, Dan Menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia. Dalam kesepakatan tersebut apakah ada PKI di dalamnya? Semenjak di masa pemerintahan Hindia Belanda PKI sudah dianggap sebagai Partai yang Ilegal dan ditentang oleh pemerintah dan bahkan tidak hanya para pejuang perinris kemerdekaan pun menyatakan bahwa Komunisme tidak sesuai dengan Kepribadian Bangsa Indonesia.

Dalam catatan sejarah Nasional Indonesia hanya partai nasionalis yang sulit untuk disusupi oleh PKI dan komunisme, maka ketika Partai Budi Utomo akan dipengaruhi oleh komunis Budi Utomo hanya mengatakan,”Kalau kita cerdas dan memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat tidak akan berhasil komunis memecah belah kita. Karena komunis tidak percaya adanya Tuhan atau atheism. Kalau kita memiliki pendidikan yang memadai dan memahami arti damai dalam hidup kita maka kita juga tidak akan terpecah belah”.

Dan itu terbukti hingga sampai akhirnya Partai Budi Utomo tidak pernah tersentuh oleh PkI dan Komunisme. Perilaku PKI. Dalam Kehidupan kebangsaan Indonesia ketika bangsa Indonesia sedang berjuang menghadapi Jepang, PKI dan Komunisme justru bekerja sama memerangi bangsa Indonesia. Demikian pula ketika Bangsa Indonesia sedang berperang melawan Belanda justru bekerja sama dengan Belanda memerangi pejuang kita dengan Belanda.

Ditahun 1945 hingga 1946, Di Wilayah Cirebon PKI dengan komunismenya melucuti persenjataan pejuang TNI. Di Solo Justru melakukan penculikan terhadap TNI yang sedang berjuang. Dan masih terdapat di wilayah lain. Tidak hanya itu rakyat Indonesia sedang bahu membahu untuk mempertahankan kemerdekaan justru PKI merampok dan merampas harta benda rakyat. Membuat bingung rakyat Indonesia,karena seharus bertahan menghadapi musuh yakni Belanda tetapi harus menderita menerima perlakuan dari Bangsa Indonesia sendiri yang memiliki Identitas PKIdan Komuinsme.

Oleh karena itu pada masa perjuangan Soekarno tidak pernah memasukan komunisme dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan yang lebih tragis lagi bersamaan dengan serangan militer Belanda PKI justru memberontak dan menyusun sebuah pemerintahan di Madiun yang menamakan pemerintahan rakyat yang dipimpin Muso. Namun gerakan ini dapat dipatahkan dan berhasil dihentikan demikian juga Muso sebagai pimpinan gerakan dapat ditembak mati. Perhatian bangsa Indonesia sempat terbelokan dengan dengan gerakan ini karena harus mengalihkan sebagian kekuatan bersenjata dan dana untuk mengatasi pemberontakan yang dilakukan Musa di Madiun pada tahun 1948 tersebut.

Lebih parah lagi ketika Bangsa Indonesia sedang menghadapi kemarau panjang dan paceklik, ditambah lagi dengan harga barang yang demikian tinggi. Belum lagi berkembangnya wabah penyakit yang mendera rakyat pada masa itu. Partai Komunis Indonesia dan komunisme melakukan gerakan pemberontakan pada tanggal 30 September 1965 yang dipimpin oleh Aidit Dan Untung atau yang terkenal dengan Gerakan G 30 S/PKI. Dengan dalih melanjutkan revolusioner Indonesia yang belum selesai melaui gerakan progresif revolusioner. Gerakan ini ditandai dengan gurunya 7 (tujuh) Pahlawan Revolusi yang terkubur dalam Lubang Buaya. Penemuan jasad Para Pahlawan pada tanggal 1 Oktober 1965 tersebut selanjutnya diperingati sebagai besar Nasional bangsa Indonesia dengan nama Hari Kesaktian Pancasila. 

Apakah PKI Dan Komunisme sebagai Komoponen Bangsa ?

PKI dan komunisme bukan komponen bangsa, karena Komunisme dan PKI tidak pernah berjuang untuk Indonesia Merdeka dan ideologinya ada guna memperjuangkan keutuhan bangsa serta Persatuan dan Kesatuan bangsa Indonesia di atas landasan Pancasila Dan Undang Undang dasar 1945,prilaku penganutnya berperilaku jauh dari cerminan persatuan dan kesatuan serta kebhinekaan Indonesia. Secara fitrah sebagai insan hamba Tuhan, paham komunisme adalah satu diantara faham yang tidak percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang yang bisa dimaafkan atas kesalahan pada dasarnya adalah mereka yang percaya akan adanya Tuhan dan meyakini akan adanya ciptaanNya.

Kalau sekarang keturunan mantan anggota PKI dan simpatisannya tidak perlu maaf dan dimaafkan karena semuanya bila mereka sadar sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Pengakuan ini secara otomatis akan diterima kalau PKI dan keturunannya bisa mengubah sifat dan perilaku komunismenya dalam kehidupan dengan menampilkan serta menjadikan dirinya sebagai seorang yang punya rasa nasionalisme sejati. Dengan kata lain telah meninggalkan pemikian PKI beserta aliansinya dan menggantikannya dengan Pancasila Undang undang dasar 1945. Selama Sikap itu tidak dilakukan maka perlakuan bangsa Indonesia terhadap PKI dan keturunannya tidak akan berubah pula. Semua ini bergantung pada kesadaran bahwa PKI telah tamat dan komunisme itu sudah sangat bertentangan dengan pola prilaku kebanyakan anak bangsa Indonesia.

Bila terus dikembangkan maka kedua kekuatan ini akan selamanya terus saling berhadapan dengan semangat nasionalisme yang berupaya mempertahanan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Suatu keniscayaan bangsa Indonesia yang cinta damai tetap mewaspadai terhadap bertumbuhnya kembali gagasan sesat dari para eks PKI. Soekarno dan Komitmen Kebangsaan Indonesia pada tahun 1945 hingga 1959 adalah Soekarno yang konsisten terhadap sejarah bangsa Indonesia. Tidak bisa disamakan dengan sikap Soekarno pada tahun 1960 hingga 1966.

Demikian pula Soeharto pada tahun 1967 hingga 1987 tidak bisa disamakan dengan tahun 1992 hingga 1998. Ini sedang mengulas sejarah maka pikiran dan uraian kita kembali pada pokok permasalahan. Soekarno mengahapi PKI dan Komunisme yang dipimpin Muso di Madiun Pada Tahun 1948 dengan tegas menyatakan,”Komunisme adalah berbahaya dan bertentangan dengan Pancasila..!

Peristiwa Madiun jangan terluang lagi dan jadikan pelajaran serta pengalaman yang pahit bagi kelangsungan Hidup Bangsa Indonesia.” Kemudian Sikap itu dikuti oleh Bung Hatta dengan mengatakan hal yang senada,”...jangan terulang lagi…Cukup Di Madiun saja.” Mana kala kita konsisten dengan sejarah maka kita dan Negara akan aman tentram damai dan sejahtera. Konsistensi lain dari Soekarno terhadap PKI dan Komunisme adalah mampu menghargai dan menerima serta menempatkan pada kondisi politk dan situasi yang dihadapi Negara pada masa itu. Sehingga itu tercermin dalam penampilan Bung Karno dan kebijaksanaan Politiknya yang memaafkan PKI dan Komunisme. Mungkin pemikiran Bung Karno pada masa itu kita hidup diantara dua Ideologi yaitu Komunisme dan Nasionalis.

Relevansi Terhadap Kondisi Saat Ini. Presiden Soekarno membuat kekeliruan besardinaman mengakomodir komunisme dan PKI tetapi tidak membangun sikap waspada dan cerdik terhadap PKI dan komunismenya. Ketika Soekarno disanjung menjadi PadukaYang Mulia, Ajarannya Di Agungkan, Diangkat Menjadi Presiden seumur hidup, disebut sebagai Bapak Revolusi, dan hidup yang bermewah dengan berbagai wanita. Presiden Soekarno mabuk kepayang tidak sadar akan keselamatan dan bahaya akan mengancam dirinya. Keadaan itu juga diperparah dengan perlakuan manis dari Negara Negara Komunis di Eropa Timur Dan Uni Soviet serta China. Benar benar Presiden Soekarno melayang layang di udara tanpa batas dan tidak pernah akan berbipikir bahwa apa yang ada disekitarnya akan membahayakan dia dan membuat semuanya berakhir. Berbagai pernyataan yang tidak konsisten mulai beliau lontarkan kepada bangsa Indonesia dengan istilah Komunisti Poby, anti Revolusi, anti Bung Karno, Dan Penentang Kebenaran.

Kondisi saat inipun ada kesamaan dimana Presiden Jokowi disanjung sebagai Nabi,Titisan Gusti Allah, Manusia Yang Paling Sempurna, Dan merakyat. Ternyataujung-ujungnya hanya ingin menghidupkan RESOPIM, Mengangkat Para Tokoh PKImenjadi Pahlawan Nasional, Dan Melegalkan kembali Komunisme seperti mengoibarkankembali symbol palu Arit, meminta pemerintah minta maaf sama PKI, dan memberikompensasi, abolosi, rehabiltasi, dan amnesty. Keadaan ini bila di biarkan akanmenyusahkan Bapak Presiden Jokowi sendiri sebagai pribadi dan pemimpinpemerintahan.

Apa yang Diperlukan Dalam Menghadapi Kondisi Ini ? 

Tahun 1946 Soekarno berdiri tegak menyatakan PKI berbahaya dan bertentangan dengan Pancasila. Langkah yang beliau lakukan adalah menghentikan gerakan di Solo dan mencabut hak istimewanya. Demikian pula pada tahun 1948 Soekrno dengan tegas menyatakan PKI bersalah dan bertentangan dengan Pancasila dan hanya akan membuat bangkrut perjuangan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada Tahun 1959 Soekarno bahkan menyatakan tegas untuk kembali kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 melalui Dekret Presiden pada tanggal 5 juli 1959. Bung Hatta langsung mengambil alih kepemimpinan Nasional dari Perdana Menteri Sutan Syahrir dan membubarkan kabinetnya. Dengan mengatakan,” Sutan Syahrir adalah Komunis dan tidak layak memimpin bangsa ini.” Syukurlah sikap yang ditunjukkan oleh Bung Hatta tersebut dapat menjernihkan keadaan dan permasalahan tidak berlanjut.

Gerakan Komunisme dapat dihentikan dan perjuangan bangsa Indoneisa dapat dilanjutkan kembali seperti yang telah diamanatkan oleh reformasi. Pada tahun 1965 Soeharto ketika menghadapi peristwa gerakan G 30 S PKI langsung berani menyarankan dan mengusulkan agar PKI dan komunisme segara dibubarkan dan gerakannya dipatahkan agar bangsa Indonesia tidak mengalami kehancuran. Ternyata saran itu disetujui Presiden Soekarno dan melalui Surat perintah 11 Maret 1966enam bulan setelah gerakan itu terjadi maka dimulai gerakan penumpasan yang dilakukan Oleh Soeharto dan TNI untuk menegakkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 seperti sekarang ini.

Kondisi sekarang juga menuntut bangsa Indonesia harus waspada agar menghindari peluang adanya legalitas komunisme dan PKI di Indonesia. Siapa mereka ? Mereka yang waspada adalah mereka yang paham, mengerti, dan peduli terhadap sejarah nasionalisme Bangsa Indonesia. Taat dan setia kepada Pancasila Dan Undang Undang dasar 1945, Setia pada Cita Cita proklamasi Kemerdekaan dan memikirkan kepentingan bangsa dan negara secara lebih luas. Kita berharap ada komponen bangsa Indonesia sekarang ini yang mampu membangun komitmen kebangsaan yang dapat menghindarkan perpecahan diantara anak bangsa Indonesia dari pengaruh-pengaruh picik komunisme.

Jangan dikira komunisme di Indonesia sudah mat, ideologi ini masih hidup dan tetap akan hidup untuk itu kita harus waspada dan hati hati terhadap perilaku mereka. Upaya yang dilakukan hanyalah dengan memahami sejarah nasionalisme Indonesia dengan benar dan menjaga implementasinya agar tidak diputarbalikan. Menghindari terjadi rotasi sejarah atau pergantian sejarah sebagaimana yang dialami oleh Timor Leste sekarang ini, namun bagi bangsa Indonesia yang diperlukan sekarang ini adalah dinamika sejarah.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang kokoh dalam wujud NKRI dan setianya bangsa kita terhadap Pancasila dan kontitusi negara Undang Undang Dasar 1945. Tulisan ini didedikasikan Demi kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia yang penuh rahmat dan harapan. NKRI harga Mati..! Pancasila tetap Jaya! Indonesia adil Makmur Sejahtera...! Aamiin..

sumber: suaranews