28 April 2012

Bila Putus Asa, Kembalilah Ke Jalan Islam




Apa yang salah terhadap bangsa ini? 
Mengapa mengalami nasib yang begitu nestapa? 
Terus menerus dirundung malang. Tak henti-henti. 
Berbagai peristiwa yang sangat menyedihkan selalu menghentak kesadaran. 
Tetapi, tak ada kesadaran bersifat kolektif mengakhiri semuanya. 
Sepertinya mereka menikmati kehidupan serba menyedihkan.

Betapa Indonesia bangsa besar. 
Dengan jumlah penduduk 240 juta. 
Mayoritas hampir 90 persen beragama Islam. 
Selalu menjadi kebanggaan dengan jumlah itu. 
Muslim terbesar di dunia. 

Penduduknya terus tumbuh. 
Indonesia selalu menjadi perhatian dunia. 
Karena posisinya yang dipandang sangat strategis. 
Memiliki sumber daya alam, yang seakan tak pernah habis. 
Hanya kenyataannya sangat paradok.



Seorang yang baru pulang dari umrah, bertutur bahwa pesawat apa saja yang mendarat di bandara internasional Jeddah, selalu ada orang Indonesia. Puluhan ribu orang pergi umrah setiap bulannya. Orang pergi haji, harus inden sampai delapan tahun. Padahal, orang Indonesia pergi haji tak kurang dari 250 ribu, setiap tahunnya. Kalau shalat di Madinah, kanan-kiri, depan-belakang, pasti ada orang Indonesia. Begitu luar biasa banyaknya orang Indonesia yang melakukan ibadah ke tanah suci, Makkah dan Madinah.

Mestinya semakin banyak orang yang jalan hidupnya sesuai dengan Islam, dan menjadikan al-Qur’an sebagai jalan hidup mereka. Menjelang perayaan maulud Nabi Shallahu alaihi wassalam, begitu banyak yang menyelenggarakan perayaan maulud. Mulai dari Istana sampai ke masjid dan mushala di kampung, semuanya menyelenggarakan perayaan maulud. Adakah umat ini yang menyatakan cinta kepada baginda Nabi Shallahu alaihi wassalam, dan mengikuti jejak beliau?

Kenyataan dalam fakta kehidupan sehari-hari orang semakin jauh dari Islam. Semakin hancur binasa. Tak lagi menyandarkan hidup mereka diatas manhaj al-Qur’an dan Sunnah. Mereka mengikuti hawa nafsu. Mereka menjadi hamba hawa nafsu. Jauh dari bimbingan dan aturan-aturan Allah dan Rasul Shallahu alaihi wassalam.

Betapa rusaknya kehidupan ini. Orang tua dengan sangat tega membunuh anaknya sendiri. Anak membunuh orang tuanya sendiri. Orang tua membuang bayi yang baru dilahirkannya. Orang tua kandung menzinahi anak sendiri, sampai hamil. Berbuat zina dan selingkuh menjadi kegemaran. Bukan nista. Kantor-kantor dan pabrik-pabrik yang memperkerjakan perempuan-laki, berlangsung perbuatan fakisah (dosa besar), tak lagi merasa bersalah dan malu. Sering perempuan diperkosa diangkot dan kendaraan umum. Minimal dilecehkan secara seksual. Tak ada lagi tempat yang aman di negeri ini bagi perempuan.

Belakangan sering terjadi bunuh diri. Anak, orang dewasa, laki dan perempuan, melakukan bunuh diri. Dengan berbagai cara. Mengakhiri hidup dengan sangat nista. Bunuh diri. Dengan berbagai alasan. Mereka tak dapat lagi berpikir rasional menghadapi kehidupan. Sebagian besar motivasinya karena ekonomi, dan keluarga yang pecah.

Ada yang lebih kejam. Pembunuhan dengan mutilasi. Korban dipotong-potong. Ada perempuan dalam keadaan hamil. Dimutilasi. Anaknya yang belum beranjak dewasa diperkosa, kemudian dibakar. Ada yang dibunuh, dimutilasi, mayatnya dimasukkan ke dalam tabung gas. Ada orang yang membunuh anak-anak sudah berulang kali, tanpa sedikitpun penyesalan. Sekarang inipun, anak-anak sudah ketularan ikut membunuh. Temannya sendiri dibunuh. Temannya yang sehari-hari bermain bersamanya. Hanya masalah sangat sepele. Sungguh sangat luar biasa.

Kehidupan sekarang ini, di manapun berlangsung tipu-menipu dan saling peras memeras. Di semua tingkatan lapisan dari atas sampai bawah. Misalnya, oknum dokter memeras dan menipu pesien. Banyak pasien miskin, yang melahirkan di rumah sakit, tak mampu membayar, akhirnya bayinya disandera.Oknum hakim dan jaksa memeras tersangka.Oknum polisi memeras maling dan penjahat. Para pengacara dan advokat memeras kliennya yang berperkara.

Para politisi dan pemimpin tidak jujur kepada rakyat. Mereka semua berpura-pura. Tidak ada yang benar-benar tulus terhadap rakyat. Saling berlomba mengeksploitasi rakyat. Sampai seperti orang yang “memeras” handuk, tak lagi keluar airnya. Hanya mereka menampilkan wajah dan kisah, seakan mereka menjadi para pembela sejati rakyat. Padahal mereka itu hanyalah barisan penipu rakyat.

Para pemimpin yang mendapatkan amanah jabatan, tak ada yang benar-benar amanah dan jujur. Semuanya memanfaatkan jabatannya.Berkhianat terhadap rakyat sudah menjadi watak. Kemudian korupsi berjamaah. Mencuri uang negara berjamaah. Melalui partai politik. Mereka tidak pernah merasa bersalah. Semua mengaku bersih. Sebagai pembela rakyat. Sejatinya mereka itu sekumpulan orang yang memang benar-benar bertujuan ingin menghancurkan rakyat. Berkedok sebagai pembela “wong cilik”. Mereka melakukan mega korupsi, tetapi di pengadilan berkelit. Meskipun, para saksi dengan sangat terang-benderang seperti siang hari, menceritakan kejahatan yang mereka kerjakan.

Pengadilan korupsi hanya menjadi tempat “theater” sandiwara mengelabuhi mata rakyat. Secara telanjang. Para politisi “busuk” dengan sangat canggih, membonsai aparat penegak hukum, semacam KPK, dan membuatnya menjadi lumpuh. Tak dapat lagi yang dapat menjangkau para penjahat di negeri yang sudah menghabiskan uang rakyat, bertriliun-triliun. Akhirnya rakyat menjadi masa bodoh. Tak lagi tertarik dengan kehidupan ini. Karena kebusukan sudah menjadi sistem kehidupan.

Kehancuran sudah didepan mata. Masihkah tidak peduli? Masihkan menutup mata dengan segala penyimpangan dan penyelewengan ini? Masihkah tidak mau mengubah jalan hidup ini? Masihkan akan selalu bergelimang dengan dosa dan durhaka?

Kematian menunggu siapa saja. Tak akan ada yang selamat dari kematian. Nanti masing-masing akan membawa bawaan berupa amal. Amal selama di dunia. Sebiji zarrah kebaikan yang kita lakukan akan dihisab. Sebiji zarrah kejahatan akan dihisab. Tak ada yang luput dari hisab. Itulah yang akan menjadi mizan (timbangan) nanti diakhirat. Yakinilah akan kehidupan akhirat. Kehidupan yang bakal kekal dan abadi. Selamanya.

Jika kita ingin selamat dari kehidupan sekarang ini, dan jauh dari malapetaka di akhirat, kembalilah ke jalan Islam. Hanya jalan Islam yang mendapatkan ridho dari Allah Azza Wa Jalla. Tidak yang lain.

Pupuslah kehidupan jahiliyah yang sangat menyengsarakan dan merusak. Seperti fenomena yang ada pada hari ini. Dialami hampir setiap orang dengan sadar atau tidak. Telah Melakukan pengkhianatan terhadap Rabbnya. Hanya dengan jalan Islam yang dapat menyelamatkan hari depan manusia. Di dunia dan akhirat. 
Wallahu’alam.