10 Maret 2014

Refleksi: Guru itu Digugu dan Ditiru


Guru itu Digugu dan Ditiru 
Oleh : Itje Chodidjah, Catatan, 9 Maret 2014 pukul 23:01

Slogan guru digugu dan ditiru ini ini memiliki makna yang dalam bagi kehidupan seorang guru. Landasan falsafah di balik slogan ini adalah bahwa sosok seorang guru dapat dipercaya dan ditiru. Hal ini mengisayaratkan bahwa dalam berbagai kegiatan kehidupan, masyarakat berharap guru sebagai tauladan. Ketika di sekolah guru menjadi panutan bagi siswanya.

Dalam konteks sekolah, guru dipercaya karena diharapkan guru akan selalu menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan siswanya baik secara akademis maupun pribadi. Guru juga diharapkan bertingkahlaku sesuai dengan azas moral dan adat istiadat setempat. Secara komulatif diharapkan hasil pendidikan di sekolah dengan anak didik yang berasal dari berbagai keluarga yang berlatar belakangnya berbeda akan menjadi kelompok masyarakat yang madani. 

Sekolah yang penyenggaraannya harus dipimpin oleh para guru memiliki peranan penting bagi tumbuh kembangnya masyarakat. Tingkah laku yang muncul di masyarakat mau tidak mau tetap diwarnai oleh apa yang dianut oleh para guru, yang didalamnya ada kelompok kepala sekolah dan pengawas sekolah, dalam menyelenggarakan proses mendidik.

Bertanggung jawab
Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus memahami bahwa ia sedang memutuskan untuk menjadi bagian dari kehidupan individu-individu yang dididiknya. Secara bawah sadar, anak didik yang bernaung di kelasnya berharap banyak bahwa mereka akan mendapat berbagai pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidupnya. Harapan tersebut tentu saja juga merupakan harapan orang tua, masyarakat, dan negara.

Dalam rangka melaksanakan tugasnya tersebut, sebagai guru, ada tiga aspek penting yang tidak dapat dipisahkan yaitu kemampuan mendidik, ketrampilan mengajar, dan memimpin. Ketiga hal tersebut tidak cukup didapatkan melalui jenjang pendidikan formal. Diperlukan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat melalui pengayaan pengetahuan, peningkatan berbagai ketrampilan serta peningkatan kualitas beringkah laku dan bertutur kata. Inilah wujud bahwa memilih profesi guru menuntut kesadaran untuk bertanggung jawab atas kemampuan dirinya agar dapat memampukan anak didiknya.

Selain itu wujud tanggung jawab seorang guru adalah pada keasadaran dirinya untuk menjdi tauladan bagi lingkungan. Masyarakat pada umumnya melihat guru sebagai ukuran moral seseorang. Masarakat tidak perlu tahu seorang guru mengajar dimana dan mengampu pelajaran apa, ketika disebut guru maka yang terpikir adalah sosok seorang yang menampilkan sikap moral yang luhur. Ketika terdengar pelanggaran yang bersifat moral dilakukan oleh seorang guru maka seolah-olah kecaman jauh lebih berat. Oleh sebab itu tanggung jawab untuk menampilkan diri sebagi sosok yang dipercaya baik oleh siswa maupun masyarakat menjadi sangat penting.

Menjadi sosok yang tetap dipercaya

Agar menjadi sosok yang tetap dipercaya seorang guru perlu meningkatkan berbagai pengetahuannya, bukan hanya pengetahuan tentang mata pelajaran yang ditekuni saja. Pengetahuan tentang seluk beluk perkembangan fisik dan mental anak wajib dipahami oleh setiap individu agar guru bisa membantu siswa lebih maksimal. Pengetahuan merancang proses pembelajaran yang bervariasi juga mutlak dikuasai guna memahami cara mengelola kelas yang memberi kesempatan anak didik untuk belajar. Guru perlu menguasai pengetahuan untuk memimpin dan menfasilitasi pembelajaran secara menyeluruh. Masih banyak lagi tentunya daftar pengetahuan yang perlu dikuasai oleh seorang guru.

Namun seluas apapun pengetahuan seorang guru belum akan berdampak pada pelaksanaan tugas profesinya sebelum diwujudkan dalam ketrampilan dan kecakapan praktis serta tingkah laku. Komunitas sekolah dan kelas memiliki fungsi sebagai laboratorium yang dinamis bagi para guru, termasuk di dalamnya kepala sekolah maupun pengawas sekolah untuk mengasah ketrampilan mengajar, mendidik, dan memimpin berdasarkan pengethuan yang dikuasai. Di dalam kelas guru mengimplementasikan pengetahuan pengelolaan siswa, aktifitas dan materi ajar, guna memenuhi hasrat belajar setiap individu anak didik. Setiap saat guru wajib melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Dengan demikian guru secara otomatis meningkatkan ketrampilan dan sikapnya.

Guru dalam setiap langkahnya diharapkan memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas siswanya. Dalam kelas dimana setiap anak memiliki hak untuk berkembang, menuntut guru untuk selalu bersikap adil dalam melayani anak didik. Keadilan mengelola siswa adalah wujud upaya guru agar tetap dipercaya baik oleh siswa maupun masyarakat.

Wahai guru di tanganmulah negeri ini menitipkan kaum mudanya untuk dikembangkan menjadi warga negara yang akan tetap menjunjung tinggi martabat bangsa.

Repost dari catatan: Bu Itje Chodidjah