Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

7 Maret 2014

Tatkala Menasehati Penguasa Yang Dirasakan Tak Adil Bak Makan Buah Simalakama, Banyak Ruginya..?


Betapa berat ketika kita ingin menasehati penguasa yang zalim (dholim), mungkar dan sejenisnya, menjadikan kita serba salah dan diancam hukum dari berbagai sisi. Maka kesabaran itulah pilihan satu-satunya, yakinlah dengan sabar maka Allah akan memberi pahala sabar itu dengan kemenangan dan dapat mengundang pertolongan Allah berikutnya.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini [yang artinya]:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).

Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Menasihati penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap pemberontakannya kepada pemerintah muslim yang mereka anggap zalim dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam-:

كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه

“Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 3554)]

Hal terbaik yang bisa dilakukan kita tapi sulit merealisasikannya adalah sebagaimana nasehat Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Adapun pembolehan menasihati penguasa secara terang-terangan, jika penyimpangan penguasa dilakukan terang-terangan sebagaimana dalam kisah sahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau, “Karenanya, saya memandang jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasihat merupakan perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas, maka tidak mengapa memberi nasehat kepada penguasa dengan cara berhadapan dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya jika kemungkaran tersebut jelas dan nampak di tengah-tengah manusia.”

Tidak mungkin menasihati penguasa seperti hadits ‘Iyadh bin Ganm maupun atsar Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhum- di zaman ini, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat, maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.

Adapun jika dengan menyebarkan artikel-artikel di media massa dan berorasi di mimbar-mimbar bebas yang tidak dihadiri oleh penguasa, maka belum tentu bisa dibaca atau didengarkan oleh penguasa (sebagai orang yang dinasihati), malah yang terjadi adalah ghibah atau buhtan, pencemaran nama baik dan provokasi untuk memberontak kepada penguasa. Bagaimana bisa seseorang mengharamkan ghibah dan pencemaran nama baik dirinya dan para tokoh idolanya sementara untuk penguasa dia bolehkan…??
Ma lakum kayfa tahkumun..?!
Astaghirullah al'adzim..

Wallahu'alam bish-shawab


Bismillah

Renungan jum'at ini, menyimak dari tulisan:

3 Maret 2014

Jejaring Dakwah dan Usaha Dakwah Islam di Keluarga


Kunci Pendidikan Ummat ini di keluarga, maka jejaring pertama yang harus mendapatkan penguatan adalah Al Ummu Madrasatul ‘Ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dakwah bukan hanya tanggung jawab laki-laki semata, Rasulullah SAW., mengajarkan pada kita bahwa Dakwah Islam senantiasa melibatkan Wanita. Keshalehan wanita bisa menolong setengah (1/2) keimanan laki-laki. Maka target pertama adalah mensucikan diri dan keluarga sebagaimana baginda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, 

“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘Subhanalloh Walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, sholat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti, kesabaran itu merupakan sinar, dan Al Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Allah) dan sebagian lain ada yang menjerumuskannya (dalam siksa-Nya).” (HR Muslim) 

"KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT ADA DALAM SUNNAH, DALAM SUNNAH ADA KEJAYAAN, DAN DILUAR SUNNAH TAK ADA KEJAYAAN."

Tujuh Tantangan Dalam Dakwah Islam
1. Didustakan
2. Dikatakan Orang Gila 
3. Dikatakan Tukang Sihir
4. Diboikot
5. Disakiti
6. Diancam
7. Diremehkan

Maksud Usaha Kerja Dakwah khusus di Kalangan Wanita (Masturah) 

1. Alimah ( berilmu )
Menjadi `Alimah, wanita yang berilmu dengan menjaga ta`lim secara istiqamah
Ta`lim adalah perintah Allah swt dan salah satu sunnah Rasulullah SAW
Ta`lim adalah roh agama
Ta`lim adalah salah satu pintu gerbang masuknya agama ke dalam rumah.

2. Zahidah ( sederhana )
Zahidah : hidup sederhana. Hidup sedehana adalah salah satu sunnah cara hidup Rasulullah saw. Dengan hidup sederhana hisab akan mudah dan ringan. Sederhana pakaian, makanan, perumahan, perabotan, penampilan dll.

3. Abidah ( ahli ibadah )
Ahli ibadah, menjaga shalat di awal waktu, dzikir pagi petang, semua pekerjaan rumah selalu diiringi dengan dzikir, istiqamah baca Al-Qur`an, berusaha untuk selalu mengkhatamkannya, serta shalat-shalat sunat, puasa wajib dan puasa sunat serta gemar bersedeqah.

4. Murabbiyah ( pendidik )
Sebagai guru yang mendidik anak – anak secara Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw ; Karena anak adalah amanah dari Allah SWT. 
a. Tarbiyatul adab : jaga ada-adabnya
b. Tarbiyatul jasad : jaga kesucian badan, pakaian dan makanan
c. Tarbiyatul wiladhah : jaga kesucian setelah melahirkan
d. Tarbiyatul Diin : Agama, kenalkan agama sejak anak-anak masih kecil, latih untuk selalu takut hanya kepada Allah swt, tanamkan pada anak Cinta Allah dan RasulNya, cinta saudara, dll.

5. Khaddimah ( berkhidmad )
Selalu berkhidmat (melayani) untuk suami dan anak – anak dalam setiap menunaikan keperluan dan kebutuhan suami dan anak-anak serta setiap tamu yang datang ke rumah dengan ikhlas karena Allah SWT.

6. Da`iyah ( pendakwah wanita )
Mengajak manusia untuk selalu ta`at kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW dengan menanamkan Iman Yakin kepada kampung akhirat, dll.

Note:

Pentingnya wanita ikut usaha kerja dawah karena sebab berikut :

1. Dakwah Rasul pun langsung kepada istrinya

2. Agama Islam tersebar di zaman khulafurrasyidin, dua (2) orang khalifah masuk Islam dengan asbab (sebab) wanita, yaitu : Umar Bin Khattab r.a asbabnya adalah adiknya Fathimah binti Khattab r.ha dan Usman Bin Affan r.a asbabnya adalah bibinya Saudah r.ha.

3. Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki, jumlah anak-anak lebih banyak dari wanita, dengan asbab ambil usaha dakwah maka rahmat Islam akan tersebar keseluruh alam.

4. Orang – orang bathil memanfaatkan wanita untuk promosi dunia.

5. Apabila wanita paham akan pentingnya agama maka akan rela berkorban habis-habisan. Seperti Siti Khadijah r.ha dan Sumayyah r.ha.

6. Satu do`a seorang wanita shalehah lebih baik daripada do`a 70 wali, sebaliknya bila ada satu wanita jahat maka daya rusaknyanya lebih rusak daripada 1000 laki-laki jahat.

Mari niatkan kita perbaiki diri kita, keluarga kita dan istiqamah perjuangkan kemulian hidup ini hanya disatu jalan menuju keselamatan yakni dalam Dien Islam. Karena dien Islam berarti suatu sistem Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia baik muslim maupun non-muslim.

Firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an sudah sangat jelas, sebagaimana mafhum beberapa ayat dibawah ini.

[QS.3.83] Maka apakah mereka mencari dien yang lain dari dien Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

[QS.2.208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

[QS.2.209] Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[QS.2.256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) dien (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Semoga Allah Ta'ala memilih keluarga kita untuk diikutsertakan menjadi bagian dalam usaha yang mulia yakni Usaha Dakwah Islam ini. Serta Allah SWT kuatkan dengan usaha kerja mulia ini melalui tertib dakwah Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh keluarga Baginda Rasulullah SAW. dan para sahabat R.hum. yang senantiasa dirahmati Allah, sehingga tercatat dalam sejarah sepanjang zaman. Aamiin Allohumma Aamiin...

Bismillah