Tampilkan postingan dengan label dakwah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah Islam. Tampilkan semua postingan

8 Juni 2016

Marhaban Ya Ramadhan: Takjil dan Takzim Menjadi Nilai Yang Tak Terhingga


Antara dua potong kata atau istilah 'takjil' dan 'takzim' ini memang beda maksud serta makna dan juga suasana batin yang menyelimuti kedua istilah tersebut tidak bisa disandingkan dengan serta merta, namun kedua istilah tersebut bila didalami akan bertemu pada satu pesan yang sama yakni harus didahulukan karena istilahnya sendiri terbentuk secara khusus mengingat kemuliaannya. Menurut KBII wed. id, bahwa; takjil/tak·jil/ maksudnya mempercepat, menyegerakan (dalam berbuka puasa), sedangkan takzim/tak·zim/ maksud yang terkadung didalamnya yakni amat hormat dan sopan; menakzimkan/ me·nak·zim·kan/ diartikan menghormati; memuliakan

Nah pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah perkara menyegerakan atau mendahulukan dalam amalan yang sifatnya memuliakan agar punya nilai lebih dan tersambung dengan amalan Rasulullah SAW, para shabatnya yang mulia serta para pewaris ilmunya. Kita sebagai bangsa Indonesia negara dengan mayoritas muslim sudah jelas tidak disangsikan lagi oleh siapa pun, namun karena banyak kehilangan nilai-nilai mulia berdasarkan ajaran Islam maka bangsa besar ini tidaklah salah bila dalam pandangan sebagian tetangga saja menganggapnya hanya macan ompong, gaumannya sih masih terdengar tapi semua sudah tahu bahwa itu hanya auman sang macan renta, untuk sekadaar mencari makan di kerajaannya sendiri pun sudah hampir tak mampu lagi.

Keadaan bangsa besar kita ini dengan kasat mata mulai bingung menentukan arah, banyak hal yang seharusnya menjadi skala prioritas malah kadang menjadi saru dan tertukar. Bahkan dalam kadar tertentu bila saja ada survey penelitian dengan menggunakan pooling, quisioner atau sejenisnya bukan mustahil akan didapati hasil betapa tidak konsisten dan signifikannya antara apa yang diucapkan/dituliskan dengan kenyataan yang dilakukan tiap individu yang jadi sample survey tersebut. Tegasnya kalau penulis meminjam istilah orang sunda 'cul dogdog tinggal igel' (perkara penting diabaikan, yg dikerjakan hal lain yang sifatnya mubazir). 

Hal ini pun tak lepas dari bagaimana wujud kehidupan di masyarakat kita sehari-hari, perubahan kearah yang tidak menjanjikan sebenarnya sangat terbaca. Misalnya saja mulai dari urusan makan, makan itu perintah wajib dari Tuhan bukan? Lantas coba tanya ke orang tua yang punya anak masih sekolah," bapak ibu apakah sarapan buat anak sebelum berangkat ke sekolah itu penting?" Silakan coba dicatat bila ada yang mengatakan tidak penting agar ada bukti lain. Nah kenyataannya sebagian besar orang tua percaya bahwa warung atau kantin di sekolah anaknya sudah menyediakan makan sarapan buat anak-anaknya. Padahal bisa jadi menyediakan sarapan buat anak-anaknya itu bisa saja pahalanya sebagimana takjil karena maksudnya penyegeraan atau berusaha memenuhi dengan segera apalagi ini kepentingannya untuk memenuhi kewajiban perintah Tuhan lainnya yaitu menuntut ilmu. Dikatakan ahli ilmu berdasar hadits, “Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i , maka ia berjihad di jalan Allah hingga ia kembali," (HR. At-Tirmidzi). 

Saat ini kita mayoritas muslim di Indonesia sudah mulai kehilangan pegangan hidup yang sejati, Berikut ini satu hal yang maha penting dan butuh sifat Takzim pada guru untuk mendalaminya. Apakah yang dimaksud ?
Yang dimaksud yakni Pentingnya Beriman Kepada Yang Ghaib (Qs.2:3, 177, 186, 277; Qs.4:150-152, 162) (maksudnya iman kepada yang ghaib ialah sebagai basic dari sebuah keimanan/keyakinan, karena apa yang kita yakini adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap pancaindra. Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya Allah, Malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya); berarti termasuk di dalamnya beriman kepada Allah (Qs.2:136, 177; Qs.4:136);

Lebih dalam lagi bila kita tidak biasa memahami suatu maksud dari sebuah ayat serta tidak ada guru yang mumpuni untuk bertanya maka sebuah pesan yang sangat keras sekali pun justru akan dipandang sebagai pesan/ancaman biasa-biasa saja, ini misalnya:

ا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Nilai-nilai ajaran Islam yang utama tengah dijauhkan secara sistematis oleh pihak-pihak yang ingin menjadikan dunia ini sebagai kehidupan surgawi semu maka dengan demikian lengkaplah sudah kebinasaan kelak telah menanti, iman setiap muslim sengaja digerogoti guna menghanguskan nilai-nilai amalan utama ummat muslim dalam berbagai bidang kehidupannya. 
Misalnya saja dalam bidang pendidikan, perintah dalam ajaran Islam mencari ilmu, dengan ilmu bisa dijadikan panduan dalam beramal sehingga kehidupan ini menjadi bermakna dan barokah.

Rasulullah Saw bersabda: “Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah (taat pada Allah) dan yang serupa itu, berilmu & penuntut ilmu.” (HR.At-Tirmidzi), 

Dalam dunia pendidikan, takzim kita kepada ulama atau guru ahli ilmu bukan tanpa alasan karena dicabutnya ilmu dari bumi dikaitkan dengan diwafatkannya ulama. Oleh karena itu menghormati dan memuliakan ulama/guru merupakan sesuatu yang mutlak. Bukan maksud mengagungkan kehebatan makhluk namun karena hal ini ada kaitannya dengan ilmu dan hak sebagai pewaris nabi sebagaimana hadits yang berbunyi al-‘ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83). 

Kembali ke dasar peringatan akan dicabutnya ilmu terjadi dengan diwafatkannya para ulama. Dijelaskan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain’

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan bahwa asy-Sya’bi berkata, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 60)

Wafatnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih-lebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:
مَفَاتِيحُ لِلْخَيرِ مَغَالِيقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “ِAku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ.

‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’

Sebagai penegas saja, mumpung masih ada kesempatan pada puasa ramadhan 1437 H tidak salah kiranya bila kita berusaha belajar, hadir medekatkan diri ke majelis-majelis ilmu syar'i, mari kita prioritaskan apa yang seharusnya jadi prioritas,memperbaiki iman dan amal sholeh itu prioritas paling utama dan tentu saja semuanya itu butuh ilmu juga sebagaimana ahli imu dunia berani berkata siapa yang menguasai informasi maka akan menguasai dunia. Kalau pecinta ahli surga juga jangan kalah harus yakin dengan pernyataan ini "Seseorang di akhirat kelak dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai di dunia". 

Nah sekali lagi mumpung puasa ramadhan semua amalan baik bisa berlipat ganda pahalanya, apalagi alasan kita untuk tidak takjil (mnyegerakan/memperioritaskan) dan bukan hanya berupa memakan sesuatu tapi 'takjil" dalam hal menghadiri suatu majelis ilmu dengan takzim di masjid-masjid yang ada di sekeliling kita, mari jangan sia-siakan hidup yang sebentar ini, raihlah semua kemuliaan itu dengan duduk di majelis yang dibangga-banggakanNya dihadapan para malaikat. InsyaAlloh saya niat, bagaimana dengan anda semua saudaraku? 
Siap yah..mari kita niatkan dan ucapkan bismillah..


Guru Tonjong,
KotaAngin, 2 Ramadhan 1437H/7 Juni 2016M

sumber pendukung tulisan : Ulama Pewaris Nabi

7 Maret 2014

Tatkala Menasehati Penguasa Yang Dirasakan Tak Adil Bak Makan Buah Simalakama, Banyak Ruginya..?


Betapa berat ketika kita ingin menasehati penguasa yang zalim (dholim), mungkar dan sejenisnya, menjadikan kita serba salah dan diancam hukum dari berbagai sisi. Maka kesabaran itulah pilihan satu-satunya, yakinlah dengan sabar maka Allah akan memberi pahala sabar itu dengan kemenangan dan dapat mengundang pertolongan Allah berikutnya.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini [yang artinya]:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).

Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Menasihati penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap pemberontakannya kepada pemerintah muslim yang mereka anggap zalim dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam-:

كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه

“Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 3554)]

Hal terbaik yang bisa dilakukan kita tapi sulit merealisasikannya adalah sebagaimana nasehat Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Adapun pembolehan menasihati penguasa secara terang-terangan, jika penyimpangan penguasa dilakukan terang-terangan sebagaimana dalam kisah sahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau, “Karenanya, saya memandang jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasihat merupakan perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas, maka tidak mengapa memberi nasehat kepada penguasa dengan cara berhadapan dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya jika kemungkaran tersebut jelas dan nampak di tengah-tengah manusia.”

Tidak mungkin menasihati penguasa seperti hadits ‘Iyadh bin Ganm maupun atsar Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhum- di zaman ini, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat, maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.

Adapun jika dengan menyebarkan artikel-artikel di media massa dan berorasi di mimbar-mimbar bebas yang tidak dihadiri oleh penguasa, maka belum tentu bisa dibaca atau didengarkan oleh penguasa (sebagai orang yang dinasihati), malah yang terjadi adalah ghibah atau buhtan, pencemaran nama baik dan provokasi untuk memberontak kepada penguasa. Bagaimana bisa seseorang mengharamkan ghibah dan pencemaran nama baik dirinya dan para tokoh idolanya sementara untuk penguasa dia bolehkan…??
Ma lakum kayfa tahkumun..?!
Astaghirullah al'adzim..

Wallahu'alam bish-shawab


Bismillah

Renungan jum'at ini, menyimak dari tulisan:

3 Maret 2014

Jejaring Dakwah dan Usaha Dakwah Islam di Keluarga


Kunci Pendidikan Ummat ini di keluarga, maka jejaring pertama yang harus mendapatkan penguatan adalah Al Ummu Madrasatul ‘Ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dakwah bukan hanya tanggung jawab laki-laki semata, Rasulullah SAW., mengajarkan pada kita bahwa Dakwah Islam senantiasa melibatkan Wanita. Keshalehan wanita bisa menolong setengah (1/2) keimanan laki-laki. Maka target pertama adalah mensucikan diri dan keluarga sebagaimana baginda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, 

“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘Subhanalloh Walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, sholat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti, kesabaran itu merupakan sinar, dan Al Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Allah) dan sebagian lain ada yang menjerumuskannya (dalam siksa-Nya).” (HR Muslim) 

"KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT ADA DALAM SUNNAH, DALAM SUNNAH ADA KEJAYAAN, DAN DILUAR SUNNAH TAK ADA KEJAYAAN."

Tujuh Tantangan Dalam Dakwah Islam
1. Didustakan
2. Dikatakan Orang Gila 
3. Dikatakan Tukang Sihir
4. Diboikot
5. Disakiti
6. Diancam
7. Diremehkan

Maksud Usaha Kerja Dakwah khusus di Kalangan Wanita (Masturah) 

1. Alimah ( berilmu )
Menjadi `Alimah, wanita yang berilmu dengan menjaga ta`lim secara istiqamah
Ta`lim adalah perintah Allah swt dan salah satu sunnah Rasulullah SAW
Ta`lim adalah roh agama
Ta`lim adalah salah satu pintu gerbang masuknya agama ke dalam rumah.

2. Zahidah ( sederhana )
Zahidah : hidup sederhana. Hidup sedehana adalah salah satu sunnah cara hidup Rasulullah saw. Dengan hidup sederhana hisab akan mudah dan ringan. Sederhana pakaian, makanan, perumahan, perabotan, penampilan dll.

3. Abidah ( ahli ibadah )
Ahli ibadah, menjaga shalat di awal waktu, dzikir pagi petang, semua pekerjaan rumah selalu diiringi dengan dzikir, istiqamah baca Al-Qur`an, berusaha untuk selalu mengkhatamkannya, serta shalat-shalat sunat, puasa wajib dan puasa sunat serta gemar bersedeqah.

4. Murabbiyah ( pendidik )
Sebagai guru yang mendidik anak – anak secara Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw ; Karena anak adalah amanah dari Allah SWT. 
a. Tarbiyatul adab : jaga ada-adabnya
b. Tarbiyatul jasad : jaga kesucian badan, pakaian dan makanan
c. Tarbiyatul wiladhah : jaga kesucian setelah melahirkan
d. Tarbiyatul Diin : Agama, kenalkan agama sejak anak-anak masih kecil, latih untuk selalu takut hanya kepada Allah swt, tanamkan pada anak Cinta Allah dan RasulNya, cinta saudara, dll.

5. Khaddimah ( berkhidmad )
Selalu berkhidmat (melayani) untuk suami dan anak – anak dalam setiap menunaikan keperluan dan kebutuhan suami dan anak-anak serta setiap tamu yang datang ke rumah dengan ikhlas karena Allah SWT.

6. Da`iyah ( pendakwah wanita )
Mengajak manusia untuk selalu ta`at kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW dengan menanamkan Iman Yakin kepada kampung akhirat, dll.

Note:

Pentingnya wanita ikut usaha kerja dawah karena sebab berikut :

1. Dakwah Rasul pun langsung kepada istrinya

2. Agama Islam tersebar di zaman khulafurrasyidin, dua (2) orang khalifah masuk Islam dengan asbab (sebab) wanita, yaitu : Umar Bin Khattab r.a asbabnya adalah adiknya Fathimah binti Khattab r.ha dan Usman Bin Affan r.a asbabnya adalah bibinya Saudah r.ha.

3. Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki, jumlah anak-anak lebih banyak dari wanita, dengan asbab ambil usaha dakwah maka rahmat Islam akan tersebar keseluruh alam.

4. Orang – orang bathil memanfaatkan wanita untuk promosi dunia.

5. Apabila wanita paham akan pentingnya agama maka akan rela berkorban habis-habisan. Seperti Siti Khadijah r.ha dan Sumayyah r.ha.

6. Satu do`a seorang wanita shalehah lebih baik daripada do`a 70 wali, sebaliknya bila ada satu wanita jahat maka daya rusaknyanya lebih rusak daripada 1000 laki-laki jahat.

Mari niatkan kita perbaiki diri kita, keluarga kita dan istiqamah perjuangkan kemulian hidup ini hanya disatu jalan menuju keselamatan yakni dalam Dien Islam. Karena dien Islam berarti suatu sistem Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia baik muslim maupun non-muslim.

Firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an sudah sangat jelas, sebagaimana mafhum beberapa ayat dibawah ini.

[QS.3.83] Maka apakah mereka mencari dien yang lain dari dien Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

[QS.2.208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

[QS.2.209] Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[QS.2.256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) dien (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Semoga Allah Ta'ala memilih keluarga kita untuk diikutsertakan menjadi bagian dalam usaha yang mulia yakni Usaha Dakwah Islam ini. Serta Allah SWT kuatkan dengan usaha kerja mulia ini melalui tertib dakwah Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh keluarga Baginda Rasulullah SAW. dan para sahabat R.hum. yang senantiasa dirahmati Allah, sehingga tercatat dalam sejarah sepanjang zaman. Aamiin Allohumma Aamiin...

Bismillah