Tampilkan postingan dengan label Politik Transaksional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik Transaksional. Tampilkan semua postingan

15 April 2014

MENYIMAK CERITA LAKON PEMILU 2014 DI ACARA ILC 15 APRIL 2014



Malam ini menyimak Acara ILC di TVone, serasa ada teman dan membenarkan apa yang disampaikan Mas Sujiwo Tejo. Bahwa Pemilu kita ini dengan sistim pemungutan suara "tak cocok" karena menghilangkan musyawarah mufakat sebagaimana Ideologi Negara Pancasila yang kita banggakan karena dalam prakteknya memberangus nilai-nilai luhur karya tertinggi dari para pemikir dan pendiri bangsa ini. Di saat gebyar Pemilu Caleg 2014 bisa kita saksikan betapa miskinnya nilai --Ketuhanan dan Kemanusiaan-- kita. Yang kita saksikan malah dagelan politik lewat cara-cara yang tidak elok melalui --Politik Transaksional, politik dagang sapi, saling merapatkan rencana bagi-bagi kue/kursi kekuasaan lewat koalisi dan seabreg fenomena baru Pemilu 2014 lainnya menegaskan akan karut marutnya --Sistem Demokrasi- yang telah kita pilih malah kesan "kacau balau" dalam perhitungan suara pun tengah berlangsung.

Berbagai pembicaraan para pakar di ILC malam ini,semoga menyadarkan kita warga pemilik sah negeri ini, yang diungkap oleh Bung Refly sungguh membuat pikiran dan hati kita merasa "tertipu", bukan tertipu karena kesalahan KPU semata tapi ini semua terkait masalah mentalitas warga bangsa pilihan yang disebut caleg dan para ponggawa partai politik. Wadah partai politik yang mestinya menjadi penampung gagasan, kehendak, aspirasi rakyat mulai tampak tidak membumi. Ada indikasi malah mereka yang berkarir sebagai organisator dan motor penggerak partai politik sekali pun mulai tidak laku, terancam gigit jari tidak bisa duduk di kursi terhormat sebagai anggota dewan perwakilan rakyat, dan hal ini terbaca mulai tergeser oleh para calon legislatif dari kalangan pemodal (kalangan kapitatis/kaum bermodal),artis dan politisi karbitan yang sesungguhnya modal politiknya itu sangat memprihatinkan hanya dengan mengandalkan keberanian mengundi nasib dan modal material semata. Sehingga tidak mengherankan bila antar caleg satu partai pun pada prakteknya saling bermusuhan.

Kalimat kunci yang menggambarkan hasil dari Pemilu 2014 ini adalah Pemilu hanya menyuburkan rusaknya Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan Negara, atau dengan kata lain luluhnya silaturahmi antar manusia Indonesia sebagai akibat dari pilihan sistem demokrasi yang format kebenarannya sejauh ini masih dicari. Lewat format Pemilu 2014 ini tidak bisa disangsikan lagi telah membuka lebar-lebar ruang untuk bermainnya para pemodal sehingga memberangus idiologi dan idealisme dari masing-masing konstestan partai politik. Lebih jauh bila kita cermati Pancasila, maka ujian dari pelaksanaan Pemilu ini adalah tergerusnya nilai-nilai luhur Pancasila, secara khusus Nilai Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa dan Nilai Sila ke-2: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Betapa beraninya para politikus berjualan ayat-ayat suci dan janji-janji seolah-olah politikus itu bisa menjamin kesejahteraan warga bangsa ini melebihi keperkasaan Tuhan dalam kampanye politiknya. Betapa murahnya harga nilai kemanusiaan kita hanya cukup ditukar dengan selembar kertas uang atau sepotong bingkisan makanan sebagai sogokan untuk ditukar dengan suara rakyat. Kebermanaan rakyat melek politik rasanya sudah hilang, berdemokrasi lewat wadah partai dan pemilu saat ini, jelasnya telah meninggalkan ideologi dan nilai-nilai kebangsaan yang diterakan dalam Dasar Negara dan Konstitusi UUD 1945, sungguh naif dan memalukan. 

Benar sepintas bahwa Pemilu 2014 telah berlangsung dengan aman dan damai, namun sejatinya peristiwa pemilu kali ini perlu segera dikoreksi karena banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kemuliaan suara rakyat telah dihianati oleh pihak-pihak tertentu yang berlaku picik dengan memanfaatkan kelemahan yang ada pada Landasan Hukum Pemilu 2014. Salah satunya,bagi caleg curang tidak ada diskualifikasi sebagai bukti sanksi hukum yang langsung menjegal Calon Legislatif yang curang tersebut akibat praktek money politik, pun demikian premanisme yang ditunjukkan adanya tekanan dari pihak tertentu hal tersebut juga luput dari sanksi hukum. Bisa dimengerti baik KPU atau pun BAWASLU hanya bekerja ditataran pengumpulan informasi dan teknis pelaksanaan Pemilu saja, Bawaslu hanya bisa melaporkan adanya indikasi kecurangan dan tindakan prepentif untuk meminimalisasi kecurangan, sementara untuk tindakan hukum itu kuasa pihak penyidik kepolisian dan kejaksaan, malah ditenggarai kebanyakan laporan kecurangan dari Bawaslu sebagaimana diungkap langsung oleh Ketua Bawaslu Pusat di acara ILC dikatakan banyak "di rem" di tingkat penegak hukum resmi paling bawah. Andai ada yang lolos untuk diproses lebih lanjut maka proses jeratan hukumnya begitu mengular panjang dari mulai penuntutan, pengadilan dan penetapan hukumnya membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan bertele-tele malah sangat memungkinkan menguap di tengah proses berjalannya waktu. Ironis, bukan?

Akhirnya, apa yang kita harapkan dari hasil Pemilu Caleg 2014 yang karut marut seperti itu..? Lantas apakah melalui Pemilu Pilpres 2014 tanggal 9 Juli 2014 nanti hal tersebut akan terkoreksi..? Saya rasa sangat tidak mungkin. Inilah catatan sejarah PEMILU INDONESIA dimana suara rakyat hanya dijadikan bisnis manipulatif berbungkus wakil-wakil rakyat. Naudzubillah.

Salam Perubahan,
Bismillah

#Gagal Paham: Hukum Sogokan 

18 Maret 2014

"JOGOL" Ala PEMILU CALEG 2014..?


Masa kapanye Pemilu kali ini rasanya cuma jadi ajang saling serang kesalahan lawan politik dan itu ketara sangat terencana bak dagelan, ini malah mempertegas keyakinan bahwa pemilu kali ini hanya milik kaum elite belaka. Politik elite yang tetap tampil pragmatisme, mempertegas adanya politik kartel dan politik transaksional, sebagai sebuah budaya politik yang hanya memperalat rakyat (inlander) untuk mau memberikan suaranya. 

Kecenderungan ke orientasi sistem ketatanegaraan yang hanya mengarah pada "heavy parliamentary system", terlalu jumawa. Simpuls-simpuls politik kartel menuju Senayan terbaca jelas dengan menggunakan media masa utamanya media elektronik yang terkesan condong dan tidak berlaku netral lagi. 

Berharap Pemilu damai malah media terus "ngompori", hati-hati saja selepas tanggal 9 April 2014 akan masuk ke fase yang lebih panas. Khawatirnya malah terbuka lebar untuk adanya "Kudeta Konstitusional Pemilu 2014" akibat dari kekeliruan MK disaat yang lalu. Semoga rakyat sipil dan para politikus sadar akan adanya peluang tersebut. 

Pemilu damai harga mati, politikus jangan pada pongah untuk sengaja melakukan pelanggaran kampanye. Rakyat menyaksikan dengan seksama, apa dan siapa yang layak mereka pilih. Taati aturan main dan saat ini rakyat tengah menilai nama-nama anda yang telah tertera di kartu suara.

Salam Pemilu Damai 
Bismillah

14 Maret 2014

AMANAT RAKYAT VS AMANAT PARTAI


Akhirnya Gubernur DKI Jokowi resmi jadi capres PDIP. Jokowi mengakui telah menerima mandat dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. 
"Saya telah mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk jadi capres. Dengan mengucap bismillah, saya siap melaksanakan," kata Jokowi di Rumah Si Pitung, Marunda, Jakarta Utara, Jumat (14/3/2014). 
Usai 'deklarasi' Jokowi mencium bendera merah putih yang tepat ada di belakang tempatnya berdiri. Jokowi akan segera dideklarasikan sore ini di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. (Berita News Detik.com)

Katanya jadi pemimpin itu amanat rakyat dan setahu kita Pak Joko Widodo (Jokowi) ini sudah diamanati rakyat atau warga Jakarta. Kalau beliau saat ini diamanati oleh PDIP sebagai partai politik untuk jadi Capres dari PDIP berarti beliau bagaimana pun alasannya telah mengesampingkan amanat rakyat yang telah mendaulatnya (warga DKI), kemudian lebih memilih taat pada partai (menerima amanat golongan atau partai). Ini sebuah strategi karier politik yang bisa jadi keliru tenan, amat disayangkan sekali jagoan kita ini bila kelak salah perhitungan.

Bagaimana pun juga Ketua Umum PDIP Ibu Megawati saya kira masih punya rasa ingin (ambisi) untuk nyapres sebelum ini, makanya terlihat gamang tapi mungkin karena desakan dari bawah dan bisa juga dari media, akhirnya tidak ada pilihan lain (keputusan penuh resiko) Ibu Megawati harus meluluskan pencapresan Pak Jokowi dari PDIP.

Apa yang terjadi nanti tentu semua sudah mengkalkulasi resikonya, bukan? Kali ini mandat Ketua Umum Ibu Megawati langsung diberikan pada Pak Jokowi tanpa melalui prosedur Munas Partai dan sejenisnya, ya maklum saja kebiasaan (konvensi) di PDIP keputusan tertinggi ada pada Ketua Umum (Ibu Megawati) dan hal ini sekaligus menggambarkan keputusan yang sangat beresiko tinggi untuk karir politik Pak Jokowi berikutnya, tentu karir politik beliau dipertaruhkan oleh partai dalam pertarungan puncak perebutan R1 tahun 2014 ini. 

Disisi lain perlu juga dicermati karena tidak semua jajaran pengurun DPP PDIP sehaluan dengan keputusan Ketua Umum PDIP Ibu Megawati (baca: Pengurus DPP PDI-P Baru Tahu Megawati Pilih Jokowi Jadi Capres). Pernyataan dari Sekertaris Jenderal DPP PDIP DPP PDIP Tjahjo Kumolo dalam wawancara dengan Kompas TV, Jumat (14/3/2014) menyatakan,"..Ia mengaku baru tahu setelah Megawati meminta DPP untuk menyampaikan kepada publik. Instruksi harian yang ditulis tangan itu dibacakan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Puan Maharani. Salah satunya, Megawati menginstruksikan kader dan simpatisan PDIP untuk mendukung Jokowi di Pilpres nanti." 

Bila saja beliau bisa sukses memimpin Jakarta dalam memimpin Jakarta selama 5 tahun sampai tamat maka peluang jadi R1 pada tahun 2019 tak akan lari kemana-mana, peluangnya sangat besar. Kenyataan bila saat ini PDIP mendaulat beliau dan meninggalkan amanat sebagai DKI-1 ya nasib, kami tentu akan mencatatnya sebagai pemimpin yang punya amanat tapi tidak komit terhadap amanatnya dan lebih memilih ambisi partai politik sebagai pengusungnya.

Kita lihat saja nanti selepas pemilihan caleg, apakah keputusan Ibu Megawati ini tepat atau sebaliknya,semua keputusan pimpinan partai tidak serta merta bisa seiring sejalan dengan kehendak rakyat, bukan? 
Disinilah permainan politik akan dimulai,sejauhmana PDIP matang dalam merencanakan permainan, bisa kita saksikan bersama. heehe

Sebagai pecinta permainan bola saya hanya berharap semoga permainan PDIP kali ini dengan pencapresan Pak Jokowi grafiknya bisa naik seperti tren amimo pada Tim Garuda Jaya U-19. Sebagai pengamat politik yang awam, lawan tanding yang seimbang pencapresan capres pak Jokowi nanti mungkin hanya capres dari Ketua Umum Gerindra Pak Prabowo Subianto saja. Sekali lagi tulisan ini hanya mengira-ngira. Selamat berjuang pak Jokowi..




11 Maret 2014

Fenomena Berbahaya, Ketidakpastian Hukum dalam Berpolitik Mengancam Teguh Berdirinya NKRI.

Photo Arbi Sanit - AntaraNews

Negeri yang kaya kepentingan, ide dan gagasan namun miskin kejujuran, musyawarah mufakat dan solusi untuk kepentingan sebesar-besarnya rakyat. Kalau terus terjadi, berapa lama lagi nama negara Indonesia akan bertahan..? Kita merdeka dari tangan penjajah baru akan menjelang 68 Tahun, sementara hidup sebagai negeri terjajah sekitar 350 Tahun, andai negeri ini bubar karena sebab kebodohan kita selaku warganya yang permisif (maklum) terhadap adanya kejahatan Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan Budaya Politik Transaksional maka lengkaplah kita sebagai warga bangsa ini punya "cap" hanya mampu berpikir sampai sebatas "isi perut dan di bawah perut" saja.


Pengamat Politik Universita Indonesia Arbi Sanit memaparkan fakta hukum mengenai penanganan sejumlah kasus yang ditangani Mahkamah Konstitusi (MK) dalam diskusi di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (10/3). Arbi Sanit menegaskan bahwa ketidakpastian hukum dalam berpolitik berasal dari putusan MK yang sarat kepentingan pihak tertentu, hal tersebut dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap MK, terlebih usai ditangkapnya Ketua MK atas kasus suap hasil Pemilukada. (ANTARA FOTO)

KPK WATCH
Memprihatinkan..! MK sebagai lembaga tertinggi di negeri hukum, dimana hukum dirancang sebagai panglimanya ternyata dibuat impoten oleh orang-orang yang kemaruk harta dari para politisi hitam, birokrat hitam, akademi hitam dan ahli hukum hitam dan kroninya. "Memangnya negara ini hanya punya eloe doang..?" Tengok tuh nama-nama Pahlawan kita yang mewarnai 'nama-nama jalan di berbagai kota, mereka telah gugur menjadi syuhada karena berkorban untuk kita yang hari ini hidup dan ingin tanah kelahirannya berkah, diridhoi serta melahirkan dirinya dan generasi keturunannya yang shaleh/shalehah serta hidup merdeka dalam payung hukum di bumi Allah, bisa selamat dunia dan akherat." Mengapa "kamu..." yang hidup dengan upah dan fasilitas mewah dari hasil keringat dan cucuran air mata rakyat (pembayar pajak) malah menghianati kedaulatan rakyat yang hakiki..??

Ingatlah..! Azab Allah maha pedih bagi ahli-ahli dunia yang kemaruk harta dan terbiasa makan daging-daging dari saudaranya sendiri. Jeruji penjara bukan akhir dari pembayaran cash atas penghianatan sumpah dan janji sebagai Abdi Negara (KORPRI) di negara hukum ini. Semestinya, kalaulah rakyat kita pendendam maka tujuh (7) turunan koruptor cetakan partai politik, birokrat, akademisi dan selebritis panggung kena blacklist (tercoret) dari hak selaku warga negara karena kewajiban untuk menjunjung tinggi hukumnya telah  mereka hianati, serta kena sanksi tidak bisa ambil bagian lagi dalam strukstur ketatanegaraan di NKRI ini. Namun budi baik kami masih ada, kami tetap akan mendoakan agar warga bangsa ini tetap baik dan dapat petunjuk yang lurus dari Sang Pemilik syah bumi kita.

Saudaraku pada Pemilu 2014 nanti cermatlah, jadilah pemilih yang cerdas dan terpuji. Jangan gantungkan semua harapan negeri ini pada para durjana dan kelompok pembohong. Negeri ini bukan milik para selebritis yang suka umbar janji dan membeli kita dengan "tawuran uang atau sembako", jangan pula pilih para polisi busuk yang lahir dari partai-partai yang sudah melahirkan para koruptor serta politikus pengusung budaya politik transaksional. Kalau tidak ada pilihan yang lebih baik katakan #NoVote untuk para "Politisi Busuk dan Pengusung Budaya Politik Transaksional" di PEMILU 2014.

Mari kita sukseskan PEMILU 2014 dengan cara yang cerdas, terpuji dan cermat.

Salam Pendidikan Politik,
Bismillah.

Sumber Photo dari: AntaraNews dan LensaIndonesia