10 Juni 2012

Mengapa Shalat Berjamaah Kita Sulit Khusyuk ?


أَعُوْذُ بِا للّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Shalat berjamaah itu banyak mengandung keutamaan selain pahala yang dilipatgandakan dibanding dengan shalat sendiri, ada pun derajat pahalanya ditinggikan, dihapuskan kesalahan dan dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadist dari Bukhari dan Muslim berikut:

"Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” 
(HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)

Tapi tidak semudah itu kita mendapatkan apa yang dikatakan hadist diatas, setan beserta kroninya tentu tidak akan tinggal diam melihat kita melakukan shalat berjamaah yang banyak keutamaannya itu.

Dibawah ini ada beberapa cara yang dipakai setan untuk menggagalkan upaya kita untuk melakukan shalat berjamaah. Jika kita amati dan saksikan disekeliling kita pada saat shalat berjamaah, ada saja salah satu dibawah ini yang akan kita temui.
  1. Saat niat memulai shalat, inginnya sangat bagus, akibatnya takbir diulang-ulang seakan-akan dia ingin bagus takbirnya. Dia tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi alat bagi setan untuk mengganggu orang yang shalat di kanan kirinya. Imam sudah membaca Al Fatihah, sudah mulai membaca surat dia masih sibuk dengan takbir yang dikeraskan demi kepentingan kekhusu’an dirinya. Berulang-ulang ia lakukan sampai orang yang di kanan-kirinya rusak shalatnya. Sungguh dia sudah jadi alat tipu daya setan. Sepertinya ingin khusu’, padahal di saat yang sama dia sudah menjadi jalan untuk merusak shalat orang lain.
  2. Jika yang pertama gagal, maka setan akan menggunakan plan B. Pada waktu bacaan surat, ada juga yang terkecoh setan dengan membuatnya ingin bacaan fatihahnya bagus, sehingga sangat mementingkan makhraz dan tajwidnya. Tidak jarang suaranya lebih dikeraskan supaya khusu’. Dia tidak menyadari bahwa bacaan fatihahnya yang begitu diupayakan betul makhraz dan tajwidnya itu sudah merusak shalat orang di kanan-kirinya. Dan dia sendiri sudah tidak ingat kepada ALLAH, karena begitu sibuknya dengan bacaan yang tidak dipahaminya.
  3. Waktu kita shalat berjemaah, kemudian hati tersentuh, oleh ALLAH digetarkan, tapi sesudah iut justru bisa jadi ria. Kita ingin tangisan kita diketahui orang lain atau kalau kita diam-diam menangisnya dengan air mata berlinang, terkadang ada keinginan agar orang lain tahu bahwa dirinya sedang menangis. Lalu lihat orang lain yang tidak menangis seakan-akan dianggap tidak dalam keadaan khusu.
  4. Adapula yang ketika sujud dilamakan, imam sudah duduk, makmum lain sudah duduk, dia sengaja sujud sendiri lebih lama. Memang terasa nikmat, tapi jangan-jangan ini tipu daya setan karena dalam sebuah kebersamaan (jamaah), keutamaan itu adalah yang dilakukan secara bersama-sama.
  5. Pada waktu shalat berjamaah, kita begitu memperhatikan gerakan-gerakan kita, gerakan shalat yang sesuai dengan hadist shahih, gerakan dan bacaan shalat yang sesuai tuntunan nabi. Dan kita memperhatikan orang disekeliling kita, sehingga kadang timbul riya, bahwa shalat kita lebih bagus, lebih baik, lebih segalanya dibandingkan dengan orang dikanan kiri kita. Ini juga merupakan tipu daya setan untuk merusak shalat berjamaah kita.

    Tentunya berjuta muslihat tipu daya, cara dan perangkap setan dengan maksud untuk merusak shalat berjamaah kita. Kita tingkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian kita dengan memperbanyak istighfar dan senantiasa meluruskan niat kita dengan ikhtihlas ! Semua orang yang berilmu pasti binasa, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Semua orang yang beramal juga pasti binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas dalam mengamalkannya. Dan untuk ikhlas itu luar biasa sekali perjuangannya.